'nBASIS

Home » ARTIKEL » MILAD 48 DAN MUKTAMAR 15 IMM: KESAKSIAN DAN IKRAR

MILAD 48 DAN MUKTAMAR 15 IMM: KESAKSIAN DAN IKRAR

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


jika sekadar parahnya ketidak-tepat-sasaran alokasi dana rakyatlah yang menjadi masalah, tentu tidak separah ini Indonesia. Dapatkah IMM bersaksi dan berikrar untuk memperbaiki itu semua?

Tidak luas diketahui bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang lahir pada tanggal 14 Maret 1964 adalah organisasi yang didirikan sekelompok anak muda mahasiswa dari latar belakang yang majemuk. Ada yang dibesarkan dalam tradisi Nahdlatul Ulama/NU (A.Rosjad Sholeh), bahkan ada seorang mua’allaf (Sudibyo Markus) yang tak seperti mua’allaf lain tetap berteguh hati tak mengubah namanya meski telah menjadi Muslim. Dalam barisan ashabiqunal awwalun (tokoh pemula) juga terdapat aktivis organisasi otonom Muhammadiyah dan organisasi kemahasiswaan yang sudah lebih dulu berdiri.

Selain itu konon ada cerita cukup unik di seputar awal pendirian itu. “Saja beri restu kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadijah”. Di pundak Djazman Al-Kindi (Ketum pertama IMM), suatu ketika tahun 1964 (14 Februari), di istana Negara, Soekarno menuliskan kalimat pendek itu di atas selembar buku tulis milik Djazman Al-Kindi sendiri.

Mungkin dengan berbagai penggalan cerita dan fakta itu, terkadang berbagai interpretasi tak sepi seputar kelahiran IMM. Tetapi pertanyaan lebih penting tertuju kepadanya kini. Organisasi kemahasiswaan yang sudah berusia 48 tahun itu, dan yang dalam bulan April-Mei 2012 ini akan bermuktamar ke 15 di Medan, masihkah dapat diharapkan tetap menjadi sebuah gerakan kesaksian dan ikrar? Gerangan apa yang akan dihasilkannya melalui Muktamar Medan?

Penegasan KHA Badawi. Meski mendapat restu (untuk berdiri) dari Soekarno, tetapi kemudian IMM malah hadir bukan mengamini segala sesuatu yang terlontar dari pikiran obsesional Soekarno tanpa telaah kritis. Bahkan IMM memilih perannya lebih pada jarak yang amat tak terintervensi oleh kekuatan manapun, untuk sebuah pilihan sikap rasional penyelamatan bangsa.

Benar, bahwa ia tetap dependen terhadap policy organisasi induknya Muhammadiyah. Dependensi itu pun akan seperti itu selamanya, dan kiranya tidak ada sesuatu cela di situ.

Pada saat dideklarasikan tanggal 14 Maret 1964 di Gedung Dinoto Yogyakarta, Ketua PP Muhammadiyah KHA Badawi memang menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam, ya Islam yang sangat terbuka untuk pemurnian dan tajdid (pembaruan) dengan segenap tata cara yang diijtihadkan untuk itu.

Selain itu kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangannya. Bagi IMM, ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah (bukan science for science). Amal IMM adalah lilLahi Ta’ala, yang senantiasa diabdikan hanya untuk kepentingan rakyat. Penegasan ini memang diderivasi dari jati diri dan khittah perjuangan Muhammadiyah.

Berdasarkan perjalanan sejarahnya yang dapat ditelaah kemudian, tuntutan dan keharusan dalam konteks kehidupan umat, bangsa, dan negara serta dinamika gerakan mahasiswa di Indonesia khususnya yang terjadi pada era tahun 1960-an menyebabkan IMM secara penuh keyakinan memancang pendiriannya sebagai gerakan dakwah yang concern memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa. Upaya-upaya berketerusan dalam dakwah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam. Juga orientasi pikiran dan perbuatan menopang, melangsungkan, dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah yang secara spesifik dirumuskan sebagai komponen pelopor, pelangsung, dan penyempurna cita-cita pembaruan dan amal usaha Muhammadiyah.

Karena itu pelibatan diri pada gerakan dakwah membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, umat, dan persyarikatan, menjadi warna yang mencolok dalam IMM.

Muhammadiyah pada masa kepemimpinan KHA Badawi memang tidak dapat menghindar dari upaya perjuangan memulihkan Indonesia yang sedang sakit dan penuh pertentangan.

Banyak analis politik sepakat mengatakan bahwa perkembangan dan kehidupan politik saat itu diwarnai oleh tiga pelaku politik yang amat dominan, yaitu diri pribadi Presiden Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya, ABRI (terutama sekali angkatan Darat), dan PKI. Ada organisasi (termasuk mahasiswa) yang secara tajam mengikuti garis Presiden Soekarno, ada yang sejalan garis ABRI dan ada yang menjadi pendukung garis PKI.

Kesemua ufuk saling hadap-hadapan mencari solusi Indonesia menurut perspektif masing-masing. Kelahiran IMM dan latar belakang perumusan doktrin kepribadiannya tidak terlepas dari faktor itu.

Kesaksian dan Ikrar. Apa yang mestinya menjadi concern organisasi kemahasiswaan seperti IMM pada saat sekarang ini? Terserahlah. Tetapi kini dapatlah dipastikan bahwa setelah menjalani kehidupan sebagai Negara dan bangsa yang merdeka, harapan mayoritas rakyat Indonesia yang masih belum terpenuhi sebenarnya amatlah sederhana.

Mungkin akan ada bahasa dalam variasi ungkapan yang tidak terlalu jamak. Ekspresi mereka hanyalah ungkapan yang dapat mestinya dimaknai sebagai harapan agar harga pangan dan apalagi perolehannya tidak sulit. Biaya pendidikan dan kesehatan cukup terjangkau, dan yang untuk itu diperlukan pekerjaan yang baik.

Pekerjaan itu sendiri hendaknya yang tidak harus selamanya ada di negeri orang, karena konsekuensinya semua sudah tahu bahwa nyawapun kerap menjadi taruhan di negeri orang.

Bagaimana sumberdaya alam didistribusi secara adil dan itu semua tidak boleh dimakan sendiri oleh para penjahat yang memiliki akses untuk mencurinya secara keji. Selain itu, tentulah seluruh rakyat juga sangat berharap bisa merasa nyaman dan tenang dalam menjalankan kewajiban agama yang diyakini dan dipeluknya.

Rakyat tidak boleh disalahkan ketika semakin tak percaya yang namanya politik dan partai politik serta perhelatan-perhelatan istimewa yang diperuntukkan untuk mereka dengan pengorbanan biaya dan waktu serta energi yang besar. Tidak pula harus diterjemahkan aneh dan memusuhi jika rakyat hari ini juga berharap akan adanya keadilan yang tak berkepemihakan untuk rezim dan para penopangnya.

Ketika anggaran negara untuk menyejahterakan rakyat ternyata ditemukan bocor di setiap lini birokrasi pemerintahan, tak mestinyalah keluhan rakyat untuk ini dimaknai permusuhan dengan cara makar atau istilah-istilah sulit lain yang memojokkan.

Perilaku korup yang menjangkiti para pengelola negara di ranah eksektuif, legislatif, dan yudikatif dan yang belakangan semakin dapat dipastikan terjadi hanya karena semua komponen itu berkolaborasi, maka keinginan amandemen rakyat untuk setiap kalimat konstitusi hanyalah sebongkah sikap yang melambangkan ketakpercayaan. Akan dibawa kemana negara ini dan akan dipertaruhkan untuk kepentingan siapa saja? Justru itulah yang menjadi pertanyaan yang tak berjawab kini.

Di pusat pemerintahan maupun di daerah, tradisi korupsional yang bermatamorfosis semakin canggih dipraktikkan dengan amat terbuka dan yang dengan sendirinya menjadi ajaran baru bagi cara hidup untuk generasi baru.

Banyaknya anggaran pembangunan yang bocor yang tidak akan pernah ditemukan dari data peradilan, sungguh telah menambah predikat baru bagi Indonesia sebagai negara kleptokratik. Jika sekadar parahnya ketidak-tepat-sasaran alokasi dana rakyatlah yang menjadi masalah, tentu tidak separah ini Indonesia. Dapatkah IMM bersaksi dan berikrar untuk memperbaiki itu semua?

Penutup. Jika tidak dapat menjadi pemberi kesaksian yang jujur sejujur-jujurnya terhadap semua permasalahan itu, dan jika tidak mampu berikrar untuk berusaha keras memperbaikinya, maka Milad IMM ke 48 yang sekaligus akan ditandai Muktamarnya yang ke 15 akan tak ubahnya menjadi ornamen hampa dalam sebuah bangunan yang mungkin saja sesaat lagi akan runtuh. Keruntuhan pun semestinya didefinisikan ulang saat ini, karena wujudnya tak mesti seburuk serbuk sisa gerogotan rayap belaka.

Jangan lupa bahwa sedari dulu Indonesia harus dibangun jiwanya, dan juga raganya. Itu ada pada tunutan imperatif yang tak boleh ditawar oleh siapa pun. Keragaan yang selalu dibanggakan sepihak dan apalagi tanpa ukuran dan takaran wajar sangatlah mengganggu keindonesiaan yang sesungguhnya, dan IMM harus bersaksi untuk itu.

Juga harus berikrar untuk merubah itu. Itu sebuah agenda besar yang amat mendesak. Selamat Milad ke 48 IMM. Selamat menyongsong Muktamar ke 15. Nashrun Minallah, wa fathun qarieb. Fastabiqulkhairaat. *****

Shohibul Anshor Siregar


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: