'nBASIS

Home » ARTIKEL » AGENDA KEUMATAN, KEBANGSAAN DAN KEMANUSIAAN

AGENDA KEUMATAN, KEBANGSAAN DAN KEMANUSIAAN

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Century Gate telah mempertontonkan kelumpuhan total dalam penegakan hukum termasuk reformasinya yang berakhir tragis. Ketika KPK menganggap dirinya amat tersanjung dan semakin penting untuk secara abadi menjadi lembaga superbody sambil berangan-angan memperluas sayap kekuasaan aneh hingga ke daerah-daerah, sembari menertawakan lembaga-lembaga penegak hukum konvensional sebagai cacat nasional kebangsaan, maka kuburan  cita-cita pemberantasan korupsi telah digali di sekeliling wilayah Indonesia yang luas, bahkan termasuk di garis-garis perbatasan terluar dengan negara tetangga yang selalu dipertengkarkan dengan memalukan itu

TULISAN ini adalah sebuah upaya mencatat Indonesia dalam tahun 2011 yang segera akan berakhir. Saya berusaha mengelompokkan permasalahan dalam 3 level, yakni keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan internasional. Tentulah tak mungkin diceritakan detil tentang semua yang telah terjadi selama tahun 2011.

Dengan memberi istilah keumatan, saya lebih bermaksud menunjukkan sebuah mayoritas, yakni Islam dengan tanpa maksud mengabaikan yang lain.  Alasan saya sederhana saja, yakni faktor sebagai mayoritas itu sendiri yang kemudian tak terhindari menjadi determinan pula. Banyaklah contoh yang dapat dipetik untuk itu.

Agenda kebangsaan saya maksudkan tentang jerih payah tak berhasil dalam proses kenegaraan nasional maupun lokal dalam banyak hal yang dituntut kepada proses itu secara moral maupun hukum. Orang kerap menyebut istilah asing good governance, dan saya kira acuan itu pun dapat digunakan dalam konteks ini. Sedangkan bagian terakhir saya maksudkan untuk mendeskripsikan tanggung jawab sebagai sebuah negara merdeka dalam memberi andil memperbaiki kemanusiaan, dan itu berdimensi universal.

Tampaknya tidak kurang manfaatnya untuk menjadikan catatan akhir tahun ini sebagai dasar untuk memprediksi ke depan, setidaknya untuk kurun pendek satu tahun (2012).

Keumatan. Islam itu bermulti wajah. Dengan menyebut angka statistik belaka tidak memadai untuk mengenali. Selama tahun 2011 beberapa peristiwa yang menonjol cenderung bermuara dan mengundang pemikiran berkisar pada 5 persoalan penting, yakni kemiskinan kepemimpinan dan keteladanan, komoditisasi agama, konservatisme agama, kemajemukan agama dan keadilan gender.

Telah biasa menyaksikan kepemimpinan komunitas dengan segenap kendala struktural dan kulturalnya yang seakan memantangkan penerapan ukhuwah. Tak ubahnya sesama bis kota, terlihat aksi-aksi dan ambisi saling mendahului, dan terkadang dicoba diselesaikan dengan penghukuman-penghukuman yang tak ubahnya seperti meminjam dengan tak sah kewibawaan ketuhanan dalam urusan-urusan kecil dan amat praksis serta bertujuan amat jangka pendek. Agama kerap dianggap komoditi belaka, dan semakin lazim saja tampaknya.

Bisakah kita meniadakan suara menuduh yang mengatasnamakan tokoh agama tentang 9 kebohongan lama dan 9 kebohongan baru Presiden SBY yang terkenal itu? Ini sudah seperti membuat agama tak ubahnya sebagai pupur di wajah, sekadar melegitimasi suara-suara politik yang tak terjembatankan lewat saluran-saluran yang tersedia. Secara diametral semangat ini sama sekali tak bertalian dengan pelembagaan politik keagamaan, karena model pemahaman baru yang digandrungi tak lain dari ajaran sekularitas yang diajarkan Barat, bukan oleh agama itu sendiri.

Di pihak lain kemajemukan agama tak akan hanya meminta perhatian saat natal dirayakan dan dikhawatirkannya radikalisme mengatas-namakan agama berbicara seperti pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Teror sebagaimana dijadikan sebagi target perburuan memang telah mereda, tetapi itu sama sekali tak menjadi bukti bahwa permasalahan sesungguhnya telah disentuh dan difahami. Tidak sama sekali.

Jika perempuan sudah lazim menjadi komoditi dagang seperti terpajang di hampir semua tayangan media,  atas nama liberlisasi model apa pun sebetulnya tak mungkin ada toleransi terhadapnya. Ini jauh lebih sederhana dari resistensi yang sangat bernilai permusuhan terhadap Islam saat siswi dan mahasiswi tak diberi hak penuh sebagai peserta didik saat mencoba berislam ria dalam berbusana beberapa dasa warsa lalu. Ini bukan masalah gender, meski isyunya selalu lebih menonjolkan arogansi konsep Barat tentang perempuan dan keperempuanan.

Kebangsaan. Revitalisasi karakter bangsa, pemberantasan korupsi, reformasi lembaga penegakan hukum, perlindungan dan kesejahteraan pekerja, sistem suksesi kepemimpinan, reformasi birokrasi, reformasi agraria dan kebijakan pertanahan, adalah agenda kebangsaan yang andilnya cukup besar untuk menimbang apakah negeri ini sudah layak atau belum untuk dijuluki negara gagal (failed country) sebagaimana gencar disuarakan oleh beberapa kalangan beberapa bulan lalu. Ketika mengakhiri tahun 2010 kelompok mantan aktivis 77 Jakarta menyerukan tahun 2011 sebagai tahun pergerakan mengingat banyak faktor pertimbangan, termasuk karena matematika hukum dianggap telah kehilangan ruh keadilan tersebab menjauhi kebenaran filosofis dan sosiologis, dan mengingat menonjolnya proseduralitas. Maka wajah negeri ini sudah semakin  jelas tak ingin bicara keadilan sama sekali. Century Gate telah mempertontonkan kelumpuhan total dalam penegakan hukum termasuk reformasinya yang berakhir tragis. Ketika KPK menganggap dirinya amat tersanjung dan semakin penting untuk secara abadi menjadi lembaga superbody sambil berangan-angan memperluas sayap kekuasaan aneh hingga ke daerah-daerah, sembari menertawakan lembaga-lembaga penegak hukum konvensional sebagai cacat nasional kebangsaan, maka kuburan  cita-cita pemberantasan korupsi telah digali di sekeliling wilayah Indonesia yang luas, bahkan termasuk di garis-garis perbatasan terluar dengan negara tetangga yang selalu dipertengkarkan dengan memalukan itu.

Cerita tentang Siti Hajar yang kepalanya dipalu oleh majikan dan sejumlah kantong mayat dari luar negeri, adalah cerita pahit tentang ketidak-mampuan negara memberi perlindungan terhadap warganya. Negeri yang tak mampu memberi makan rakyatnya telah menumbuhkan kebiasaan nasional baru, yakni beradu nyawa di manca negara dengan tanpa kejelasan perlindungan. Tuhan Maha Tahu ketika mereka menjadi syahid karena berbagai proses yang memaksa sebagai manusia biasa. Tanpa tanda jasa dan tembakan salvo saat pemakaman, mayat-mayat pejuang itu adalah bukti-bukti sejarah perlawanan terhadap kemiskinan yang tak pernah disertai sungguh-sungguh oleh negara. Kita tentu tidak usah mempertentangkan lagi mengapa pengawalan terhadap modal harus menyembelih eksistensi kemanusiaan di berbagai tempat. Jamak sekali peristiwa yang manjadikan kucuran darah sebagai peredam teriakan keadilan. Negara masih bungkam untuk ini.

Kemanusiaan universal.  Krisis kemanusiaan modern, krisis pangan dan energi, krisis ekonomi global, krisis lingkungan dan perubahan iklim dan migrasi global telah membuktikan kesatuan sistem yang gagal dalam pencarian harkat dan martabat kemanusiaan universal. Negara lemah seperti Indonesia sudah patut saja bersyukur manakala ia bisa lepas dari kerangka penjajahan baru dalam arena globalisasi yang membuatnya tunduk dan patuh pada dikte-dikte internasional yang memilukan. Ia tak punya banyak andil untuk memperbaiki tata dunia yang rusak, kecuali sekadar menerima nasibnya sebagai pasar baru yang segar untuk berbagai komoditi dan penyedia sistem sumber untuk kebutuhan industrial raksasa sistem dunia. Bertahan pada kepandaian elementer sebagai penyabar dalam stanganasi status pengrajin industri ekstraktif telah pula menunjukkan bobot kemalasan negeri ini untuk menghadapi tantangannya sendiri.

Penutup. Tahun lalu seorang perwira aktif pernah mengkritik pedas kepemimpinan nasional. Ia menyalahkan tanpa basa-basi. Tetapi teriakannya itu tidak juga terjawab meski koalisi raksasa petinggi politik memberi perlindungan superkokoh. Apa yang hendak dicari ketika tahun 2014 telah semakin dekat? Kemaslahatankah? Kekuasaan yang tak tahu keadilankah? Itulah sebuah pertanyaan bagi pengelola dan pencita kekuasaan. Sebagaimana tahun 2011, saya tak meyakini akan ada gerakan berat sebagaimana isyu pemakzulan pernah digulirkan. Tahun 2012 adalah penyesuaian-penyesuaian baru atas pemaafan-pemaafan diri untuk ketidak-mampuan menjawab tantangan yang berakumulasi dari kegagalan tahun 2011. Hopless.

 Dipublikasi pertamakali oleh Harian Waspada,Kamis 29 Desember 2011, hlm B4


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: