'nBASIS

Home » ARTIKEL » Diskusi ISI Seri II: LOCALLY BASE

Diskusi ISI Seri II: LOCALLY BASE

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Berhentilah berangan-angan menjadi sekadar komprador saja, karena peran itu sama sekali tak pernah beroleh tempat terhormat dalam sejarah kebangunan bangsa-bangsa. Komprador itu hanyalah pialang yang sengaja dititipi kelebihan akses oleh majikan yang secara detil menghitung pola dan intensitas pengeksploitasiannya sebelum pada akhirnya diludahi sendiri oleh majikan kapitalis itu.  Oleh karena itu bijaksana sekalilah jika mandat tak boleh beredar ke pundak para komprador, karena ia (mereka) pasti akan membelokkan sejarah.

Kehabisan potensi dan energi untuk bangkit. Itu seolah menjadi penyesalan mendalam bagi RE Nainggolan saat mengemukakan data degradasi  (kemerosotan) Sumatera Utara yang berlangsung terus-menerus. Mantan Sekdaprovsu yang juga mantan Bupati Tapanuli Utara (sebelum pemekaran) ini, sebagaimana halnya Gatot Pujo Nugroho,  memang tidak mengesankan pesimisme barang sedikit pun. RE Nainggolan hanya berusaha mengelaborasi hingga elemen-elemen masalah yang cukup detil tentang “benang kusut Sumatera Utara” yang menyebabkan kebingungan pemangku mandat karena mengalami kesulitan menentukan harus memulai pekerjaan dari mana.

Itulah salah satu catatan penting saya dari Dialog Tokoh yang diselenggarakan oleh Institut Solusi Indonesia (ISI) Senin pekan ini di Medan. Selain RE Nainggolan, hadir dan memaparkan pandangan-pandangannya dalam forum ini Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho. Dialog yang sangat produktif ini bukan saja ditandai oleh hadirnya peserta di luar jumlah yang diperkirakan, tetapi lebih ditentukan oleh lontaran-lontaran ide dari sejumlah penanggap. Membukukan semua kata yang diucapkan dalam forum ini jelas sangat bermanfaat untuk membekali pemerintahan provinsi Sumatera Utara periode 2013-2018. Maka tak sia-sialah Sekdaprovsu Nurdin Lubis duduk tekun menyimak semua pembicaraan dalam forum ini. Ia akan menjadi semacam jembatan transmisi dalam agenda peralihan periodik kepemimpinan Sumatera Utara 2013-2018.

Degradasi. Sumberdaya alam tak terbarukan yang kini tinggal turi-turian (cerita). Ladang minyak yang pernah membahagiakan di Berandan, misalnya, yang hingga kini tak ditimpali dengan sumber-sumber baru. Perhatikanlah proses pelahiran sesungguhnya proyek geothermal  Sarulla yang siapa tahu kemungkinan akan bisa sirna dengan sendirinya karena “ditelan” kejahatan birokratis khas Indonesia (Sumut). Apa pula yang terjadi di tambang emas Batangtoru dan Madina? Dimanakah keindonesiaan dan kesumatera Utaraan diselipkan dalam gempita rencana pengurasan sumberdaya di situ? Belum malu berperang dengan diri sendiri karena menyadari kenaifan di Inalum?  Sumberdaya manusia yang semakin tak terorbit seperti lampu teplok yang semakin mellep (redup).  Sudah benar RE Nainggolan melihatnya dari kacamata objektif Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan rankingnya (Sumut, urutan ke 8 di antara provinsi-provinsi yang ada). Itu  adalah posisi baru setelah degradasi.

Seolah tak berhadapan dengan siapa-siapa, entah kenapa sekarang saya ingin sekali berbicara keras: “Tunjuklah dengan sepuluh jarimu serentak, siapakah yang berdosa untuk degradasi ini dan masihkah akan engkau legitimasi juga seseorang yang kelak hanya akan menimbun dosa-dosa yang pernah ada sambil melindungi dirinya dengan mandat yang kau berikan?”  Petakanlah dengan cepat, dari mana kau akan memulai untuk mengurai benang kusut ini? Hitunglah dengan pasti berapa menit akan kau bangun jalan, jembatan dan irigasi? Kapan akan kau bangun sekolah yang runtuh, apa yang kau tunggu sehingga pupuk untuk petani tersedia cukup? Nyawa siapa yang perlu digadaikan agar permodalan untuk nelayan dan pedagang tersedia? Kapan guru yang baik dan buku pelajaran untuk anak sekolah diberikan jika sekolahnya belum juga akan direhabilitasi dari keruntuhan?  Seseorang memang  tidak cukup hanya memiliki data, tetapi juga wajib mengalami proses pentahiran (pensucian) motivasi, untuk tidak sekadar berambisi dan bertindak atas nama dan untuk diri sendiri saja. Seseorang yang pundaknya akan disemati mandat itu haruslah yang memiliki Sumatera Utara sungguh-sungguh, dan tak memandangnya sekadar  wilayah untuk singgasana belaka.

Jadi jelas, masalah kita di sini bukan cuma sekadar ketak-serasian kepemimpinan yang memalukan seperti dikemukakan oleh Soekirman yang adalah Wakil Bupati Sergai selama 2 periode untuk pasangan yang sama. Bukan cuma tentang kejamakan “perkelahian” dan intrik saling menjatuhkan di  antara Bupati dan Wakil, Walikota dan Wakil, Gubernur dan Wakil, dan bahkan Presiden dan Wakil. Tampaknya niat baik berlatar pengalaman empiris yang amat manis dari Soekirman itu bukan tidak berguna untuk memikir ulang tentang budaya Nusantara yang secara sosiologis, politik dan kultural memang seakan dipantangkan berdwitunggal. Soekirman akan sadar kelak ketika ia dan T Erry Nuradi bersepakat atau tak bersepakat tentang siapa pelanjut estafet kepemimpinan di Sergai.  Atau sebaiknya Soekirman ini didukung saja menjadi Wakil Gubernur.  Ia orang istimewa karena kemampuannya dan tipe kepribadiannya.

Kenali diri. Agaknya perlulah dihentikan sekarang juga angan-angan neoliberalistik yang memposisikan Sumatera Utara (Indonesia) dengan segenap kekayaannya itu sebagai sasaran empuk bagi Negara pemangsa melalui tangan-tangan multinational corporations (perusahaan multinasional) yang mereka miliki.  Berhentilah berangan-angan menjadi sekadar komprador saja, karena peran itu sama sekali tak pernah beroleh tempat terhormat dalam sejarah kebangunan bangsa-bangsa. Komprador itu hanyalah pialang yang sengaja dititipi kelebihan akses oleh majikan yang secara detil menghitung pola dan intensitas pengeksploitasiannya sebelum pada akhirnya diludahi sendiri oleh majikan kapitalis itu.  Oleh karena itu bijaksana sekalilah jika mandat tak boleh beredar ke pundak para komprador, karena ia (mereka) pasti akan membelokkan sejarah.

Soeharto pastilah bukan sekadar berangan-angan ketika berusaha mendesign pembangunan Indonesia dengan tahapan yang di dalamnya ada saat tinggal landas (take off). Betulkah hanya karena diskontinuitas (ketak-berkelanjutan) “jabatan seumur hidupnya” (sebagaimana Soekarno yang bercita-cita sama) hingga kini Indonesia tak pernah mengenal tahapan yang diangankan itu? Juga tak pernah berhenti menjadi konsumen untuk semua hal yang bahan bakunya ada di sini? Jangan katakan kelangkaan modal dan tenaga ahli, karena ketenagaan dan keahlian adalah kelangkaan abadi di Negara mana pun. Bukankah arus bawah semisal mobil esemka dari Solo sudah membuktikan otak budogol (naïf) Indonesia yang cuma giat menyerahkan lehernya menjadi sasaran empuk? Jika hanya akan melihat Indonesia dari aspek pertumbuhan, memang tak ayal lagi, semua boleh diserahkan kepada tangan-tangan asing. Bahkan negeri ini pun dapat sangat beruntung secara material jika manajemennya diserahkan kepada sebuah corporate asing. Mereka bisa menggandakan angan-angan naïf kita dengan suguhan mengagumkan di atas persepsi yang terbatas tentang diri dan alam global. Karena itu kau harus berdiri sebagai ksatria di tengah bangsa yang berdaulat, dan katakan tak ada jalan selain kembali kepada diri sendiri.

Kembali kepada diri sendiri juga bermakna membuat Tanah Karo yang subur menjadi pemasok sayur mayur dan buah-buahan untuk kebutuhan pasar dunia. Jika kau merasa terlalu tinggi rencana itu, maka berhentilah berangan-angan menjadi anggota dari sebuah bangsa merdeka dan berdaulat. Tabiatkanlah tak MC di hadapan uang dollar, karena hanya dengan begitulah rupiahmu akan dihargai oleh siapa pun, termasuk Negara yang baru berdiri. Berhentilah berangan-angan menaiki helikopter dinas jika yang kau maksudkan hanyalah menghindari lumpur dan bahaya kecelakaan di Aek Latong. Aek Latong dan kelokan-kelokan sempit sepanjang jalan Tarutung -Sibolga, adalah noktah buruk yang dalam kamus SBY disebut disconnectivity. Jika semua itu terlalu tinggi untuk Sumatera Utara yang kau bayangkan, maka menyesallah pernah mendengar sergahan Ridwan Rangkuti yang mencaci-maki  sistem yang membuat Jakarta tak lebih sebagai Batavia zaman kolonial.

Jika tak sudi memikirkan usul Subhilhar yang  menuntut pemekaran Sumatera Utara menjadi 4 provinsi, maka tentunya kau akan lebih takut untuk memfasilitasi pemekaran baru menjadi 11 provinsi kecil-kecil yang rakyatnya accessfull ke pemeritahnya dan korupsinya menjadi lebih minim karena logika pengawasan sosial. Gagasan itu bukan sebuah kemakaran. Itu berintikan pemahaman geostrategis dan perpendekan mata rantai pelayanan yang diidamkan oleh ruh otonomi yang sudah berakhir dengan angan-angan semu itu.  Subhilhar ingin ada distribusi yang adil, bukan saja tentang jabatan-jabatan lokal dalam perbanyakan wilayah. Bisa saja dalam pikirannya pun muncul protes tentang fakta kepemilikan dan penguasaan. Tetapi sempurnakan saja gagasannya dengan menopangnya dengan penghentian unitarisme sesegera kau mampu mengomandokan Indonesia menjadi federalisme dalam bingkai NKRI yang seutuhnya. Jangan takut, karena keberanian sangat diperlukan. Karena tak takut Marah Halim Harahap sudah mencatatkan sejarah sepakbola modern di sini (Mahal Cup) tanpa petunjuk Jakarta, meski karena kekerdilan orang-orang di kemudian hari hal itu menjadi sirna dari sejarah. Kenanglah keberanian seorang bernama Abdul Hakim yang menggempur lewat mandatnya hingga ia beroleh tempat yang mulia dalam sejarah pendidikan, keolahragaan dan lain-lain dari masa kepemimpinannya itu.

Jika tak sudi mengurai sengketa lahan yang bersejarah hitam di Sumatera Utara, maka jangan karena itu kau tuduh M.Arif Nasution sedang mengigau. Ia bukan saja ingin kepastian rakyat mau makan apa, tetapi sebagai apakah hukum dan pemerintahan dalam sebuah Negara merdeka seperti Indonesia? Itu jelas teresapkan dari kata-katanya yang ringan dan nyaris melompat ke sana dan kemari. Bobot masalah itu telah menyesakkan dadanya begitu lama. Ia tersinggung dan geram, karena ia amat waras.

Raja Inal Siregar tahu, bukan cuma dollar yang bisa membangun Sumatera Utara. Maka ia gerakkanlah seluruh jajaran dan sentimen serta fanatisme kecintaan daerah untuk bergotong royong. Kenanglah program Martabe yang adalah bukan sejenis minuman di Medan, melainkan akronim dari Marsipature Huta Na Be (pesikap kuta kemulihenta). Martabe adalah antipoda dari dependensi pembangunan yang tak pernah adil mempergilirkan dalam sistem yang sudah didesign  hanya untuk growth (pertumbuhan) belaka. Tak sembarangan seorang pengajar dari IKIP Medan membahas prinsip-prinsip dasar dan implementasi Martabe itu sebagai pidato pengukuhan guru besarnya. Kau sadarilah, terlalu sombong jika gagasan Martabe hanya diabadikan dengan menyematkannya sebagai nama salah satu ruangan di lantai 2 kantor gubsu.

Penutup. Figur yang akan memegang amanah sebagai Gubsu periode 2013-2018 adalah gubernur ke 21. Jangan sampai orang ini tidak tahu semua sepak terjang para pendahulu. Apa sisi-sisi keberhasilan dan kekurang-berhasilan mereka sangat perlu ditelaah. Ia tak boleh menjadi pemegang mandat yang tak amanah dan yang tahu harus berbuat apa.

Dialog Tokoh yang diselenggarakan ISI hanyalah sebuah pentas demokrasi yang membantu rakyat tak memilih “kucing dalam karung” yang boleh jadi sebentuk tekanan pula kepada pengarus-utamaan pintu partai dalam rekrutmen pemimpin. ISI tak hendak mengajukan satu pasangan perseorangan, tetapi jelas berdiri pada tekad mengencangkan social empowering. Jika pemilukada hanyalah ritus limatahunan yang anti demokrasi karena bobroknya penyelenggaraan, mudah-mudahan Maret tahun depan akan lebih bermartabat. Itu yang dituntut kepada Irham Buana Nasution yang hadir dalam forum ini. Mestinya ia menangkap pesan kuat itu dan memaksa orang-orangnya menjadi fasilitator rakyat yang jujur sejujur-jujurnya dan adil seadil-adilnya.

Shohibul Anshor Siregar

Dipublish pertamakali oleh Harian Waspada Medan, Kamis, 22 Maret 2012 hlm B5


2 Comments

  1. Tulisan Abang cukup tajam, memberi jalan keluar ats banya persoalan meskipun terkesan meledak-ledak.

    ‘nBASIS:ada hal normal dan ada yang di luar kebiasaan dan yang memang diperlukan. Pembentukan KPK adalah contoh dari ledakan bahkan kemarahan terhadap kejahatan luar biasa korupsi. itu sekadar contoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: