'nBASIS

Home » ARTIKEL » TIRAI KEMISKINAN

TIRAI KEMISKINAN

AKSES

  • 545,455 KALI

ARSIP


TIRAI KEMISKINAN

Oleh Shohibul Anshor Siregar

Sakitnya Negara-negara miskin telah diperparah lagi dengan kemunculan tipe-tipe corporate yang relatif baru yang ide dan mekanisme pengelolaannya 100 % dicopy paste dari karakteristik kebengisan kapitalisme itu. Dengan jalan semisal pula corporate lokal itu berjanji palsu dan bahkan menyesatkan pikiran waras akan mensejahterakan rakyat. Rakyat yang mana?

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan mengutip syair sebuah lagu berjudul Anak Medan. Saya tidak tahu pengarang lagu yang amat populer  ini. Tetapi menurut seorang preman Medan, Wempy Saragih, pengarang lagu ini anonim.

ANAK MEDAN

Anak medan, Anak medan, Anak medan do ahu, kawan
Modal pargaulan boi do mangolu ahu
Tarlobi dipenampilan main cantik do ahu, kawan
Sonang manang susah happy do di ahu

371 Solot digontinghi
Siap bela kawan berpartisipasi
378 Santabi majo disi
Ada harga diri mangantisipasi

Horas……Pohon pinang tumbuh sendiri
Horas……Tumbuhlah menantang awan
Horas……Biar kambing di kampung sendiri
Horas……Tapi banteng di perantauan

Anak medan, Anak medan, Anak medan do ahu, kawan
Susah didonganku soboi tarbereng ahu
Titik darah penghabisan ai rela do ahu , kawan
Hansur demi kawan, ido ahu kawan

Dari Washington DC Maret 1976 Mahbub ul Haq menulis prakata bukunya dengan kalimat pembuka demikian: “Tirai kemiskinan telah turun di muka bumi, membelahnya, dari segi kebendaan dan pandangan hidup, menjadi dunia berbeda, dua planet terpisah, dua kelompok manusia tidak sederajat, yang satu teramat kaya, yang lain sangat melarat.  Batas yang tidak terlihat oleh pandangan mata ini, kita jumpai dalam Negara dan antar Negara”.  Mahbub ul Haq dengan didukung oleh data mutakhir tanpa ragu-ragu membeberkan strategi dan taktik serangan langsung atas kemiskinan dengan terlebih dahulu berusaha menyadarkan pembacanya tentang dosa-dosa perencana pembangunan. Telaahan sejarah perjalanan dan pembangunan berbagai Negara yang menyebabkan terbangunnya tirai kemiskinan itu membuatnya menjadi seperti raja moral dunia yang memberi  arah baru untuk pembangunan, termasuk siasat baru internasional dalam pembangunan yang mengandaikan model-model interaksional antar Negara dalam melakukan pemenuhan hajat hidup masing-masing dengan penuh keadilan.

Sudut Pandang baru. Ketika berbicara tentang sudut pandang baru tentang pembangunan, Mahbub ul Haq mengajukan 8 (delapan) butir pemikiran bernas. Periksalah jika menurut Anda ada yang sudah daluarsa. Pertama, pertumbuhan GNP seringkali tidak sampai ke bawah: yang dibutuhkan ialah serangan langsung atas kemiskinan. Kedua, mekanisme pasar seringkali senjang akibat pembagian pendapatan dan kekayaan yang berlaku; pasar bukan petunjuk yang dapat diandalkan untuk menentukan tujuan-tujuan nasional. Ketiga, gaya pembangunan harus sedemikian rupa, sehingga bukan manusia yang dikerahkan di sekitar pembangunan tetapi pembangunan yang dikerahkan di sekitar manusia. Keempat, umumnya perubahan lembaga lebih menentukan daripada perubahan harga untuk menyusun siasat pembangunan. Kelima, siasat baru pembangunan harus berpijak pada tujuan memuaskan kebutuhan pokok manusia dan bukan permintaan di pasar. Keenam, kebijakan mengenai pembagian dan lapangan kerja harus dijadikan bagian tidak terpisahkan setiap rencana produksi; umumnya, tidak mungkin memproduksi dahulu dan membagi kemudian. Ketujuh, menaikkan produktivitas kaum miskin dengan cara mengarahkan penanaman modal ke sektor-sektor miskin dalam masyarakat, unsur penting kebijaksanaan dalam pembagian. Kedelapan, hubungan kekuasaan politik dan ekonomi umumnya harus dirombak dan disusun kembali agar pembangunan dapat tersebar luas di kalangan rakyat banyak.

Judul asli buku itu ialah The Proverty Curtain. Pertamakali diterbitkan oleh Columbia University, dan yang kemudian pada tahun 1983 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia yang, di sana, Mochtar Lubis memberi pengantar sekapur sirih yang menusuk-nusuk perbendaharaan pengetahuan dan perasaan keadilan semua makhluk perencana dan pelaksana pembangunan di semua tempat yang sudah  terlanjur menjadi penyangga kapitalisme yang melahirkan ketidak-adilan massal.   Dalam memberi pengantar sekapur sirih itu Mochtar Lubis tak kurang galaknya. Tahun enampuluhan, katanya, tak lama setelah saya dibebaskan dari tahanan politik oleh rezim Soekarno, saya pernah menghadiri sebuah konferensi di Jerman Barat yang membicarakan perimbangan yang tidak adil antara Negara kaya dan Negara miskin di dunia. Lalu ia pun mengutip seorang pembicara dari Negara Amerika Selatan yang dengan pahit meminta perhatian dengan mengatakan: “betapa seorang kuli di kebun pisang perusahaan multinasional Amerika Serikat United Fruit Company harus bekerja beberapa pekan untuk bisa membeli sehelai kemeja, yang barang itu sendiri dapat dibeli oleh seorang buruh Amerika hanya dengan bekerja setengah hari saja”. Pembicara dari Amerika Selatan itu, dan tentu saja Mochtar Lubis dan Mahbub ul Haq, jika mereka masih dapat dihadirkan hari ini, di Amerika, di Eropa, di Australia maupun di Asia, tentu saja akan lebih mendapatkan panorama keprihatinan yang lebih massif dari contoh perbandingan perikeadaan yang mereka perbincangkan penuh duka waktu itu.

Debat Lain Mochtar Lubis. Mochtar Lubis tak menyebut tanggal kejadian. Tetapi pada sebuah pertemuan di Colorado, Amerika Serikat, ia telah menggugat perusahaan-perusahaan multinasional yang sama sekali tak memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap masyarakat yang melarat di tempat mereka mengeruk keuntungan besar-besaran di Negara terbelakang. Itu persis seperti keluhan kita kini tentang seluruh perusahaan pertambangan asing yang beroperasi di Indonesia. Seorang Wakil Presiden sebuah perusahaan multinasional meremehkannya dengan mengatakan secara sengit bahwa perusahaan tidak perlu memikirkan apa pun kecuali pengerukan keuntungan besar-besaran, tak perduli masyarakatnya mau makan apa. Kemudian wakil presiden perusahaan itu mengunci pendiriannya dengan menegaskan bahwa soal nasib masyarakat adalah urusan pemerintah dan para pemimpin politik dan pemimpin masyarakat, meski Mochtar Lubis tak bisa dijawabnya saat mengatakan “bagaimana jika masyarakat termarginalisasi itu mengkristalkan kondisi tertentu yang akhirnya tak memungkinkan perusahaan bernasib lain kecuali gulung tikar?”

Mochtar Lubis tidak sedang mengagitasi agar rakyat melampiaskan kemarahannya kepada semua perusahaan multinasional yang menyepelekan hak-hak hidup mereka yang tak berkeadilan. Katakanlah perusahaan-perusahaan multinasional itu “setan” semua yang tak perduli sesama, dan pemerintahan Negara-negara terbelakang yang membentang karpet merah buat mereka adalah rezim yang lebih senang kenikmatan sendiri dengan afiliasi khusus kepada para juragan asing mereka ketimbang menelan air liur kemiskinan bersama mayoritas rakyatnya. Tetapi jika hanya ada air liur untuk ditelan, hitung sendirilah stok air liur untuk setiap manusia normal dan berapa lama kebertahanannya keluar masuk melalui kerongkongan untuk bisa menopang kemakmuran yang bengis dari Negara kapitalis yang berseliweran menenteng keuntungan besar di depan mata kaum miskin yang massif itu, sebelum air liur itu kering sendiri. Mochtar Lubis mendeskripsikan hanya daya dukung demografis, sama sekali bukan sentimen politik berbasis deprivasi relative (perasaan subjektif keterampasan hak) yang kerap digunakan para ahli sosiologi untuk melukiskan perlawanan-perlawanan damai maupun penentangan-penentangan dengan kekerasan atas wujud ketidak-adilan.

Sakitnya Negara-negara miskin telah diperparah lagi dengan kemunculan tipe-tipe corporate yang relatif baru yang ide dan mekanisme pengelolaannya 100 % dicopy paste dari karakteristik kebengisan kapitalisme itu. Dengan jalan semisal pula corporate lokal itu berjanji palsu dan bahkan menyesatkan pikiran waras akan mensejahterakan rakyat. Rakyat yang mana?

Begitulah kiranya, bahwa apa yang belakangan kita ketahui sebagai serpihan keuntungan perusahaan multinasional itu yang diwujudkan dalam alokasi program semisal Community Social responsibility (CSR) rupa-rupanya tidaklah cukup sama sekali sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah dan elit politik dari sebuah Negara terhadap rakyatnya. Ingat pulalah bahwa konstitusi yang disepakati tentang sharing manfaat dari kekayaan alam hanyalah pengejawantahan nilai-nilai puncak dari kemanusiaan dan keadilan universal, dan jika sekiranya sebuah bangsa tak pernah memilikinya itu tak berarti nurani bangsa itu sudah harus tumpul dengan sendirinya. Tuhan tak menciptakan ketumpulan itu untuk dinikmati sebagai takdir. Tak ada takdir seperti itu.

Banteng Internasional. Lagu populer anonimous “anak Medan” yang salah satu bait syairnya menegaskan pendirian biarlah biasa-biasa saja di tengah-tengah komunitas sendiri, namun di dalam pergaulan kosmopolitan wajib menjadi banteng. Itu ksatria, mudah-mudahan dapat menjadi rujukan bagi mereka yang mestinya wajib terpanggil. Cermatilah sungguh-sungguh, apa makna ungkapan ini: “Biar  kambing di kampung sendiri. Tapi banteng di perantauan”.  Itu saja belum cukup. Karena lagu itu pun mendidikkan sebuah sikap demikian: “Horas. Pohon pinang tumbuh sendiri. Tumbuhlah menentang awan”.

Bagi Mochtar Lubis buku Tirai Kemiskinan begitu inspiratif bagi rakyat dan pemerintahan yang ingin merdeka sesungguhnya. Ia menyadari keraksasaan dan kebengisan kapitalisme. Tetapi ia pun sadar sesadar-sadarnya bahwa perjuangan keadilan bukan di medan internasional saja. Menata diri secara berdaulat, mengikis habis mental inlanderitas, adalah modal dasar yang kuat.

Oleh karena itu, dari perspektif Mochtar Lubis ini, para negarawan harus mempersepsikan dirinya sebagai pembela Negara dan bangsanya dan jatuh bangunlah bersamanya. Tak boleh ada jarak, termasuk jarak penderitaan, antara mereka (rezim) dengan bangsanya sendiri. Atau harus disebutkah rezim itu sebentuk pemerintahan yang dibiayai oleh kekuatan asing untuk meluluh-lantakkan harkat dan martabat bangsa sendiri? Tentu tidak seburuk itu. Tetapi alineasi (keterasingan) pemimpin kerap berpangkal pada hasrat memperturutkan pemuasan kemanjaan ragawi dengan bench marking  yang amat salah.

Penutup. Luluh-lantak pasca perang dunia kedua sudah dialami oleh Jepang dan bukanlah karena merangkak di selangkang Amerika mereka menjadi salah satu negeri terpenting penentu sejarah masa depan dunia. Mereka melakukan sesuatu yang jauh dari sikap membebek sehingga Cina bukan sebagai pecundang hari ini.  Mungkin ada manfaatnya memberi perhatian sejenak kepada kalimat yang ditorehkan Barbara Ward untuk Tirai Kemiskinan Mahbub ul Haq. “Mereka yang telah menarik keuntungan dari tata kehidupan yang ada selama ini takut, dan ketakutan mereka dapat berakhir dengan kekerasan dan permusuhan.  Mereka yang selama ini menderita penuh harapan dan harapan mereka, jika terlalu lama tinggal harapan, akan berubah pula menjadi kekerasan”. Kalimat Barbara Ward  jelas tidak untuk suatu usaha mempertentangkan posisi antar Negara saja. Tetapi termasuklah disparitas yang menyebabkan tinggi dan tebalnya tirai kemiskinan di suatu Negara. Bangsa dan negaraku: tumbuhlah menentang awan.

Pertamakali dipublish oleh Harian Waspada Medan, Kamis 12 April 2012 hlm A7

Advertisements

3 Comments

  1. […] Kira-kira, raungan apalagi yang lebih menyayat dari “Tirai Kemiskinan” yang ditorehkan oleh Mahbub ul-Haq (Pakistan, 1934-1998) atau model-model pemberdayaan ala Muhammad Yunus (Bangladesh, 1940-)? Gaung […]

  2. […] taka sing bagi rakyat hanyalah dengan mengindahkan saran-saran filosofis yang pernah diajukan oleh Mahbub Ul-Haq: “Jangan seret rakyat ke pembangunan, tetapi dekatkanlah pembangunan sesuai […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: