'nBASIS

Home » ARTIKEL » PEMILUKADA SUMUT 2013: DIKHOTOMI

PEMILUKADA SUMUT 2013: DIKHOTOMI

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


Ketidak-homogenan semua komunitas itu memang jarang terlihat di permukaan. Saat-saat beginilah memang salah satu penyebab kekurang serasian di antara para warga yang sebelumnya hanya berbicara soal budaya, pendidikan dan ruang-ruang yang kerap absen dari perhatian pemerintah terutama bidang ekonomi kerakyatan.

Baru-baru ini Yusril Ihza Mahendra berusaha mengintroduksi konsep Jawa sebagai sebuah etnis yang bukan cuma bermakna primordialitas berdasar keturunan dan tempat lahir. Dalam konsep itu Jawa diterjemahkannya sebagai “Jahwiyah” yang tentunya lebih merujuk pada nilai-nilai dasar yang bersifat universal. Ia menggugat pemahaman selama ini bahwa anak keturunan dari mbah Sutopo, yang lahir di Ponorogo, meski tak berani melangkahkan kakinya keluar dari kampungnya, dan tetap setia dengan pernak-pernik simbol ekspresif seperti blangkon, tak otomatis Jawa.

Pandangan Sultan. Yusril berbicara tentang dikhotomi yang secara tersirat sekaligus menyesali tertutupnya peluang besar bagi Indonesia selama ini mendapatkan akses perubahan melalui orbitasi pemimpin-pemimpinnya. Tak lama setelah itu Sultan Hamengku Buwono X angkat bicara. Katanya, sudah tak zamannya lagi kini pemimpin Indonesia itu harus Jawa. Raja Jawa yang direpoti SBY soal keistimewaan daerah ini menyadari ketinggian nilai dan kemampuan yang bersifat universal dan tuhan menitipkannya bukan karena pertimbangan etnisitas.

Di Sumut Djamin Sumitro, asal Jetis Jogyakarta, pemimpin kelompok Jawa (Forum Komunikasi Warga Jawa), sering berucap tentang kriteria pemimpin. Pada urutan pertama dari sekian butir, ia selalu meprasyaratkan “Jowo pikirane” (Jawa pikirannya). Itu menjadi sangat wellcome terhadap Jahwiyah yang bahkan bukan sekadar Jawa (pemimpin dari etnis lain), dan berusaha mengapresiasi setiap echievement sebagai hasil perjuangan yang mesti beroleh tempat yang tinggi dalam kiprah kemanusiaan.

Varian. Lelaki dan perempuan,  diperkirakan akan tetap menjadi varian dikhotomi di hadapan pemilih. Etnisitas? Tentu saja. Agama? Ya, mana mungkin tidak mengemuka? Suka atau tidak, dikhotomi-dikhotomi yang muncul dari varian itu akan masih tetap menjadi isyu penting dalam penentuan perilaku pemilih.

Memang semua itu sudah menjadi bagian dari faktor figuritas (given dan achievement). Jangan lupa, TNI/Polri-sipil juga akan menjadi isyu tersendiri, sebagaimana halnya varian tua-muda. Dalam kemunculan yang berbeda kadar, latar belakang sebagai birokrat, pengusaha dan parpol, tampaknya juga akan menjadi perbincangan serius di antara para pemilih cerdas.

Suka atau tidak, agama akan membawa dikhotomi di arena politik. Pada pemilukada 2008 lalu MUI Sumut malah tidak sekadar memberi garis tegas, bahkan secara eksplisit merekomendasikan atas kadar keagamaan pasangan-pasangan calon yang beragama Islam. Sedangkan di Medan tahun 2010 lalu, pada putaran kedua, sejumlah lembaga keagamaan (non Islam) juga dengan gairah memberi dukungan resmi terhadap Sofyan Tan.

Bagaimana dengan etnisitas? Suatu ketika dalam sebuah diskusi informal pertengahan tahun lalu di rumah seorang politisi senior, Wagirin Arman, tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa secara numerik etnis Jawa yang memang mayoritas dalam komposisi penduduk Sumut itu tidak serta-merta harus dimaknai sebagai besarnya potensi dan peluang melahirkan keterpilihan orang Jawa sebagai Gubernur 2013-2018. Mengapa?

Pertama, orang Jawa di Sumut tidak semua tak nalar politik. Lalu, menurut data sejarah populasi Jawa di Sumut bukanlah sebuah potret homogen. Tidak karena kampung asal yang berbeda, tetapi juga kelas sosial sebagaimana diterangkan rinci oleh Geertz melalui teori varian priyayi, abangan dan santri-nya itu. Jadi Sumut tak cuma pernah punya seorang kesatria kolonel Bejo  yang lahir di sekitar perkebunan Deli dan berjuang untuk bangsa, tetapi juga Pirngadi yang datang dari sebuah kelas sosial yang bukan pekerja kasar kebun.

Di antara orang bermarga juga akan lahir problema serupa. Mereka tidak homogen, sebagaimana halnya komunitas Cina. Munculnya figur Cina dalam pentas pemilu malah untuk sebagian komunitasnya dianggap sebuah persoalan pelik karena tak jarang di antara figur itu hanya mengeksploitasi berbagai isyu sensitif untuk keuntungan diri sendiri. Ketidak-homogenan semua komunitas itu memang jarang terlihat di permukaan. Saat-saat beginilah memang salah satu penyebab kekurang serasian di antara para warga yang sebelumnya hanya berbicara soal budaya, pendidikan dan ruang-ruang yang kerap absen dari perhatian pemerintah terutama bidang ekonomi kerakyatan.

Penutup. Sejumlah varian yang tersedia dalam pilihan-pilihan politik potensi menambah keberdayaan sebuah Negara. Tetapi varian-varian itu bisa berkembang dan dieksploitasi untuk menjadi dikhotomi yang menguntungkan sepiak dan merugikan sepiak lainnya. Agama akan menjadi salah satu varian tertinggi dalam perkiraan perhelatan pemilukada Sumut 2013. Etnisitas tentu saja, sebagaimana halnya varian lain. Siapa cagubmu, bro?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: