'nBASIS

Home » ARTIKEL » TELAH PERGI

TELAH PERGI

AKSES

  • 564,816 KALI

ARSIP


Bapak yang mengerti anak-anaknya yang beraneka cara berfikir. Bapak yang tak pernah menutup pintu. Bapak yang mengukur kemarahannya setakaran didaktik dan paedagogik. Bapak yang hampir-hampir dilupakan oleh anak-anaknya. Bapak yang tak pernah mengeluh. Bapak yang jika perlu berjuang secara singgle fighter. Bapak yang amat bersabar menghadapi segala bentuk pengkhianatan. Tuhan, maafkan segala kehilafan Bapakku ini. Allahummagfirlah. Warhamh. Wa’afih. Wa’fuanh.

Di kelas ia amat serius. Tidak mau ada orang yang bertingkah aneh, mengantuk, dan  apalagi bercakap-cakap. Ia meminta agar memilih ikut terus (kuliah) atau di luar saja. Ia orang yang sangat tangkas dalam mengemukakan pikiran, bukan cuma karena pilihan kata dan suaranya yang begitu jelas, tetapi lebih karena susun pikiran yang runtut dan terorganisasi dengan argumen yang kuat.

Kenangan Seorang Murid. Perkenalan awal saya dengan HM Nur Rizaly, SH adalah ketika pertamakali mengikuti perkuliahan yang beliau asuh, Pancasila. Itu semester pertama tahun 1977, pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan. Saya perhatikan betul. Beliau selalu menghabiskan banyak kapur, dan bolak-balik harus menghapus papan tulis. Terkadang sampai tiga kali. Bagian-bagian baju yang tersentuh telapak tangannya akan berpupur kapur usai kuliah. Ia amat serius dalam ucapan maupun gerakan, dan karenanya selalu berkeringat setiap mengajar.

Saat menulis di papan tulis ia bukan memindahkan catatan yang ia genggam ke papan tulis, tetapi semacam penegasan-penegasan pokok pikirannya, atau membuat visualisasi dari materi yang ia sampaikan. Ia pandai meresumekan dan menstrukturkan setiap masalah dan isyu. Saya merasa bahwa cara saya mengajar sekarang ini juga banyak dipengaruhi oleh almarhum guru saya ini.

Bukan cuma saya yang begitu tertarik dengan kuliah HM.Nur RizalY, SH. Seorang jurnalis pada harian lokal terkenal, Abdul Khaliq, yang pernah duduk di kelas Pancasila menuturkan pengalamannya.

Mata kuliah Pancasila yang diasuh beliau membuat aku mengidolakannya. Mentor intelektualku itu pergi dalam keihlasan. Selamat jalan ayahanda. Semoga Allah membalas semua amal ibadahmu dengan syurga. Amien…

Cair. Di luar kelas dan di luar situasi formal orangnya bisa sangat cair. Maka tak heran, ia pun pandai berseloroh terutama dengan orang-orang dekatnya (staf dan sesama dosen) maupun mahasiswanya sendiri. Membuat orang tersipu-sipu malu pun ia pandai: misalnya dengan bertanya ”kapannya kami dapat undangan ini?” (pertanyaan itu dihadapkannya kepada seseorang lajang yang dianggapnya sudah matang tetapi belum menikah).

Susah membedakan saat menjadi mahasiswanya dan saat  menjadi sejawatnya sesama dosen.  Ia benar-benar memperlakukan sebagai nara sumber penting setiap orang yang menjadi tempatnya bertanya. Seyumnya amat khas, dan saya amat faham senyum itu, terutama saat ia kurang dapat menerima logika dari sebuah argumen atau kesahihan informasi yang diterimanya dari seseorang, tanpa membuat lawan bicaranya kecil hati.

Dengan ingatan yang kuat dan dokumentasi yang amat baik, dia adalah seorang nara sumber yang amat kaya data. Dengan lancar sekali ia bisa menuturkan dinamika pemikiran yang terjadi saat sidang-sidang BPUPKI dan PPKI. Ia bisa menyebut di luar kepala hasil perolehan suara partai pada pemilu I tahun 1955 dan beberapa pemilu Orde Baru. Mengapa muncul pemberontakan separatis yang meluluh-lantakkan negeri, bagaimana seharusnya fundasi pembangunan diletakkan untuk akselerasi Indonesia, dan ia selalu dengan lancar bertutur serta siap beradu argumentasi. Telaah ideologi-ideologi besar dunia selalu dianggapnya penting. Juga geografi dan hitungan-hitungan kekuatan serta kelemahan bangsa-bangsa di dunia dalam rivalitas yang terkadang membuat penghalalan segala cara meski dengan tetap seolah menjunjung tinggi dokumen-dokumen sakral yang pernah dimiliki dunia tentang kemanusiaan dan keadilan.

Rasional. Ketika menjadi aktivis, bersama kawan-kawan saya pernah mengasuh sebuah majalah kampus bernama Menara Ilmu.  Selalu dilakukan diskusi untuk setiap topik yang akan dimuat. Artinya, majalah kami tidak bercerita tentang apa-apa kecuali apa yang kami anggap penting dan kami diskusikan serius terlebih dahulu. Suatu ketika junior saya Chairil Anwar mendapat tugas menuliskan hasil diskusi tentang sesuatu yang dianggap sensitif waktu itu, terkait dengan kepemimpinan.  Karena sifatnya yang demikian sensitif itu, sebelum dicetak, terlebih dahulu sudah saya konsultasikan dengan salah seorang pimpinan Universitas.

Tetapi yang terjadi kemudian ialah Ketua Rektorium (pimpinan saat transisi) memanggil Chairil Anwar karena tulisan itu dan dikenakan ancaman pemecatan. Padahal Chairil Anwar itu kader yang berbakat, terbukti kelak ia menjadi Dekan pada fakultas kami (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) bahkan menjabat 2 periode. Sayang usia kader pekerja keras ini pendek. Ia telah lebih dahulu pergi beberapa tahun lalu.

Saya mengambil inisiatif untuk bertemu, dan rupanya pihak Rektorium sudah memutuskan bahwa saya selaku pemimpin redaksi majalah itu akan dipanggil dan langsung berhadapan dengan HM Nur Rizaly. Saya jelaskan duduk permasalahannya, dan saya minta kalau ada pemberian sanksi maka terlebih dahulu pimpinan yang memberi izin penerbitan tulisan Chairil Anwar itu yang dikenakan lebih awal sebelum Chairil Anwar dan saya. Lagi pula, menurut pikiran saya waktu itu, jika Chairil Anwar akan dipecat, sebetulnya sayalah selaku pemimpin redaksi yang lebih pantas dipecat terlebih dulu.

Mendengar penjelasan itu HM Nur Rizaly, SH tertawa kecil. “Oh begitu duduk ceritanya. Saya kira kita sudah selesai. Pergilah lanjutkan lagi kegiatanmu”.  Saya pun merelakan semua sisa penerbitan yang belum diedarkan diserahkan kepada Rektorium untuk dimusnahkan.

Sekarang saya dapat membayangkan kira-kira bagaimana HM Nur Rizaly,SH beradu argumentasi dengan anggota Rektorium yang lain seputar masalah ini. Ia membela saya dan Chairil Anwar hanya karena memang merasa harus dibela.   HM Nur Rizaly tidak bisa disuruh menzdolimi, pun memberi sanksi secara tidak adil. Saya kira prinsip dan pendirian seperti itulah yang membuatnya terkadang seperti harus berseberangan dengan tokoh-tokoh lain sezamannya.

Kekeluargaan. Kerap saya datang ke rumah beliau di Jalan Santun, di kawasan Teladan, Medan, untuk kepentingan “semacam charge baterai”, yakni mengupdate pengetahuan saya tentang banyak hal, kepada beliau. Di depan pintu, salam saya akan saya ikuti dengan kalimat pemberitahuan “anak sulung datang”. Betapa cerianya wajah yang menyambut, dan seisi rumah akan dibuatnya ikut heboh. “Ibu, ini anakmu datang. Masak. Masak. Biar kita makan ala Pahae (nama kawasan kampung saya). Belikan petai, ikan teri. Bikin pedas ya bu”. Tak jarang semua penyambutannya dilakukan dengan berbahasa Batak yang fasih, padahal ia bukan orang Batak.

Memang ia mempunyai hubungan historis dan emosional dengan sebuah marga Batak, Tampubolon. Persatuan marga Tampubolon di Medan menganggapnya dongan sa butuha (saudara kandung). Anak-anaknya terutama Muchrizal dan Yuniar Nur saya lihat menguasai betul adat-istiadat orang Batak. Ibu, isteri beliau, yang meninggal tahun lalu, juga amat faham bahwa suaminya bukan cuma seorang aktivis organisasi, tetapi juga seorang akademisi dan seorang tokoh masyarakat yang memiliki jaringan dan pertemanan yang begitu luas,  bahkan melintasi batas-batas kultural.

Tentulah bukan saya saja di antara murid-muridnya yang diperlakukan hangat dan istimewa seperti itu.  Setahu saya semua kader-kadernya dari Angkatan Muda Muhammadiyah, khususnya dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), juga dari lembaga-lembaga kemahasiswaan  dan  diperlakukan sama, begitu hangat.

Saat mengedit tulisan ini seseorang mengirimkan pengalamannya bersama HM Nur Rizaly melalui inbox pada Facebook. Ia seorang mantan aktivis, teman akrab saya, bernama Juah Sinulingga. Katanya begini:

Membaca tulisan Pak Regar tentang almarhum Bapak HM Nur Rizaly SH, terasa seperti baru saja saya menginjakkan kaki di Kampus tercinta Jl Gedung Arca. Yang menanda tangani pengukuhan saya sebagai Ketua BPM FISIP UMSU serta Ijazah saya adalah beliau. Banyak kesan terhadap kepemimpinan beliau sebagaimana yang sedang Pak Regar tuliskan.

Suatu ketika saya dapat info yang lucu dari teman-teman mahasiswa bahwa beliau “menduga saya bukan seorang muslim”. Atas dugaan ini saya tidak membantahnya tapi saya ajak beberapa teman ke rumah almarhum di Jalan Santun menjelang maghrib dan saat tiba waktu shalat maghrib kami shalat berjama’ah yang diimami oleh almarhum sendiri. Selanjutnya kami makan malam bersama. Alhamdulillah saya dapat menjawab keraguan beliau tentang saya dengan cara yang menurut saya baik.

Seandainyalah saya memang bukan seorang muslim, sungguh sama sekali saya tak pernah merasa diperlakukan tak sama ramahnya dengan yang lain oleh beliau, apalagi diperlakukan tidak adil. Saya yakin sikap seperti itu yang beliau tunjukkan kepada siapa pun.

Selamat jalan guru, semoga semua amal ibadah selama hidup diterima Allah swt dan diampunkan semua kesalahan dan dosa yang ada. Amin YRA

Marah. Selain kegembiraan, MM Nur Rizaly,SH juga pernah marah kepada saya, meski sangat jarang disampaikan langsung. Jika pun akan marah secara langsung, pilihan katanya pastilah amat terkontrol. Saya hanya lebih banyak membaca dari raut wajah dan kalimat-kalimat yang kurang hangat saat beliau marah kepada saya.

Sekarang, setelah beliau tiada, saya malah ingin dimarahinya. Karena saya tahu, marahnya pastilah bertolak dari kecurigaan dan kekhawatirannya tentang kemungkinan pergeseran prinsip saya dalam menghadapi masalah-masalah tertentu. Sebetulnya ia hanyalah seperti marorot (menggembala) saja.

Kepada kita semua, Nirwansyah Putera Panjaitan, seorang jurnalis alumni Program Studi Ilmu Komunikasi mengingatkan:

Inna lillahi wa inna ilaihi ro’jiun. Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Berkah dan ampunan kepada Bapak HMNur Rizaly,SH di perjalanan berikutnya. Menjadi peringatan bagi yang masih berjalan di bumi saat ini.

Guruku HM Nur Rizaly,SH telah pergi. Dalam usia 77 tahun ia “tepati janji” lewat tengah hari, Jum’at 11 Nopember 2011.

63665_131641826999333_1507526918_n

Advertisements

4 Comments

  1. arief rahman says:

    innalillah wa inna ilaihi rajiun… selamat jalan pak nur… semoga bapak kini sudah tenang di sisiNya… amin…

    ‘nBASIS: insyaa Allah

  2. Mujhirul Iman says:

    semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: