'nBASIS

Home » ARTIKEL » PEMILUKADA SUMUT 2013: PROSES SELEKSI CALON

PEMILUKADA SUMUT 2013: PROSES SELEKSI CALON

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Ada kisah kandidat berhasil memperdaya partai. Hanya saja jika kandidat “penipu” ini menang, partai masih beruntung karena dianggap memiliki investasi yang membuat para petingginya berpeluang ikut menentukan perjalanan pemerintahan, termasuk alokasi proyek-proyek fisik yang akan membawa keuntungan material.

Sebagaimana lazim terjadi secara menyeluruh di Indonesia, seseorang dengan popularitas dan potensi elektibilitas tinggi tidak otomatis akan dipandang penting oleh partai. Biar pun hasil survey badan independen terpercaya merekomendasikan. Dia harus membayar. Jika tidak, maju melalui jalur perseorangan saja. Ini tak mengabaikan adanya calon yang akhirnya disupport (financial) oleh partai.

How Much Money in Your Pocket? Partai di Indonesia adalah mesin elektoral yang cuma memiliki sedikit agenda demokratisasi dan pendidikan pemberdayaan masyarakat. Proses eliminasi (terhadap calon) yang akan mereka buat pastilah seperti sebelumnya,  membuka pendaftaran dan melakukan forum khusus. Bisakah dibantah bahwa proses ini sekaligus menyimpan motif kuat untuk transaksi?

Sayangnya, setoran kandidat tidak selamanya berarti untuk modalitas partai dalam pendewasaan dan terutama untuk kampanye pemenangan. Ini hanya bisa terjadi karena para social bandits yang ada pada partai sejak awal sudah memupuk sikap ke-premus-interpares-an dengan kewenangan sangat tak terbatas menentukan di brankas mana uang itu disimpan dan kemana akhirnya dialokasikan. Sisi gelap ketidak-demokratisan dan ketertutupan partai dalam alam yang diklaim demokrasi ini memang amat jamak.

Tidak ada yang membantah bahwa proses ini juga bermanfaat untuk sosialisasi awal. Tetapi saksikanlah nanti, arahnya akan mirip pembodohan yang dibalut seremoni berbasis konstitusi formal partai untuk tujuan tersembunyi (meraup keuntungan tak sah melalui setoran para peminat). Sepintas sangat bagus konvensi dilakukan jika dipastikan uang tidak akan beredar memenangi voting para pemegang kewenangan.

Bukti lain pembodohan ini tentulah minusnya pertanggung jawaban sebagai partai politik. Adalah sebuah kenaifan luar biasa jika semua partai politik tak bisa membandingkan kelemahan dan kelebihan di antara bakal calon. Anak sekolah SMA mungkin tak akan tahu itu, karena dunianya lain, dan hari-harinya dihabiskan untuk silabus dan kurikulum yang dijejalkan serta UN yang menakutkan. Partai Golkar (pilpres) tercatat pernah melakukan konvensi yang memberi pengenalan tradisi baru perpolitikan Indonesia. Tetapi banyak kekurang-sungguhan dalam mengadopsi model Amerika itu, hingga mereka pun kini tampak seperti amat menyesal karena pernah menguji-coba model sebagus itu.

Konflik internal partai pun lazim merebak ketika beberapa figur masuk mempertaruhkan kekuatan dengan  mengandalkan sumberdaya yang saling menimpa seperti lelang. Keberanian berbuat seperti itu karena ia punya “orang dalam” (lokal atau pusat). Pertentangan itu akhirnya pasti tiba pada putusan akhir. Pendukung yang kalah tak selalu dapat menerima, dan akhirnya memberontak. Itu sangat lazim, dan proses seleksi seperti ini adalah salah satu alasan kuat untuk berkonflik terbuka setiap partai selain untuk momentum pergantian pengurus dan seleksi calon legislatif.

Tetapi “pemerasan” tidak selamanya berlangsung mulus. Ada kisah kandidat berhasil memperdaya partai. Hanya saja jika kandidat “penipu” ini menang, partai masih beruntung karena dianggap memiliki investasi yang membuat para petingginya berpeluang ikut menentukan perjalanan pemerintahan, termasuk alokasi proyek-proyek fisik yang akan membawa keuntungan material. Jika pembangunan tak pernah baik, awalnya ada di sini.

Jalur Perseorangan. Eliminasi oleh partai politik akan meniscayakan pilihan jalur perseorangan. Karena keluasan wilayah dan besaran populasi pemilih, maka jumlah pasangan yang akan menempuh jalur ini pun tidak akan sebanyak yang terjadi di Kabupaten/Kota.

Biasanya orang berfikir tentang kesulitan memerintah tanpa dukungan partai. Itu omong kosong. Eksekutif bisa mengendalikan semua partai melalui kadernya di legislatif. Lagi pula pengalaman langka (di Indonesia) kemenangan  OK Arya Zulkarnaen di Batubara membuktikan mudahnya menjadi ketua sebuah partai besar setelah menjadi Bupati. Soekirman juga tak punya saingan saat merebut ketua PAN (Sergai). Karena sumberdaya, orang yang menduduki posisi strategis eksekutif memang mudah menjadi ketua partai. JK (PG), Syamsul Arifin (PG), Hatta Rajasa (PAN), dan Surya Dharma Ali (PPP) mencatat itu, sesuatu yang diharamkan PKS hingga hari ini. Orang PKS malah wajib lengser setelah menjadi penguasa (eksekutif).

Penutup. Memang pengarus-utamaan partai politik dalam pemilukada tetap dominan meskipun konstitusi menyediakan jalur perseorangan. Tahun 2010 banyak orang yang sejak awal mempersiapkan diri melalui jalur ini seperti Idham (Sergai), dan Muhammad Yunus (Tanjungbalai),meski banyak yang gagal “menegosiasikannya” di KPUD. Jalur ini sangat strategis untuk menerapkan tak cuma kepiawaian politik dan pengelolaan pemerintahan, tetapi juga mentradisikan demokrasi terbaik bersama masyarakat. Karena itu pujian pantas diberikan kepada mereka yang menempuhnya.

 Shohibul Anshor Siregar. Dosen Sosiologi Politik FISIP UMSU. Koordinator Umum ‘nBASIS. Naskah ini pertamakali dipublikasi oleh Harian Waspada Medan, Kamis 9 Februari 2012 hlm B5


2 Comments

  1. Surya Darma says:

    Ada peluang ke Singapura presentasi makalah empiris tentang kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama ketika melakukan kekerasan. Saya ingin sekali ada orang Medan yang ikut. Tolong hubungi saya segera di kalau ada teman-teman yang sudah punya makalah. Terima kasih. Tautannya:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: