'nBASIS

Home » ARTIKEL » Ali Mukmin Siahaan: PERGINYA SEORANG AKTIVIS

Ali Mukmin Siahaan: PERGINYA SEORANG AKTIVIS

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


  • Saya ingin mengatakan secara sungguh-sungguh kepada putera-puterinya: “ayah kalian orang cerdas, jujur, tulus, bertanggungjawab, punya visi masa depan dan tidak avonturir, yang itu semua memang sama sekali tak mesti dan tak mungkin diukur dengan fakta betapa sederhananya hidupnya sampai akhir hayat”.
  • Itu jugalah yang akan saya katakan kepada cucu tunggalnya kelak setelah ia dewasa, yang sudah pasti sejak kepergian almarhum ini akan amat sangat kehilangan sosok dan figur yang amat kuat yang mestinya akan mewarnai pertumbuhannya.
  • Kepada isterinya yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan ibu kandung almarhum, Siti Hajar, ingin saya sampaikan dengan sungguh-sungguh bahwa suami ibu bukan cuma pahlawan untuk keluarga. Ia orang besar.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, Ali Mukmin Siahaan (Yogyakarta) 26 Juli 2011. Almarhum adalah putera pasangan almarhum Malim Abdul Mutholib Siahaan dan almarhumah Siti Hajar Boru Sitompul. Lahir di desa Sibulan-bulan (Luat Pahae, Kecamatan Purbatua, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) tahun 1952, ia adalah anak kedua dari 5 bersaudara (almarhumah Rahmah Siahaan, almarhum Ali Mukmin Siahaan, almarhum Mustaqim Siahaan, Masyrukiyyah Boru Siahaan dan Uswatun Hasanah Boru Siahaan). Kakak sulungnya telah lama meninggal dunia, sedangkan adiknya almarhum Mustaqim Siahaan baru meninggal beberapa bulan lalu yang ia sendiri tak berkesempatan hadir bertakziah ke Medan karena alasan kesehatan.

Meninggalkan seorang isteri (Siti Hajar Boru Pasaribu), 2 orang putera (Zulhaq Khomeini Siahaan dan Fauzan Arafat Siahaan) serta seorang puteri (Dian Eka Putri Siahaan),  dari perkawinan putera sulungnya almarhum juga telah beroleh seorang cucu Nida boru Siahaan (pahompu/boru panggoaran) yang tentu juga akan menjadi sangat kesepian menjalani hidup tanpa Ompung Godang (Mbah Kakung) yang pergi mendahului semua orang yang dicintainya ini. Nida adalah puteri tunggal ibunya yang meninggal dunia saat melahirkannya lebih setahun lalu.

Darah Aktivis. Almarhum setamat Ponpes KHA Dahlan Sipirok pernah menjadi sukarelawan mengajar di sebuah Sekolah Dasar di kawasan Sipirok, Tapanuli Selatan, dan karena alasan melanjutkan pendidikan lalu berhenti sebelum diangkat menjadi PNS, pindah ke Medan yang juga melanjutkan pengabdiannya (mengajar) pada sebuah Madrasah Muhammadiyah di kawasan Simpanglimun. Pernah menjabat Kepala Biro Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dan Dosen FISIP UMSU Medan sebelum menjadi PNS di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) yang ditempatkan di Binjai, Sumatera Utara. Setelah beberapa tahun kemudian akhirnya almarhum memilih pindah PNS ke lingkungan Departemen Sosial (Depsos), dan untuk pertama kalinya ditempatkan di lingkungan Kanwil Sumatera Utara. Tugas terakhir adalah sebagai Widya Iswara di sebuah pusat pelatihan Depsos di Yogyakarta.

Almarhum pernah tercatat menjadi Mahasiswa Teladan se-Kopertis Wilayah I yang kala itu (1979) masih mencakup 4 Provinsi (Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau). Masa mudanya aktif dalam kepengurusan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Kotamadya Medan dengan jabatan puncak Ketua Umum, Pemuda Muhammadiyah Cabang Teladan, dan Muhammadiyah Wilayah Sumatera Utara (Majlis Dikdasmen di bawah pimpinan almarhum H.Agussalim Siregar, pendiri Yayasan Haji Agussalim yang adalah pemilik Universitas Medan Area (UMA) Medan itu).

Saat menjadi aktivis mahasiswa tahun 1970-an, rekan juang Ibrahim Sakty Batubara (kini Anggota DPR-RI) dan Mhd Natsir Isfa (Mantan Kepala RRI Surabaya) ini giat melakukan konsolidasi untuk protes atas perjalanan kekuasaan pemerintahan yang dianggap lari dari komitmen melalui pertemuan-pertemuan antar kampus termasuk di kampus UMSU yang kala itu berlokasi di Jalan Gedung Acra No 53 Medan.  Pada masa ini kesatuan di antara para aktivis kampus cukup kompak di bawah wadah Sekretariat Bersama Dewan Mahasiswa (DEMA) dan kritiknya cukup didengar. Dari berbagai kampus waktu itu tercatat nama-nama beken seperti Maiyasyak Johan (UISU, kini Anggota DPR-RI), Fauzi Yusuf Hasibuan (USU), almarhum Mohammad Norman Siregar (IAIN), Ibrahim Sinaga (IKIP), dan lain-lain.

Sebagian dari nama-nama itu, termasuk Ibrahim Sakty Batubara, Maiyasyak Johan dan Ibrahim Sinaga konon sempat mendekam dalam tahanan pemerintahan Orde Baru yang represif selama berbulan-bulan tanpa proses peradilan.  Almarhum bersama aktivis lain berhasil meloloskan diri dari kejaran aparat dengan cara tinggal berpindah-pindah sampai beberapa lama. Semangat pergerakan tak pernah usai, termasuk dengan menyebarkan pemikiran lewat berbagai cara misalnya distribusi bahan-bahan tertulis terbitan kampus di Jawa seperti terbitan berkala koran Salemba milik pergerakan mahasiswa UI,  koran Kampus milik mahasiswa ITB, Majalah Pustaka dari ITB, dan lain-lain.  Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) diperkenalkan untuk mengeliminasi radikalisasi itu, dan tampaknya begitu efektif.

Di Yogyakarta ia mempunyai seorang kerabat aktivis yang oleh HMI kerap disebut Pustaka Berjalan. Dialah Prof.Dr.H.Agussalim Sitompul, yang adalah adik ibu dari almarhum sendiri, kelahiran desa Janji Angkola, Luat Pahae. Dari tulangnya (paman) inilah sejak kecil almarhum banyak menimba pengalaman berorganisasi khususnya tentang sejarah pergerakan nasional dan ideologi-ideologi dunia. Kakek almarhum dari pihak ibu, ayah dari Prof.Dr.Agussalim Sitompul, adalah seorang aktivis pergerakan yang berprofesi sebagai pedagang emas yang kemudian pindah ke Sipirok (dari Janji Angkola).

Kakek yang lebih dikenal dengan nama Dja Bolkas ini kerap dianggap aneh di lingkungannya karena berfikir lebih jauh ke depan. Pada suatu ketika misalnya, ia membariskan anak-anaknya dan sama-sama menghormat bendera sang saka merah putih di depan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Janji Angkola yang langsung dipimpinnya sendiri seakan inspektur upacara. Kala itu ia memberi tahu banyak orang di kampungnya bahwa upacara mereka itu untuk tasyakkur bahwa Indonesia sudah merdeka.  Tetapi banyak orang belum percaya, dan memang waktu itu hanya beberapa hari setelah 17 Agustus 1945 dan berita proklamasi belum menyebar ke seluruh tanah air.

Melalui IMM ia pernah bertemu almarhum Kasman Singodimejo dan pertemuan itu amat berkesan baginya. Kala itu bersama Zulkabir, Ketua Umum DPP IMM, pengurus IMM se Indonesia bertemu di Kaliurang Yogyakarta untuk forum yang disebut Musyawarah Kerja dan Study (MUKERSTUDY) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dari Medan ada dua orang delegasi, Ali Mukmin Siahaan dan Ibrahim Sakty Batubara. Kedua utusan ini berangkat menggunakan layanan kapal laut Tampomas. Menurutnya, pertemuan ini membahas eksistensi pemuda dan mahasiswa dan rumusan sikap yang eksplisit tentang pemerintahan dan pembangunan. Ada kekhawatiran yang amat berdasar menyaksikan arah perjalanan republik yang disebut-sebut diperintah dengan mandat cheque kosong yang terkenal itu, dan bagi IMM sendiri waktu itu perubahan yang didesign di Indonesia sudah semakin pasti di bawah arahan kapitalisme dan sekularisme yang berbahaya.

Sebagaimana luas diketahui bahwa satu dasawarsa hingga tahun 1986, IMM mengalami stagnasi secara nasional. Tetapi tidak di Medan dan Sumatera Utara. Di Medan ada konco kental almarhum M Djazman Al-kindi, yakni M Djaginduang Dalimunthe (salah seorang penandatangan dua deklarasi yang menjadi dasar pengembangan idiologis IMM: Baiturrahman dan Kotta Barat Solo) yang dapat disebut menjadi nara sumber utama untuk rujukan sejarah dan pergerakan IMM masa itu. Selain itu ada pula senior mereka M Nur Rizali yang juga mantan Ketua Umum DPD IMM Sumatera Utara periode lebih awal setelah M Djaginduang Dalimunthe. Harus juga disebut Anwar Effendi, Zulkarnaen Lubis, Mujiono Herlambang, dan lain-lain.

Begitulah, bersama tokoh-tokoh ini boleh disebut IMM tidak pernah mati suri meski secara nasional mengalami stagnasi sampai tiba saatnya pembentukan DPPS (Dewan Pimpinan Pusat Sementara) pimpinan Immawan Wahyudi tahun 1984. Tentu harus disebut nama-nama lain yang sebaya maupun yang lebih muda usia seperti Thamrin Lubis, Abdul Mutholib, Anwar Effendi, Rusydi, Abu Bakar M Loedin, Samosir, Mishri Al-Bantani, Wimaslina Chairani Lubis, Surasmi Rasul, Azmi Nasution, Zulkifli Harahap, Djaswil, M Yunus Lubis, Zulkarnaen Iskandar Siregar, Toharuddin Harahap, Sastrawati, Marten Yerni, Suryawati Hamzah, dan lain-lain.

Pada zamannya, dari kampus UMSU, untuk  lingkungan Angkatan Muda Muhammadiyah Sumatera Utara dikenal adanya 3 serangkai Ibrahim Sakty Batubara, Ali Mukmin Siahaan dan M Natsir Isfa. Ketiganya saling memahami kecenderungan masing-masing. Ibrahim Sakty lebih kerap menjadi Ketua, Ali Mukmin Siahaan lebih kerap pada posisi Sekretaris atau Wakil Ketua, sedangkan M Natsir Isfa akan lebih banyak tercatat sebagai Sekretaris atau Bendahara. Lebih spesifik lagi ketiga tokoh ini boleh disebut saling topang menjadi mata rantai penting kontinuitas IMM hingga kemudian memasuki era Bangkit dan Tegaskan Identitas Ikatan sebagai kader umat dan kader bangsa sebagaimana dijadikan tema Muktamar 7 di Padang.

Almarhum Ali Mukmin Siahaan lebih cepat mengundurkan diri dari aktivitas IMM dan kepemudaan yang kemungkinan besar disebabkan oleh tuntutan kehidupan. Begitulah, bahwa meskipun mereka segenerasi, namun Ibrahim Sakty Batubara tetap berada di front hingga IMM di Sumatera Utara menapaki proses perkuatan institusi antara lain dengan pengembangan cabang dan komisariat di berbagai daerah dan perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Setelah era yang didominasi oleh ketiga orang ini, kepemimpinan IMM di Sumatera Utara berikutnya beralih ke tangan Achlaq Shiddiq Abidin Tanjung yang belakangan datang dari kancah pengabdiannya sebagai guru di Tapanuli Selatan (kini wilayah Madina), disusul Shohibul Anshor Siregar, Adi Munasib, Parluhutan Siregar, Putrama Al-khairi, Kamaluddin Harahap, dan seterusnya.

Ketiga nama ini juga adalah yang merupakan tim pelaksana gagasan-gagasan penting pengembangan UMSU terutama sejak kepemimpinan almarhum TA Lathief Rousydiy berikut dengan silih bergantinya pimpinan dan para tokoh berpengaruh di sekitar itu seperti H.Moenir Na’amin, H Agussalim Siregar, H Sabaruddin Ahmad, M Nuh Harahap, M.Nur Rizali, Alfian Arbie, OK Nazaruddin Hisyam dan bahkan belakangan Dalmy Iskandar yang menjadi tonggak awal perubahan pesat kampus swasta ini.

Pesanteran KHA Dahlan Sipirok: Tempat Almarhum pernah belajar

Pesanteran KHA Dahlan Sipirok: Tempat Almarhum pernah belajar

Anak Desa. Sibulanbulan adalah desa kelahirannya yang adalah asal kesenian tumba dan penghasil rempah-rempah itu. Desa ini terletak di luat Pahae di perbatasan Tapanuli Utara dengan Tapanuli Selatan. Sebagai anak desa ia akrab dengan adat istiadat serta nilai-nilai rural yang kental. Dalam bahasa misalnya, meski sebagai aktivis yang banyak sekali bergaul dengan orang dari berbagai macam suku, ia tetap khas dalam penyampaian pikiran (tegas) dan loghat yang kentara (Batak) tetapi selalu menonjol dalam logika dan persuasi.

Demokrat yang lugas ini ahli berkalkulasi, dan tak mengurangi respek dan kualitas silaturrahmi  meski sering berbeda pendapat dengan teman-teman seperjuangannya. Misalnya sewaktu terjadi gerakan yang memojokkan umat Islam dengan fenomena Komando Jihad, almarhum dengan tegas menolak keterlibatan dengan argumen bahwa:

Soal bentuk negara kita sudah selesai sejak dimerdekakannya Indonesia dari jajahan kolonial Belanda oleh para the founding fathers. Diskusi tentang Islamic state dan Islamic society memang selalu menarik, tetapi realitas politik mewajibkan kita mendukung Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Mengisi kemerdekaan sungguh sangat berat, dan itu akan sangat terganggu dengan perpecahan demi perpecahan. Kita harus secara terbuka menerima adanya perbedaan, dan jika harus keberatan adanya pihak yang berbeda dengan kita, maka sesungguhnya kita sedang tak setuju atas scnerio Al-khaliq. Ya, apa boleh buat. Sudah kita ingatkan sejak dini. Mereka memilih jalan buntu. Mereka itu semua teman-teman kita yang menjadi korban permainan politik belaka.

Itu penuturan almarhum Ali Mukmin Siahaan.

Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (1938) tempat almarhum pernah sekolah

Meskipun terlahir sebagai anak desa yang agraris amat sederhana, namun almarhum sama sekali tidak memiliki keterampilan bercocok tanam dan semua pekerjaan agraris lainnya sebagaimana teman sebayanya. Ia seolah menerima takdirnya bukan sebagai petani, melainkan sebagai pekerja intelektual yang kebetulan terlahir di sebuah desa terpencil. Di kampungnya hampir semua anak muda suka dan pandai benyanyi dan bergitar. Tetapi almarhum tidak memiliki bakat sama sekali untuk itu, meski amat faham syair-syair banyak lagu yang dinyanyikan oleh teman-teman sebayanya. Ia malah menjadi semacam tempat bertanya tentang makna lagu yang biasanya memang ditulis dengan bahasa tinggi (bukan bahasa pasaran/bahasa keseharian).

Semasa kuliah di Medan, sesungguhnya ia jarang berkesempatan pulang kampung meski pun itu pada waktu hari raya iedulfithri. Apasebabnya? Ia akan dengan tenang mengatakan “sai horas bema, nang pe so boi mulak tingki arrayo” (moga-moga selamat sejahtera sajalah kita semua meski tak bisa bertemu saat hari raya). Ia memang tak berkecukupan, dan hidup sehari-hari ditopang oleh kegiatan mengajar dan membantu pamannya (Martua Gultom) yang lain di Medan sebagai pembuat pot bunga. Tak berapa hasil yang dapat diperoleh apalagi karena keterlibatannya pun cuma separuh waktu.

Jembatan menuju SIbulan-bulan, Plank Madrasah, Padi menguning dan suasana desa kelahiran almarhum

Hijrah ke Yogjakarta. Putera sulung Zulhaq Khomeini Siahaan suatu ketika dipastikan diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomi UGM setelah berturut-turut menamatkan studi secara sempurna di SMP Negeri 1 (?) dan SMA Negeri 1 Medan. Inilah yang menjadi awal gagasan kepindahan keluarga almarhum ke Yogjakarta. Banyak hitungan yang dibuat dan yang menurut almarhum begitu menguntungkan untuk menyongsong masa depan generasi muda penerus. Pendidikan jelas lebih maju di Jawa, dan itu fakta yang tak bisa dipungkiri bahkan dengan mengadakan UN berbiaya besar setiap tahun.

Saat keluarga ini memutuskan hijrah ke Yogyakarta Zulhaq Khomeini Siahaan sang putera sulung tak lama lagi akan tamat dan tinggal mencari pekerjaan. Bagaimana dengan Fauzan Arafat Siahaan dan si puteri tunggal Dian Eka Puteri Siahaan? Mereka dipersiapkan untuk masuk di PT di Yogyakarta dan akhirnya memang tercapai. Dian Eka Puteri Siahaan diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomi UGM dan Fauzan Arafat Siahaan diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Yogjakarta.

Semua perhitungan almarhum tak meleset sama sekali. Kini Puteri tunggal Dian Eka Putri Siahaan sudah selesai kuliah (S1) dan sudah bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang sukucadang otomotif di Jakarta, sedangkan Fauzan Arafat kini tinggal menyelesaikan tugas akhir sembari aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Fauzan Arafat Siahaan juga mempunyai keterampilan mengelola usaha kecil-kecilan dalam bidang off farm. Sedikit-sedikit dapat uang, lumayan bantu orang tua, kata putera kedua almarhum ini satu ketika tentang kegiatannya di luar kuliah itu.

Dari tingkat kehidupan di Yogjakarta sebetulnya keluarga ini amat sederhana. Pemimpin Wisma Bukit Barisan milik Pemerintah Sumatera Utara di Yogyakarta Soripada Sarumpaet amat tahu itu yang suatu ketika menawarkan lokasi di lingkungan wisma yang dipimpinnya untuk pembukaan usaha warung nasi kecil-kecilan kepada almarhum, dan tampaknya berjalan lancar. Mahasiswa-mahasiswa asal Sumatera Utara yang berdomisili di wisma ini tahu, dan akrab dengan almarhum yang memang selalu mampu bertindak sebagai orang tua dan sahabat.

Tetapi itu sebuah pengorbanan besar mengingat persiapan yang dimaksudkan untuk generasi pelanjut. Zulhaq Khomeini Siahaan kini sudah mengajar sebagai PNS di sebuah PTS di Yogyakarta. Betapa bahagianya almarhum apalagi masih sempat menyaksikan progress putera puterinya. Orang Batak memang secara kuat memperpegangi prinsip Anakhonhi do hamoraon di au  (putera-puterikulah kekayaan sesungguhnya buat diriku).

Sembuh Seketika saat bicara urgensi umat dan bangsa. Pertengahan bulan ini saya masih sempat berbicara banyak tentang revitalisasi pondok pesanteran KHA Dahlan tempatnya pernah belajar setelah mengikuti publikasi yang saya buat di media. Saat di perjalanan menuju ke Sipirok, ke ponpes KHA Dahlan, tiba-tiba muncul sms dari Fauzan Arafat Siahaan yang memberitahu ayahnya sedang sakit. Saya tahu bagaimana cara meringankan penderitaan itu. Langsung saya telefon dan minta berbicara dengan almarhum.

Sebuah snapshot Sibulan-bulan, tempat kelahiran almarhum, desa kecil yang subur di blok Barat DAS Batangtoru

Sebuah snapshot Sibulan-bulan, tempat kelahiran almarhum, desa kecil yang subur di blok Barat DAS Batangtoru

Saya biarkan ia memaparkan pandangan-pandangannya seolah ia benar-benar sedang menangani masalah yang dia ceritakan. Kali ini topiknya tentang revitalisasi ponpes KHA Dahlan. Saya kemukakan kesimpulan saya tentang 3 faktor yang kini menjadi keniscayaan untuk dihitung dalam mengembangkan ponpes ini. Pertama, pertimbangan atas faktor demografis. Kedua, pertimbangan atas faktor politik dan otonomi daerah. Ketiga, pertimbangan nilai perubahan yang faktanya hari ini menyebabkan lembaga pendidikan dipandang sebagai industri.  Semua faktoritu dengan sendirinya mewajibkan adanya keunggilan kompetitif. Tanpa itu nyaris tak ada peluang merevitalisasi. Ia memahami dan setuju. Kemudian ia menyebut beberapa nama beken yang mungkin saja dapat memberi uluran tangan seperti teman sekelasnya di ponpes KHA Dahlan tempohari H Hasrul Azwar yang kini sudah menjadi orang nasional melalui PPP. Banyak nama ia sebut yang tak saya kenal maupun yang hanya tahu nama, dimintanya untuk dilibatkan membicarakan revitalisasi ponpes KHA Dahlan yang kini dipimpin oleh Jalaluddin Pane, SH itu.

Ia benar-benar ingat siapa Jalaluddin Pane, SH. “Oh, bagus itu. Dia anak bungsu dari Direktur pertama ponpes KHA Dahlan Abd Rasyid Pane. Mereka dari kalangan keluarga berhasil, dan pasti memiliki jiwa pengabdian besar. Saat saya di sana, Jalaluddin Pane, SH itu masih kecil, mungkin masih kelas 3 SD”, jelasnya.

Dia tak pernah berbicara menggurui, tetapi pokok-pokok pikirannya selalu jitu. Setelah berbicara kurang lebih seperempat jam, ia pun merasa sudah selesai dan lalu memberi hp kepada Fauzan Arafat Siahaan. Orang ini tertawa terbahak-bahak karena menyaksikan ayahnya sembuh seketika saat berbicara maslahat umat dan bangsa.

Salah Dugaan. Saya tak pernah menduga akan secepat ini ia pergi. Almarhum dulu, sewaktu di Medan, lama saya dampingi untuk perawatan-perawatan penyakit yang pernah dideritanya silih berganti, khususnya penyakit liver yang membawanya ke rumah sakit beberapa lama di Medan. Ia juga pernah disebut-sebut oleh dokter menderita penyakit jantung dan penyakit ginjal. Akhirnya ada keimmunan dalam perasaan saya setiap mendengar  ia sakit. Terutama lagi ketika diberitakan sedang sakit ternyata tak separah yang diberitakan ketika saya lawan bicara dan yang memang selalu terbukti begitu bersemangat meskipun itu lewat telefon.

Hari Selasa 26 Juli 2011 saya terima sms dari Yogjakarta. Saya tak mampu menjawab. Saya diam saja. Ada rasa berdosa karena sebelumnya merasa bahwa ia takkan apa-apa dan tak akan pergi secepat ini. Berarti pertemuan dan foto bersama saya dengan almarhum bulan Maret lalu adalah kenangan terakhir saat saya berkunjung ke rumahnya di pinggiran Yogjakarta yang benar-benar berwajah dan suasana kedesaan itu.

Saya ingin mengatakan secara sungguh-sungguh kepada putera-puterinya: “ayah kalian orang cerdas, jujur, tulus, bertanggungjawab, punya visi masa depan dan tidak avonturir, yang itu semua memang sama sekali tak mesti dan tak mungkin diukur dengan fakta betapa sederhananya hidupnya sampai akhir hayat”.

Itu jugalah yang akan saya katakan kepada cucu tunggalnya kelak setelah ia dewasa, yang sudah pasti sejak kepergian almarhum ini akan amat sangat kehilangan sosok dan figur yang amat kuat yang mestinya akan mewarnai pertumbuhannya.

Kepada isterinya yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan ibu kandung almarhum, Siti Hajar, ingin saya sampaikan dengan sungguh-sungguh bahwa suami ibu bukan cuma pahlawan untuk keluarga. Ia orang besar.

Allahummaghfirlah, warhamh, wa’afih, wa’fuanh.

Shohibul Anshor Siregar

Agussalim Sitompul Telah Pergi


7 Comments

  1. Inna lillahi wa inna ilaihi rodjiun.. Kami sekeluarga sbg org yg mengenal sosok beliau ketika msh di Yogya (2000-2003), menyampaikan turut berduka cita yg sedalam-dalamnya. Semoga arwahnya diberikan tempat yang layak disisi-Nya. Dan keluarga yg ditinggalkan kiranya tabah menghadapi cobaan ini.

    Kesederhanaan hidup dan ke-konsisten-an perjuangan beliau (dlm intelektualitas dan keluarga) patut menjadi panutan bagi kita yg ditinggalkan. Selamat jalan abanganda….

    ‘nBASIS: terimakasih atas do’anya

  2. Ucok Blue Eagle says:

    innalillahi wainna ilaihi roji’un
    selamat jalan pejuang

    ‘nBASIS: terimakasih atas do’anya

  3. tulang ada sedikit larat: Dian Eka Putri bukan diperbangkan, namun PT.ASTRA OTOPART(bergerak dibidang suku cadang) sebgai audit internar…Terimakasih atas posting ini tulang,,,

    ‘nBASIS: kita perbaiki.

  4. nirwan says:

    Pernah jumpa di Yogya dan Medan. Tatapan matanya penuh selidik. Dikatakan sebagai orang baik, karena lingkungannya berkata dia orang baik. Beliau orang yang baik. Ketika di Yogya, saya disarankan yang menulis postingan ini untuk menemui beliau. Saya jumpai. Waktu itu beliau bersama Pak Sarumpaet di Wisma Bukit Barisan. Mereka berdua memberi saya petuahnya. Pak Ali tampak bersemangat karena tahu kami berasal dari FISIP UMSU, walau kalau kuliah dulu kami tak sempat masuk perkuliahan beliau.

    Saya tahu beliau orang baik. Riwayat hidupnya baru tahu setelah baca postingan ini. Orang baik tentu berjalan di alam semesta dengan tenang. Tuhan maha pemurah dan penyayang. Beliau pasti sedang tersenyum di sana.

    ‘nBASIS:Allah yarham

  5. […] Ali Mukmin Siahaan: PERGINYA SEORANG AKTIVIS […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: