'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEMILIH UNTUK KEBAJIKAN

MEMILIH UNTUK KEBAJIKAN

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Konon, belasan nama bakal calon Gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) dan Cawagubsu yang sudah gencar diberitakan media massa dan ramai pula diperbincangkan oleh masyarakat di warung-warung kopi. Memang ada tak cuma baliho dan spanduk, melainkan juga gerakan mengitari wilayah-wilayah strategis politik untuk memperbesar popularitas. Pasti aka nada eskalasi pergerakan mereka, hingga mencapai puncaknya kelak tak ubahnya “pertempuran” habis-habisan dengan berbagai cara.

Tidak ada jaminan tak terjadi pengulangan praktik dalam berpolitik dalam Pemilukada Sumut 2008. Etika politik di sini bisa, dan biasa disepelekan. Semakin mungkin dilazimkan mengingat dianggap tak pernah menjadi masalah besar untuk tahap perkembangan demokrasi di Indonesia, tak terkecuali Sumut. Siapakah yang punya andil? Katakanlah ini andil bersama.Tetapi pertumbuhannya secara kualitatif dan kuantitatif sebagai budaya demokrasi mestilah karena dipandu langsung oleh elit yang sudah dilegitimasi dengan proses buruk politik yang sama pula. Karena itulah masyarakat harus lebih waspada menghadapi “kegaduhan” ini.

Tak Ada Pesimisme. Saya sangat yakin bahwa kesulitan sosial ekonomi telah semakin memungkinkan terjadinya pesimisme dan apatisme yang bernyala-nyala di hati banyak orang di Indonesia, termasuk Sumut. Memang tak persis sama dengan situasi dan kondisi kepemimpinan Mao di China dalam memasuki abad 20 tempo hari. Para pemimpin begitu berjarak dengan masyarakat yang dipimpinnya, sehingga lebih baik disebut seakan buta dan seakan tuli ketimbang disebut mengetahui dengan baik dan benar aspirasi yang berkembang di tengah masyarakatnya.

Orang-orang di sekitar kekuaasaan, sebagaimana di lingkungan Mao, dengan norak berseliweran kalangan Yes man. Tuan-tuan Yes man ini yang mendustakan fakta kepada dirinya dan kepada masyarakatnya, hingga menjadi keniscayaan jarak pasti antara masyarakat dengan pemimpin. Kondisi itu dapat mendorong. Percayalah, Pemilukada Sumut 2013 akan gairah. Saya yakin itu. Tak akan ada gerakan yang serius untuk mengajak golput. Apalagi money politic masih akan menjadi modus penting nanti. Orang-orang dengan sikap golput adalah produk perenungan sehingga secara nalar melawan kekuasaan dan pernak-perniknya dengan golput itu.

Jangan konfrontir hal ini dengan data partisipasi politik yang minim dari berbagai level suksesi selama ini. Golput yang terdokumentasikan di Kantor KPU adalah golput by design, karena buruknya tak hanya sosialisasi, tetapi juga pembuatan daftar pemilih tetap (DPT) yang diyakini pasti mempunyai motif.

Kebajikan. Sayang sekali jika partisipasi politik masyarakat diremehkan. Malah kalangan civil society yang mulai menemukan dirinya dalam berbagai LSM, perlu mengagendakan penyadaran. Adalah sebuah arah yang tepat jika orang-orang terdidik di tengah masyarakat mulai membincangkan secara serius peluang-peluang perubahan melalui entry point Pemilukada.

Andaikan mereka berusaha memproyeksikan Sumut  5 tahun ke depan, dan dengan itu mereka mempersatukan tangan-tangan kecil yang tak banyak daya untuk menentukan apa yang sebaiknya dibuat dalam rangka menginterupsi secara keras kontinuitas persandiwaraan politik khas suksesi. Menghentikan kontiniutas persandiwaraan politik khas suksesi adalah jembatan langka menuju perubahan yang diperlukan. Itu lebih baik bagi masa depan. Itu memang bisa memperlebar jarak dengan peluang memperoleh satu dua gepok buah tangan khas suksesi politik yang menyandra masa depan.

Tetapi kebajikan ini dapat mengangkat harkat dan martabat, meski beresiko dan memiliki konsekuensi-konsekuensi lainnya yang dapat tak mengenakkan pula. Tetapi, jika bukan sekarang, kapan lagi ada perubahan? Pertanyaan itu perlu diteruskan dengan pertanyaan lain: jika bukan saya, siapa lagi yang bersedia melakukan prakarsa penting ini? Itu sebuah kewajiban yang perlu segera hadir dan meluas.

Hasil Survey 2008. Pada saat Pemilukada Gubsu 2008, jaringan “nBASIS beserta seluruh jaringannya melakukan berbagai aktivitas. Di antaranya survey yang diintegrasikan dengan survey awal Pemilu (termasuk pilpres) 2009 atas kerjasama dengan LSN Jakarta. Dari hasil survey ini diketahui bahwa masyarakat Sumut memiliki harapan perubahan yang serius, terutama dalam hal pengurangan angka pengangguran, perbaikan kerusakan jalan, penanggulangan bencana banjir, keberpihakan terhadap sektor pertanian.

Masalah tanah berada pada urutan berikutnya disusul pengembangan pendidikan bermutu, krisis energi listrik, pencegahan kerusakan hutan dan penindakan yang tegas atas pelaku korupsi, ancaman narkoba yang semakin membahayakan, pencemaran lingkungan dan keamanan. Tiga masalah yang berada pada urutan terakhir dalam pandangan masyarakat waktu itu ialah kerukunan antar umat beragama, masalah dan ancaman berlalu lintas dan masalah tata kota.

Untuk memperbesar kebajikan itu, masyarakat perlu berharap hadirnya pemimpin yang benar faham kedudukannya sebagai pelayan. Tidak perlu muluk-muluk berharap hadirnya tokoh semerakyat Jokowi, Walikota Solo itu. Jika hanya akan berharap menjadi mata rantai tim sukses si anu atau si polan, kebajikan memilih boleh jadi berkurang.

Status kerakyatan Indonesia kontemporer memang perlu naik kelas. Antara lain dengan hadirnya kebajikan dalam bentuk kemampuan mengoreksi kealpaan pemimpin. Termasuk kemampuan memilih yang terbaik di antara yang buruk-buruk. Ini bukan nasib yang tak bisa dirubah. Coba saja kalau masih belum percaya.

Penutup. Tahun 2012 ini, sudah layak dilakukan evaluasi apakah semua permasalahan yang dikeluhkan oleh masyarakat saat terlaksananya kampanye Pemilukada Gubsu 2008 masih belum berubah secara kuantitaif dan kualitatif. Sebaiknya pula isu-isu seperti itu ditonjolkan dalam penentuan pilihan politik pada Pemilukada Gubsu 2013 nanti. Jika saja masyarakat bersedia mengeliminasi rasa ketergiuran atas isu kampanye yang mengambang.

Tahun 2008, kita terkagum-kagum ada orang yang akan menjamin rakyat tidak akan lapar, tidak akan sakit, tidak akan bodoh dan memastikan pula bahwa kecerahan masa depan itu tinggal petik. Sungguh, perlu sebuah keberanian berbuat kebajikan menghempang yang buruk-buruk terulang kembali.

Dipublikasi pertamakali oleh Harian Medan Bisnis hlm 2 (Wacana) Senin, 30 Jan 2012
Shohibul Anshor Siregar,  Koordinator Umum “nBASIS

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: