'nBASIS

Home » ARTIKEL » DIALOG BELAH JENGKOL

DIALOG BELAH JENGKOL

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP



Sudah sampai dimana kemajuan pemberantasan korupsi yang pernah dijanjikan oleh SBY dalam kampanye Pilpres itu? Menggantungkan nasib kepada KPK jelas sebuah kesalahan besar, apalagi KPK itu semakin menikmati kesuperbody-annya di tengah kemarakan laju pertumbuhan korupsi.

Mungkin karena maraknya pemberitaan tentang orang-orang dari partai tertentu yang menjadi sorotan selama berbulan-bulan sekaitan dengan masalah-masalah besar bersifat korupsional, di antaranya status tersangka bagi Anggie, maka siang ini dari kejauhan seseorang  mengajak saya dialog. Dalam beberapa akun kelompok facebook yang sempat saya perhatikan sepintas, sebetulnya publik tak sekadar ingin mendengar Anggie diadili.

Bagaimana Anas Urbaningrum yang disebut-sebut oleh Nazaruddin dan saksi-saksi lain (peradilan Muhammad Nazaruddin) bisa tak jadi prioritas? Itu yang tak bisa diterima puklik ketika KPK mengumumkan status tersangka bagi Anggie dan disebut sebagai semacam entry point.

Jangan lupa, kedongkolan publik juga didorong oleh pembandingan dengan filem singkat kampanye Pemilu 2009 lalu yang melukiskan komitmen Partai Demokrat terhadap pemberantasan korupsi. Dalam filem singkat yang ditayangkan luas melalui media tv itu, ada Anas Urbaningrum, ada Ibas, ada Anggie ada yang lain termasuk SBY.

Kebetulan, sebagai partai besar, Partai Demokrat selama ini punya tokoh-tokoh bertabur cerita pencitraan di media massa. Sebutlah Soetan Batughana, Ruhut Sitompul, Ramadhan Pohan, dan lain-lain. Sebaik-baik ucapan normatif mereka kini semakin memukul dengan status persangkaan publik sebagai munafik.

Singkat sebetulnya dialog di facebook itu. Diawali salam tetapi tak berakhir dengan salam penutup. Mungkin dia yang dikejauhan itu mengalami masalah energi, karena saya lihat di layar laptop saya tiba-tiba saja ia sduah hilang. Begini dialognya:

NA: pak saya mau tanya?? apa kira2 sekolah kami ditawari menerima bantuan dari dinas tapi belah jengkol????

Saya: jangan mau yg begituan. nanti akan ada yg bilang begini “nah kalau kalian tak mau akan kami beri ke sekolah lain”. Biar saja. bukan itu jalan yg diridhoi oleh Allah, dan lagi sampai kapan korupsi akan tetap menjadi “agama” aneh di Indonesia?

NA: karena begitulah sistem sekarang, semua serba belah jengkol….kalau tidak kita terima sekolah2 kita tdk terbangun-bangun.

Saya: memang secara nasional perlu solidaritas untuk berjuang melawan korupsi. hingga akhirnya jika pun korupsi itu tak lagi bisa dilawan dalam keluasannya itu, tetapi untuk komunitas-komunitas paling sadar dan yang ingin selamatkan Indonesia harus diciptakan iklim perlawanan sehingga pemerintah takut melakukan perbuatan jahat itu. itu saya kira target sementara kita.

NA: tetapi rasanya sia-sia. pemerintah sendiri tdk punya niatan sech

Saya: jangan lihat dia (pemerintah). korupsi itu ya kerjaan dia, bahkan mungkin menjadi cita-cita dia. idiologi dia. “agama” dia. jgn ikut yang salah. ha ha. tetapi yakinlah, di antara mrk ada yg masih baik

Ketika saya muat sebagai catatan di wall saya, beragam tanggapan muncul. Tetapi intinya semua sangat prihatin. Dari nada tanggapan semuanya melukiskan ketahuan atas informasi ini, tetapi sekaligus mengekspresikan ketak-berdayaan. Memang ada yang permisif dengan secara kelakar menggambarkan penerimaannya terhadap kondisi ini. Misalnya berbunyi begini:

  • Saya terkesan dgn dialog tsb, tapi.., sekolah kami sdh kenak, bahkan lbh parah dr belah jengkol,tapi malah kami cuma dpt 30 % dr dana yg cair,krna km buth utk rehab skolah. Yaaa trpaksa.
  • Dunia pendidikan Indonesia berada di ujung tanduk. Besarnya dana yang dianggarkan untuk sektor ini ternyata tidak ditopang dengan pengawasan dan kualitas sumber daya yang memadai. Jika diibaratkan bangsa adalah sebuah tubuh dan jantungnya adalah dunia pendidikan, maka korupsi sebagai penyakit sudah menyerang bagian paling vital dari tubuh ini, tepatnya di sekolah. Jika tidak segera diobati, bangsa ini bisa gagal jantung, menjadi bangsa yang mati.
  • Tidak banyak masyarakat yang berani melapor dan tau permasalahan ini tulang, sudah banyak contoh kasus ketika orang tua mengadukan borok sekolah anaknya di cekal disekolah itu, ketika guru membongkar borok sekolah si guru dijegal dn dibebas tugaskan, ketika komite sekolah membongkar kasus korupsi berujung dipengadilan yang semuanya itu ujungnya mengorbanan para siswa sebagai penerus bangsa.

Tetapi, ada beberapa komentar lainnya yang amat perlu saya pelajari sungguh-sungguh. Korupsi di KPU memang buruk, sebagaimana korupsi uang pembangunan jalan dan jembatan. Tetapi jika pendidikan sudah bobol sebobol-bobolnya, sebetulnya harapan apa lagi yang tak kandas?  Judul posting ini pun dibuat atas saran seorang pemberi komentar.

Pokoknya sedihlah. Sedih.


1 Comment

  1. […] Belah Jengkol […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: