'nBASIS

Home » ARTIKEL » AGAMA DAN POLITIK

AGAMA DAN POLITIK

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


Di Indonesia banyak orang berpikiran yang boleh disebut bermazhab keamerikaan secara sekularistik memandang agama harus dibebaskan dari urusan-urusan di luar keperibadatan sambil melukiskan semua itu konsekuensi modernitas. Mungkin saja ada ketidak-jujuran atau ketidak-fahaman tentang masalah itu. Sayangnya, kewibawaan dan otoritas mereka secara keilmuan sudah terlanjur dipermazhabkan.

“Most voters continue to say it is important for a president to have strong religious beliefs. But voters have limited awareness of the religious faiths of both Mitt Romney and Barack Obama. And there is little evidence to suggest that concerns about the candidates’ respective faiths will have a meaningful impact in the fall elections. (PEW Research Centre, July 26, 2012).

Masih ingat sekitar awal tahun lalu Presiden Obama, oleh lawan-lawan politik, dicerca dan bahkan dilukiskan secara grafis dengan bentuk-bentuk yang amat merendahkan berdasarkan sentimen asal-usul genetik dan isyu ketidak-jelasan akte kelahirannya? Obama tidak hanya dicerca berdasarkan isyu rasial, tetapi juga dihujat dengan tuduhan sebagai muslim. Mungkin juga fakta sebagai anak tiri Lolo Sutoro ikut menambah bumbu politik kebencian yang membuat resistensi semakin besar. Memang keterlaluan juga itu. Membandingkan fenomena itu dengan citra Negara yang dipimpinnya sebagai yang selalu diposisikan kampiun demokrasi, tentu membuat orang dari Negara yang dianggap paling tak demokratis sekalipun pasti  merasa tak nyaman. Kok pandainya cuma sebegitu dalam berdemokrasi. Tetapi itulah paradoks Amerika.

Romney dan Obama. Kutipan pada awal tulisan ini adalah catatan kunci dari snapshot  pengalaman mutakhir Amerika berdemokrasi dan menentukan pilihannya dalam politik terkait dengan preferensi agama. Kebanyakan pemilih tetap melanjutkan sikap dan pemahamannya tentang pentingnya bagi seorang presiden untuk memiliki keyakinan agama yang kuat. Tetap melanjutkan? Ya, kalimatnya memang harus dibuat seperti itu, karena ini hasil survey berkelanjutan (longitudinal) yang membanding dua hasil survey dari periode berbeda.

Survei nasional terbaru dari Forum Pew Research Center’s Forum on Religion & Public Life and the Pew Research Center for the People & the Press yang dilaksanakan 28 Juni-9 Juli 2012 lalu, yang melibatkan responden 2.973 orang dewasa, termasuk 2.373 pemilih terdaftar, menemukan bahwa 60% dari pemilih yang sadar bahwa Romney yang Mormon, hampir tidak berubah dari empat bulan lalu, selama pemilihan pendahuluan Partai Republik. Itu artinya pemilih Amerika telah terus membatasi kesadarannya akan agama-agama dari kedua kandidat, Mitt Romney dan Barack Obama. Survey ini juga menunjukkan ada sedikit bukti yang mengungkapkan bahwa kekhawatiran tentang agama masing-masing kandidat akan memiliki dampak yang berarti.

Persentase pemilih yang mengidentifikasi agama Obama sebagai Kristen telah meningkat sejak Agustus 2010, dari 38% menjadi 49%, sementara ada sedikit perubahan dalam persentase mengatakan ia adalah Muslim (dari 19% menjadi 17%). Dibandingkan dengan periode menjelang kampanye kpresidenan sebelumnya, kini lebih sedikit orang yang mengatakan Obama adalah Kristen  (ketimbang yang mengatakan dia adalah Muslim). Kenaikan sejak tahun 2008 ini terutama terkonsentrasi di kalangan Partai Republik konservatif, sekitar sepertiga di antaranya (34%) menggambarkan presiden sebagai seorang Muslim.

Meskipun sekitar 45% pemilih mengatakan merasa nyaman dengan agama Obama, tetapi sekitar 19% berpendapat sebaliknya. Hanya saja, di antara mereka yang mengatakan Obama adalah Kristen, 82% merasa nyaman dengan keyakinan agama Obama. Sebaliknya, di antara mereka yang menggambarkan Obma sebagai Muslim, hanya 26% yang merasa nyaman dengan kepercayaannya itu.

Survei tersebut juga menemukan kelanjutan ambivalensi publik tentang peran agama dalam politik. Sebesar 67% setuju dengan pernyataan “Sangat penting bagi saya bahwa seorang presiden memiliki keyakinan agama yang kuat”.  Pendapat ini telah berubah sedikit selama dekade terakhir. Memang, lebih dari setengahnya mengatakan mereka merasa nyaman dengan politisi mengekspresikan keyakinan agama mereka.

Keberagamaan. Sebagaimana dapat disimpulkan dari laporan survey di atas, lazimnya, keberagamaan yang kuat (taat) itu pada elaborasi berikutnya tentulah bukan sekadar melihat keterdaftaran seseorang sebagai pemeluk sebuah agama saja.  Agama, sebagaimana pengelompokan-pengelompokan sosial bersifat  ketegoris (social categories) lainnya, terutama yang dibuat berbasis SARA, tentulah tidak pernah mengenyampingkan adanya konsolidasi penganut yang memupuk perasaan “kita” dan “mereka” (in group dan out group). Sikap terhadap isyu-isyu lainnya semisal aborsi, pernikahan sejenis dan lain-lain, tampaknya sangat tak mungkin dilepas dari pandangan dasar keagamaan seseorang.

Memang kedalaman atau kedangkalan keberagamaan itu memiliki  implikasi  yang berbeda-beda, atau malah bisa bertingkat-tingkat pada gradasinya. Di Amerika ada kelompok yang menggeneralisasikan semua muslim tak ubahnya teroris. Ajaran Islam dianggap oleh sejumlah orang sebagai ajaran setan penuh kebencian sehingga perlu dimusuhi tak cuma dengan menyerukan secara luas pembakaran kitab suci Al-qur’an. Saat akan dibangun sebuah gedung Pusat Kebudayaan Islam dekat lokasi Menara WTC di New York, Presiden, Gubernur dan Walikota di sana memiliki perbedaan sikap yang sekaligus melukiskan perbedaan Amerika dalam memahami dan mengamalkan konstitusi Negara mereka. Pihak yang yakin Amerika telah salah jika memusuhi orang muslim Negara itu dalam berbuat baik sesuai ajaran agamanya, telah dikalahkan oleh orang Amerika lainnya yang menganggap bangunan yang akan diwujudkan itu tak ubahnya simbol dukungan terhadap terorisme.

Secara umum kerap ada istilah yang membuat identifikasi keberagamaan fanatik, moderat, dan sebagainya. Di lapangan, dalam praktik kehidupan sosial sehari-hari tidak pula sepi dari kekerapan implementasi  keberagamaan pemeluk yang patut dijuluki sebagai reaksioner, toleran, akomodatif dan lain sebagainya. Rumitnya lagi, urusan itu tak hanya terlihat untuk interaksi antar agama. Karena dalam satu agama bukan cuma ada sekte atau sempalan yang memiliki penekanan-penekanan khas atas inti ajaran (yang sama dalam tafsir dan penekanan berbeda) dalam satu agama sehingga variasi ekspresi tak bisa dihindari. Rupanya tidak ada kemungkinan hadirnya hakim yang adil dan punya otoritas untuk itu.

Tetapi, seberapa rumit pun itu semua, sentimen SARA yang memang kerap dibayangkan orang telah sirna di Amerika karena kemajuannya atau karena rasionalitas pilihannya dalam politik, kiranya tak seindah citra tertebar. Langkah-langkah Negara itu dalam menawarkan ajaran multiculturalsm sembari berandai dalam filsafat keagamaan ferennial (temu-kenali sejumlah persamaan asasi dalam historis paling awal) kebanyakan telah menjadi bukti ketidak terhindaran kepentingan dari penerapan standar ganda.

Penutup. Hubungan antara agama dan politik mungkin selamanya akan menjadi satu domain kehidupan kontroversial. Meskipun terdapat fakta bahwa masyarakat tetap lebih mendukung peran agama dalam kehidupan publik daripada di tahun 1960, Amerika tidak nyaman dengan pendekatan yang ditawarkan oleh kedua aliran besar di sana, liberal dan konservatif. Ternyata 69% orang Amerika mengatakan bahwa kaum liberal telah melangkah terlalu jauh dalam menjaga pengaruh agama dari sekolah dan pemerintah. Namun proporsi yang mengungkapkan keberatan tentang upaya kaum konservatif Kristen untuk memaksakan nilai-nilai agama mereka telah mengalami kenaikan tipis. Kini sekitar setengah publik (49%) mengekspresikan kecemasan tentang hal ini.

Dengan judul laporan “Many Americans Uneasy with Mix of Religion and Politics” Pew Research Centre  menegaskan bahwa di Amerika kontemporer orang-orang Demokrat terus menghadapi “masalah Tuhan,” begitu seriusnya. Hanya 26% responden yang mengatakan partai ini ramah terhadap agama. Namun, meskipin proporsi orang Amerika yang mengatakan Partai Republik ramah terhadap agama jauh lebih besar, faktanya itu telah jatuh dari 55% menjadi 47% dalam satu tahun terakhir.

Di Indonesia banyak orang berpikiran yang boleh disebut bermazhab keamerikaan secara sekularistik memandang agama harus dibebaskan dari urusan-urusan di luar keperibadatan sambil melukiskan semua itu konsekuensi modernitas. Mungkin saja ada ketidak-jujuran atau ketidak-fahaman tentang masalah itu. Sayangnya, kewibawaan dan otoritas mereka secara keilmuan sudah terlanjur dipermazhabkan.

Wacana yang ditebar di mana saja untuk mengeliminasi preferensi agama dalam arena politik adalah bentuk kreasi atau keinginan politik yang tujuannya hanyalah berusaha bersembunyi di balik fakta yang diakui atau tidak diakuinya sendiri bahwa agama memang penting untuk semua lapangan kehidupan, termasuk politik. Tahun 2008, MUI Sumatera Utara tercatat amat progresif ketika melakukan identifikasi kadar keberagamaan pasangan calon Gubernur untuk kemudian merekomendasi pilihan politik untuk umatnya.

Penulis, Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA Medan, Kamis 2 Agustus 2012 hlm B9


4 Comments

  1. Surya says:

    Bagusnya di Indonesia itu Agama dipisahkan dari urusan negara? atau disatukan saja (dengan konsekuensinya jika itu diterapkan)? bagaimana menurut pendapat abang sendiri?

  2. amayasenblog says:

    peran agama memang tidak bisa dilepaskan dari segala aspek kehidupan dan politik .tetapi yang di takutkan itu bukan peran agama untuk m mengatur barnagai aspek kehidupan dan politik,tetapi penyalah – gunaan agama dalam politik (kepentingan politik/rekomendasi calon pemimpin baik nasional ataupun daerah) ini yang dapat merusak nilai agama dan agama dapat di jadikan alat politik untuk meraih kekuasaan.kalau agama (nilai) agama di laksanakan untuk segala aspek kehidupan dan politik saya setuju itu….

  3. […] Agama dan Politik di Amerika […]

  4. WOW just what I was searching for. Came here by searching for wisata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: