'nBASIS

Home » ARTIKEL » TENTANG PEMIMPIN BANGSA DAN NEGARA YANG HARUS JAWA

TENTANG PEMIMPIN BANGSA DAN NEGARA YANG HARUS JAWA

AKSES

  • 545,455 KALI

ARSIP


Yusril Ihza Mahendra tampaknya ingin sekali mengintroduksi konsepsi kepemimpinan baru untuk Indonesia yang terbentur dengan tradisi dan mitis Jawa dan model demokrasi langsung yang berkembang. Jawa itu bukan orang yang (misalnya karena) lahir di Pacitan. Betul? Ini catatan Yusril Ihza Mahendra yang “diparkir” di sebuah akun facebook. Nice try, Yusril.

Setelah lumayan banyak tanggapan mengenai makna ‘orang Jawa’, maka ada sisi lain yang agak filosofis dan mistis (dalam makna seperti tasawwuf) yang patut dipertimbangkan. Dalam pemikiran filosofis dan mistis Jawa, tidaklah sebarang orang Jawa bisa menjadi pemimpin bangsa dan negara, meskipun dia seorang bangsawan, bahkan putra mahkota raja yang bertakhta.

Seperti dikatakan Kanjeng Sinuwun HB X, pemimpin yang bisa menyelesaikan persoalan bangsa yang sangat pelik ini, bukan sekedar pemimpin yang dipilih oleh rakyat dan diridhoi oleh Yang Maha Kuasa, melainkan pemimpin yang dipilih oleh Yang Maha Kuasa sendiri, namun dilegitimasi oleh rakyatnya melalui pemilihan. Dalam konteks inilah, agaknya, tersirat makna pemimpin yang ‘Jawa’ itu.

Secara filosofis dan mistis, makna dari ‘Jawa’ itu dapat ditarik dari kata “jahwiyyah”, yakni orang yang menerima ‘wahyu’. Tentu pengertian ‘wahyu’ dalam konteks filosofi dan mistis Jawa berbeda dengan pengertian ‘wahyu’ dalam ajaran Islam, yang diyakini sebagai sesuatu yang hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan Rasulnya, yang berupa ajaran untuk disampaikan kepada manusia.

Dalam peristilahan filosofis dan mistis Jawa, ‘wahyu’ adalah kekuatan atau kekuasaan yang datang dari Yang Maha Kuasa yang diberikan kepada seseorang, karena dia dipilih untuk mengemban tugas memimpin bangsa dan negara. Istilah ‘kewahyon’ menunjuk bahwa seseorang itu mendapat ‘wahyu’ dalam makna tadi.

Kalau demikian maknanya, maka pemimpin yang harus ‘orang Jawa’ bukanlah bermakna pada dirinya secara bilologis mengalir ‘darah Jawa’, melainkan orang yang mendapat ‘wahyu tadi’. Orang yang mendapat ‘wahyu’ itu bisa secara biologis mengalir ‘darah Jawa’ pada dirinya, bisa juga bukan. Saya kira inilah makna pemimpin yang harus ‘orang Jawa’ itu. Atau sampeyan (anda) punya pendapat lain yang berbeda? Monggo, silahkan…

Yusril Ihza Mahendra

Advertisements

5 Comments

  1. sahraniaulia says:

    Koq harus begitu ya.?

    ‘nBASIS: ya, begitulah.

  2. Kopral Cepot says:

    Mungkin krn “Jawa” yang pertama di jajah Belanda 😉

    Orang sunda katanyah bukan orang jawa …

    ‘nBASIS: pokonya Sunda gak ikut bertanggungjawblah atas kebobrokan ini.ha ha.

  3. sastra says:

    Manusia semua sama ketaqwaannya yang membedakannya

    ‘nBASIS: taqwa.

  4. abcdef says:

    berbicara soal,pemimpin memang sangat krusial dan pelik.bahkan kelahiran seorang peminpin bisa dimaknai dengan sangat kental akan budaya dimana seorang pemimpin itu dilahirkan.tapi yang jelas seorang pemimpin tidak harus dibatasi oleh asal usul.budaya latar belakang kesukuan ,etnis bahsa ataupun yang bersifat sempit.memang kit harus mengakui bahwa seorang pemimpin dan kelahiran peminpin membutuhkan beberapa persaratan mutlak yang harus dipunyai bagi seorang caloan peminpin itu sendiri.rosulullah umpanya disamping memang dia dipilih oleh allah sebagai calon pemimpin umat,ysng dibekali dengan akhlak mulia dan dari keturunan bngsawan,karena muhammad sangat mengerti akan nilai niloai yang akan diemban,yaitu tentang bagaimana membngun sebuah rancangan kehidupan yang didalamnya sangat kentalo dengan apa yang disebut manusia dengan segala kealebihan dan kekurangan yang ada dalam diri manusia itu sendiri.jadi kepemmimpinan dalam kontek keindonesiaan tidak mesti dan harus orng-orng dari suku dan etnis jawa.disamping ini bertentangan dengan UUD juga menyalahi konsep kebhinekaan yang merupakan filosufi bangsa ini.jadi bahawa kepemimpinan dalam kuntek indonesia kedepan adalah siapapun dia dari suku mana bukan menjadi persoalan,yang menjadi persoalan bisakah pemimpin itu patut untuk dicontoh,mampu menyatukan cita-cita bersama dlam bingkai kebngsaan,tetap dalam ketaatan kepada TUHAN YANG MAHA ESA dan kosisten dengan apa yang sudah menjadi kepakataan dan cita-cita bangsa indonesi yang tertuang dalam dasar dan falsafah negara indonesia yaitu PANCASILA DAN UUD 45.jadi kesimpulan pemimpin indonesia masa depan adalah orng yang punya kemampuan untuk merealisasikan apa yang menjadi cita-cita bngsa itu sendiri.

    ‘nBASIS: terimakasih pencerahannya.

  5. […] persis sama, Pilpres 2009 sudah bercerita tentang kandasnya JK meski dipasangkan dengan Wiranto.  Yusril Ihza Mahendra sendiri cukup pusing karena ini, dan kemudian dengan sangat piawai mencoba meyakinkan Indonesia […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: