'nBASIS

Home » ARTIKEL » INDONESIA 2014-2019

INDONESIA 2014-2019

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Mereka memang dari daerah, tetapi bukan lagi orang daerah. Memposisikan daerah sebagai basis politik bagi mereka setelah sekian lama cara berfikir dan obsesinya berbeda dan bahkan kerap berlawanan dengan daerah, adalah sebuah kesalahan besar. Keretakan Indonesia mungkin bisa dipersulit dengan rekrutmen tokoh daerah ke pentas nasional. Syaratnya integritas. Karena partai tak mungkin diharapkan berbuat untuk itu, maka kekuatan lokal perlu tampil menginisiasi, segera.

Nah, gagalnya usaha mengamandemen konstitusi untuk memberi peluang bagi SBY memimpin lebih dari dua periode, dan kadar pandang sepele komunitas politik Indonesia terhadap kemungkinan tampil Budiono, memberi fakta bahwa Indonesia tak punya incumbent pada pilpres 2014. Oleh karena itu kita harus menyebut-nyebut nama orang-orang partai yang sudah kita kenal seperti Ical, Hatta, Prabowo, Wiranto dan Anas (?). Atau JK, Akbar Tanjung dan siapa lagi neh orang partai?

Jika akan kita seleksi berdasarkan kadar integritas, kira-kira siapa yang paling tepat di antara mereka? Atau kita harus menyebut nama-nama penting lainnya seperti Hamengku Buwono X, Mahfud MD, Rizal Ramli, Dahlan Iskan, dan siapa lagi ya?

Tokoh Pusat dan Tokoh Daerah. Nama-nama yang sudah disebut di atas berada pada level nasional. Mungkinkah mendorong tokoh-tokoh yang memiliki integritas yang tinggi dari daerah? Lebih dari sekadar maksud untuk menguasai an sich seperti yang terjadi dlm pemilukada DKI saat ini, tokoh-tokoh dari daerah mungkin sudah saatnya diajukan oleh kekuatan-kekuatan lokal. Jika Jokowi, Ahok dan Alex Nurdin misalnya sudah berusaha diseberangkan oleh partai, tentu saja tidak boleh disebut bahwa hanya merekalah tokoh daerah yang mumpuni, apalagi ukurannya harus dilihat dari aspek integritas. Jika diingat bahwa tokoh yang memiliki integritas itu tak semuanya connect ke partai dan tak akan pernah dilirik oleh partai, maka semakin terasa pentingnya menginventarisasi dan mendorong pengorbitan mereka untuk Indonesia.

Ada pesimisme atas fenomena kepartaian. Itu tak mungkin ditutupi. Artinya jika mekanisme kepartaianlah yang akan merancang Indonesia 2014-2019, kekhawatiran atas keterjebakan pada kondisi yang melebihi kebobrokan yang kita rasakan sekarang, semakin tinggi. Ini tak berlebihan.

Karena itu menjadi begitu urgen mendorong tokoh-tokoh daerah untuk diorbitkan ke Jakarta. Lagi pula kelak Jakarta bisa juga diajari semakin mengindonesiakan Indonesia lewat tampilan formasi kabinetnya. Perhatikanlah KIB I dan II, meski ada orang yang mengingatkan kita kepada daerah (asal) tertentu, tetapi mereka sebetulnya tak mewakili pentingnya memajukan daerah karena sesungguhnya mereka orang Jakarta dan sekitarnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: