'nBASIS

Home » ARTIKEL » AMERIKA (OBAMA) DI MATA PAKISTAN

AMERIKA (OBAMA) DI MATA PAKISTAN

AKSES

  • 564,592 KALI

ARSIP


Pakistan adalah  satu-satunya Negara tempat Obama dipandang tidak lebih baik dari Geroge W Bush. Ini terkait dengan kebijakan internasionalnya yang dipandang amat tidak ramah.

Pew Research Centre (PRC) dalam laporan berjudul “Drone Strikes Widely Opposed, Global Opinion of Obama Slips, International Policies Faulted” memfokuskan pemaparan data dan analisis tentang hubungan Amerika Serikat dan Pakistan. Tulisan ini didasarkan pada data-data yang dipaparkan oleh laporan itu dengan sedikit penambahan seperlunya.

Selama dekade terakhir, AS ternyata telah memberi bantuan miliaran dolar ke Pakistan. Bantuan itu dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan kerjasama bilateral sambil memperbaiki citra. Tapi kebijakan ini tidak dilihat secara positif. Tidak sedikit jumlah warga Pakistan yang kini menyadari bahwa, baik bantuan militer maupun ekonomi AS, sebetulnya berdampak negatif bagi mereka.

Berdasarkan data yang ada, sejak tahun 2002 Pakistan tidak pernah menyukai AS. Hal ini pendapat dari mayoritas yang mencapai 69 % pada tahun 2002, naik menjadi 81 % pada tahun 2003, dan terus-menerus tak berhasil menurunkan ketidak-sukaan itu kecuali pada angka 56 % pada tahun 2006. Tahun ini (2012) 80 % warga Pakistan menyatakan AS tidak favorable. Data itu mengalami kenaikan sebesar 7 % dibanding tahun lalu.  Rupanya, tanpa latar-belakang ketegangan setahun terakhir antara Pakistan dan AS, rakyat negeri yang disebut pertama memang sudah semakin banyak yang tak ingin lagi melihat sisi baik Negara yang disebut terakhir.

Amerika itu Musuh. Tahun ini sekitar 3 dari 4 warga Pakistan (74%) menganggap AS sebagai musuh, naik dari 69% tahun lalu dan 64% tiga tahun lalu. Dalam persepsi yang demikian buruk itu, posisi Obama pun dianggap menjadi faktor penentu. Dari 15 negara yang disurvey oleh Proyek Pew Global Attitude  yang diselenggarakan oleh PRC pada dua periode survey (2008 dan 2012), Pakistan adalah  satu-satunya Negara tempat Obama dipandang tidak lebih baik dari Geroge W Bush. Ini terkait dengan kebijakan internasionalnya yang dipandang amat tidak ramah.

Opini buruk terhadap Obama yang terutama terkait dengan kebijakan Internasionalnya tidak saja terjadi di Pakistan. PRC dalam laporannya yang dirilis 13 Juni 2012 lalu yang sekaligus membandingkan dua periode survey (2009 dan 2012) membeberkan bahwa penurunan kepercayaan Global terhadap Obama terjadi di mana-mana.

Di Eropa penurunan kepercayaan terhadap Obama terjadi sebesar 6 %, di hampir seluruh negeri berpenduduk mayoritas muslim sebesar 9 % dan yang paling parah terjadi di Jepang (11 %), Meksiko (13 %) dan Cina (24%).  Tentulah ini dipandang amat tidak faourable bagi negaranya (AS). Letak permasalahannya ialah kebijakan internasional yang dianggap tidak dapat disetujui.  Untuk periode yang sama (2009 dan 2012) penurunan persetujuan terhadap kebijakan internasional Obama terjadi sebesar 15 % di sebagian terbesar Eropa, negeri berpenduduk mayoritas muslim dan Jepang masing-masing sebesar 19 %, dan yang paling parah terjadi di Cina (30%).   Menurut opini publik di Rusia, hal itu dapat berdampak lebih baik bagi AS (8%), di Jepang 13 %. Negara-negara yang menganggap penurunan popularitas kebijakan internasional Obama itu berdampak buruk terhadap AS ialah sebagian besar Eropa (7%), Negara berpenduduk muslim (10%), Cina (4%) dan Meksiko (13%).

Isu Ekstrimis dan Operasi Militer. Hanya 13% warga Pakistan yang masih berpikir bahwa hubungan Negara mereka dengan AS telah meningkat (dalam wilayah kerjasama bilateral yang dianggap positif) dalam beberapa tahun terakhir. Angka ini ternayata mengalami penurunan sebesar 16 % dibanding tahun 2011. Akibanya tentu penguatan hubungan bilateral juga menjadi kurang prioritas bagi Pakistan. Jika tahun lalu 60% warga Pakistan masih menganggap pentingnya kerjasama bilateral dengan AS, tahun  ini sisanya menjadi 45% saja.

Selain itu, sekitar empat dari sepuluh warga Pakistan yakin bahwa bantuan ekonomi dan militer Amerika sebenarnya memiliki dampak negatif pada negara mereka, sementara hanya sekitar satu dari sepuluh orang warga yang berpikir dampaknya positif. Tentu kita tidak tahu jika survey yang sama diadakan di Indonesia. Tetapi untuk alasan yang tentu tak jauh berbeda dengan yang masih menikmati dengan sukacita kerjasama keamanan dengan AS,  selama beberapa tahun terakhir ini Pakistan telah berubah kurang bersedia bekerjasama dengan AS pada upaya memerangi kelompok ekstrimis. Definisi ekstrimis menurut Pakistan semakin berbeda dengan AS yang selalu ingin mendikte di mana-mana. Tetapi sekitar 50% warga Pakistan masih menginginkan AS memberikan bantuan keuangan dan kemanusiaan khususnya ke daerah-daerah operasi yang disebut ekstrimis itu. Angka ini berubah tajam (turun) dari 72% pada tahun 2009. Demikian pula warga Pakistan kini lebih sedikit yang menginginkan kerjasama intelijen dan dukungan logistik dari AS jika dibandingkan tiga tahun lalu.

Sejak 2009 warga Pakistan juga berubah menjadi kurang bersedia menggunakan militer sendiri dalam memerangi apa yang dinamakan sebagai kelompok ekstrimis (3 tahun lalu 53% lebih menyukai menggunakan tentara sendiri). Angenda memerangi ekstrimis dengan mengerahkan tentara sendiri kini hanya dipandang lebih baik oleh sekitar 32%. Ini menandakan bahwa meskipun AS tetap saja mengencangkan propagandanya tentang bahaya ekstrimis. Secara keseluruhan kekhawatiran tentang itu telah jauh surut sejak 2009.

Eksistensi gerakan ekstrimis memang terkadang mengagendakan sasaran perubahan radikal. Kekhawatiran seperti ini lazimnya akan menjadi sasaran empuk intervensi militer asing, apakah dengan mandat internasional atau dalih-dalih lain yang dapat dipaksakan. Tetapi faktanya, sebanyak 69% yang masih khawatir bahwa ekstrimis mungkin mengambil alih Pakistan, hari ini sudah menurun menjadi sekitar 52% saja.

Penutup. Menurut PRC  Pakistan terus mengekspresikan ketidakpuasan yang cukup besar terhadap kondisi di negara mereka sendiri. Sekitar sembilan dari sepuluh (87%) orang tidak puas dengan arah negara itu, hampir tidak berubah dari 92% tahun lalu. Demikian pula, 89% menggambarkan buruknya situasi ekonomi nasional (tahun lalu pendapat serupa cuma 85%).

Vulnerabilitas (kerawan-terpengaruhan) Pakistan dalam pergaulan internasional telah begitu besar membentuk iklim politik di negeri itu. Kemiskinan struktural, angka kriminalitas dan kebiasaan korupsi berkembang bukan cuma sebagai kelanjutan dari kebiasaan-kebiasaan nepotistik dalam akar budaya.  Mereka tak membentuk sendiri lingkungan politik mereka. Jika pemimpin-pemimpin mereka menyadari, tentulah sebuah ijtihad (inovasi) sangat diperlukan.   Ini tantangan berat bagi tokoh-tokoh mereka, sebutlah Imran Khan yang oleh PRC disebut mendapatkan popularitas dan titik simpati tertinggi di antara figur negeri itu, disusul Nawas Sharif, Kayani, Chaudhry, Musharraf, Gilani dan Zardani.

Tetpi salah satu highlight catatan PRC dalam rilis kali ini ialah bahwa mereka yang teridentifikasi menjadi pendukung  Imran Khan  adalah pihak yang sangat mungkin untuk menentang keterlibatan Amerika dalam perang melawan kelompok-kelompok ekstrimis di Pakistan, termasuk bantuan Amerika ke daerah tempat ekstrimis beroperasi dan intelijen dan dukungan logistik kepada tentara Pakistan. Akan dibagaimanakan (oleh AS) Imran Khan, adalah sebuah pertanyaan serius.

Shohibul Anshor Siregar. Koordinator Umum ‘nBASIS. Naskah ini pertamakali diteribitak oleh Harian WASPADA Medan, Kamis 12 Juli 2012, hlm B5

Advertisements

1 Comment

  1. […] Obama di mata Pakistan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: