'nBASIS

Home » ARTIKEL » KARAKTER NASIONAL

KARAKTER NASIONAL

AKSES

  • 545,402 KALI

ARSIP


Biarlah, misalnya, mereka (SBY dan Anas Urbaningrum) saling sandera. Itu tak merubah fakta bahwa SBY telah menunjukkan kegagalannya tanpa menunggu dipasulak (dikonfirmasi) oleh siapa pun yang merasa masih akan memiliki Indonesia

Jika ada yang menyebut bahwa karakter nasional itu adalah lukisan terlengkap tentang prototype orang dewasa pada suatu tempat dan ruang tertentu, saya kira memang dapat dibenarkan. Karakter nasional itu bukan hakekat nilai dan tampilan perilaku dari minoritas kecil penduduk. Karakter nasional itu adalah penamaan lain tentang apa adanya diri orang-orang yang segera dapat disebut sebagai representasi paling kuat. Karakter nasional itu pun sifatnya netral, tak mensyaratkan konten pendefinisian positif. Jadi karakter nasional itu bisa buruk, dan karenanya wajib dibangun.

Konon sudah luas diketahui bahwa karakter nasional itu mengacu pada karakteristik kepribadian yang relatif fungsional dan pola yang prototipe di antara anggota dewasa yang maujud (existing) di tengah sebuah masyarakat. Jadi, ia benar-benar man made juga. Tidak perlu diherankan jika ada perbedaan antara satu dan lain bangsa. Asumsinya tak lain, bahwa hampir semua individu berperilaku sesuai dengan norma-norma yang ditentukan bangsa  mereka. Penyimpangan kecil tidak termasuk dalam kawasan karakter itu. Tetapi jawaban apa yang secara normatif dinla wajib diberikan atas setiap penyimpangan, tentulah termasuk dalam konstruk karakter nasional itu.

Sejarah dan Sistim Hukum. Karakter nasional bisa juga dilihat dari kenyamanan keberlangsungan sebuah fakta buruk yang bertentangan dengan nurani mayoritas meski tak secuil pun kekuatan yang dapat menginterupsi. Katakanlah Anas Urbaningrum yang belakangan makin terdesak dalam posisi yang semakin dekat dengan proses hukum terkait dengan perkara yang menimpa rekannya M.Nazaruddin juga memiliki apologi yang kuat sehingga jauh-jauh hari berani berucap kesediaan digantung di Monas jika terbukti korupsi. Katakanlah juga tidak perlu diminta penjelasan apakah SBY memaksudkan himbauannya  untuk Anas Urbaningrum ketika mengulangi kalimat-kalimat “pengusiran” orang-orang korup dari partainya.

Tetapi untungnya tak banyak lagi orang yang percaya jika semua itu tak lebih dari persandiwaraan belaka yang dibarengi kecemasan-kecemasan yang amat serius. Bukan saja kemungkinan “perang” internal yang melibatkan SBY di satu kubu dan Anas Urbaningrum di kubu lain akan lebih memperjelas cita-cita politik yang bertentangan dengan niat mayoritas membangun karakter nasional. Tetapi, terserah sangat melelahkan atau tidak, “perang” itu sendiri lebih dari cukup untuk melukiskan aspek-aspek karakter nasional yang patut diragukan jika tak disebut produk SBY. Biarlah, misalnya, mereka (SBY dan Anas Urbaningrum) saling sandera. Itu tak merubah fakta bahwa SBY telah menunjukkan kegagalannya tanpa menunggu dipasulak (dikonfirmasi) oleh siapa pun yang merasa masih akan memiliki Indonesia.

Jika terdapat sebuah penyimpangan, seyogyanya itu akan dianggap aneh. Perasaan aneh itu diikat oleh nilai aktif. Jadi karena itulah tidak perlu diherankan lagi jika di sebuah bangsa korup seorang yang bersih akan dianggap aneh, meski mungkin tak sampai diniatkan akan dibunuh. Itu pun jika dianggap tak mengganggu aktivitas korupsional sistemik. Kekuatan yang membingkai perilaku itu begitu dahsyat, tak terlawan. Ia bersifat imperatif  (memaksa) sebagai agregasi (jumlahan total) dari kebiasaan dan sikap, keinginan, cita-cita hidup dan kecenderungan, pandangan dan pendapat, motif dan ukuran-ukuran standar, kepercayaan dan ide-ide, serta harapan dan aspirasi yang menjadi saham bersama sebuah bangsa pada jangka waktu tertentu.

Karakteristik agregat dianggap sebagai suatu entitas sistemik ketika mayoritas orang menempati suatu wilayah umum yang tidak bersifat dadakan dan sementara. Akan ada artikulasi pengelompokan yang didasarkan pada pendefinisian yang disematkan secara politis. Di sini pengaruh sejarah dan sistem hukum ikut andil. Pada proses pembentukan sebuah karakter nasional, memang sejarah dan sistem hukum memiliki andil yang besar (Hans Kohn, 1948 ). Begitulah akhirnya difahami bahwa kehidupan di wilayah umum tunduk pada pengaruh yang sama dari sejarah dan sistem hukum, yang dengan sendirinya menghasilkan sikap dan sifat-sifat umum tertentu.

Budaya. Ketika beberapa bulan lalu didaulat berbicara pada sebuah forum yang diberi tema “Membangun Karakter Bangsa”, saya tidak berusaha dengan memulai mencari definisi standar yang pernah dibuat oleh para pakar. Saya beri saja beberapa contoh yang kemungkinan amat dekat dengan fenomena harian masing-masing peserta. Pada Jum’atan yang begitu hening Anda begitu serius mendengarkan khotib berbicara dari mimbar. Saat takbiratul-ihram, kedua tangan Anda berulangkali naik turun untuk menyamakan dengan “irama” bathin setelah berusalli. Anda malah memejamkan mata untuk suatu upaya mencapai suatu tingkat kekhusukan.

Sudah tahu pasti bahwa tuhan melihatmu. Tetapi dengan pakaian yang sama penuh simbol di bahu kiri dan kanan itu, Anda kembali ke pekerjaan di kantor. Anda sudah tak bertuhan lagi, karena kehidupan di sini sudah tak terkait lagi dengan kehidupan di mesjid beberapa menit lalu. Anda kini sudah kembali ke sebuah habitat diametral. Anda sudah menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, dengan menggunakan jabatan dan kewenangan yang diberi atas nama sebuah sumpah. Anehnya pula, semua pendapatan dari hasil perampokan itu Anda kategorikan rezeki. Rezeki? Ya, anda menamainya sesuai konsep religious yang Anda kenal. Ha ha.

Perampokan Anda pun tiada batas, karena jatah-jatah orang miskin dan kaum tak berdaya di panti asuhan pun Anda babat juga, termasuk dana untuk pemulihan bencana. Anda memang munafik atau bahkan lebih kejam dari itu. Kemudian, saya berharap di antara Anda mungkin sudah ada yang pernah pergi keluar dari wilayah Indonesia. Katakanlah ke Singapura atau Malaysia. Dengan kepatuhan berdasarkan ketakutan, anda pun berhati-hati untuk tidak melanggar ketentuan apa pun di Negara jiran. Safety belt  anda kenakan saat berkedara. Kebiasaan merokok Anda tereduksi tajam karena wilayah-wilayah publik dianggap bukan tempat yang boleh untuk aktivitas itu. Puntung rokok Anda bahkan lebih baik Anda kantongi sendiri karena takut akan didenda saat membuangnya di sembarang tempat.  Anda sudah berusaha membiasakan diri dengan penghargaan terhadap banyak hal yang baik-baik untuk sebuah kemaslahatan bersama selama di negara orang itu, dan itu amat baik sebagai proses internalisasi nilai kebajikan.

Tetapi setelah Anda berada di pesawat dengan posisi take off  yang akan membawa Anda pulang kembali ke tanah air, semua hal yang Anda anggap pengekangan itu sirna begitu saja. Kini Anda sudah menjadi diri Anda kembali, dengan sebuah tingkat kebar-baran lama yang tak bisa diubah. Mungkin Anda hanya akan bisa  berubah jika ada bencana yang menimpa diri Anda.

Penutup. Karakter nasional selalu saja terkait dengan elit dan pemimpin. Terkait karena dua alasan. Pertama karena kesesuaian, dan kedua karena ketidak-sesuaian. Ketika berusaha membangun politik, Indonesia terjebak dengan tingkah elit yang dengan ketak-sabaran merampas hal-hal bersifat material dan kekuasaan yang bukan haknya. Penjunjung-tinggian makna kekayaan mengaburkan hal-hal lebih penting, termasuk ruh. Hanya karena hal seperti itu institusi politik (Parpol dan DPR) menjadi lembaga terkorup. Jadi jika SBY menyebut bukan partainya saja yang korup, maka sudah barang tentu ia hendak mengatakan bahwa “kebobrokan korupsional itu bukan produk saya semata, melainkan andil bersama kita-kita”.  “Kita-kita” di sini tak dimaksudkan termasuk tukang beca, tentu saja.

 

Shohibul Anshor Siregar. Pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Kamis 21 Tanggal halaman B9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: