'nBASIS

Home » ARTIKEL » MUKTAMAR KE-XV IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

MUKTAMAR KE-XV IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Tentulah IMM tidak cukup berpuas diri sekadar mengabadikan slogan “kader umat dan kader bangsa” tanpa revitalisasi. Atau menjebloskan diri pada persempitan cita-cita sebagaimana selalu tercermin dari mencolok dan bersayapnya ungkapan “pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah”. Persempitan ini dapat dan kurang lebih telah memicu “perkelahian” dahsyat memperebutkan “lahan” yang ada di lingkungan internal. Masalah penyelamatan asset yang diagendakan melalui Muktamar Muhammadiyah satu abad bisa terbengkalai jika IMM justru menjebloskan diri dalam pragmatisme yang toleran terhadap ketidak-benaran

Di antara beberapa analisis tentang perubahan keagamaan diperoleh pembenaran bahwa kelompok-kelompok yang merasa berada di bawah tekanan kekuasaan tertentu memang selalu mengalami banyak kemunduran (dan bersifat terus menerus) apalagi ditinjau dari tema gerakannya. Mereka sukar memperoleh kemajuan, karena hari demi hari bukan saja jumlah pendukung yang semakin mengecil, apalagi kualitas kelompok yang degradatif. Memang bisa juga degradasi hanya terlihat khas, bukan pada besaran jumlah pendukung yang menurun. Akumulasi secara kuantitatif yang tak dibarengi kualitas orang-orang kerap berkaitan dengan masalah disorientasi yang serius.

Tetapi sebaliknya banyak kelompok eksklusif dan bahkan kelompok kesukuan yang menunjukkan kemampuan mengagumkan dalam memulihkan diri dari kekalahan dan kerugian yang diderita. Dalam telaahan Michael Adas (1982) di antara kelompok tak sedikit yang berhasil meningkatkan upaya serius dalam banyak bidang, termasuk pendidikan modern dan kesempatan untuk maju dalam sektor-sektor yang didominasi oleh kalangan yang dianggap seteru-seterunya dalam politik maupun budaya. Perhatian utamanya tertuju pada upaya serius memelihara apa yang tertinggal dari warisan kepercayaan dan institusi mereka, sembari menyusun strategi baru menghadapi kenyataan yang tidak terelakkan.

Dari Minoritas Menjadi Mayoritas. Suku Birsite di India Timur dikisahkan berhasil memproklamasikan agama baru yang kemudian sangat populer bagi kalangan orang Munda. Agama baru itu dengan fanatik konon diikuti oleh mereka yang secara sadar telah mengalami banyak penderitaan fisik maupun psikis pada masa-masa sebelumnya serta dengan giat mewariskannya kepada anak cucu mereka meski terbatas dalam lingkup kekerabatan. Sikap penarikan diri (withdrawl) secara pasif merupakan penekanan sikap utama sembari memberlakukan disiplin ketat bagi pengikutnya. Banyak dimensi larangan itu, di antaranya berupa larangan menikah dengan orang di luar kelompok. Cara itu cukup efektif mengembangkan identitas untuk menegaskan perbedaan secara demonstratif antara mereka dengan orang lain. Memang itu tak terjadi sesingkat jarak musim tanam dengan musim panen. Michael Adas (1988) amat yakin, dengan cara seperti ini mereka telah berhasil hadir menjadi satu titik kontras yang sangat diperhitungkan.

Perubahan-perubahan seperti dilukiskan di atas pada umumnya erat terkait dengan saat-saat ketika proses perubahan dan penyesuaian sosial yang bertahap, yang umum bagi semua masyarakat, diintensifkan dan diakselerasikan (Michael Adas, 1988). Orang kerap tidak punya pilihan. Di hadapan proses perubahan linear sejuta contoh terpapar tentang ketenggelaman hingga terkubur bahkan tak berhak dihitung sebagai artefak sekalipun. Dari sini tak perlu dipertanyakan kembali bahwa dinamika keagamaan selalu tak dapat dibayangkan sebagai fenomena yang berdiri sendiri. Ketegangan hubungan dan perselisihan ideologisnya dengan struktur kekuatan atau lingkungan sosialnya dan dengan penuh keperkasaan dapat menjadi salah satu faktor penting yang berperan dalam mempengaruhi skala dan arah dinamika yang terjadi.

Bagi McGuire (1981) inspirasi perubahan bisa bersumber dari agama, sebagaimana dapat diamati dari kasus revivalisme Islam di Sumatera Barat (Dobbin,1979) atau revolusi Iran (Goldthorpe, 1992). Tetapi bisa juga terjadi sebaliknya justru disebabkan perubahan sosial sebagaimana terjadi pada dunia Kristen di Eropa dalam kemunculan Protestan (Kruger, 1966; Berkhof, 1967), atau rangkaian konflik lokal yang dilukiskan Schreiner (1978) dan Bungaran Anthonius Simanjuntak (1994). Dinamika perubahan yang berada dalam tekanan struktural dengan jelas memanifestasikan aspek-aspek pengalaman deprivasi yang luas dalam setiap aksentuasi (Cohn  dalam Goldthorpe, 1992).

Tema Gerakan. Pandangan simplistis terhadap potensi perkembangan kelompok agama (termasuk suku) yang lahir sebagai sekte dari perkembangan organik masyarakat “tertindas”, yang menganggap kecilnya potensi perkembangan, terbukti amat menyimpang. Paling tidak, apa yang ditunjukkan Michael Adas (1982) dalam kajian tentang 5 gerakan (Perang Jawa, Gerakan Pal Maire di Selandia Baru, Kebangkitan Munda di India Timur, Pemberontakan Maji-Maji di Tanzania dan Pemberontakan Saya San di Birma), menjadi dasar yang cukup terandalkan validitasnya. Itulah sebabnya eksistensi gerakan dan nafasnya kemudian menjadi faktor yang memungkinkan kelompok bermetamorfosis dari minoritas menjadi mayoritas.  Menjadi mayoritas memang tak selalu harus dilihat secara kuantitatif atau numeric belaka.

Ketimbang disebut menggembirakan, secara jujur kondisi IMM saat ini lebih adil untuk disebut mengecewakan (Mungkinkah diakhiri debat berkepanjangan tentang menggembirakan atau mengecewakannya keadaan IMM kontemporer?). Terjadinya perubahan keagaman tertentu dapat diketahui dengan komparasi before-after, yakni membanding keadaan masa lampau dengan masa sekarang. McGuire (1981:121) menyarankan penerapan teori keorganisasian gerakan (movement organizational theory) yang memusatkan perhatian pada keorganisasian gerakan; model rekrutmen, konsolidasi dan pendayagunakan pengikut; pemeliharaan (maintain); dan pengaturan tentang kepemimpinan (McGuire, 1981:124). Apa pun istilah yang dibakukan dalam IMM saat ini, faktor keorganisasian gerakan mesti diadakan dan dikuatkan. Itu jika tak mau menjadi sekadar pelengkap dalam perbendaharaan daftar nama organisasi nasional, atau sekadar kelompok sediaan imperatif yang dikuatkan dengan kadar legitimasi tertentu di perguruan tinggi Muhammadiyah dengan tanpa perlakuan yang jelas.

Penutup. Jika hari ini, melalui Muktamarnya yang ke 15 di Medan IMM bertekad akan berubah, gerangan apakah yang menjadi faktor pokok untuk diprioritaskan? Jawaban terpentingnya tentu harus diawali dengan tema perubahan. Empat macam kemungkinan penekanan tema berkisar pada tawaran IMM tentang pengalaman keagamaan (religious experience), persepsi tentang kekuasaan (power),  keteraturan (order), dan  persepsinya tentang kebersatuan (unity).

Tentulah IMM tidak cukup mengabadikan slogan “kader umat dan kader bangsa” tanpa revitalisasi. Atau menjebloskan diri pada persempitan cita-cita sebagaimana selalu tercermin dari mencolok dan bersayapnya ungkapan “pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah”. Persempitan ini dapat dan kurang lebih telah memicu “perkelahian” dahsyat memperebutkan “lahan” yang ada di lingkungan internal. Masalah penyelamatan asset yang diagendakan melalui Muktamar Muhammadiyah satu abad bisa terbengkalai jika IMM justru menjebloskan diri dalam pragmatisme yang toleran terhadap ketidak-benaran. Terutama saat Muhammadiyah sendiri sedang terseret ke ancaman degaradasi moralitas yang serius, IMM harus dengan tegas menarik diri ke zona paling aman dan penuh kesucian. Jika IMM menjadi alat kepentingan politik praktis belaka, maka urgensi yang ada saat ini hanyalah mempersiapkan kuburan bagi IMM.

Diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, 30 April 2012 hlm B9


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: