'nBASIS

Home » ARTIKEL » JIKA, MAKA……

JIKA, MAKA……

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


Kemaren sore dua orang jurnalis dari media lokal mengajukan beberapa pertanyaan kepada saya tentang kemungkinan-kemungkinan susulan kejadian terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Seluruh pertanyaan mereka didasarkan pada asumsi bahwa Indonesia kini seperti tengah hamil tua yang menunggu detik-detik keruntuhan rezim pemerintahan SBY. Saya jelas tidak setuju.

Alasan saya sederhana. Menaikkan harga minyak adalah rumus klasik yang dilakukan dengan penuh keyakinan oleh seluruh rezim pemerintahan yang pernah ada di Indonesia, khususnya sejak Soeharto. Jadi ini bukan sesuatu yang begitu menarik untuk dibicarakan kecuali soal momentum saja. Artinya jika penurunan popularitas pemerintahan itu benar-benar sedemikian buruk dan semakin menguatnya taut menaut berbagai ketidak-puasan, memang instabilitas patut juga dikhawatirkan.

Boleh jadi akan ada sedikit instabilitas. Tetapi menurut saya itu tidak akan menjadi gelombang besar yang dapat membuat SBY turun tahta sebagaimana ditargetkan oleh orang-orang tertentu. Katakan radikalisasi yang mengarah anti pemerintah semakin menguat, tetapi toh tak ada sebuah kekuatan oposisional yang kuat yang bisa “memfasilitasi” drama penurunan SBY. Pemerintahan ini dijaga ketat oleh Kepolisian dan jika unsur itu kewalahan TNI siap sedia. Itu sekiranya terjadi gelombang besar unjuk rasa yang bereskalasi hingga tuntutan serius menurunkan SBY. Meskipun seakan tidak layak dikemukakan, tetapi ingatlah Kaporli Timur Pradopo itu siapa. Juga KSAD Pramono Edhie Wibowo. Kedua pemimpin lembaga keamanan terpenting ini tidak sekadar orang yang sedang mendapat giliran pada jabatannya, melainkan memiliki hubungan khusus dengan istana.

Lagi pula, sejarah instabilitas yang pernah terjadi di Indonesia tidaklah dapat dijadikan rujukan untuk ramalan sebagian orang tentang akan adanya aksi besar-besaran untuk menurunkan rezim. Silakan SBY dan orang-orangnya berspekulasi memancing, tetapi selagi policy “polisi dunia” masih amat sangat cinta kepada pola-pola kolaboratif dan sangat menguntungkan dari SBY, untuk apa membuat huru-hara di tengah kepentingan masih tetap terjaga?

Kenaikan harga BBM akan ditimpali dengan tindakan-tindakan kompensasional yang membuat rakyat secara “ilusionistik” merasa diperhatikan dan reda. Sejarah BLT telah menunjukkan itu. Memang secara substantif jumlah rakyat miskin akan bertambah. Tetapi, SBY akan bertahan hingga terpilihnya seorang pengganti di ujung periode.

Pertanyaannya, siapakah pengganti SBY itu? Akankah ia seperti para pendahulu akan tetap memilih jalan mudah menaikkan harga BBM jika nanti kesulitan uang?


2 Comments

  1. aliandi says:

    saya yakin bulan april atau mei nanti akan terjadi instabilitas di negara ini.bagi saya memang sby tidak bisa mengatur negara ini dengan baik dan transparan pada publik,jadi sudah sepatutnya sby mundur agar pemimpin retorika ini memberikan masa depan yang baik bagi rakyat indonesia melalui pemimpin yang lainnya.

    ‘nBASIS: terimakasih atas pendapatnya

  2. horas napitupulu says:

    Setiap kebijakan tentang kenaikan harga BBM, dampak nya memang sangat luar biasa. Tapi, kita juga harus mengedepankan pikiran sehat untuk menyikapinya. Di desa desa yang sering saya kunjungi, justru banyak warga yang menggerutu atas batal nya BBM naik. Karna, mereka batal menerima BLT yang mereka justru sudah mereka nanti nantikan. Nah, BBM nggak jadi naik. apa yang akan dilakukan pemerintah untuk menekan harga harga barang yang terlanjur naik agar kembali ke harga semula ?. Siapa yang bertanggung jawab atas hal itu ?. Menurut saya, siapa pun yang memimpin negara ini, tetap saja bobrok karna ongkos politik nya sangat mahal. UU pemilu kita, itu untuk dan demi partai. Bukan demi demokrasi dalam berbangsa dan bernegara. Kalau boleh saya sarankan, Sekgab koalisi partai itu di jadikan partai saja jadi satu. Agar berkurang kamar kamar yang di huni sibolis naburju di senayan.

    ‘nBASIS: BLT sangat berbahaya untuk kemandirian meski pemerintah dan masyarakat miskin suka. lagi pula distribusinya tak adil dan kerap jadi permainan aparat. usaha paling tepat ialah memperkuat daya beli masyarakat. rumusnya ya ekonomi kerakyatan. terimakasih atas ionformasinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: