'nBASIS

Home » ARTIKEL » DUA BELAS KISAH TENTANG HARGA

DUA BELAS KISAH TENTANG HARGA

AKSES

  • 538,914 KALI

ARSIP


BERIKUT ini adalah kisah nyata yang saya hadapi dua hari ini. Kisah tentang harga. Termasuk harga diri (bangsa).

(1) Saya tanya apakah buku Jefry Winters yang baru sudah ada, petugas bilang “oh tidak ada”, setelah melihat data di komputer mereka. Jadi saya hanya bayar yang ini, sambil menunjukkan sebuah buku tentang Social Work. Sekian rupiah, pak, katanya. Saya minta kurang, dia tidak mau kasih. Dia bilang “itu sudah ditentukan”. Saya bilang kasih tahu kepada yang menentukan harga itu bahwa saya minta kurang. Itu tumpukan buku didiskon, saya mau yang ini juga didiskon. Ha ha, manalah dia berani, tokenya yang menentukan harga itu kan?

(2) Selesai beli buku saya pun naik taksiĀ  menuju bengkel untuk mengambil mobil yang sedang diperbaiki. Ketika mencari taksi, saya tanya security. Dia langsung berlari dan meneriakkan panggilan kepada orang yang tak bisa saya lihat. Lalu ia mendekati saya sambil mengajak ke sebuah tempat. Rupanya di sana saya harus menunggu taksi yang dipanggilnya tadi. Taksi tiba, sebelum naik saya berterimakasih kepada dia sambil merogoh kantong celana. Sepantasnya saya rasa harus beri dia antara 5.000 sampai 10.000. Tetapi recehan yang ada hanya 2.000. Lembaran lain 50.000 (tetapi belakangan saya sadar ada lembaran 5.000 di kantong lain). Pantas tak pantas saya sudah memberi security itu 2.000. Tiba di bengkel, argo taksi menunjukkan 20.000 pas. Saya beri ia 25.000. Sebelum saya berucap terimakasih, supir taksi yang tadi saya dengar berbicara dengan bahasa Minang dengan seseorang via hp itu sudah mendahului ucapan yang sama.

(3) Tiba di bengkel, rupanya mekanik yang memperbaiki mobil saya sedang keluar. Sambil berniat berusaha menunggu, saya melihat di seberang bengkel ini ada jejeran mobil second hand berbagai jenis yang di atasnya diberi tanda “Di JUAL”, bukan “DIJUAL” (berbeda itu kan?). Saya tanya harga satu persatu mobil second hand bukan dengan maksud akan membeli, lalu kemudian menyatakan keheranan. Jarak antara satu dengan yang lain agak mengada-ada terutama jika kita tahu jenis mobil, tahun pengeluaran dan seterusnya. Lagian, saya bilang, kau tak bisa memberitahu saya sudah berapa kali overhaul dan overseas berapa masing-masing mobil ini. Bagi saya itu bagian dari penentuan terpenting untuk harga mobilmu ini, bukan betapa mengkilapnya kau bikin. Dia sadar dan mengiyakan.

(4) Saya lihat si mekanik yang memperbaiki mobil saya datang dengan mengendarai mobil Feroza. Saya mendekat ke mobil biru berpenumpang tiga orang termasuk mekanik yang bertindak sebagai supir. Mereka bertiga turun dari mobil. Selain mekanik, seorang lagi dari mereka rupanya saya kenal. Sudah kenal lama. Dia langsung bilang “Pak, 25 juta pantas apa nggak harga Feroza ini? Ia sambil menunjukkan beberapa bagian body mobil yang perlu disisip dan kemudian nanti dihaluskan dengan rabin keseluruhnnya. Saya bilang, “bagi saya perlu informasi sudah berapakali overhaul dan berapa overseasnya, sebagaimana saya kemukakan sebelumnya kepada pedagang mobil second hand di seberang jalan. Saya tak ikut bicarakan harganya. Silakan bayar kalau suka”. Dia pun tertawa sambil berkata: “ah payah memang sama tukang baca buku ini”. Saya diam saja, dan itu tadi khas dia.

(5) Mekanik bilang, “bapak harus nambah 65 ribu lagi. Uang titipan bapak tadi kurang”. Saya minta diperinci yang 65 ribu itu. Katanya itu upah. Saya beri ia 50.000 sambil berkata “uang saya sudah habis hari ini. Terimalah 50.000 saja”. Ok lah pak, katanya.

(6) Sebelum keluar dari bengkel saya panggil lagi mekanik untuk melihat sumber pengotoran bagian luar mesin. Ia bilang seal power steering ini mungkin mesti diganti dan saya kira bukan cuma itu. Saya tanya berapa biaya perbaikannya? Oh, itu bisa ratusan ribu pak, katanya. Pengerjaannya bisa setengah hari, tambahnya. Bisakah harga itu kurang? saya tanya. Dia menjawab “sebetulnya itu estimasi kasar saja, sebab jika kita buka powersteering ini barulah kita tahu persis kerusakannya.

(7) Pagi ini usai menyelesaikan pendaftaran anak bungsu ke sekolahnya yang baru. Ada daftar harga buku yang harus dibeli. Saya berfikir ini harus dicari di toko buku, siapa tahu lebih murah. Tetapi saya berfikir, jika beda harganya cuma 5 ribu perbuku, mestinya beli di sekolah ini saja. Kan gurunya berharap juga dapat tambahan. Dia pasti senang.

(8) Ketika hendak pulang dari sekolah tempat berurusan itu mobil saya tak bisa distart. Semula saya duga dinamo starternya rusak. Saya panggil beca menuju sebuah bengkel langganan (maklum mobil tua wajib punya bengkel langganan). Tiba di bengkel saya minta tukang beca menunggu. Tetapi beberapa menit kemudian tukang beca saya temui lagi karena tukang bengkel bilang “kita naik sepeda motor saya saja”. Saya beri tukang beca 10.000 tanpa menawar, dan ia berterimakasih.

(9) Mekanik membawa saya ke tempat mobil saya mogok dengan sepeda motornya. Setelah memeriksa, ia pastikan baterai sudah soak. Kita harus beli yang baru. Jika dicharge, bukan tidak bisa, tetapi bapak akan diintai masalah terus. Ia bilang harganya 500.000. Saya beri dan ia pun pergi membeli baterai itu.

(10) Begitu mekanik pergi membeli baterai, seseorang mendekti saya sambil mendorong gerobak dagangannya. Dia berkata “ini loksi saya berjualan, pak. Mobil bapak bisa bergeser? Setelah saya beritahu bahwa mobil mogok, ia pun membantu saya mendorong setengah meter saja. Ia menggelar dagangan persis di belakang mobil saya. Ketika saya dekati dia, dia menawrkan jam tangan berwarna emas. Saya bilang saya tak nyaman memakai itu, karena perampok-perampok dungu sering menganggapnya emas dan berkeinginan melakukan kejahatan. Saya merasa tak nyaman, padahal ia bukan emas? Sambil membalas tertawa saya, ia pun berkata “betul itu”. Perampok besar tak akan mau mengambil jam tangan pak. Dia mau DPR, MPR, UU dan Perda. Begitu kan pak? katanya meyakinkan saya. Tetapi saya memang sdh tak pakai jam tangan sejak tali jam tangan kesayangan saya putus beberapa pekan lalu. Tak bisa diperbaiki karena talinya putus pas pada gagang. Sebetunya bukan talinya yang rusak, melainkan jam tangan yang masih sangat bagus itu tak bisa lagi diberi tali, tak ada sangkutannya lagi (sebelah). Terlihatlah oleh saya jam tangan yang mirip dengan jam saya di rumah. Saya tawar, eh dia bilang 65.000. Saya rogoh uang saya dan menyodorkan ke dia sambil berkata “saya akan membuka sejarah penujualan Anda hari ini dengan uang 50.000 ini. Bersihkan sekali lagi jam ini, saya langsung pakai. Dia setuju.

(11) Seseorang setengah menundukkan badan mendatangi saya dengan rokok di tangan didekatkan dengan mulut. Dia memang berkata sesuatu yang meski tak saya dengar saya terjemahkan saja bahwa orang ini ingin meminjam korek api. Eh, saya kenal dia dan saat memberi korek apa saya mainkan tangan saya hingga ia heran dan melihat wajah saya. Ia benar-benar tak mengenal saya, padahal ia orang yang sudah lama saya kenal. Lalu ia berkata “apa ada masalah yang benar-benar rumit untuk dipikirkan dalam 3 bulan terakhir hingga begitu banyak uban?”. Saya jawab “ah kita yang sudah lama ketemu, uban saya sudah sebegini indah sejak 4 bahkan 5 tahun ini”. Tak lama kemudianĀ  mekanik datang membawa baterai. Sebelum mengganti baterai ia sodorkan kertas bon pembelian baterai (dalam hati saya, tentu saya harus percaya meski tak pasti harganya segitu). Dia pasang baterai baru, lalu menstart engine. Hidup. Biarkan beberpa saat, pak. Kita mau tunggu beterai terisi, tegasnya. Setelah merasa selesai, dia pun pamit. Saya sodorkan 20.000 dengan ragu-ragu dan berkata “cukupkah ini?” Ia berkata cukup. Saya berterimakasih.

(12) Jika negeri ini terlihat amat ingin cepat kaya dengan mudah, dan untuk itu ia menyerahkan SDA-nya kepada pihak asing cuma dengan memperoleh bagian kecil saja, itu juga harga. Tetapi harga itu sudah termasuk harga diri. Harga kedaulatan sebuah bangsa. Begitulah jika pemimpin bukan seorang negarawan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: