'nBASIS

Home » ARTIKEL » MENDAKI PUNCAK SEMERU

MENDAKI PUNCAK SEMERU

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


WAMEN Energi dan Sumber Daya, Widjajono Partowidagdo, meninggal dunia saat melakukan pendakian Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat (NTB), belum lama ini.  Mendaki gunung itu banyak risiko, terutama bagi yang secara lahiriah kurang siap. Meski tak terkait dengan peristiwa itu, pekan lalu Partai Golkar secara resmi mendeklarasikan “Pendakian Gunung Semeru” sebagai tamsilan untuk Ketua Umumnya Abu Rizal Bakri (ARB) yang dicalonkan menjadi Presiden untuk 2014. Dengan pencapresan ini, tercatat Partai Golkar telah mengajukan Capres untuk ketigakalinya setelah dua kali berturut-turut kalah oleh pesaing. Seberapa besar tantangannya kali ini?

Bukan puncak tertinggi, dan bukan satu-satunya gunung berapi (vulkanik) aktif di Indonesia, tetapi ARB mempermisalkan Gunung Semeru ini untuk diri dan partainya dalam perjuangan menapaki perjalanan politik menuju RI 1.  Itu disampaikannya dalam pidato politik deklarasi pencapresannya dari partai yang dipimpinnya itu pekan lalu.  Faktanya, 7 puncak tertinggi di Indonesia adalah 7 puncak gunung paling tinggi yang terdapat di 7 pulau dan kepulauan utama Indonesia. Tujuh pulau atau kepulauan utama tersebut adalah Papua, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Sulawesi, kepulauan Maluku dan kepulauan Nusa Tenggara (Bali dan Nusa Tenggara).  Marilah kita lihat data puncak tertinggi yang kita punya.Di Papua ada puncak Jaya dengan ketinggian mencapai 4.884 meter di atas permukaan laut (m dpl). Dengan ketinggian ini, maka puncak Jaya merupakan puncak tertinggi di antara yang ada di Indonesia. Di Maluku terdapat  Puncak Gunung Binaiya (Binaia) dengan ketinggian 3.027 m dpl. Di Sulawesi ada gunung Latimojong dengan puncak tertingginya bernama Rante Mario dengan ketinggian 3.478 m dpl. Di Kalimantan ada Gunung Kinabalu, tetapi ini bukan milik Indonesia karena berada di wilayah Negara Malaysia. Puncak tertinggi kita di sini adalah Gunung Bukit Raya dengan ketinggian sekitar 2.278 m dpl.Puncak tertinggi di  Bali dan Nusa Tenggara adalah Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 m dpl. Puncak tertinggi di Pulau Jawa adalah Puncak Mahameru yang memang merupakan puncak dari Gunung Semeru. Ketinggiannya cuma 3.676 m dpl. Gunung ini berada di Propinsi Jawa Timur, di antara wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang. Sedangkan puncak gunung tertinggi di Sumatera adalah Puncak Indrapura di Gunung Kerinci, dengan ketinggian 3.800 m dpl.

Jawa Timur. Ini benar-benar memerlukan terjemahan. Barangkali para penasihat dan designer politik di sekitar ARB lebih menimba pengalaman dan tingkat kesukaran “menundukkan” Semeru sebagai referensi filosofis untuk perjuangan politiknya yang memang penuh tantangan.  Memang Puncak Semeru itu ada di Jawa Timur, terletak di antara wilayah Administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang. Apakah ini bahasa lain untuk mengisyaratkan “tohokan” langsung kepada kedua putera Jawa Timur yang kini sedang memimpin Indonesia? Entahlah.Tetapi yang jelas, putera non Jawa ini tak cuma menyebut nama gunung, melainkan filosofi Jawa yang lain seperti Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso.

Kawan-kawan “Seiring” . Tidak serta-merta seluruh kader dengan bulat dan legowo bisa menerima pencapresan itu. Paling tidak opini yang berkembang tentang niatan (lagi) JK untuk maju pada 2014 tidak mungkin dinafikan. Berapa banyak orang yang senada dan seirama dengan Akbar Tanjung atau bahwa memandang pentingnya konvensi seperti pernah dilakukan pada masa kepemimpinannya dulu.Tetapi itulah yang sudah terjadi, ormas pendiri dan yang didirikan beserta seluruh jajaran kepemimpinan sudah secara resmi menyatakan sikap dukungan. Hanya saja masih menggantung soal Cawapres pendamping. Sejumlah nama disebut, tak terkecuali Ibas, putera SBY yang kini menjadi Sekjen Partai Demokrat. Kita boleh menganggapnya serius, seboleh kita menilainya tak serius.Di balik deklarasi ARB paling tidak ada beberapa hal yang mungkin dipastikan diraih. Di antaranya ialah peluang untuk mengakhiri konflik pencapresan lebih dini di antara para kader. Hal-hal yang bersifat resistensi akan dihadapi secara tersendiri sementara pencapresan dikembangkan terus dengan (tentu saja) membereskan kepastian nasib pada Pemilu 2014 yang dijadwalkan lebih awal.

Deklarasi pencapresan ARB juga dapat dilihat sebagai upaya menimpakan beban elektibilitas ARB ke elektibilitas Partai Golkar yang lebih besar dan kemungkinan akan menjadi pemenang Pemilu 2014 nanti. Soal popularitas dan elektibilitas ini memang lazim terjadi selisih yang cukup besar antara partai dan figur usungannya. Bisa terjadi figur melebihi partai dan bisa juga sebaliknya. Tentu sajalah pencapresan “dini” ini akan efektif untuk membuka langkah terus-menerus  untuk konsolidasi lebih leluasa dan bermasa panjang.

ARB memilih berbagai isu penting yang dianggap dapat memikat dan mengakrabkan pemilih kepadanya dan kepada partainya. Perhatikanlah trilogi pembangunan Pak Harto plus nasionalisme baru yang diungkapkan. Resep merajut kembali dukungan lama nyata benar di sini. Diketahui gerakan pemisahan diri dari Golkar bukan saja harus dibaca dengan eksodus kader, tetapi juga kiprah mereka membuat partai saingan sebagaimana Surya Paloh telah buat.

Penutup. Bukan tak lazim saat seseorang mendeklarasikan diri untuk sebuah perhelatan politik timbul keniscayaan mempersoalkannya secara menyeluruh. Di sinilah orang pasti akan tak saja mengenang, melainkan juga mempersoalkan secara serius soal-soal genting seperti lumpur Lapindo.

“Mendaki Gunung Semeru” dijadikan sebagai permisalan untuk mengisyaratkan akan beratnya tantangan. Mudah-mudahan Indonesia tidak merasa aneh dengan kerangka fikir seputar Semeru ini, dan mudah-mudahan saja bisa “nyambung” dengan logika publik. Bahasa itu memang tidak ditujukan khusus bagi orang-orang yang punya hobi mendaki gunung saja.

Tetapi apresiasi filosofi Jawa Tutwuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso itu memang sudah seharusnya. Mengapa? ARB bukan orang Jawa yang nanti akan dipertaruhkan elektibilitasnya di tengah komunitas pemilih yang mayoritas Jawa.

Wajah yang kurang puas yang tertangkap juga di kamera tv saat acara deklarasi bisa ditautkan dengan politisasi berita adanya gelombang kader yang pulang di tengah acara.  Belum kita hitung cara menghadapi orang-orang seperti JK yang berniat maju juga. Belum lagi Nasdem yang terus “menggasak”. Belum jelas bagaimana wacana untuk menepis hambatan besar di Lapindo itu. Tetapi jika “Suara Rakyat Suara Golkar” dan sebaliknya, apa yg dikhawatirkan? Ha ha. Selamatlah. Selamat!


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: