'nBASIS

Home » ARTIKEL » DEMOKRASI DANGA-DANGA DAN PEMILU 2014

DEMOKRASI DANGA-DANGA DAN PEMILU 2014

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


Ketidak-berdayaan yang diakui secara resmi dalam penegakan hukum terhadap kejahatan politik bukan cuma sekadar pengakuan jujur atas ketidak-mampuan. Berapa besar implikasinya kepada kelanjutan demokrasi, tentulah patut dihitung.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Saleh P Daulay dan Ketua PW Muhammadiyah Sumut Asmuni, Senin (16/1/12) lalu, di Medan, menjadi pembicara pada sebuah dialog bertajuk “Ormas Islam (Muhammadiyah), Menatap 2014: Antara Dakwah Sosial dan Politik Kultural”. Bersama mereka hadir aktivis PAN Bima Arya dan Peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi. Dialog ini diselenggarakan PW Pemuda Muhammadiyah Sumut.

Terutama karena tak berpandangan fatalistik, maka rasanya Muhammadiyah menjadi tidak mungkin membiarkan proses suksesi 2014 ini berlangsung sedemikian rupa tanpa intervensi penting untuk upaya perbaikan mutu demokrasinya, termasuk model orbitasi calon-calon pilihan, bahkan hal-hal yang dianggap sudah menjadi kebiasaan keseteruan setan semisal transaksi uang.

Buruknya kinerja KPU tentu sudah menjadi catatan bagi semua pihak, meski tak satu pun bisa mengantisipasi agar KPU dan jajarannya tidak terjebak (lagi) dalam tuduhan peran mesin suara.  Suara-suara keberatan berdasarkan ketersinggungan moralitas biasanya tak pernah absen dari kampus untuk segala bentuk deviasi, tetapi untuk perjalanan demokrasi buruk Indonesia hal itu langka ditemukan. Industri survey yang tumbuh pesat merasa tak berurusan dengan hal itu. Mereka punya agenda tersendiri, dan Indonesia tampaknya sudah direlakan tak punya lead untuk menemukan harkat dan martabatnya tak ubahnya pesawat autopilot. Konon dosa-dosa dan pelanggaran pesta demokrasi sudah terlanjur difahami sebagai sesuatu yang harus dimaafkan begitu saja, dan tak boleh dianggap terkait dengan integritas kebangsaan dan kenegaraan.

Saya memang berkeyakinan bahwa niat “memanusiakan manusia Indonesia dan menegarakan negara Indonesia”, ada pada setiap orang. Juga pada organisasi dan kelompok-kelompok sosial lain di luar Muhammadiyah. Bahkan partai politik yang akan “buka jualan” pun harus diasumsikan memiliki niatan yang sama, kecuali Anda berpendapat lain atas argumen tertentu.

Tantangan Berat. Indonesia jangan salah urus (lagi) ke depan, dan hendaknya cukuplah ketegangan kemaren-kemaren yang hingga sejumlah tokoh agama termasuk Dien Syamsuddin, Ketum PP Muhammadiyah, menuduh Presiden SBY pembohong. Pada pertemuan dengan para tokoh nasional Kamis (19/1/2012) lalu Dien Syamsuddin angkat bicara lagi. Ia menyebut adanya kelompok yang menyuarakan pemakzulan (impeachment). Forum ini mengangap Presiden SBY tidak bisa menjadi tauladan sejati. Tetapi tidak semudah itu tampaknya. Dilihat dari tokoh-tokoh yang hadir, barangkali forum ini bukanlah sesuatu yang akan menyebabkan gelombang besar gerakan yang bisa memaksa terjadinya sesuatu hal yang lebih keras kecuali semacam radikalisasi belaka atau sinisme yang semakin tinggi kepada pemerintah.

Tetapi pertanyaannya saat ini, Muhammadiyah hendak berbuat apa untuk perbaikan Indonesia dan termasuk demokrasinya, serta bagaimana caranya memastikan diri tidak terbawa ayun politik ke sana dan kemari dalam sebuah keterpancingan menggiurkan oleh hedonitas politik? Saleh P Daulay dan Asmuni mestinya tak harus menganggap tak penting hal ini. Mestinya konstruksi self detachement  (jarak) inilah yang pertama harus diperjelas oleh mereka berdua sebelum berbicara sepuasnya tentang apa saja yang mereka anggap perlu diucapkan.

Banyak kritik internal yang muncul dalam Muhammadiyah dan sampai kepada kesimpulan bahwa degradasi itu sedang memuncak. Tak bisa lagi menjadi lead  sebagaimana pernah tercatat pada zaman keemasannya dulu. Mitsuo Nakamura (1995) memang tak begitu setuju dengan pendapat Muhammadiyah telah mundur, sebagaimana halnya Kim Hyung-Jun (2010) yang mencoba merinci rahasia kebertahanan (survive) Muhammadiyah hingga mampu melintasi abad sambil mengacungkan jempol terhadap pemahaman dan penerapan demokrasi di lingkungan Muhammadiyah. “Musyafir” seperti kedua antropolog ini memang tak selalu bermanfaat didengarkan, sama halnya dengan petugas-petugas pembuat angka untuk deskripsi elok tentang perikeadaan sesuatu (daerah atau Negara), yang dengannya orang menjadi teraniaya karena kesulitan mengidentifikasi manakah fakta dan mana pula angan-angan.

Banyak berbicara ke luar saat ini, bagi Muhammadiyah akan bisa terjebak tuduhan dan gugatan nasehat lama “telunjuk lurus kelingking berkait”. Seluruh-lurus dan setegang sebuah telunjuk mengarah kepada subjek tertentu, paling tidak 3 jari yang lain telah mendakwa diri sendiri. Inilah dilema yang kerap “menghantui” ketika akan memutuskan akan berani atau takut berbicara mempreteli dosa-dosa dan keingkaran orang lain (penentu kebijakan dalam pemerintahan).

Bahwa demokrasi bukanlah sebuah sumber instant perbekalan material dan ransum telah dengan sadar mencerahkan pandangan terhadap blue print yang menjadi prioritas dalam membayar “hutang-hutang KH A Dahlan”, pendiri organisasi ini. Demokrasi adalah nilai meski harus diwadahi oleh prosedur dan instrumentasi yang memang dalam banyak eksperimen bisa saja membuat aktor-aktornya membunuh secara sistematis cita-cita demokrasinya sendiri.

Kesalahan Besar SBY. Evaluasi pemerintah terhadap suksesi lokal telah menghasilkan upaya revisi ketentuan  yang pada intinya akan mengembalikan supremasi legislatif dalam pemilihan Kepala Daerah. Konon disebut-sebut model ini bertanggung jawab atas ramainya Kepala Daerah masuk penjara karena harus membayar hutang-hutang akibat money politic yang “diinvestasikan” saat berebut jabatan. Manakah yang lebih buruk, pilpreskah atau pemilukada? Manakah yang paling dahsyat daya hancurnya untuk demokrasi, pilpreskah atau pemilukada?

Semestinya hal ini harus jelas sejelas-jelasnya sebelum memutuskan terapi kebobrokan demokrasi yang “wajib” terjadi dalam pemilukada. Rakyat di sebuah daerah yang sudah sangat welcome terhadap money politic adalah rakyat yang sama dengan tingkah yang sama untuk pilpres. Jika keduanya adalah dosa sejarah demokrasi Indonesia, maka dengan mengabaikan pertimbangan sehat dari pelajaran kedaulatan rakyat ini mestinya keduanya harus diperlakukan sama.

Bagaimana menindak pelaku kecurangan dan pelaku money politic dalam pemilu adalah agenda besar yang tak dianggap penting oleh pemerintah sehingga seperti dokter yang menerima pasien penderita gizi buruk namun diterapi dengan operasi otak. Ini memang kesia-siaan yang didasarkan pada ketidak-jujuran, antara lain kejujuran dalam menegakkan supremasi hukum.

Membayangkan pemilukada versi lama yang kini akan diusahakan kembali lagi (supremasi legislatif) akan lebih sepi dari transaksi uang adalah sebuah kenaifan luar biasa, meski disebut-sebut prosesnya akan diawasi oleh pihak-pihak kompeten. Ketidak-berdayaan yang diakui secara resmi dalam penegakan hukum terhadap kejahatan politik adalah pengakuan jujur atas ketidak-mampuan. Berapa besar implikasinya kepada kelanjutan demokrasi, tentulah patut dihitung.

Penutup. Dengan tajuk dialog “Menatap 2014: Antara Dakwah Sosial dan Politik Kultural” semestinya Saleh P Daulay dan Asmuni wajib berbicara tentang modalitas Muhammadiyah dalam memperbaiki kondisi buruk (demokrasi danga-danga: bahasa Medan) bersama-sama komponen-komponen lainnya. Tangisan dan penyesalan terhadap kemelencengan perjalanan demokrasi pada gilirannya adalah hal yang wajib mereka lakukan setelah mendeskripsikan demokrasi danga-danga itu secara cermat. Masih ada harapan, asalkan tetap kokoh dalam jarak yang cukup jauh dari peluang musibah terjerembab oleh hedonitas politik yang berbahaya.

Dipublikasi pertamakali oleh Harian Waspada Medan, Kamis 26 Januari 2012 hlm B4
Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘nBASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya).


2 Comments

  1. […] Demokrasi Danga-Danga dan Pemilu 2014 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: