Home » ARTIKEL » PEMILUKADA SUMUT 2013: INCUMBENT

PEMILUKADA SUMUT 2013: INCUMBENT

AKSES

  • 339,775 KALI

ARSIP

Goodreads


Jika dalam status mengganti Gus Dur incumbent Megawati Soekarnoputri justru kalah berhadapan dengan SBY, maka sebetulnya incumbent itu hanyalah sebuah kondisi awal belaka. Tetapi underestimated terhadap incumbent GPN akan menjadi keuntungan besar baginya

Dari 5 pasangan calon tahun 2008 tak satu pun berstatus incumbent karena Rudolf Matzuoka Pardede (RMP) tak berhasil mendapat tiket dari partainya (PDI-P). Padahal mestinya ia akan memperagakan incumbenitasnya waktu itu. Incumbent dengan jabatan rangkap sebagai ketua dari partai yang tak memberinya tiket pemilukada, adalah sebuah kejadian luar biasa.

Saat ini kita belum mepunyai rujukan pola untuk membaca kiprah seorang incumbent untuk pemilukada Sumut. Tetapi baik saat pemilukada 2008 maupun 2013 nanti, Sumut sedang dipimpin oleh “pemeran pengganti”. RMP meneruskan jabatan Rizal Nurdin dan Gatot Pujo Nugroho (GPN) meneruskan jabatan yang terpaksa ditinggalkan Syamsul Arifin.

Posisi incumbenitas seperti ini berpengaruh terhadap peta politik. Tumbuh keberanian orang untuk ikut “berlomba”. Ini bisa seperti euphoria kota Medan 2010, ramai figur dengan kadar kepercayaan diri berlebih. Waktu itu 10 pasangan calon tetap, beberapa tereliminasi sebelemumnya.

Modalitas. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa incumbent memiliki modalitas kuat. Buktinya hanya sedikit kisah kekalahan kalangan ini. Sebutlah misalnya Megawati Soekarnoputri (pilpres) dan 2 orang berturut-turut di Simalungun (John Hugo Silalahi dan Zulkarnaen Damanik).

Dalam banyak praktik incumbent mampu mendorong majunya pasangan calon tertentu untuk memastikan pembagian suara pemilih yang melemahkan lawan. Tetapi meskipun kekuatan incumbent bukan cuma pada akses terhadap semua instrumen kebijakan dan jaringan pemerintahan serta milleau politik, ketika orang yang sama bekerja bukan untuk dirinya sendiri hasilnya ternyata lain. Baik untuk motif pembangunan dinasti maupun dalam mengamankan posisi politik pasca berkuasa, para incumbent yang gagal mendukung calon penggantinya berjumlah lebih banyak. Sutrisno Hadi di Tanjungbalai, T Milwan di Labuhan Batu dan Syamsul Arifin di Langkat hanyalah tiga dari jumlah yang cukup besar.

Incumbent adalah figur yang berdiri di dua sisi sekaligus dengan tingkat penolakan atas akuntabilitas dan transparansi kinerja. Ia menjadi kandidat yang seyogyanya dipersamakan dengan yang lain. Tetapi di sisi lain ia adalah figur yang telah menancapkan jejak kuat dalam tak hanya urusan kepemilukadaan, karena sejak awal program daerah pun lazim dimanipulasi menjadi agenda kampanye pribadi.  Temuan-temuan keanehan penggunaan anggaran daerah adalah salah satu bukti kuat tentang destruktifnya pemeranan diri incumbent. Hanya saja lembaga penegak hukum tidak cerdas, kalau bukan merasa lebih baik “berdamai”  dengan aktor-aktor curang itu.

Incumbenitas GPN. Seakan berusaha mencuatkan konflik internal PKS, belakangan pemberitaan media memunculkan nama lain seperti Tifatul Sembiring dan Sigit Pramono Asri. Jika ini terjadi tentulah akan menjadi perulangan kasus “bunuh diri politik” RMP vs PDI-P. Kelemahan analisis itu ialah karena mengabaikan faktor potensi keterpilihan GPN yang kini pasti berada di atas teman-teman separtainya dari level manapun. Banyak orang kurang cermat terkait GPN. Jika dicoba tak simplistis, sesungguhnya belakangan GPN dengan rajin mengutip banyak kemajuan tak cuma dalam popularitas. GPN memiliki sisa waktu untuk mengelola komunikasi politik dan sentuhan-sentuhan menggetarkan kepada masyarakat dan para key persons.

Memang dalam pengarus-utaman pihak tertentu membuat opini mengarah delegitimasi, sebetulnya aktivitas pencitra-burukan GPN mengindikasikan kecemasan. Jika ingin menghempang tentu harus diawali dari kebijakan bersama (APBD) khusunya dalam penentuan komponen alokatifnya sambil mengawasi ketat pelaksanaan pemerintahan. Jangan ada kolaborasi “gelap”. Gerakan oposisional memang hanya mungkin di atas idiologi yang kuat dan kemasuk-akalan, bukan seperti lakon elit partai di DPR-RI yang berkoar mencaci SBY meski berpotensi menjadi terdakwa seperti Muhammad Nazaruddin.

Penutup. Tiga pertanyaan penting untuk GPN. Pertama, dukungan politik dari dunia  usaha yang konon bisa berbanding terbalik dengan sikap politisi lokal papan atas. Pengusaha ingin regulasi, iklim kondusif dan keleluasaan tanpa beban tak wajar. Selain itu kemampuan meyakinkan etnis Jawa (mayoritas) agar tak “menampilkan” Cagub/Cawagub “sekampung”. Ini seperti mustahil baginya. Kedua, pasangan. Pasti ia cari orang (lain etnis) dengan “nama” yang tertoreh kuat dalam peta geopolitik lokal. Ketiga, partai yang akan diajak kerjasama di tengah fakta hanya PD yang bisa maju tanpa kolaborasi. Sulit membayangkan GPN diusung partai papan atas.

Jika tak pilihan langsung GPN tak secerah ini. Hanya sedikit kasus kekalahan incumbent dalam suksesi lokal di Indonesia, di antaranya beberapa terdapat di Sumut. Jika dalam status mengganti Gus Dur incumbent Megawati Soekarnoputri justru kalah berhadapan dengan SBY, maka sebetulnya incumbent itu hanyalah sebuah kondisi awal belaka. Tetapi underestimated terhadap incumbent GPN akan menjadi keuntungan besar baginya.

Shohibul Anshor Siregar. Dosen Sosiologi Politik FISIP UMSU. Koordinator Umum ‘nBASIS. Naskah ini pertamakali dipublikasi oleh Harian Waspada Medan, Kamis 9 Februari 2012, hlm B5

About these ads

2 Comments

  1. Andi Pratama says:

    tak ada yg jelas , sebelum duduk mereka bilang klo ada perlu datang aja , sudah menjabat yang payahan menjumpainya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,921 other followers

%d bloggers like this: