'nBASIS

Home » ARTIKEL » RAKYAT, RAKYAT, RAKYAT

RAKYAT, RAKYAT, RAKYAT

AKSES

  • 564,825 KALI

ARSIP


Catatan Diskusi Institut Solusi Indonesia (ISI) Seri III 24 April 2012

Oleh Shohibul Anshor Siregar

Hutan peta yang bohong itu tak berguna bagi rakyat, meskipun mungkin dimaksudkan untuk ditunjuk-tunjukkan kepada donor asing. Ini memang bukan sebuah kekhilafan, melainkan naïf terencana yang bersumber pada keniscayaan pembangunan berasumsi pertumbuhan (growth). Sama halnya areal sekitar bandara Polonia yang sudah habis didistribusi dengan legitimasi hukum dan pemerintahan, sedangkan rakyat di hampir semua sisi peringgannya dianggap harus diperlakukan orang liar yang patut dikejar-kejar. Kini menjadi terang benderanglah motif pemindahan bandara ke Kualanamu. Bukan karena alasan sumpek dan keberadaan di tengah kota. Pernahkah menghitung jumlah bandara di dunia yang terletak di inti kota?

Maukah dikau kutemani ke kebanyakan tempat kumuh di negeri ini, yang dihuni oleh orang-orang miskin? Maukah dikau mendengarkan cerita tentang mereka? Sudikah dikau memberi sedikit waktu untuk memperbincangkan mereka? Ihlaskah dikau kehilangan sedikit kesenangan saja untuk merencanakan sebuah sokongan demi mengangkat harkat dan martabat mereka? Tak mengapa dikau memulai dengan sebuah pertanyaan: “di manakah mereka orang-orang miskin itu?” Itu sebuah awal yang baik yang dengannya kita akan mungkin merencanakan sesuatu tentang masa depan yang adil, di sini, dari kita dan untuk kita.

Rakyat Tanpa Pemihakan. Di kota dan di desa, seperti dipastikan Prof.Dr.Ammiur Nuruddin,MA., mereka terselip kontras di antara kemewahan minoritas. Minoritas yang kelihatannya selalu lebih asyik mencari cara untuk memanjakan selera ragawi. Minoritas yang sekilas tampak penuh ketak-pedulian. Minoritas yang seakan tak mempunyai usaha lain kecuali membangun sistem yang lebih kuat untuk memelihara status keistimewaanya.  Minoritas yang memastikan progresivitas eskalasi sosialnya (vertikal dan horizontal) secara kontinum (tanpa batas) sehingga tak mungkin dilomba oleh orang-orang miskin itu.  Di antara keperkasaan minoritas itu, di persimpangan jalan yang ramai, orang miskin dan penerus generasinya berseliweran.  Di bawah tiang-tiang merkuri itulah kehidupan mereka disambung tiap hari. Mereka “berkantor” di sana, tanpa dasi, tanpa mesin absen, tanpa Kepala dan Humasy kantor.  Itulah sebagian dari komunitas mereka, yang berjuang dengan suara sumbang dan instrumen musik yang fals (mengamen) dan mengeksploitasi kondisi tubuh (different abel) demi recehan yang didamba berhamburan sesering mungkin dari kaca-kaca mobil yang terbuka meski amat sekejap sambil mengeluarkan aroma parfum yang amat asing bagi hidung orang miskin.

Di pinggir-pinggir sungai dan perairan yang lembab mereka menyelipkan diri sebagai orang-orang kalah. Ya, orang miskin itu memang terpaksalah membangun habitat sendiri di antara biawak yang semakin langka. Ikan-ikan kecil dan aneka biota yang sudah semakin enggan hidup karena polusi perairan di atas ambang batas. Limbah rumah tangga minoritas dan industri capital intensive (padat modal), termasuk rumah-rumah sakit, ikut menyumbang, yang membuat sungai dan perairan tak cuma keruh, melainkan berbahaya bagi kehidupan. Tetapi orang-orang miskin itu tidak berada pada posisi boleh memilih. Perhatikanlah, rumah orang miskin itu membelakangi sungai dan perairan, karena dalam pikiran mereka sungai dan perairan itu juga “bak sampah”.

Di antara minoritas yang kuat itu, rumah-rumah yang tak berjendela akan selalu dan selalu menyela rencana utopis kesejahteraan yang kerap diucapkan serius oleh para pembijaksana, sesuai yang mereka tulis pada lembaran-lembaran berkekuatan konstitusional. Di antara minoritas agung itu, rumah-rumah tak perlu berhalaman. Di antara minoritas itu hitunglah rumah yang dipastikan kebanjiran saat gerimis meningkat. Semua menumpuk jadi slum area. Sekiranya dikau temukan anak gadis “cantik” di sana, perhatikanlah mata dan sorot yang akan selalu menafikan semua keindahan-keindahan yang ia miliki dalam struktur maupun elemen tubuhnya, terlebih aura yang dipancarkannya. Ia orang miskin, gadis dengan aura yang ditakdirkan lahir dalam kemiskinan. Gadis yang menjadi wakil dari sebuah potret ketak-adilan keseluruhan setua bumi. Ingatlah, bahwa kemiskinan yang dekat dengan kekufuran (penyimpangan) telah menjelaskan mengapa ada prostitusi dan berbagai bentuk kriminalitas. Dikau mestinya tak harus merelakan semua ini menjadi tontonan atau cuma bahan perbincangan seminar di hotel berbintang.

Trust. Sejak Pelita (Pembangunan Lima Tahun) pertama penduduk di negeri ini dianggap sebagai faktor demografis pendukung pembangunan. Berapa jumlah mereka? Di desa pernah dihitung kurang lebih 70 %. Tak ada penerangan listrik dan sekolah yang baik. Jika pun mereka membuat sekolah berdinding tepas dan beratap rumbia, tentu mereka tak punya cara untuk mendapatkan guru yang baik. Dalam situasi seperti dikisahkan oleh almarhum Sayogyo, subsistensi  yang involutif membuat para petani ini tak mungkin beranjak. Kini Indonesia sudah menjauh dari titik awal memulai kisah pembangunan dengan orientasi pertumbuhannya. Hanya takdir sajalah yang mampu berbicara sehingga anak desa seperti Soedirman bisa menjadi pemimpin negeri. Soeharto tak akan menjadi Smiling General  tanpa takdir. Desa-desa tak pernah mendapat giliran pembangunan. Hawanya, dan aroma pembangunan itu, memang sepoi-sepoi sampai juga di dangau-dangau. Di tengah persawahan beririgasi alam.

Sejak Indonesia mengenal pembangunan, satu di antara resiko yang harus diterima oleh orang miskin pedesaan ialah proses pemiskinan baru. Menipislah ketebalan hutan karena kesemberonoan memaknai pembangunan. Keringlah supply air ke pematang sawah. Panen menurun, dan swasembada pangan hanyalah ungkapan kosong. Lahan mengalami perubahan peruntukan secara drastis,  karena hal itu memang seolah menjadi salah satu bentuk terpenting dari kehadiran pembangunan di desa: pemiskinan gaya baru.  Kalau tidak, mengapalah elit Jakarta merasa lingkungan mereka kini sudah sangat tak layak karena over population (kelewat padat), hingga berdebat memutuskan akan memindahkan ibukota ke tempat lain. Jakarta tak rela ada pusat pertumbuhan yang adil dan merata. Tak salah jika dicap bahwa mereka ingin pertumbuhan yang menjauhi rakyat.

Maukah dikau memikirkan apa yang diucapkan oleh Soekirman dari Sergai bahwa perlu keberanian untuk konsisten bukan cuma mengembalikan lahan rampasan lama untuk rakyat, tetapi sekaligus berkeadilan menegakkan hukum tentang lahan. Jangan ikut naïf mengklaim peta hutan baru yang dibuat oleh Kementerian Kehutanan yang menyebut antara lain kawasan perkantoran salah satu Kecamatan di Kabupaten Batubara juga adalah kawasan hutan, sebagaimana kini memanas diperdebatkan di Sipirok (Tapsel) karena Bupati mereka mengikuti peta hutan yang sesat dengan mengklaim sawah dan kebun rakyat beratus tahun adalah kawasan hutan.

Hutan peta yang bohong itu tak berguna bagi rakyat, meskipun mungkin dimaksudkan untuk ditunjuk-tunjukkan kepada donor asing. Ini memang bukan sebuah kekhilafan, melainkan naïf terencana yang bersumber pada keniscayaan pembangunan berasumsi pertumbuhan (growth). Sama halnya areal sekitar bandara Polonia yang sudah habis didistribusi dengan legitimasi hukum dan pemerintahan, sedangkan rakyat di hampir semua sisi peringgannya dianggap harus diperlakukan orang liar yang patut dikejar-kejar. Kini menjadi terang benderanglah motif pemindahan bandara ke Kualanamu. Bukan karena alasan sumpek dan keberadaan di tengah kota. Pernahkah menghitung jumlah bandara di dunia yang terletak di inti kota?  Jadi perlulah mendengarkan Soekirman sekali lagi tentang apa yang dimaksudkannya dengan trust. Ia memaksudkan ketidak curigaan rakyat.  Sulit mendapatkan trust, jika niat baik tidak hadir sejak awal.

Kebijakan. Baik Dedi Sahputra yang memberi pidato pengantar dialog maupun moderator Ikhyar Velayati Harahap dan Ketua Tim Pengarah Muhammad Erwin Siregar sama-sama mencatat sebuah keseiramaan. Kata mereka, entah karena motif solusional dari setiap diskusi tokoh yang diselenggarakan ISI (Isntitut Solusi Indonesia), pada seri III Senin 23 April 2012 yang lalu ini dua tokoh yang ditampilkan berbicara senada dan seirama seperti nada-nada tertulis dalam not lagu. Pada bank yang dipimpinnya 3 periode, Bank Sumut, Gus Irawan, pembicara pertama, telah membuat data sendiri tentang orang miskin. Menurutnya orang miskin di sini mencapai 1, 4 juta (11,3 %). Syah Afandin, pembicara kedua, sebagaimana Gus Irawan, amat menyadari bahwa kategori hampir miskin jauh lebih besar lagi. Mereka berdua tentu tahu bahwa selain soal pendefinisian, kategori di atas miskin ini amat rentan dengan resiko menjadi miskin apabila muncul variable yang mempersulit seperti kenaikan harga BBM berefek domino yang demikian luas seperti terjadi sekarang. Syah Afandin yang Ketua Himpunan Nelayan Indonesia (HNSI) yang juga Ketua DPW PAN Sumut pasti tahu duka para nelayan kecil dalam kategori ini. Orang miskin perlu kebijakan yang benar-benar memihak.

Bank Sumut minus 300 milyar saat Gus Irawan mengawali kepemimpinan. Kini terserah kepada para ahli perbankan dan ahli perekonomian untuk menilai progres yang ia peroleh. Tetapi sebuah catatan pada bank ini menjadi amat penting dengan pembentukan 3000 kelompok usaha beranggotakan 72.000 pelaku ekonomi penerima permodalan maksimum 5 juta rupiah. Obsesinya terus merangsek untuk memperjuangkan kelak nilai kredit yang akan didistribusi kepada rakyat meningkat mulai dari 5 juta hingga 50 juta rupiah. Distribusi uang sebanyak itu untuk sektor informal yang tak pernah dihitung secara adil itu misalnya, atau ke wilayah agraris dengan moda usaha farm, non-farm maupun off-farm, atau kepada nelayan kecil untuk meningkatkan teknologi alat tangkap, akan menghasilkan gelombang besar ekonomi kerakyatan.

Penutup. Mengapa kebijakan ini tidak menjadi pilihan bagi penguasa sejak lama? Jawaban Gus Irawan tentang kemiskinan secara empiris tampaknya cukup kuat terutama karena nilai kemacetan kredit yang ia kucurkan hanya sekitar 1 %.  Syah Afandin memang mengingatkan perlunya perubahan mainset, tak cuma dalam pola kepemimpinan politik melainkan juga pada paradigma kepembangunan yang harus dipastikan untuk siapa.

Gus Irawan dan Syah Afandin tampaknya juga sama-sama menyadari prinsip bahwa bukan orang miskin yang dikerahkan di sekitar pembangunan tetapi pembangunan yang dikerahkan di sekitar orang miskin.  Sejalan dengan itu regulasi memang menjadi domain pemerintah, tetapi, dalam pandangan Gus Irawan, peran itu hanya 0,5 % dalam perekonomian (daerah maupun nasional). Karena itu iklim usaha harus kondusif, birokrasi jangan menghalang-halangi dengan budayanya yang bobrok. Apa lagi yang lain? Syah Afandin tahu pentingnya peran infrastruktur, sepenting usaha memperbaiki kerusakan moral bangsa. Sebelum maju ke diskusi, Syah Afandin malah dengan nada tinggi menuntut perbandingan dana APBD untuk aparatur dan publik setidaknya 40:60 %.

Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada Medan, Kamis 26 April 2012 hlm B4

Advertisements

5 Comments

  1. napit says:

    MEMBUNUH DENGAN DATA. Sudah menjadi bagian dari trik trik permainan kepentingan pengambil kebijakan. Maka dipandang perlu pegiat LSM lebih memiliki data akurat terhadap semua objek, agar gugatan terhadap bentuk penyimpangangan dapat segera terdeteksi. Contoh data orang miskin penerima BLT. ketika mau pencairan, jumlah orang miskin akan bertambah. Karna, kades nya akan semakin banyak jumlah yang diraup nya dari penerima. Tapi, yang benar benar miskin, ada juga akan diabaikan karna tak bisa sejalan dengan kades nya. Pengelolaan yang salah tentang DATA, juga menghantui hutan hutan di negri ini. Mana ada data yang akurat tentang itu. besloit yang dibuat belan dulu, telah memuncul kan kompeni temperamen baru. Maka, komplik agrariapun kerap terjadi. Peta hutan yang bolong bolong ?. ah itu akan memperbesar proyek Menhut nya. Kita tunggu dan sama sama kita awasi, kemana nantinya larinya dana benih untuk rakyat di sekitar hutan,Rp 50.000.000. / kelompok tani, dan kelompok tani yang mana.

    ‘nBASIS: terimakasih

    Selamat bekerja. Insya Allah hari kita akan baik.

  2. Semoga yang disampaikan kedua pembicara akan menjadi ingatan seterusnya mana tahu terpilih jadi ‘pengurus’ SUMUT nantinya….bagaimana kandidat lain bang..

  3. […] Rakyat-Rakyat-Rakyat 0.000000 0.000000 Share this:StumbleUponDiggRedditFacebookPrintTwitterEmailLike this:LikeBe the first to like this. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: