'nBASIS

Home » ARTIKEL » KORBAN LEBARAN

KORBAN LEBARAN

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


Kompleksitas permasalahan ekonomi, sosial dan budaya seputar lebaran tidak hanya menyangkut transportase yang tak pernah memadai dan eksploitasi berlebihan atas pasar yang sangat tak manusiawi. Masalah ini bukan sekadar persoalan orang-perorang yang bisa diselesaikan dengan sikap pribadi saja. Wujud gerak kolektif sebuah jumlahan manusia (yang cukup besar) harus dikelola oleh pembijaksana

PADA H+4 Idul Fitri tahun lalu tercatat 587 pemudik tewas akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas) saat mudik dan arus balik. Jumlah lakalantas 3.539, meningkat 48,19% dibanding tahun sebelumnya (2.382 kejadian). Menurut catatan sebuah media ibukota, untuk lebaran tahun ini, hingga tanggal 20 Agustus 2012, dari 3.452 lakalantas telah menyebabkan 529 meninggal dunia, luka berat 837 dan luka ringan 2.829 orang dengan kerugian materi mencapai Rp 5,48 miliar. Angka-angka itu masih berpeluang untuk bertambah hingga arus balik pemudik benar-benar usai.

Karena fakta kecenderungan peningkatan jumlah korban setiap tahun, maka Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Teguh Juwarno menilai perlu penanganan pemerintah yang lebih intens, berkelanjutan, dan menyeluruh. Jika untuk korban teroris yang jumlahnya hanya puluhan, kata Teguh Juwarno, Indonesia menyikapi dengan sangat serius, sampai ada Densus. Menurutnya perlu dipikirkan panitia tetap urusan mudik dari lintas kementerian, dan lembaga yang berkaitan dengan persoalan mudik lebaran itu. Apa-apa saja gerangan titik krusial lebaran yang memerlukan perhatian serius (oleh pemerintah) itu?

Transportase yang Buruk. Lebaran tanpa mudik memang bisa saja. Tetapi bagi kebanyakan orang hal itu selalu tidak mungkin dibayangkan. Itulah yang menyebabkan sebagian (besar) warga masyarakat memilih berjibaku untuk mudik. Memang, pemerintah pun kelihatannya tak berpangku tangan menghadapi fenomena mudik Lebaran ini. Berbagai sarana-prasarana terlihat diperbaiki, walaupun masih terkesan tambal-sulam belaka.

Dalam catatan rekomendasi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk musim mudik tahun lalu ditegaskan bahwa mudik Lebaran itu telah menjadi realitas sosial budaya yang tak terelakkan. Bahkan, aspek spiritualitas pun sejatinya mendukung untuk itu. Seharusnya negara serius melakukan intervensi agar berbagai anomali yang terkait dengan lebaran itu tidak terjadi. Setidaknya ditekan pada titik rasional. YLKI menyorot kewajiban pemerintah untuk menyediakan dan membangun sarana transportasi publik yang masal (khususnya kereta api dan kapal laut). Hal itu dianggap sebagai salah satu cara paling efektif, baik untuk menekan tingginya korban meninggal akibat lakalantas maupun untuk mereduksi borosnya konsumsi bahan bakar.

Lakalantas mengakibatkan dampak serius bagi ahli waris yang ditinggalkan, karena mereka bukan saja berduka, malah jika yang meninggal itu adalah tulang-punggung ekonomi keluarga maka sudah pasti hal itu bermakna ketidak-pastian masa depan atau pemiskinan. Katakanlah, dengan tanpa menghitung berapa sulitnya memperoleh klaim asuransi di Indonesia saat ini, dengan jumlah santunan yang diterima ahli waris yang hanya sekitar Rp 25 juta, tentulah nyaris tidak berarti apa-apa untuk menopang biaya hidup ke depannya (konon santunan serupa di Malaysia dapat mencapai Rp 1,3 miliar dan di Amerika sekitar Rp 3 miliar).

Pasar yang Eksploitatif. Lebaran juga memiliki sisi ekonomi yang sangat kental. Karena itu YLKI mencatat pentingnya memperingatkan para pelaku pasar agar seharusnya tidak melakukan eksploitasi (komersialisasi) berlebihan. Konsumen tentu sangat tak mungkin menghindar berhadapan dengan manuever-manuever pasar di tengah keniscayaan religiousitas dan budaya yang sudah mengakar.

Dalam catatan YKLI (2011) para pemudik secara nasional setidaknya siap membelanjakan (di kampung halaman) minimal sekitar Rp 12-16 triliun dengan catatan jumlah pemudik diperkirakan mencapai 15,7 juta orang. Karena itu jika mudik lebaran tak terhindari dari berbagai anomali dalam bidang ekonomi. Dampak itu pun begitu dahsyat untuk bidang sosial, lingkungan dan budaya. Karena itu mestinya negara dan masyarakat seyogyanya sama-sama berkepentingan untuk mewujudkan perayaan lebaran yang lebih manusiawi, santun, dan bertenggang rasa dalam segala aspek, baik ekonomi, lingkungan, sosial dan juga budaya.

Kembali ke Makna Orisinal. Sebagai siklus tahunan yang senantiasa  datang dan pergi, lebaran berputar tak henti sepanjang zaman. Itu sebabnya lebaran ini juga disebut dengan ‘Id, yang secara lughat (etimologi) bermakna ulangan atau putaran. Namun ketika dimaknai secara lebih mendalam dan lebih sempurna, lebaran dalam ajaran Islam mestinya bukan hanya suatu perputaran atau siklus yang datang berulang. Merujuk pada hakekat makna ramadhan (pertinggian taqwa) mestinya lebaran merujuk pada kata Al Fithr yang terkait sangat erat dengan konsep kesucian pembawaan (Al Fithrah).

Idul Fitri  setiap tahun sebenarnya dapat menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikan diri tentang pembawaan diri yang mestinya fithrah. Semestinya pula berbuah sikap instrospeksi obyektif sehingga hasomalan (habit) kezoliman yang menodai kefithrahan kembali tersucikan. Tak ada lagi korupsi, tak ada lagi kesewenang-wenangan dan ketak-pedulian. Tetapi sudah barang tentu semua itu tidak mungkin diwujudkan jika pelaksanaan ibadah sebelumnya, puasa di bulan Ramadhan yang mestinya arena pembakaran dosa dan pembelengguan setan, hanya sekadar rutinitas semu meski bertabur pernak-pernik syiar.

Penutup. Sama seperti tahun-tahun lalu, tahun ini pun masih tersiar kabar adanya korban sia-sia karena berdesakan dalam antrian mengharap pemberian (zakat dan sadakah) dari para namora jong (the have). Jumlah kebakaran pemukiman juga tidak sedikit menjelang dan saat lebaran. Dengan banyaknya hal-hal yang tak terjawab apalagi yang terkait langsung dengan keselamatan jiwa manusia, sepatutnyalah pemerintah terusik. Terusik bukan berarti harus melarang atau mempebesar sikap bernada menghimbau agar orang tak mudik. Juga tak cukup dengan memberitahu media ancaman-ancaman menggelikan kepada para karyawan yang belum masuk kantor atau masuk namun belum bekerja efektif.

Kompleksitas permasalahan ekonomi, sosial dan budaya seputar lebaran tidak hanya menyangkut transportase yang tak pernah memadai dan eksploitasi berlebihan atas pasar yang sangat tak manusiawi. Masalah ini bukan sekadar persoalan orang-perorang yang bisa diselesaikan dengan sikap pribadi saja. Wujud gerak kolektif sebuah jumlahan manusia (yang cukup besar) harus dikelola oleh pembijaksana. Mereka tak cukup menunjukkan apresiasi lebaran dengan open house di rumah jabatan yang semua orang tahu itu cuma satu cara menonjolkan ketokohan diri yang sebetulnya belum tentu sehebat perasaan yang dipersepsikannya tentang dirinya. Masalah mudik lebaran adalah masalah publik. Masalah Nasional. Karenanya tak berlebihan Teguh Juwarno meminta perhatian serius dari pemerintah.

Mudik itu penting, jika tahu makna strategisnya. Sungguh.

\Diterbitkan pertamakali oleh Harian Waspada, Kamis 23 Agustus 2012, hlm B5.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: