'nBASIS

Home » ARTIKEL » BEDJO BUKAN PANGLIMA PASUKAN JAWA

BEDJO BUKAN PANGLIMA PASUKAN JAWA

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Meskipun menurut bahasa orang sekarang ia adalah putera Jawa kelahiran Sumatera, tetapi itu tidak untuk mengatakan bahwa Bedjo adalah seorang sektarian yang sibuk memuji-muji dirinya dengan kesadaran berlebih atas keniscayaan keuntungan numerical majority. Tidak sama sekali

Belum lama ini sebuah seminar diselenggarakan di Sipirok untuk membicarakan kontroversi kematian Jenderal Spoor, pemimpin tertinggi militer Belanda pada masa agresi II. Menurut sebuah versi, pasukan Bedjo telah berhasil menghadang konvoi Spoor  di Simago-mago, Sipirok. Spoor terluka parah dalam pertempuran dan tewas karena itu. Jenderal Maraden Panggabean dianggap telah mengakui bahwa Spoor mati di tangan pasukannya.

Namun pihak Belanda tidak pernah mengakui semua klaim itu. Spoor dinyatakan meninggal karena serangan jantung di Jakarta, meski ada pendapat lain yang menyebut meninggal karena diracun saat makan di sebuah restoran di sekitar Priok. Kemasuk-akalan rumor ini bukan tanpa dasar. Sebelumnya seorang perwira Belanda juga bernasib serupa, karena konflik internal yang bersumber dari masalah-masalah yang mereka hadapi dalam rangka mempertahankan kekuasaannya di Indonesia yang sudah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Belanda tentu saja akan merasa malu menerima fakta jenderal andalannya justru tewas di tangan milisi yang boleh disebut tak terlatih, untuk tak mengatakan cuma berbekal bambu runcing. Lagi pula jika kepastian tewasnya Spoor diakui sebagai akibat serangan Indonesia, secara psikologis akan muncul euphoria yang lebih menyemangati perlawanan menghalau Belanda dari Indonesia. Itu sangat mungkin.

Sebuah Model. Tetapi tak usah karena kematian Spoor yang dikaitkan dengan seorang anak buahnya putera asal Sipirok, Sahala Muda Pakpahan, Bedjo adalah seorang besar dengan tingkat pengabdian luar biasa untuk bangsanya. Itu bukan karena orang mengenal pasukannya dengan sebutan pasukan selikur. Bedjo malah lebih dikenal dengan julukan Harimau Sumatera atau si Tangan Besi. Pasukan Bejo tercatat begitu penting sebagai mata rantai peristiwa-peristiwa heroik yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia untuk merebut kembali dan atau mempertahankan kemerdekaan berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Para seniornya seperti Slamat Ginting dan Liberty Malau, yang juga merupakan bagian dari pasukan bersenjata di Sumut, tentu merasakan peran Bedjo dalam keseluruhan aksi-aksi militer yang mereka lancarkan seperti Serangan Umum Laskar Rakyat Medan Area yang terjadi pada 27 Oktober – 3 Nopember 1946. Harus pula dicatat peran Bedjo dalam penertiban pasukan-pasukan liar yang kerap amat kontraproduktif pasca hengkangnya Jepang. Harimau Sumatera atau Si Tangan Besi ini juga tercatat aktif dalam melancarkan perlawanan bersama pasukannya baik yang berasal dari kawasan Timur maupun Barat Sumatera Utara.

Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, konon pasukan Bedjo dengan kekuatan satu batalyon dipindahkan ke Jawa Barat. Tugas mereka ialah menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Tak lama kemudian ia dipindahkan ke Mabes AD dengan pangkat Letnan Kolonel (1957). Dari sana ia ditugaskan untuk penumpasan PRRI di Sumatera.

Sebelum memasuki usia pensiun sekitar tahun 1960-an, ia sempat juga mengikuti pendidikan Staf Komando di Bandung. Anggota MPR hasil Pemilu tahun 1971 yang juga mantan Panglima Tentara Territorium Sumatera (PTTS) ini akhirnya meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1984 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Meskipun namanya sudah dijadikan sebagai salah satu nama Jalan di kota Medan (Jalan Brigjend Bedjo) tetapi gelar pahlawan belum disematkan kepada namanya. Jika pun itu kelak tercapai, tentulah hanya akan lebih berguna bagi bangsa ini untuk memotret masa depannya dengan telaah sejarah heorik masa silam. Bedjo tentu tidak membutuhkan semua itu di alam lain.

Pemuda Indonesia. Suatu ketika bulan Oktober 1945, Bedjo dengan semangat mudanya ikut dalam Barisan Pemuda Indonesia bentukan Soegondho. Asosiasi ini konon bermaksud mengadakan Rapat Umum Kemerdekaan. Proklamasi Kemerdekaan memang cukup lambat diketahui di daerah, tak terkecuali di Medan. Maka pada tanggal 1 Oktober 1945, bertempat di Lapangan Merdeka Medan, berkumpullah massa besar untuk merayakan kemerdekaan Indonesia. Perhelatan politik itu sendiri dipimpin oleh Gubernur Sumatra Timur, Mr T Muhammad Hasan. Bedjo bersama ratusan pemuda lainnya bertugas menjadi pasukan pengamanan.

Apakah gerangan yang kini dapat memicu semangat seorang anak muda untuk terpanggil membela Negara dan bangsanya yang bahkan jika perlu dengan mengorbankan nyawanya? Memang setiap generasi memiliki tantangan sejarahnya sendiri, itu haruslah diakui. Bedjo bertempur dengan gesit dan memperoleh sukses dalam setiap pertempurannya. Kini lapangan pertempurannya sudah berbeda. Tetapi sublimasi apakah gerangan yang perlu diwujudkan untuk menauladani ksatria Bedjo khususnya bagi generasi barunya, tetap saja tidak terjawab.

Kini orang sibuk mencari kekayaan. Meraih pendidikan lebih tinggi, mendapatkan jabatan-jabatan politik yang tersedia sesuai dengan perkembangan Negara. Khususnya dalam bidang politik praktis itu, sejumlah catatan sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan motif-motif para elit yang haus kekuasaan dan yang secara langsung dianggap wajib terjawab dengan fakta keunggulan jumlah orang Jawa di sini serta di tengah model suksesi pengumpulan dukungan mayoritas. Fakta itukah yang menjadi pembenaran untuk saat ini ketika keunggulan numeric populasi Jawa di Sumatera Utara akhirnya lebih dipandang sebagai kekuatan politik praktis oleh sebagian dari para elitnya? Itu sah-sah saja memang.

Meskipun demikian bentuk solidaritas pra kebangsaan yang konon menjadi salah satu pemicu munculnya Kongres Pemuda 1928 itu cukup signifikan untuk dipertanyakan atas nama kebangsaan pula. Mengapa eksklusivisme menjadi model dan tidakkah seharusnya pembauran kebangsaan dapat mengindonesiakan setiap ide tak terkecuali untuk maksud berkuasa? Atau haruskah muncul kecurigaan berkebangsaan yang arahnya datang dari sudut lain di luar kejawaan?

Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam kunjungan beberapa hari di Medan pekan lalu banyak bercerita tentang ini. Kisah-kisah berbau politik praktis yang menyedihkan di Lampung, juga di Riau dikemukakannya dalam pertemuan terbatas. Belum lama ini Sri Sultan Hamengku Buwono X juga angkat bicara tentang ketidak-harusan orang Jawa menjadi Presiden. Akar keresahannya memang sebagian terarah kepada model demokrasi yang dikembangkan di Indonesia. Dalam bahasa yang amat gamblang malah diisyaratkannya bahwa seseorang dari etnis tertentu meski jumlahnya sangat kecil dibanding yang lain, harus berani menunjukkan identitasnya karena itulah karakter kebhinnekaan Indonesia.

Ranah baru kesukubangsaan memang harus naik kelas di sini. Ada tuntutan rasionalitas baru, yang mestinya wajib dipandukan oleh para pemimpin. Pemikiran itu secara konsisten muncul dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sejumlah event yang diagendakan, termasuk saat berbicara di rumah dinas Walikota Medan, saat dialog bersama pemimpin umat Budha, kuliah umum di UMSU dan sarasehan di Aula Martabe kantor Gubsu. Tetapi tetap saja banyak yang tak faham dan tak mau faham, dan malah dengan berbagai cara berusaha “memaksa” Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk memihaki sebuah ufuk dalam pertikaian.

Penutup. Sebelum aktif dalam perlawanan fisik terhadap Belanda, Bejo tinggal bersama orang tuanya di Jalan Amplas Medan. Menurut berbagai sumber pada saat Belanda masih berkuasa, ia pernah bekerja pada sebuah perusahaan bengkel milik penjajah itu. Ketika Jepang “menggantikan” Belanda, ia pun beralih majikan. Tetapi sambil bekerja di bengkel Jepang ia juga membuka bengkel kecil di rumahnya. Di bengkel itu ia membuat cangkul, rantang, panci, sekrup dan peralatan-peralatan rumah tangga lainnya. Jika akhirnya Bedjo lebih dikenal sebagai Harimau Sumatera atau si Tangan Besi karena kisah-kisah sukses pertempurannya melawan Belanda, tokoh yang menurut Ichwan Azhari menjadi salah satu sosok yang dijadikan inspirasi untuk pembuatan filem Naga Bonar ini memang benar-benar tak pernah bercita-cita menjadi seorang militer, apalagi menjadi penguasa atas perhitungan keunggulan jumlah orang sekampungnya.

Bedjo lahir di Tanjung Mulia tanggal 10 Desember 1919. Ayahnya bernama Sattar, berasal dari daerah Gunung Jeruk Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Meskipun menurut bahasa orang sekarang ia adalah putera Jawa kelahiran Sumatera, tetapi itu tidak untuk mengatakan bahwa Bedjo adalah seorang sektarian yang sibuk memuji-muji dirinya dengan kesadaran berlebih atas keniscayaan keuntungan numerical majority. Tidak sama sekali.

Shohibul Anshor Siregar

Naskah ini dimuat dalam Halaman OPINI Harian Waspada, Kamis 8 Maret 2012, hlm B5


4 Comments

  1. reza says:

    dia tetap orang jawa
    saya cucunya bedjo dari anaknya eko budi sudarsono

  2. eko budi sudarsono bedjo says:

    saya sebagai putra pak bedjo mengucapkan terimakasih atas pendapat anda tentang alm ayah saya.
    eko budi sudarsono bedjo
    nomer saya 082111103876

    ‘nBASIS: Terimakasih.

  3. Hello it’s me, I am also visiting this web page regularly, this
    website is in fact pleasant and the visitors are actually sharing good thoughts.

  4. Mike says:

    Makasih y pak, sudah tulis soal kakek saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: