'nBASIS

Home » ARTIKEL » AJI:ANCAMAN ITU DATANG DARI DALAM

AJI:ANCAMAN ITU DATANG DARI DALAM

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


Menteri BUMN Dahlan Iskan bicara terbuka tentang tudingan banyak pihak bahwa gaji wartawan di kelompok media yang dipimpinnya, Jawa Pos, nilainya kecil. Dahlan meminta agar dibedakan antara gaji kecil sebagai kebijakan dengan gaji kecil sebagai proses (http://www.merdeka.com)

Tahun lalu Yohan Rubiyantono, Pria Jogja, yang besar di Jakarta dan pernah belajar ilmu politik dan pemerintahan di Unpad, Bandung. Menuliskan uneg-unegnya tentang fakta yang menyedihkan mengenai kesejahteraan wartawan. Antara lain, begini katanya:

“Tulisan ini bukan bermaksud latah kepada Pak Beye yang mengeluhkan gajinya. Saya hanya ingin sekedar berbagi.

Akhir pekan lalu, saya menerima email dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang berisi tetang upah layak jurnalis 2011. Cukup mengagetkan isinya. Ternyata, masih ada wartawan yang digaji hanya Rp 300 ribu per bulan!

Berdasarkan survey AJI, Di Palu, jurnalis di harian Alkhairaat cuma mendapatkan gaji pokok Rp 500 ribu. Di Medan, jurnalis radio City FM dan Star News hanya di upah Rp 500 ribu-Rp 700 ribu.

Reporter televisi di beberapa daerah pun bernasib sama. Wartawan Semarang TV hanya bergaji Rp 700 ribu, tanpa mendapatkan tunjangan transportasi dan komunikasi. Sementara di Kediri Jawa Timur, KSTV memberikan upah jurnalis pada masa percobaan sebesar Rp 300 ribu.

Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, harian Kota Kursor memberi upah Rp 650 ribu per bulan—di bawah nilai UMP NTT sebesar Rp 850 ribu. Saya miris. Gaji yang mereka peroleh tidak sebanding dengan beban dan risiko kerja. Padahal menjadi wartawan bukanlah pekerjaan mudah. meskipun, jujur, ada rasa bangga sekaligus malu menjadi wartawan.

Bangga, karena sebagian orang menilai wartawan harus punya modal wawasan luas, paham beragam ilmu maupun informasi. Kasarnya, wartawan harus pinter. Namun disisi lain saya kerap malu menjadi wartawan, sebab banyak wartawan yang memeras narasumber mereka. Kesan negatif ini pun akhirnya banyak ditujukan kepada seluruh wartawan”.

Tulisan ini saya buat karena tergugah setelah bertemu sebuah hasil penelitian terbaru tentang upah wartawan. Saya lupa sumbernya dan hingga detik ini belum bertemu kembali sumber itu. Tetapi sekadar pembanding, penemuan dari hasil penelitian Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) di 17 kota pada akhir 2005 yang melibatkan responden 400 wartawan dari 80 media massa, dapat memberi gambaran.

Penghasilan rata-rata wartawan antara Rp 900 ribu hingga Rp 1,4 juta per bulan. Yang menyedihkan masih dijumpainya wartawan yang gajinya di bawah Rp 200 ribu per bulan. Hal ini memperkuat penelitian AJI yang dilakukan enam tahun sebelumnya (1999) yang mengungkapkan sangat rendahnya gaji wartawan. Saat itu, dari 250 responden di Jakarta diperoleh data 5% wartawan ber-gaji di bawah Rp 250 ribu, 35% bergaji antara Rp 500 ribu-Rp 1 juta, 30% bergaji Rp 1 juta-Rp 2 juta, dan 8% bergaji di atas Rp 2 juta. Dalam pada itu, dari 276 responden yang tersebar di 12 kabupaten dan kotamadia di Jawa Timur diperoleh data 0,7% bergaji di bawah Rp 100 ribu, 15,2% bergaji Rp 100 ribu-Rp 250 ribu, 34,1% bergaji Rp 250 ribu-Rp 500 ribu, 21% bergaji Rp 500 ribu-Rp 750 ribu. Kemudian 14% bergaji Rp 750 ribu-Rp 1 juta, dan 13,8% bergaji di atas Rp 1 juta.

 Mungkin kondisi tahun 2012 masih belum banyak berubah. Bagaimana kira-kira?


1 Comment

  1. Mencengangkan dan sejujurnya tidak percaya…
    Selama ini saya fikir mereka berpendapatan besar dan berkehidupan sangat layak…

    ‘nBASIS: ha ha. mencengangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: