'nBASIS

Home » ARTIKEL » SUMATERA UTARA

SUMATERA UTARA

AKSES

  • 545,455 KALI

ARSIP


Tulisan pendek ini adalah status pada akun facebook yang saya buat tadi malam. Mudahan-mudahan bermanfaat terutama untuk menyongsong suksesi lokal yang akan berlangsung 7 Maret 2013

Ketika almarhum Raja Inal Siregar ”memberontak” dengan gagasan Marsipature Hutana Be (Martabe), sesungguhnya ia sedang bertarung atas nama rakyat Sumatera Utara dan rakyat-rakyat lain di Indonesia yang tak mendapat pergiliran yang adil dalam pembangunan atas nama dan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Martabe bukanlah gagasan kosong, dan bukan sejenis minuman juicepembunuh dahaga. Pola gerakan pembangunan Martabe yang mementingkan pemikiran strategis dan tindakan locally base itu semakin kita rasakan pentingnya saat ini di tengah penerapan otonomi daerah yang akhirnya kembali lagi ke sentralisme zaman Orde Baru.Sejarah Sumatera memiliki rujukan kepemimpinan yang identik dengan apa yang digagas oleh Raja Inal Siregar dengan Martabe-nya itu. Bukankah Marah Halim Harahap yang mestinya kita kenang sebagai tokoh sepakbola yang menggagas Marah Halim Cup sebagai event internasional yang mestinya harus dicatat dalam sejarah persepakbolaan nasional dan Internasional?

Ada degradasi kepemipinan yang terus menerus, sehingga kita amat merindukan sosok seperti Gubernur Abdul Hakim yang membangun Stadion Teladan untuk mewadahi event PON di Medan, membangun wilayah elit Medan Baru dan mempelopori pendirian USU sebagai perguruan tinggi kebanggaan rakyat Sumatera Utara.Biarlah ada orang yang bahkan untuk menyebut pun tak bisa, apalagi untuk memahami filosofi Martabe. Tetapi kita hendak mengemukakan secara tegas bahwa Sumatera Utara membutuhkan kepemimpinan panggomgomi, bukan sekadar kepemimpinan parhobasyang cuma menyibukkan diri dengan hal-hal kecil dan sepele, apalagi yang hanya mementingkan packaging dan imaging dari satu ke lain arena.

Distribusi yang adil selalu menjadi hayalan untuk Indonesia zaman baru. Penguasa nasional kerap menunjukkan angka persentase alokasi kue pembangunan untuk Sumatera Utara yang dalam tahun-tahun tertentu memang menduduki peringkat kedua setelah Jawa-Bali, atau nomor wahid untuk luar Jawa. Tetapi jika angka persentase itu diperjelas dalam bentuk angka nominal dan digit-digit rupiah, sangat terasa pembangunan itu tak pernah berkeadilan.

Penguasa Nasional dan lokal sudah terjebak dalam strategi bersama yang terbungkus rapi oleh mitos dan ideologi pembangunan bahwa luar Jawa hanya akan dibenahi jika Jawa-Bali sudah selesai berkemakmuran. Ini adalah kondisi yang memerlukan gebrakan rasional, dan perjuangan itu hanya mungkin dilakukan oleh tokoh dan pemimpin daerah yang tak hanya memiliki keberwibawaan, melainkan juga rasa kecintaan terhadap daerah dengan alasan keadilan dan pemerataan.

Rezim yang saling menggantikan terjebak dalam ideologi kekuasaan baru, yakni sebuah fenomena yang menunjukkan ditempatkannya pengawetan kekuasaan di atas segalanya. Bermodalkan pencitraan belaka, bahkan dinasti dipertegas sebgai pertanda bagi demokrasi baru. Tidak mengherankan urusan rutin yang menjadi favorite hanyalah upaya mempahlawankan diri dalam rentang masa pemerintahan berpola 2-1-2, yang berarti 2 tahun berkonsolidasi sambil menjelaskan identitas rezim, 1 tahun berusaha bekerja berorientasi kerakyatan semu, dan 2 tahun berikutnya hanya dihabiskan untuk membangun citra dan ambil ancang-ancang untuk kembali menjadi penguasa. Sangat menyedihkan nasib rakyat di tangan para penguasa lokal yang hanya memikirkan diri sendiri dan bahkan menyandera daerah untuk tujuan-tujuan yang amat ad hock.

Ijuk di para-para.
Hotang di parlabian.
Na bisuk nampuna hata.
Na oto tu panggadisan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: