'nBASIS

Home » ARTIKEL » JOKOWI-AHOK: BUKAN OUTSOURCHING BIASA

JOKOWI-AHOK: BUKAN OUTSOURCHING BIASA

AKSES

  • 564,277 KALI

ARSIP


Untuk sementara, Jokowi-Ahok unggul pada Pemilukada DKI 2012. Berhubung tidak berhasil memperoleh 50% plus 1 suara, perhelatan di ibukota negara ini akan dilanjutkan dengan putaran kedua September mendatang. Bagaimana peluang mempertahankan kemenangan ini buat Jokowi-Ahok?
TAMPAKNYA secara keseluruhan pihak-pihak penyelenggara quick count (perhitungan kilat) untuk hasil Pemilukada DKI 2012, hanya berbeda pada kisaran angka yang tak begitu mencolok untuk menyatakan kemenangan Jokowi-Ahok. Semua “pihak” menempatkan Foke-Nara pada posisi kedua dengan perbedaan raihan suara kurang dari 10% di bawah Jokowi-Ahok.

Litbang Kompas misalnya memberi angka 42,58% untuk Jokowi-Ahok dan 34,39% untuk Foke-Nara. Lembaga survey Jaringan Suara Indonesia mendapatkan hasil 39.703 suara atau 34,42% untuk Foke-Nara dan 48.413 atau sekitar 41,97% untuk Jokowi -Ahok. Sedangkan LSI memberi angka kemenangan Jokowi-Ahok 43,06% dan perolehan suara untuk Foke-Nara menempati posisi kedua (34,14%).

Memang ini bukan perhitungan resmi yang wewenangnya ada pada KPUD yang nanti akan dilakukan setelah keseluruhan suara terkumpul. Tetapi kelaziman dalam tradisi politik yang modern dan biasa menggunakan jasa survei, acap membuktikan kemelesetan yang tak begitu besar. Secara metodologi, paling banter ada selisih ke atas atau ke bawah antara 1% sampai 2% saja dari angka perhitungan cepat yang sudah diumumkan itu.

Mematahkan Mitos Lama. Meski babak kedua masih akan dilangsungkan pada bulan September mendatang karena perolehan suara di bawah 50% plus 1 belum memberi legitimasi kemenangan bagi Jokowi-Ahok, tetapi yang sudah pasti saat ini Jokowi-Ahok diangap telah mengawali retasan atas sebuah mitos lewat jalan baru yang membelakangi “tradisi”.

Meski dalam sejarah tak banyak incumbent yang bisa dikalahkan dalam perhelatan pemilihan langsung politik Indonesia, tetapi Megawati Soekarnoputri adalah orang yang pertama harus disebut ketika diungguli oleh SBY pada Pilpres 2004. Di Sumatera Utara (Sumut), tercatat bupati sipil pertama setelah orde baru John Hugo Silalahi (Simalungun) tunduk atas keperkasaan Zulkarnain Damanaik yang kemudian pada periode berikutnya kalah pula kepada penantang baru, Purba. Di Tapsel juga tercatat incumbent Ongku Parmonangan Hasibuan yang gagal memperpanjang jabatannya. Pada Pemilukada Sumut 2008, praktis tidak ada incumbent, karena Rudolf Matzuoka Pardede diinginkan tidak maju oleh partainya yang mengusung Tri Tamtomo-Benny Pasaribu.

Pada Pemilukada DKI inilah kejutan-kejutan politik lainnya bermunculan. Tak ubahnya kebijakan outsourching yang banyak dicaci-maki itu, Jokowi-Ahok si pendatang dari kota yang relatif kecil Solo, mampu menyisihkan kompetitor-kompetitor lokal di ibukota negara, termasuk sang incumbent Foke. Rupanya Jokowi-Ahok bukan cuma menarik bagi warga Jakarta karena faktor outsourching-nya itu. Alex Noerdin juga pendatang yang bermaksud menaklukkan Jakarta dan dengan dukungan partai papan atas. Malah ia hanya mampu menempati posisi perolehan suara urutan kelima setelah Jokowi-Ahok, Foke-Nara, Nurwahid-Didik Rahbini dan Faisal Basri-Biem Benjamin.

Ahok, pasangan Jokowi, adalah mantan bupati yang terpaksa berhenti karena ketentuan undang-undang sehubungan dengan langkahnya mengikuti Pemilukada yang lain dalam perebutan kursi gubernur di daerah asalnya, juga menjadi catatan baru. Ia memang tipe “penjelajah”, karena sebelumnya, 2008, pernah ikut memperebutkan tiket dari PDIP untuk pencalonan Sumut 1 atau Sumut2.

Meski bukan cuma melekat pada pasangan ini, dalam performance keseharian yang begitu kontras, Jokowi-Ahok adalah figur yang oleh para pendukungnya disimbolkan sebagai pendobrak dalam proses “singkirkan kepala batu”. Kemana-mana dengan kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak, kedua pasangan ini berhasil memberi warna baru yang diikuti oleh para pendukung dengan begitu meriah. Bukan itu saja, simbol 3 jari metal juga kembali amat populer di tangan mereka berdua. Jakarta unjuk “perasaan”.

Bagaimana Foke yang dalam Pemilukada sebelumnya disebut orang yang paling tahu mau diapakan Jakarta bisa kalah?  Kelihatannya warga Jakarta berhenti pada ketiadaan harapan untuk perbaikan lingkungan yang kerap banjir, macet dan berbagai ketidakselarasan lainnya. Opini publik yang berkembang kelihatannya tak menguntungkan buat Foke. Padahal, semua yang dijanjika sebagai solusi untuk Jakarta masihlah sebatas janji kandidat yang belum tentu kelak sebaik kiprah yang tercatat dari Foke.

Foke benar-benar terpojok. Ada ungkapan-ungkapan yang begitu menohok seperti misalnya Jakarta  bebas”berkumis” yang adalah akronim dari “berantakan, kumuh dan miskin”. Slogan ini dikumandangkan oleh pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria saat penyampaian visi dan misi di Ruang Paripurna Gedung DPRD DKI Jakarta, Minggu (24/6).

Belum untuk Calon Perseorangan. Tetapi meskipun begitu masih ada satu lagi tradisi baru yang belum bisa lahir dari pengalaman DKI kali ini. Tradisi itu ialah munculnya kemenangan di kubu pasangan perseorangan. Di antara kelangkaan itu Kabupaten Batubara untuk pertamakali mencatatnya dengan kemenangan T Arya Zulkarnain. Jokowi-Ahok adalah pasangan dukungan partai. Memang hebat, di tengah krisis kepercayaan publik yang meluas terhadap partai, tampaknya Jokowi-Ahok bisa mencairkan itu. Faisal Basri yang selama kampanye terus menerus memanfaatkan emosi ketidaksimpatian kepada partai, akhirnya hanya mampu mendapatkan posisi ke 4.

Memang dari berbagai analisis sebelumnya, Faisal Basri-Biem Benjamin dianggap memiliki peluang kemenangan yang besar meski tersandung oleh biaya pemenangan yang amat minim. Bukan itu saja, faktor kesamaan “watak” pendobrak dengan kompetitor pendatang dari Solo itu juga penting perannya. Untuk tingkat tertentu dapat disebut bahwa Faisal Basri adalah tokoh yang segugus dengan Jokowi, dan ini dimenangkan oleh Jokowi. Di gugus lain lihatlah Alex Noerdin yang segugus dengan Foke dan malah kalah perolehan suaranya di bawah Faisal Basri-Biem Benjamin.

Putaran Kedua. Bagaimana nasib pasangan outsirching ini pada putaran kedua September mendatang? Bisa dibayangkan akan menguat kampanye berbau sara yang akan menimbulkan ketegangan serius.

Mungkin akan mirip dengan apa yang terjadi di Medan pada Pemilukada 2010. Pada tim Jokowi-Ahok memang ada kekhawatiran itu. Tetapi itu tidak akan mencuat ke permukaan jika Jokowi-Ahok tidak melayani. Tempo hari dalam catatan pengalaman di Medan, Sofyan Tan memang terpancing. Malah timnya terlihat seperti mengumbar kedekatan dengan tokoh-tokoh muslim yang ketika diperiksa lebih jelas rupanya akar ketokohan figur yang mereka gandeng tidak begitu menghunjam. Pengaruhnya boleh disebut sukar terdeteksi.

Kemanakah arah dukungan partai-partai dan pasangan yang kalah? Belum kita ketahui. Tetapi ada dua hal yang selalu menjadi pertimbangan dalam soal ini, yakni kedekatan idiologis dan pertimbangan pragmatis. Kedekataan idiologis kepartaian dan agenda besar partai dan tokoh-tokoh sentral akan menjadi prioritas penentuan dukungan. Kedua, pragmatism seputar (maaf) bayaran dan pertimbangan keuntungan sesaat bagi partai politik dan elit. Mungkin Foke akan lebih diminati. Tetapi, entahlah pula.

Penutup. Jakarta memilih dalam kondisi yang dilaporkan oleh media tidak sepi dari berbagai ketidaksempurnaan administratif dan politik yang berlanjut serta berakar pada tradisi baru politik Indonesia. Misalnya soal DPT dan kesimpangsiuran informasi dalam hal tatacara pemberian suara bagi pihak-pihak yang mobile dari tempat mukimnya. Hingga hari ini kita belum tahu tingkat ketakpedulian politik warga Jakarta berdasarkan perhitungan akhir tentang jumlah yang masuk member suara di TPS.

Tetapi, Jokowi-Ahok telah hadir memberi sesuatu yang berbeda yang mungkin akan menjadi gebrakan pada tradisi politik Indonesia terlepas kelak pasangan ini menang atau kalah pada putaran kedua. “Pertarungan” ini sebetulnya lebih menjadi “pertarungan” para kubu dan kekuatan pencari kekuasaan untuk 2014 (Pemilu dan Pilpres). Jakarta kali ini bukan cuma telah berbicara tentang politik yang menyangkut dirinya sebagai ibukota negara, tetapi sudah jauh mencerminkan rivalitas Indonesia yang akan terjadi 2014. Memang bukan outsourcing biasa. (Shohibul Anshor Siregar )

Advertisements

1 Comment

  1. Rachmat Ono says:

    Kemenangan pada peristiwa pilkada /pilgub /ataupun pemilu lebih kepada suara rakyat yang keluar dari hati nuraninya ketimbang suara/kekuatan partai politik yang sering merasa paling hebat dan benar sendiri.
    dan itu kembalinya langsung kepada para figur itu sendiri yang ikut dalam pencalonan tersebut, dimana rakyatlah yang langsung menilai.. pribadi, karakter, dan kira-kira kerangka pikiran para figur itu seperti apa..bisa tidak dipercaya oleh rakyat?? akankah mereka memiliki kebijakan dan kebijaksanaan untuk bisa memperhatikan, membela serta tindakan lain yang bisa untuk kesejahteraan rakyat yang majemuk ini ?? (apalagi DKI Jakarta adalah masyarakat yang sangat-sangat majemuk, tetapi Bhineka Tunggal Ika) adakah pemimpin seperti itu.. yang tentu bakal dipilih oleh rakyat, ataukah pemimpin yang lebih memikirkan diri sendiri serta kelompoknya? tentu tidak !!!

    ‘nBASIS: ya, pertanyaan serius. putaran kedua, bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: