'nBASIS

Home » ARTIKEL » PEMILUKADA SUMUT 2013: SIAPA CALON USUNGAN GOLKAR?

PEMILUKADA SUMUT 2013: SIAPA CALON USUNGAN GOLKAR?

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Jika ucapan Leo Nababan dapat dipercaya sebagai suara partai Golkar, maka peluang terbesar usungan Golkar dalam pemilukada Sumut 2013 adalah kadernya sendiri, Chairuman Harahap

Salah satu laporan majalah TEMPO edisi Selasa, 22 MEI 2012 diberi judul “Golkar Siapkan 20 Calon Gubernur Sumatera Utara”, selengkapnya demikian:

Partai Golkar mulai menyiapkan calon yang akan bertarung dalam pemilihan gubernur Sumatera Utara 2013. Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Leo Nababan, mengatakan Golkar menargetkan calonnya menang di Sumatera Utara.

Untuk memuluskan target itu, kata Leo, partai berlambang pohon beringin itu menyiapkan 20 nama. “Golkar tidak main-main menargetkan kemenangan di Sumatera Utara. Hal itu kami buktikan dengan menyiapkan 20 nama pejabat TNI/ Polri ataupun sipil serta mantan pejabat serta tokoh masyarakat,“ kata Leo yang juga koordinator provinsi Partai Golkar wilayah Sumatera Utara kepada Tempo, Selasa 22 Mei 2012.

Dari nama-nama calon itu, ujar Leo, partainya akan mengumumkan secara resmi calon gubernur Sumatera Utara setelah hasil survei Lingkaran Survei Indonesia keluar sekitar Juni atau Juli 2012. Partai Golkar, kata Leo, akan mengutamakan kader sebagai calon gubernur. Namun jika kader Golkar kalah dalam hasil survei dibanding calon nonkader, Golkar akan mencalonkan yang bukan kader Golkar. “Dengan catatan hasil survei yang bukan kader Golkar jauh di atas kader,” ujar dia.

Dari nama-nama yang disiapkan Golkar, kata Leo, didominasi mantan pejabat non-Golkar. Sebut saja Inspektur Jenderal Wisjnu Amat Sastro (Kepala Polda Sumatera Utara), Abdillah (mantan Wali Kota Medan), Letnan Jenderal Azmyn Yusri Nasution (mantan Panglima Kostrad), R.E. Nainggolan (mantan Sekretaris Daerah Provinsi Sumut), Gatot Pujo Nugroho (Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara yang merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera), dan anggota DPR Fraksi Partai Golkar, Chairuman Harahap.

Meski kader non-Golkar mendominasi nama-nama calon, menurut Leo, bukan berarti Golkar kehabisan kader terbaiknya untuk bertarung di Sumatera Utara. “Ada juga kader Golkar yang disurvei. Hanya, nama mereka tidak sepopuler calon non-Golkar. Setidaknya itu hasil sementara survei,” ujar Leo.

Adapun nama eks Wali Kota Medan, Abdillah, yang pernah menjalani hukuman karena korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran saat menjabat wali kota, Leo menyebutnya sebagai “kuda hitam” Golkar.

“Abdillah punya peluang calon gubernur Sumut meski pernah dihukum. Peluangnya ada pada putusan kasasi Mahkamah Agung yang memvonis empat tahun penjara untuknya. Itu berarti Abdillah lolos syarat calon kepala daerah. Tim DPP Golkar saat ini mempelajari kasus hukum Abdillah,“ kata Leo.

Nama lain yang dinilai mendapat dukungan besar, menurut Leo, adalah R.E. Nainggolan. Mantan Sekretaris Daerah Sumatera Utara itu merupakan pejabat karier yang merangkak dari bawah. Nainggolan pernah menjabat Camat, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Kepala Badan Informasi dan Komunikasi, hingga jabatan karir tertinggi pegawai provinsi, yakni Sekretaris Daerah.

Jika Sikap Leo adalah Sikap GolkarDengan begitu, jika ini konsisten, maka Cagubsu dari Golkar adalah Gatot Pujonugroho atau Chairuman Harahap. Alasannya: Pertama, sebagai incumbent yang mampu memanfaatkan jabatannya untuk kampanye pribadi, diperkirakan tak akan ada yang melebihi popularitas maupun elektibilitas Gatot Pujonugroho hingga H minus 3 bulan. Tetapi meskipun survey akan selalu mengunggulkannya, diperkirakan ia tak akan pernah mencapai angka potensi menang satu putaran dan itu menurut ketentuan Golkar ini tak akan diterjemahkan sebagai referensi untuk memutuskannya menjadi calon. Dalam 2 bulan ke depan Chairuman Harahap yang kini boleh disebut masih sebatas  melakukan “start engine” (belum bergerak all out dan sistematis) akan mampu mempertipis jarak dengan popularitas dan elektibilitas 2 orang yang saat ini menjadi unggul dengan jabatan mereka (Gatot Pujonugroho dan Gus Irawan).

Gus Irawan dapat diprediksi akan mengalami penurunan popularitas dan elektibilitas atau stagnan yang karenanya dapat disaingi figur lain jika tak lama lagi keluar dari jabatannya di Bank Sumut yang sudah dipimpinnya selama 3 periode.

Pilihan Golkar akhirnya ke Chairuman Harahap. Itu jika kalimat Leo Nababan yang dikutip wartawan TEMPO, Sahat Evans Hotmangaraja Simatupang, benar, bukan omong kosong.

Kedua, Golkar pastilah ingin berbenah. Sahat Evans Hotmangaraja Simatupang dalam laporannya menyebut “Adapun nama eks Wali Kota Medan, Abdillah, yang pernah menjalani hukuman karena korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran saat menjabat wali kota, Leo menyebutnya sebagai “kuda hitam” Golkar”.  Tetapi ia tidak begitu jeli memperhatikan bahwa hadirnya Abdillah dalam konstelasi ini tak lain kecuali strategi membesarkan golkar semata, namun tak pernah berniat 100 % memberi tempat kepada sejumlah orang yang ia sebut-sebut. Elektibilitasnya tentulah tak seperti yang diharapkan oleh para pendukungnya. Begitu pun Golkar ingin dapat image baru dengan menyebut-nyebut nama lain seperti RE Nainggolan, Wisjnu, AY Nasution, dan lain-lain. Jika mereka akan mendaftar melalui Golkar, keuntungan terbesar adalah untuk Golkar ketimbang harapan kecil yang mereka miliki (untuk dicalonkan).

Lagi pula benarkah Abdillah sungguh-sungguh diminati untuk kepentingan membesarkan Golkar ke depan? Mantan terpidana, sebagaimana disebut Sahat Evan Hotmangaraja Simatupang, dan Ketua DPD Golkar Tingkat I Sumut juga terpidana yang saat ini masih menjalani hukuman. Apakah resiko ini akan diambil oleh Golkar? Tidak masuk akal. Memang selama ini Sumut sangat disepelekan oleh Jakarta dalam perpolitikan. Dua partai besar saat ini dipimpin oleh orang yang sedang menjalani hukuman karena pidana. 

Ketiga, nama AY Nasution disangkut pautkan dengan Golkar hanya akan menguntungkan buatnya jika scenario ini memaksudkan AY Nasution menjadi Cagubsu dan orang (kader) Golkar menjadi Cawagubsu. Dengan asumsi bahwa selama ini AY Nasution sudah seakan dipastikan (meski masih penuh gonjang-ganjing) dari Partai Demokrat yang nota bene bisa mengajukan calon sendiri, maka jika ia merasa wajib “menggempur” Golkar hanyalah untuk maksud menundukkan partai kuning belambang beringin itu untuk menambah kepastian kemenangannya. Betulkah begitu? Inilah yang belum dapat dipercaya oleh banyak orang. Malah orang kini semakin meragukan apakah AY Nasution dapat meraih dukungan Partai Demokrat. Jika tidak mengapalah Sutan Batugana sudah mulai “berkeliaran” di sini dan menyatakan diri sebagai Cagubsu? Dia Ketua (Plt) Partai Demokrat Medan kan? Karena itu AY Nasution harus mewaspadai gerakan yang menumbuhkan ketidak-percayaan publik atas kemampuannya memikat Partai Demokrat. Kali ini, tampaknya hanya itu yang sudah terlanjur melekat dan cocok buatnya.

Bagaimana Sahat Evans Hotmangaraja Simatupang?


8 Comments

  1. Gultom says:

    Siapa yang paling dekat dengan Muhammadiyah akan kita dukung? Kalau sekiranya Faisal Tanjung berminat jadi cagubsu akan kita dukung.

    ‘nBASIS: bargain yang secara teoritis cukup bagus. tetapi siapa calon Muhammadiyah itu? punyakah Muhammadiyah celah untuk memaksakan orangnya kepada partai?

  2. Gultom says:

    Siapa yang paling dekat dengan Muhammadiyah akan kita dukung? Kalau sekiranya Faisal Tanjung berminat jadi cagubsu akan kita dukung. Siapa calon yang diusung Muhammadiyah?

    ‘nBASIS: Feisal Tandjung mantan Panglima ABRI maksudnya? Terlalu tinggi pangkatnya mungkin dan selain beliau sudah tua, minatnya pun tidak ada untuk itu saya kira. Pada zaman ORBA militerisasi punya pola. Seorang kolonel dlm program dwi-fungsi ABRI ditempatkan untuk jabatan Walikota atau Bupati. Seorang Mayjen dapat jatah Gubernur. Letjen sekalipun tidak pernah menjadi Gubernur, apalagi jenderal dan apalagi panglima. Memang setelah reformasi ada Menteri yang menjadi Walikota atau berjuang untuk mendapatkan jabatan Gubernur. Apakah itu bisa dijadikan rujukan kasus untuk Feisal Tanjung yang pernah memiliki jabatan setara Menteri dan dengan jabatan dan pangkat tertinggi di ABRI?

    Calon Muhammadiyah, ya aspirasi Muhammadiyah. Muhammadiyah paling banter hanya bisa berharap ada partai yang menghitung peran Muhammadiyah sehingga mau sekaligus menghitung calon yang direkomendasikan Muhammadiyah.

  3. kapan diulas strategi demokrat ya? ada cornel simbolon, ay nasution dan ini dia: sutan bathoegana, baca juga tabloid pusukBuhit edisi 4, bisa dipesan melalui smsCenter 0819 600 0819

    ‘nBASIS: atas permintaan senior, kita akan buat peta untuk itu

  4. ijin ya dikutip utk tabloid pusukBuhit, tks

    ‘nBASIS: silakan senior.

  5. Bintan says:

    Capek dan pusing membaca ulasan di atas. Redaksinya semrawut…

    ‘nBASIS: capek. pusing. semrawut.

  6. Investigasi says:

    Tanpa ada kepentingan apa2, Yang paling pas untuk memimpin SUMUT menjadi GUBSU adalah bpk. RE.Nainggolan, dan hal ini adalah juga fakta dilapangan/akar rumput.

    pak RE. Nainggolan, dikenal di lapisan masyarakat di 14 Kabupaten SUMUT.

    kecuali mencari pemimpin SUMUT berdasarkan agama.

    hayaaa kapan majunya lagi………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: