'nBASIS

Home » ARTIKEL » SOLUSI ATAS KEBUNTUAN BANGSA

SOLUSI ATAS KEBUNTUAN BANGSA

AKSES

  • 545,203 KALI

ARSIP


Tak baik menjadi watch dog belaka di depan keriuhan. Karena itu melalui muktamar XV IMM harusnya membenahi perangkat-perangkat gerakan yang membuatnya menjadi penegas ikrar berisi solusi untuk bangsa

Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) XV yang akan digelar mulai hari Sabtu (28/4) hingga 2 Mei 2012 di Medan berusaha tak membuat masalah memilih Ketua Umum menjadi isyu utama. Ada hasrat yang kuat untuk merumuskan beberapa pokok pikiran solusi atas kebuntuan yang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini. Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan DPP IMM, Naswardi, menyampaikan hal itu kepada sebuah media cetak nasional Jumat (27/4).

Menurut Naswardi saat ini tiga macam kebuntuan bangsa yang dipandang berpotensi mengancam keutuhan negara. Pertama, kebuntuan Presiden SBY merealisasikan janjinya sebagai orang terdepan dan pertama dalam memberantas korupsi. Realitasnya, kata Naswardi, tersangka korupsi justru berada pada lingkaran kader-kader partai binaan SBY. Memang SBY telah dikenang sebagai capres yang menguatkan tema kampanyenya dengan janji akan memimpinkan sendiri pemberantasan korupsi. Orang-orang terdekatnya seperti Anas, Andi Mallarangeng, Angie dan bahkan anak kandungnya Ibas dilibatkan dalam pembuatan iklan kampanye yang menegaskan sikap mereka terhadap korupsi. Stop korupsi, katanya.

Kedua, penegak hukum buntu dalam memberikan jaminan keadilan bagi rakyat. Realitasnya, justru pengadilan jalanan merebak tumbuh. Selain itu, kekerasan demi kekerasan terus terjadi. Ada dugaan logika hukum sedang dikembangkan ke tradisi keadilan legalistik formal. Pendekatan itu selalu dapat memberi pembebasan bagi sejumlah orang (elit dan yang dianggap perlu “diselamatkan”) dari segala macam tuduhan hukum, tetapi pada saat bersamaan sama sekali tak memberi pemuasan perasaan keadilan secara sosiologis dan filosofis. Tak mudah menapikan fakta itu di tengah maraknya fenomena ketajaman hukum bagi yang tak berdaya dan pelaku tindak pidana ringan yang kebetulan orang-orang cilik.

Kebuntuan ketiga, Pemerintah juga dinilai buntu menyejahterakan rakyat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kebijakan yang selama ini tidak pro rakyat. Tentang ini banyak data tersedia. Bukan cuma  tersedia catatan tentang kondisi hari ini. Pada kepemimpinan periode pertama juga SBY tercatat gagal mengurangi jumlah orang miskin dan mengurangi pengangguran. Periode pertama juga ditandai dengan buruknya pengelolaan sumberdaya alam, penguasaan media oleh pihak asing, pendidikan yang tak merata dan tak menjanjikan kualitas, keterpurukan sektor pertanian, kegagalan menjalankan agenda reformasi birokrasi dan lain-lain. Gagal memberi tanda-tanda keberhasilan yang meyakinkan, pemerintahan SBY malah terjebak dalam tuduhan inefisiensi, termasuk upaya serius menaikkan gaji sebagai presiden.

Gerakan Mahasiswa. Bukan tidak banyak lontaran-lontaran rencana yang memukau dari SBY. Katakanlah misalnya soal debottlenecking (mengatasi ketersumbatan) yang menyebabkan tak mengalirnya tindakan pembangunan secara menyebar ke seluruh nusantara. Infrastruktur yang buruk juga tak terbenahi hingga kini, di samping disparitas yang tampaknya terawetkan.

Dalam proses pergeseran negara ke arah negara kepartaian berbasis kartelitas, SBY pun tampaknya lebih asyik mempersoalkan kesetiaan orang-orang dalam kerjasama antar kekuatan politik yang dibentuknya sendiri bernama Sekretariat Gabungan Partai (Setgab). Setgab ini begitu banyak mendapat kritik bukan cuma karena mencederai hakekat demoklrasi tersebab mekanismenya yang begitu kuat mendahului proses legislasi dan kepengawasan lainnya pada lembaga legislatif. Bukan cuma JK yang berani menyindir bahwa jika ingin enak memerintah memang harus didukung total oleh orang-orang seragam. Seorang perwira aktif pun memberanikan diri menulis kritiknya terhadap kepemimpinan SBY yang dianggapnya jauh dari standar kebutuhan mendesak untuk gegas perbaikan bangsa.

Dalam kaitan itu Naswardi berpendapat bahwa gerakan mahasiswa adalah gerakan mempersoalkan ketimpangan dan kesenjangan, menentang realitas objektif yang bertentangan dengan realitas subjektif. Ketua Umum IMM sendiri, Ton Abdillah, berulang kali tercatat menjadi salah seorang motor gerakan protes. Mengevaluasi 100 hari KIB II Ton Abdillah pun datang ke Medan bersama sejumlah tokoh tingkat nasional untuk sebuah protes.

Apa yang didapatkan oleh Ton Abdillah dan IMM dari sikap menentang pemerintah itu? Paling tidak simbol perlawanan terhadap segala bentuk ketidak-wajaran, apalagi ketidak-benaran, dapat ditegakkan bersama dalam komunitas mahasiswa. Itu begitu penting.

Independensi. IMM menurut asasnya hanya akan dependen terhadap Muhammadiyah sebagai induk organisasinya. Itu didasarkan pada ketentuan yang digariskan oleh organisasi induk yang diikuti oleh aturan-aturan lain dalam organisasi otonom termasuk IMM.  Di tengah hiruk-pikuk godaan dalam dunia politik praktis, setidaknya bermanfaat mencemaskan kemungkinan tarik menarik di antara kekuatan politik yang ada. Apalagi even-even penting ke depan sudah begitu dekat yang biasanya kerap membuat politisi tak mempersoalkan penghalalan segala cara.

Kelompok-kelompok binaan politik yang menjadi satelit bagi kekuatan politik tertentu tak harus dibayangkan include IMM di dalamnya. Karena itu IMM harus cerdas menyikapi godaan-godaan itu, karena dunianya memang berbeda. Mengapa berbeda? Karena idealisme  harus menjadi taruhan.

IMM dalam muktamarnya ke XV mestinya mampu mengkristalkan sikap kesaksian (syahadah). Dengan syahadah itu ia tak boleh tak tahu atas segenap catatan bangsa hari ini. Tak baik menjadi watch dog belaka di depan keriuhan. Karena itu melalui muktamar XV IMM harusnya membenahi perangkat-perangkat gerakan yang membuatnya menjadi penegas ikrar berisi solusi untuk bangsa.  Ayolah.

Dimuat pada Harian Medan Bisnis, Senin, 30 April 2012

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: