'nBASIS

Home » ARTIKEL » BUKAN “SALAH SATU DI ANTARA”

BUKAN “SALAH SATU DI ANTARA”

AKSES

  • 564,277 KALI

ARSIP


Ada pertanyaan yang selalu hadir di setiap relung hati pencari keadilan. Siapakah yang harus memandu perubahan ini, apakah seorang pemimpin atau masyarakat sebagai sebuah kolektivitas. Tetapi kepemimpinan di zaman SBY telah membuktikan ketenaran bermodal favoritisme ringan yang diikuti oleh detik-detik berkepanjangan dari ketidak-berdayaan di tengah arus yang menciptakannya sendiri dan tak jarang memintanya bercermin berulangkali. Siapakah pemimpin, dari mana mereka lahir dan mengapa mereka selalu terdukung untuk ketak-terdukungan berikutnya nyata-nyata memerlukan pemeriksaan yang teliti pada bangsa ini.

Soal implementasi metamorfosis Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi partai terbuka cukup banyak contoh lakon lapangan dari orang-orangnya yang dapat ditelaah. Sebagiannya harus disebut dengan label penuh kecanggungan, sebagiannya mungkin sudah memenuhi prasyarat-prasyarat budaya yang berlaku umum, paling tidak dari aspek atau sisi terluarnya. Kebudayaan itu memang kerap harus lebih dikenali dari sisi terluarnya, meski tak selalu ada kesesuaian dengan bagian terdalam.

Pembelajaran menjadi negara demokrasi besar kerap hanya memberi kesan kepada dunia luar bahwa Indonesia kini telah meninggalkan identitas ketimurannya yang ramah. Bagi musyafir, atau pengamat dari luar, terlebih ia hanya sekadar mau memakai data sekunder, “memaki-maki pejabat negaranya” bisa menjadi sebuah label untuk bangsa Indonesia. “Kebaikan-kebaikan semantik Indonesia” juga bisa tak diketahui rahasianya oleh para musyafir jika mereka hanya datang menemui para pejabat untuk berbagai modus kerjasama antar negara. Tetapi perubahan budaya menurut para ahli tak selalu berjalan seiring dengan perubahan masyarakat. Inilah uniknya, kebudayaan berubah masyarakatnya tidak seluruhnya. Padahal masyarakatlah wadah bagi kebudayaan. Tak ada kebudayaan pada makhluk lain kecuali manusia yang bermasyarakat.

Seperti butiran-butiran beras di atas anduri (tampi), sebagiannya akan segera tergusur ke bagian terdepan. Itu bukan karena butiran-butiran itu paling beruntung, melainkan sebaliknya. Pada proses penampian pemilahan menjadi tujuan utama. Butiran yang paling cepat maju ke depan adalah bagian-bagian yang nanti harus dibuang, atau disediakan menjadi pakan ternak. Butiran paling bernas akan tertinggal di bagian terbelakang anduri itu.

Dalam sejarah perubahan sosial yang diketahui sejak Auguste Comte dan bahkan dari masa lebih tua seperti dari zaman Ibn Khaldun, ketidak-seiramaan perubahan yang selalu menjadi kajian penuh kemusykilan itu dianggap sudah benar dengan adanya anggapan perbedaan kemampuan dan peluang bagi orang dan kelompok orang serta komunitas masyarakat dalam proses perubahan. Mereka menyebut cultural lag (ketertinggalan kebudayaan) untuk sisi tak beruntung di tengah masyarakat. Inilah kemudian yang dapat menjadi bahan cerita untuk penegangan sosial bagi para pejuang-pejuang persamaan dan pembebasan. Tetapi ada orang dan bahkan negara yang tetap merasa benar mengeksploitasi cultural lag itu sebagai “rezeki”.

Dengan melawan Karl Marx kita juga bisa mengatakan hari ini bahwa perbedaan dalam bawaan (native) bisa menjadi dasar bagi adanya perbedaan dalam tidak hanya akses untuk kemajuan, tetapi juga sekaligus speed (kecepatan)  dan power (kekuatan). Bagaimanakah caranya mengubah komposisi hormonal dan konstruksi biologis perempuan agar menyamai lelaki atau sebaliknya untuk sebuah persamaan yang amat sangat utopis dan yang mestinya tak perlu dibayangkan? Tetapi itulah kekhilafan yang sebagian besarnya memang disengaja untuk memerangi kesenjangan yang sebagiannya memang bisa dan wajib diperangi. Tetapi urusannya tidak sesederhana itu. Para pemimpin dan rezim yang pernah ada di permukaan bumi tetap tak sepi dari ikhtiar untuk pembelokan.

Alasan-alasan idiologis dan historis kerap dimaksudkan untuk romantisisme belaka dan untuk tujuan pemupukan kesabaran (nrimo, apatisme) menerima ketidak-adilan, atau ketidak-tahuan terhadap ketidak-adilan.  Itu jugalah alasan mengapa segala macam bentuk penghalalan cara kerap menjadi pilihan tanpa perasaan berdosa. Tujuan memang kerap tak dapat dikompromikan dengan kehalalan. Ia teramat penting dan ketercapaian atau ketidak-tercapaiannya bisa selalu menjadi bahan dasar untuk romantisisme perlawanan abadi.

Pentingnya Pemimpin.   Dalam transisi yang mengkhawatirkan sekitar tahun 1960-an apa yang dikenal dengan “mendayung di antara dua karang” sebagaimana dianjurkan oleh Bung Hatta tampaknya begitu penting dipikir-ulang hari ini. Hamengku Buwono IX yang menegaskan pentingnya solusi yang merangkum keseiramaan the leader, the man and the gun menjadi pekerjaan berikut sebagai praksis yang dibreakdown dari agenda permasalahan pada level idiologis yang memang harus diselesaikan terlebih dahulu. Di tengah keterombang-ambingan di antara kekuatan-kekuatan pemangsa dunia, lead (arah), kata Hamengku Buwono IX, harus ditopang oleh orang-orang yang tidak saja amanah, melainkan juga kuat dalam penerapan keadilan dan mengejar ketertinggalan sehingga ia memang harusnya menjadi panutan. Gun (instrumen) tidak boleh dianggap menjadi tujuan, melainkan sekadar opsi di antara sejumlah peluang yang tersedia di tengah kesulitan.

Ada pertanyaan yang selalu hadir di setiap relung hati pencari keadilan. Siapakah yang harus memandu perubahan ini, apakah seorang pemimpin atau masyarakat sebagai sebuah kolektivitas. Tetapi kepemimpinan di zaman SBY telah membuktikan ketenaran bermodal favoritisme ringan yang diikuti oleh detik-detik berkepanjangan dari ketidak-berdayaan di tengah arus yang menciptakannya sendiri dan tak jarang memintanya bercermin berulangkali. Siapakah pemimpin, dari mana mereka lahir dan mengapa mereka selalu terdukung untuk ketak-terdukungan berikutnya nyata-nyata memerlukan pemeriksaan yang teliti pada bangsa ini.

Pelajaran terpenting dari era ini mestilah usaha sekalian komponen bangsa tentang ketak-niscayaan keterpilihan (electoral) dengan kesejahteraan. Seseorang yang boleh diandaikan sepopuler dan sekuat apa pun juga, rupa-rupanya hanyalah operator tak berdaya, dan dia adalah jelmaan ketak-berdayaan dari keseluruhan. Negeri ini hanya mampu mencapai demokrasi prosedural yang itu pun dirasa pantas dianggap memuaskan (satisfied) bagi segelintir yang menganggap dirinya sebagai elit dan pemimpin. Pasti ada yang salah dalam persepsi kenegarawanan mereka. Karena itu pertanyaan harus kembali merujuk Hamengku Buwono IX: the leader, the man and the gun.  Bagaimana membangun sistem. Bagaimana ketersisteman mendewasakan rekrukmentasi dan keterawasan serta ketertanggungjaban. Pasti ada nilai-nilai berbasis moralitas yang belum dapat dihadirkan, dan itu tak mungkin muncul dari gagasan seorang dan sekelompok orang pencari kekuasaan.

Naik Kelas. Di tengah kelangkaan dan penderitaan yang memuncak pada zaman pendudukan Jepang, takki (sejenis kulit kayu) telah menjadi pilihan untuk sandang di kalangan kelas paling tak beruntung. Tetapi ia seolah menjadi satu-satunya opsi sebelum yang lain ditemukan. Biarlah seseorang atau sekelompok orang menjadi semacam unggulan predistinatif (seakan takdir) pada satu era yang tak boleh berhenti memuasi diri dalam kekosongan pandangan ke masa depan. Tetapi berilah peluang untuk memaafkan kelahiran kesempurnaan baru yang akan menjawab masa depan tidak dengan apologi dan dogmatika kosong yang menyesatkan.  Jika sebuah bangsa harus mengeluarkan energi besar dan bahkan korban manusia untuk cita-cita sempit yang bersumber dari narsisme kekuasaan dan kewibawaan, alangkah buruknya kolektivisme yang disebut negara.

Zaman ini juga tak membutuhkan orang dan kelompok orang yang hanya ingin dianggap berbeda dan dari kesan itu ingin menjadi peraih predikat pahlawan pembela rakyat. Pengkhianatan harus dipersempit peluangnya untuk muncul, dan sistem yang harus menjawab itu. Jika begitu masalah Indonesia hari ini bukanlah masalah mereka yang duduk di Senayan saja, dan tidak melulu pada sulitnya SBY mengendalikan setgab yang mulai menakar kekuatan dan peluangnya melalui perhelatan nasional tahun 2014 (Pemilu). Tetapi siapa yang akan membangun sistem sehingga dengan sistem itu semua orang menjadi baik dan malu sebagai orang yang tidak baik. Siapakah gerangan yang akan merubah keadaan sekarang yang mempahlawankan orang jahat yang menjadi kaya dan berkuasa? Sistem itu harus ada, dan jangan dibiarkan dibangun sendiri oleh mereka yang kini menjadi pengemban  kekuasaan. Kegagalan mereka cukuplah menjadi kegagalan mereka saja, tidak usah menjadi sejarah kegagalan bagi negeri ini. Terlalu besar korbannya jika berpikir sebaliknya.

Penutup.  PKS pastilah mengalokasikan waktunya di Medan untuk membicarakan soal suksesi lokal, seperti evaluasi atau bahkan dorongan untuk Gatot Pujo Nugroho untuk maju dalam perhelatan Maret 2013. Itu memang penting, karena tak berkuasa berarti hanya akan menjadi makmum (pengikut) atau pembangkang. Tidak enak jika hanya menjadi makmum selamanya atau pembangkang selamanya. Jika pun nanti hasil pemilukada berbicara lain, toh itu ibarat riyadhah (latihan) untuk kesiapan pertarungan lain pada tahun 2014. Nothing to loose (biasa saja).

Tetapi ada hal yang lebih penting. Akan kemanakah arah PKS  jika tak berusaha membangun sistem? Bolehlah sekarang PKS bercita-cita sekadar menjadi salah satu di antara yang ada. Dalam keburukan yang terwariskan saat ini ia harusnya menjadi satu-satunya di antara yang ada. Satu-satunya di antara yang ada? Ya, harus begitu. Itu cocok untuk sebuah kebobrokan sistemik yang parah seperti sekarang ini. Ketak-terujian memang kerap menjadi tantangan besar bagi PKS, selain rivalitas berkeagamaan dalam ranah perpolitikan. Inklusivitasnya, tak diragukan lagi, hanyalah ranah instrumentatif yang mengandaikan pemacuan kebesaran. Mudah-mudahan pula dengan tak sedikit pun keraguan akan menyelam tenggelam bersama ikan yang sedang dipancingnya. Dari perhelatan PKS di Medan ini saya ingin mencatatkan hamparan tidak mudah untuk dilewati.

Shohibul Anshor Siregar

Dipublish pertamakali oleh  Harian Waspada Medan, Senin 2 April 2012, hlm B5

Advertisements

1 Comment

  1. […] Bukan Salah Satu Di Antara […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: