'nBASIS

Home » ARTIKEL » TRANSISI INDONESIA

TRANSISI INDONESIA

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


Kaukah yang sedang memangsa atau kau sedang menjerit karena dimangsa? Oleh siapa pemangsaan itu dan mengapa kau tak melaporkan saja peristiwa pemangsaan itu kepada kepolisian, Kejaksaan, KPK atau tentara PBB?

Di kota yang agaknya patut disebut berlabel heritage Indonesia (Jogjakarta). Dekat situs penting benteng Vredeburg.  Bersisian degan instrumen khas intelektual Jogja (shopping centre) yang penuh pajangan buku termurah dan bermutu.  Di sebuah gedung yang menjadi arena untuk sebuah ajang yang mereka sebut dengan ARTJOG12. Sebuah art fair yang unik karena kreasi dan pemahaman para pelakunya tentang wujud transisi kedirian Timur yang malang, diselenggarakan. Sejumlah artis perupa hadir di sini untuk kelimakalinya dalam hitungan tahun berbilang. Mereka berbicara lewat karya obsesif maupun erangan. Kepada Timur. Kepada Asia. Kepada Indonesia. Tentu juga kepada diri mereka sendiri.

Memang mereka berbicara lebih kepada Timur, Asia, Indonesia, dan diri sendiri. Subjek-subjek perubahan dan sejarah yang tertindas (dan mungkin juga dengan sedikit keberuntungan oleh kemahanazian, kemahateknologian, kemahademokrasian, kemahabingungan dan kemahatakelokan lainnya) dipertontonkan di sini.  Bukan untuk meminta belas-kasihan kepada Barat dan sesiapa saja yang bertanggungjawab atas rencana awal perubahan.

Jadi bukan Wilhelmina yang mereka marahi. Bukan George Soros yang mereka caci maki, bukan juga seluruh presiden Amerika Serikat karena kehebatannya merangsek ke benak kesadaran paling dalam dari umat manusia modern. Ini juga bukan sebuah gugatan spesifik untuk semua pemimpin Asia dan Indonesia, meski tak harus melepasnya dari arena pertanggungjawaban sepatutnya. Mudah-mudahan tak begitu sulit menyepakati pada kalangan lebih luas dan beragam latar belakang, bahwa mereka berbicara untuk keadaan. Untuk proses. Untuk transisi. Untuk perubahan.

Aneka Ide dan Media Ekspresi. Event ini mengusung tema Looking East, A Gaze Upon Indonesian Contemporary Art. Obsesinya, sekiranya semua orang bisa dan berkenan melihat dengan jelas dan dengan sejeli-jelinya tentang apa saja yang sedang berlangsung di kawasan Timur dunia, terutama Indonesia. Kata mereka, event ini ingin mendeskripsikan secara komprehensip tidak saja bagaimana bangsa Barat (khususnya Eropa) melihat dan telah sedang dan akan tetap memperlakukan Timur. Tetapi juga berbicara tentang bagaimana si Timur ini membaca diri dan memposisikan diri di tengah perkembangan yang terjadi di dunianya dalam hubungannya dengan situasi global sekarang.

Ide-ide besar yang orisinil tak selalu berbasis pendanaan besar. Itulah salah satu kesimpulan penting. Ketika ratusan batang bambu dipilin dan dianyam bulat-bulat dengan membentuk sebuah kerangka besar untuk sebuah perlintasan, terciptalah gerbang untuk sebuah zaman. Ini Indonesia. Ia mungkin ingin katakan bahwa ini Timur yang agraris, yang terlengkap nikmat dan rezeki sebagai given.  Joko Dwi Avianto, kelahiran Jawabarat (1976), membuatnya sedemikian hidup dengan pesan yang kuat. Ia telah lebih dulu menciptakan “modul pecah bambu” yang membuatnya secara leluasa  mendesign objek apa pun (dari bahan bambu) tak ubahnya memilin kawat ringan sesuka hati. Anehnya, pada program Microsoft word, setiap menuliskan bambu akan otomatis berubah secepat kilat menjadi “bamboo”. Jika ingin mempertahankan keasliannya, berilah sebuah energi untuk merubahnya menjadi bambu. Terkadang sampai harus berulang-ulang.

Angki Purbandono memakai kaca mata tebal, memilin rambutnya yang panjang di puncak tubuhnya yang kurus kerempeng. Ia bercelana pendek malam itu. Ceria bercerita, dan menjadi sasaran serangan pertanyaan-pertanyaan dari saya. Mengapa kau mementingkan replika tengkorak untuk semua karyamu? Mengapa ada pemangsaan di sini? Kaukah yang sedang memangsa atau kau sedang menjerit karena dimangsa? Oleh siapa pemangsaan itu dan mengapa kau tak melaporkan saja peristiwa pemangsaan itu kepada kepolisian, Kejaksaan, KPK atau tentara PBB?

Angki Purbandono menjawab tangkas sambil terkekeh. Ia menyebut orgasme. Buatlah saya orgasme pak, katanya membingungkan. Dia yang tahu, bahwa tingkat orgasme imaginasi dan ide seperti apa yang membuatnya mampu berbicara sedalam dan sekritis itu. Padahal alat yang ia pergunakan cuma mesin scanner yang kini dilengkapi untuk hampir semua printer (alat cetak) yang dapat dibeli dimana saja. Ia hanya memungut beberapa tangkai rumput sembarangan dan menjejejalkannya ke mulut replika tengkorak kecil dan lalu meletakkannya di atas mesin scanner. Jadilah karya berbasis fotograifis yang mengundang tanya dan memojokkan diri dalam kesadaran sebagai mangsa dan pemangsa. Pada karyanya ia tekankan bahwa ia perlu sebuah “rule”, dan itu tak jarang disepakati secara akal-akalan dan dengan pemaksaan bernama demokrasi.

Anda tentu akan heran, mengapa “setumpuk daging” berwarna putih besar,  yang di sini lazim disebut gajah, tergeletak, mati terkulai sedemikian rupa, di atas ratusan butir kelapa hijau yang matang. I Made Widya Diputra membuatnya untuk kita. Ia tak cuma membahasakan ungkapan band terkenal Indonesia tahun 1970an Koes Plus yang berdendang tentang kesuburan di atas kemalasan dan naïf. “Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”, kan begitu sergahan Koes Plus kepada Indonesia?  Sesiapa yang mengingkari keunggulan komparatifnya sendiri, pastilah akan menjadi mangsa bagi bangsa lain.

Tak kini Indonesia merasa tak aneh mengimpor singkong dari Negara lain, sesuatu yang kontras ketika untuk politik transaksi dan perang teknologi BJ Habibie meminta imbalan beras ketan dari Negara lain untuk sebuah pesawat terbang yang ia buat di Bandung. BJ Habibie seorang teknokrat yang merenungi logika para agrarian terkemuka yang sempat terpuruk dan berlanjut dalam terpuruk.

Gerah dengan perbenturan dan perang yang tak henti-henti, Symphony of Revolution lahir dari tangan Iwan Sri Hartoko. Ia mengkombinasikan senapan berujung bukan loop yang memuntahkan peluru. Meski senjata ini berpelatuk, di ujungnya tak bakalan ada muntahan peluru tajam seperti yang lazim ditembakkan kepada para demonstran yang tak disukai, melainkan sebuah biola yang sempurna. Liuk-liuk irama yang akan lahir dari gesekan instrumen ini tentulah akan lebih difahami oleh sang penggesek biola maut seperti maestro Idris Sardi. Seruannya tentu bukanlah “berhentilah perang dengan saling membunuh”, melainkan “lanjutkanlah konflik dan perang tidak dengan saling membunuh”. Isilah revolusimu dan semangati saja dia dengan yang lain, yakni keindahan dan sentuhan kemanusiaan. Begitu.

Jika kini media massa hidup seperti telah bergemah ripah loh jinawi (serba makmur), bukan tiada cela untuk itu. Itulah yang dipotret sangat sempurna oleh Paul Kadarisman. Seorang perempuan yang hanya patut disebut pelacur nyaris bertelanjang dengan kulit paha yang mulus dan bagian vitalnya yang dipertontonkan cuma dibungkus celana dalam berwarna kecoklatan. Perempuan ini diposisikan menundukkan sebuah pesawat radio transistor di kakinya dengan antenna yang persis menunjuk pada alat vital reproduksi wanita itu. Wanita itu berdiri di sisi wc, dengan sepatu berhak tinggi, dan di latar belakang tersusun peralatan mandi dan kosmetik khas perempuan yang ketakutan tak disebut tak cantik.  Paul Kadarisman juga memotret perempuan yang berakrobat dengan membanggakan bokongnya yang terbuka dan memang ditawar-tawarkan. Perempuan eksibisoinis tak bermoral ini telah didukung dan diperkuat setelah diciptakan oleh media untuk dirinya sendiri yang egois dan ingin segera kaya, instantly.

Penutup. Bukan cuma presiden yang berbicara tentang perubahan. Bukankah tanpa kepentingan ingin dipilih menjadi Gubernur, Bupati atau Walikota, semua orang merasa penting dan berhak berbicara tentang perubahan? Tukang beca merasa dirinya semakin terpuruk, dan ketika ia menyatakan akad untuk sejumlah uang kredit kepemilikan kenderaan bermotor untuk beca, tekad perubahan itu pun semakin nyata. Sayangnya, tak semua mampu berhitung tentang kondisi  dekat (proyeksi) ketika hampir semua tukang beca melakukan hal yang sama.

Apa yang terjadi jika jumlah beca bermotor  berpuluh kali lipat dari potensi pengguna jasa angkutan moda transportase ini? Tentu perubahan pun menjadi sesuatu yang menistakan diri sendiri. Memang akan ada juga orang yang survive di sini setelah menjalani seleksi pasar yang ketat. Tentulah bukan mereka yang oleh Clifford Geertz disebut orang-orang marginal yang mendahulukan selamat (safety first) dan takut menjalani hal-hal baru. Ada orang yang dilahirkan tanpa ketegaan menyakiti perasaan dan apalagi kehidupan yang dirancang orang lain. Mereka bukan peserta pasar bebas (free fight competition). Siapa yang melahirkan dan merancang serta mendorong perubahan? Itu rupanya.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada Medan, Kamis 19 Juli 2012, hlm B5

Advertisements

3 Comments

  1. jovan says:

    wahh, tulisan ini tidak ubahnya seperti ulasan seorang kurator kenamaan sekelas Aminuddin Tua Hamonangan Siregar, yang kebetulan satu marga dengan penulis, padahal sang penulis tidak memiliki latar belakang pendidikan seni rupa sama sekali, penulis hanyalah seorang pengajar di perguruan tinggi di medan dan pengamat politik lokal di medan dan sumatera utara. Tulisan ini separuh bernafaskan seni, dan separuh lagi bernafaskan politik, bravo tulang! 🙂

  2. maipura says:

    wah, sebuah ulasan yang sangat menarik..
    berbeda sangat dengan apa yang saya tulis tentang ARTJOG 2012, karena kebetulan saya beruntung bisa hadir pada acara pembukaan nya:)

    ‘nBASIS: saya sdh baca tulisan Anda. saya suka

  3. […] Sebelumnya saya merasa perlu ke alun-alun. AH, cerita mitos tentang pohon beringin kembar. Siapa lagi yang peduli saat ini tentang itu? Keasyikan saya menenggelamkan. Sejumlah kenderaan dibangun seperti mobil VW berjejer. Selebihnya ada yang sedang berkeliling degan penumpang. Musik yang begitu riang diperdengarkan. Penyewa sedang mengayuh VW berbinar itu. Tak ada niat saya mengenderai, kecuali mempertanyakan dalam-dalam, apa lagi yang akan mereka ciptakan besok dan luas untuk berjuang mempertahankan Jogja sebagai kota turis? Saya seolah memastikan baik untuk menghubungkan salah satu di antara semua pokok perhatian saya malam ini di Malioboro dengan tulisan yang saya buat setelah menyaksikan ArtJog12. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: