'nBASIS

Home » ARTIKEL » TIGA KATEGORI BAKAL CAGUBSU

TIGA KATEGORI BAKAL CAGUBSU

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


Nama-nama (alfabetis) seperti Amri Tambunan, AY Nasution,  Chairuman Harahap, Gatot Pujo Nugroho, Gus Irawan Pasaribu, Maulana Pohan, Rahmat Shah, Rahudman Harahap, RE Nainggolan, Rudolf Matzuoka Pardede, T Erry Nuradi, Tri Tamtomo,  T Milwan dan lain-lain berada dalam kategori ini.

MESKIPUN semua masih diliput ketidak-pastian, tetapi kini setidaknya belasan nama sudah mulai bekerja dengan cara masing-masing, mempromosikan diri untuk  jabatan gubsu atau wagubsu 2013-2018. Jika dilihat dari aspek pemasangan target, mereka dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori umum.

Pertama, orang-orang dengan modalitas kuat menjadi gubsu. Bukan mereka saja yang berpikiran seperti itu. Kekuatan politik pusat dan daerah, masyarakat Sumut, tokoh asal Sumut yang berdomisili di luar terutama di Jakarta, termasuk media, merasakan hal yang sama.

Jika bukan untuk jabatan gubsu lebih bagus tidak usah. Kira-kira begitu sikap dan pendiriannya.Track record dan karir menjadi salah satu andalan. Nama-nama (alfabetis) seperti Amri Tambunan, AY Nasution,  Chairuman Harahap, Gatot Pujo Nugroho, Gus Irawan Pasaribu, Maulana Pohan, Rahmat Shah, Rahudman Harahap, RE Nainggolan, Rudolf Matzuoka Pardede, T Erry Nuradi, Tri Tamtomo, T Milwan dan lain-lain berada dalam kategori ini.

Kedua, figur pengincar posisi wagubsu. Pertimbangannya bukan hanya kapabilitas dan elektibilitas dalam rivalitas belasan figur yang sudah mengemuka. Misalnya Hasbullah Hadi, ketua Al-Washliyah Sumut yang kini berkiprah di DPRD-SU (PD), Sofyan Tan (PDI-P), runner up calon Walikota Medan 2010, dan anggota DPD-RI Parlindungan Purba dan Syah Affandin, adik kandung Gubsu non aktif Syamsul Arifin, yang kini ketua PAN Sumut.

Jika senior mereka (partai) dipastikan tak maju sebagai cagubsu, maka figur seperti Kamaluddin Harahap (PAN), Hardi Mulyono (PG), dan Fadli Nurzal (PPP) tentulah “wajib” disebut. Juga Sigit Pramono Asri (PKS), Muhammad Affan (PDI-P) dan Chaidir Ritonga (PG). Satu hal yang pasti, umumnya pentarget wagubsu sadar tidak perlu mengeluarkan biaya besar, meski tak semua orang dalam kategori ini tak memiliki keunggulan finansial.

Dalam kategori kedua ini ada orang yang sama sekali tak punya niatan tetapi amat besar peluang seperti Ibrahim Sakty Batubara (kader Muhammadiyah yang kini berkiprah di DPR-RI) dan Soekirman yang sudah 2 periode wabub Sergai. Kedua nama ini istimewa karena karakter, tipologi kepribadian, keahlian dan basis sosial yang kuat. Takkan ada gubsu yang akan cemas didampingi salah satu dari kedua tokoh ini.

Soekirman misalnya, jika mau dan jika “berdamai” dengan konstituen politik Sergai untuk tak maju sebagai Bupati periode berikut, diperkirakan sangat favorit untuk mendampingi gubsu etnis non Jawa. Tentu T Erry Nuradi tak bisa memilih di antara kedua opsi Soekirman. Banyak orang menilai sosok ini amat perlu bertahan membenahi kekurang-berhasilan yang tersisa di Sergai. Tetapi jika orang dengan kemampuan dan integritas seperti ini ada pada posisi pengambil kebijakan di Sumut,  harapan akselerasi kemajuan bisa terwujud. Ia seorang akademisi pergerakan yang cerdas dan berkepemihakan kuat terhadap wong cilik terutama petani dan pelaku ekonomi informal.

Ketiga, orang yang relatif sukar mengukur diri. Belum jelas baginya apakah akan menjadi gubernur atau wakil. Mengapa tampak seperti coba-coba? Sebagaimana yang lain, ia dikelilingi banyak “panglima talam” dan gerombolan “diplomasi meja makan” yang tak pandai berhitung. Semua memang rawan menjadi korban “panglima talam” yang sebagian kecil orangnya punya kemampuan “bergerilya” kian kemari.

Variasi. Jika kemungkinan muncul figur lainnya, variasi pasti tetap mengemuka (umur, latar belakang sosial politik, agama dan etnis). Ada nama baru dan ada nama lama (familiar) termasuk Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho. Umumnya kategori pertama mirip “penunggu kreta terakhir”. Setelah ini mereka harus undur diri selamanya terutama karena usia. Pentarget wagubsu lebih enjoy. Tak jadi pun kali ini tak mengapa, karena masih tersedia pilihan lain, misalnya meneruskan karir legislator daerah atau nasional. Bahkan orang seperti Chaidir Ritonga dan Kamaluddin Harahap bisa mendahulukan “pertempuran” merebut Walikota Padangsidempuan. Event memang berbeda. Amat manusiawi menyimpan agenda pengurutan target.

Mengapa tak ada perempuan? Gender Idiology memang masih kuat dalam perpolitikan ini. Tetapi masih ada kemungkinan, dan itu pastilah untuk menambah rivalitas di antara para cawagub.

Penutup. Pengklasifikasian menjadi 3 kategori dibuat tak cuma berdasarkan identifikasi potensi dan dugaan motif para bakal calon. Selain hitungan kepartaian, analisis  geopolitik sangat membantu menerangkan social locus mereka dilihat dari karakteristik khas Sumut dan trend politik penduduknya. Problem besar mereka adalah akuraditas menaksir potensi diri. Karena jarak sosial dengan masyarakat, di antara mereka malah ada yang hanya mendapat gambaran tentang dirinya dari orang-orang oportunis di sekitar.  Eliminasi akan terus berlangsung, dan Anda mestinya ikut menentukan.

 

Shohibul Anshor Siregar. Dosen Sosiologi Politik FISIP UMSU. Koordinator Umum ‘nBASIS.  Naskah ini dipublikasi pertamakali oleh Harian Waspada Medan, Kamis 9 Februari 2012, hlm B5


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: