'nBASIS

Home » ARTIKEL » MASIH TENTANG GATOT PUJO NUGROHO

MASIH TENTANG GATOT PUJO NUGROHO

AKSES

  • 568,914 KALI

ARSIP


Selain beberapa stasiun Radio, kandidat dan para anggota Tim Sukses tertentu, paling tidak ada 5 jurnalis yang kerap mengajukan pertanyaan kepada saya seputar Pemilukada Sumut 2013 yang dijadwalkan berlangsung 7 Maret 2013 nanti. Saya sangat senang, karena dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sebetulnya saya bisa lebih dalam mengorek informasi terbaru yang mereka dapatkan di lapangan. Jadi, jika mereka tak bertanya dalam beberapa hari, saya pun merasa “kehilangan”. Tak jarang saya kirim sms saat sepi pertanyaan, seperti sekadar menyakan kabar. Padahal ingin memancing (informasi)  “tidak di air keruh”. Ha ha

Kemaren sore saat saya online ber-FB-ria, tiba-tiba muncullah dia. “Assalamu ‘alaikum. Pucuk dicinta ulam pun tiba, katanya mengawali perbincangan”. Kemudian dia lanjutkan: “bang, katanya PKS telah mengantongi 5 nama pendamping Gatot Pujo Nugroho. Bagaimana pendapat abang?”

Tentu pertanyaan di atas dapat menjadi penegasan lain tentang telah berakhirnya gonjang-ganjing tentang apakah Gatot Pujo Nugroho yang akan diusung oleh PKS untuk Sumut 1 atau mantan Presiden PKS yang kini menjadi salah seorang Menteri pada KIB II, Tifatul Sembiring. Tifatul sempat santer disebut-sebut akan menggantikan peran Gatot Pujo Nugroho sebagai “jagoan” untuk Sumut 1 karena dinilai elektibilitasnya tidak cukup menggembirakan terutama dalam pandangan kalangan elit dan pengkaji-pengkaji yang serius di internal PKS, di pusat maupun di daerah.

Tifatul memang dianggap cukup berakar di sini. Pria kelahiran Bukit Tinggi 51 tahun lalu ini memang memperoleh suara hampir seratus ribu di Dapil 1 Sumut untuk DPR-RI. Angka itu di atas perolehan suara Hasrul Azwar (PPP) yang cuma 26.313, Panda Nababan dari PDIP (76.773), tetapi masih kurang lebih separoh dari perolehan suara sang juara Abdul Wahab Dalimunthe, yang mencapai 192.716, di Dapil yang sama (Medan, Deliserdang, Serdangbedagai dan Tebingtinggi). Uraian selanjutnya adalah rekaman perbincangan dengan jurnalis itu.

Jurnalis: Katanya PKS sudah mengantongi 5 nama untuk dampingi Gatot Pujo Nugroho.

Saya: Saya percaya itu. Saya kira, dia dan PKS sudah lebih siap tentang itu dalam arti mesin partainya benar-benar sudah bekerja untuk event penting yang akan berlangsung 7 Maret 2013 itu. Partai-partai lain tampaknya asyik mengkonsolidasikan diri secara internal, tak cuma mendamaikan keributan yang terjadi, tetapi juga tak bisa mengontrol kader-kadernya yang berebut maju.

Jurnalis: Jadi siapa kira-kira yang cocok sama dia? Katanya ada dari PPP, Demokrat dan Golkar. Bagaimana bang?

Saya: Ok lah kalau Anda tidak dapat menyebut kelima nama yang “ditimang” oleh PKS untuk dipasangkan dengan Gatot Pujo Nugroho. Pertama tentu pasangan yang ditentukan itu bukan kalangan orang Jawa. Itu yang bagi saya hampir pasti. Bagaimana pun, PKS pasti lebih berharap tak ada orang Jawa selain Gatot Pujo Nugroho yang akan maju ke pentas, baik sebagai calon Sumut 1 maupun Sumut 2, daripada memutuskan optimalisasi dukungan etnis mayoritas Jawa dengan memasang pasangan Jawa-Jawa. Pasti ada jalan bagi PKS mengerem tampilnya figur Jawa yang kini berharap-harap dilamar oleh bakal calon lain (Amri Tambunan, AY Nasution,  Benny Pasaribu, Bintatar Hutabarat, Chairuman Harahap, Gus Irawan,  RE Nainggolan, T.Erry Nuradi, T Milwan dan lain-lain)  menjadi Calon Sumut 2 agar tak begitu besar gangguan menyatukan sebagaimana terlihat dalam obsesi yang dipertunjukkan Gatot Pujo Nugroho saat dielu-elukan sebagai Gatot Koco pada Syawalan tahun lalu di Patumbak.

Jika tadi Anda menyebut PKS akan menunjuk Fadli Nurzal (PPP) jadi wakil, chemistry maupun peluang menang kurang baik menurut saya. Memang ada retorika yang relatif baru di PKS sebagai partai terbuka sedangkan PPP mengklaim diri sebagai satu-satunya partai Islam. Tetapi sesungguhnya kedua partai itu hingga kini ada pada wilayah garapan yang sama dan begitu sulit menganekaragamkan jumlahan konstituen baru. Pasangan itu pun pada gilirannya akan mudah diterpa badai politik stigma berbasis SARA. Kecuali PKS dan PPP sepakat akan menggabungkan dukungan partai lain yang berbeda diametral dengan visi mereka, katakanlah PDS. Pertanyaannya apakah PDS dapat diyakinkan dengan janji entah apa ke depan jika memenangkan kompetisi ini. Tetapi saya tak melihat kemungkinan itu sekarang. PKS dimana-mana dikenal sebagai partai yang getol memperjuangkan syari’ah, dan penentangnya pastilah PDS dan PDIP. Jadi, ada perasaan yang kuat untuk memustahilkan itu.

Gatot Pujo Nugroho kini otomatis menjadi penanggungjawab tunggal atas plus atau minus pencapaian visi pemerintahan Sumatera Utara 2008-2013 “rakyat tidak lapar, rakyat tidak sakit, rakyat tidak bodoh, dan rakyat mempunyai masa depan”.  Meski dengan banyaknya baliho dan media packaging dan imaging yang rawan diperbincangkan dalam kaitannya dengan pertanggungjawaban kebijakan, semua “investasi” itu tampaknya belum begitu jauh mengubah keadaan. Gatot Pujo Nugroho masih belum terlihat menunjukkan sesuatu yang membuat rakyat angkat satu atau dua jempol sekaligus.

Jika benar mereka sudah mengantongi sebuah nama dari Golkar tentu akan tampil seorang Calon Wakil dari partai berlambang Bingin ini, bukan Calon Gubernur. Dengan kelebihan mendapatkan akses politik yang amat luas dalam kebijakan pemerintahan, meski menjadi partai papan tengah dalam komposisi kekuatan politik di Sumatera Utara, PKS pastilah tak rela menjadi Wakil. Harus dipercaya bahwa faktor incumbenitas itulah yang paling banyak menolong Gatot Pujo Nugroho hingga tak jadi digusur oleh faktor Tifatul Sembiring. Karena itu, pertanyaannya apakah akan terjadi lagi “pengkhianatan” di pihak Golkar sebagaimana terjadi sebelumnya dan dimana-mana? Dengan melihat nama-nama besar yang mendaftar ke Golkar sampai hari ini, maka dapatlah dipastikan Golkar tidak memiliki keinginan memasangkan kadernya (sebagai wakil) dengan Gatot Pujo Nugroho. Baik untuk advantage bagi pemilu dan Pilres 2014 maupun untuk pengembangan partai ke depan, posisi itu sama sekali tak  menarik bagi partai Golkar. Apalagi Partai Demokrat,  yang sekalipun saat ini disebut-sebut terdegradasi hingga posisi ketiga dan diramalkan kelak akan menjadi partai tengah yang kurang lebih setara PKS pasca pemilu 2014, tak akan sudi dengan design itu.

Nah, tambahkan lagi pertimbangan bahwa Partai Demokrat adalah pemenang pemilu 2009 dengan perolehan suara nasional dan lokal yang tak begitu beda dalam persentasenya, sebagai argumen ketidak-mungkinnan PKS “menjinakkan” selera Partai Demokrat untuk hanya puas sebagai pendamping bagi pencalonan Gatot Pujo Nugroho. Kepada saya, dua pekan lalu, Soetan Batoegana malah bilang: “saya akan menjadi menteri nanti (Kabinet mendatang). Karena itu, wakil saya (Wagubsu) otomatis akan naik menjadi Gubsu menggantikan saya karena promosi”.

Tentu tak harus dilawan bertengkar Soetan Batoegana tentang ini. Tetapi optimisme Soetan Batoegana tentulah sedikit banyaknya dapat mewakili mereka di jajaran elit Partai Demokrat yang meskipun kini sedang dilanda isyu politik yang mengguncang. Guncangan itu sendiri tidak terlihat mengarahkan kemungkinan kesediaanya mensubordinasikan diri ke PKS pada perhelatan 2013. Tetapi sekali lagi, ada pengecualian: PKS mampu “menculik” kader partai Golkar dan Partai Demokrat  tanpa restu kedua partai itu. Anda yakin ini bisa terjadi? Dengan begitu PKS tetap saja tak dapat menambahkan jumlah kursinya ke kursi Partai Demokrat dan Partai Golkar untuk menembuh nilai tiket pencalonan sesuai ketentuan Undang-undang.

Jurnalis: Apa lagi, bang?

Saya: Ha ha. Anda kehabisan kata untuk diformulasikan menjadi pertanyaan? Ha ha. Karena sulit bagi PKS mendapat wakil dari Golkar maupun Demokrat, maka Gatot Pujo Nugroho tentu terpaksa mencari dari partai-partai lain. Di DPRD-SU ada Fraksi lain seperti Hanura, dan juga Gerindra. Mengingat jumlah suaranya di DPRD-SU, Gerindra pastilah tak akan ngotot jadi cawagub. Harap diingat Hanura di Sumut, terutama saat dipimpin oleh Muzdalifah, adalah sebuah partai yang mampu menembus posisi papan tengah. Suara di Sumut jauh di atas persentase perolehan suara nasional yang cuma sekitar 3,7 % kalau tak salah. Sedangkan di Sumut, Hanura memiliki satu Fraksi.

Tetapi, selain Hanura PKS masih bisa mencari dukungan ke partai-partai yangg tak berfraksi atau partai-partai non seat. Itu sebuah harapan baru bagi PKS. Tergantung diplomasi mereka.

Jurnalis: Tambah lagi,  bang. Beritaku masih sedikit.

Saya: Ha ha. Ok. Hingga hari ini saya dengar partai-partai non seat sudah melakukan konsolidasi dan kontak dengan beberapa bakal calon. Tokoh paling progresif dalam hal ini ialah Dr Chairuman Harahap, SH., MH dan Gus Irawan. Tetapi tidak tertutup ditarik oleh Gatot Pujo Nugroho. Beberapa waktu lalu juga ada tersiar kabar mereka duduk bersama dalam satu forum dengan Wisjnu.

Prinsip yang dimainkan oleh pemimpin partai non seat itu tentulah ingin ikut berperan dalam penentuan Sumut 1 ke depan. Mereka ingin mendapat peran meski ke depan partainya sudah harus lebur atau bubar sama sekali. Dari sisi itu tentu secara psikologis ada kemudahan untuk membuat persuasi kepada mereka. Tetapi tidak ada yang gratis. Mereka akan mencoba bargaining antara lain dengan pola memberi harga untuk setiap suara. KPUD Sumut nanti akan memberi semacam klarifikasi atau pengakuan untuk jumlah perolehan suara partai-partai itu dalam pemilu 2009. Jika akhirnya Gatot Pujo Nugroho hanya akan berhasil mendapat PPP dan berpasangan dengan kadernya, peluang kemenangan menjadi tipis.

Jurnalis: OK, bang. Terima kasih. Berita abang menempati halaman satu hari ini di koran saya. Itu hasil wawancara sehari sebelumnya.

Saya: OK. Terimakasih juga. Karena Anda tak bertanya, maka saya tak akan menjelaskan sesuatu yang saya kira lebih penting dari semua yang sudah kita bincangkan di atas.

Jurnalis: Oh ya, bang. Apa itu, bang? Tolonglah abang jelaskan.

Saya: Bagaimana kalau next time saja? Saatnya saya beranjak dari tempat duduk. Time is getting over. I am so sorry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: