'nBASIS

Home » ARTIKEL » World Economic Forum Vs World Social Forum) Pertarungan Wacana Globalisasi Ekonomi

World Economic Forum Vs World Social Forum) Pertarungan Wacana Globalisasi Ekonomi

AKSES

  • 545,455 KALI

ARSIP


Oleh I Wibowo

Senior Fellow “Cindelaras Institute for Rural Empowerment and Global Studies”

ANDA pasti termasuk orang yang sudah pernah membaca buku laris tulisan Thomas Friedman, The Lexus and the Olive Tree (2000). Setelah membacanya, Anda pasti tidak henti-hentinya memuji buku itu. Anda pasti merasa bahwa inilah buku yang memberikan jawaban final terhadap keruwetan ekonomi di Indonesia saat ini. Wartawan New York Times itu memang pandai menulis. Tidak heran ia mendapatkan hadiah Pullitzer, hadiah tertinggi untuk wartawan.

DENGAN gaya bahasa yang lincah, jelas, dan bening, dikatakan bahwa seluruh dunia ini akan makmur kalau semua negara di dunia ini mau saling membuka perbatasannya. Barang- barang dapat keluar dan masuk dengan bebas, begitu juga investasi. Bukan hanya itu. Perdagangan dan investasi internasional juga akan membawa perdamaian dunia. Negara-negara memilih untuk tidak berperang karena ekonomi mereka terkait satu sama lain. Dengan amat provokatif, Friedman mengatakan bahwa negara-negara di mana terdapat gerai McDonald’s tidak saling menyerang! Inilah hukum yang dinamakan Golden Arches. Logikanya memang memikat: free trade plus free market menghasilkan kemakmuran plus perdamaian.

Apa yang diterangkan Friedman sesungguhnya berdasarkan sebuah teori, yaitu teori liberal. Teori liberal dapat dikatakan teori yang paling optimistis mengenai terciptanya kemakmuran dunia. Mereka berpendapat bahwa struktur pasar internasional saat ini akan dapat membawa kemakmuran yang dicita- citakan. Dunia memang terbagi antara “negara-negara berkembang” dan “negara sedang berkembang”. Meski demikian, di antara keduanya tidak perlu terjadi antagonisme. Keduanya dapat bekerja sama untuk menciptakan kemakmuran dunia.

Masalah yang bisa timbul menurut pendukung teori liberal adalah kelemahan yang terkandung dalam berbagai faktor produksi, terutama modal (capital) dan tenaga kerja (labour). Cara untuk mengatasi masalah ini ada tiga: perdagangan, investasi asing, dan bantuan asing. Perdagangan, menurut pandangan mereka, dapat bertindak sebagai mesin pertumbuhan. Ia mendorong terjadinya spesialisasi sesuai dengan comparative advantage, yang dengan perdagangan internasional akan meningkatkan pendapatan. Spesialisasi dan perdagangan dari produk yang sesuai dengan faktor kekayaan nasional akan dapat menimbulkan alokasi sumber daya secara lebih efisien.

Spesialisasi semacam itu penting bagi negara yang belum berkembang karena negara-negara itu pada umumnya hanya mempunyai pasar domestik yang kecil. Tambahan pendapatan dapat ditabung, dan tabungan ini dapat dipakai untuk memacu pembangunan lewat domestic expenditure untuk menaikkan produksi atau untuk mengimpor capital equipment.

Teori ini juga memandang perdagangan luar negeri sebagai suatu hal yang mempunyai efek terhadap pembangunan. Lewat perdagangan dapat diperoleh mata uang asing dan barang-barang material yang diperlukan untuk pembangunan. Perdagangan menyebarluaskan teknologi serta keterampilan manajerial. Selanjutnya, perdagangan juga mendorong masuknya modal lewat investasi internasional serta memacu terjadinya kompetisi. Investasi asing dilihat sebagai hal yang dapat membawa keterampilan manajerial dan teknologi yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas.

Bantuan asing dari negara maju diberikan tidak lewat hubungan pasar. Ia diyakini dapat mengisi kekurangan akan sumber daya di negara sedang berkembang. Misalnya, bantuan asing dapat menyediakan modal, teknologi, dan pendidikan. Pendek kata, semakin membuka diri ke dunia luar, semakin makmur dan tidak ada pertikaian. Friedman terang-terangan mengejek orang-orang yang masih terikat pada “pohon zaitun” (olive tree), yaitu desa, tanah kelahiran, negara, suku, dan sebagainya. Mempertahankan pohon zaitun tidak ada gunanya di zaman globalisasi sekarang, lagi pula hanya menghasilkan peperangan dan konflik yang membawa derita.

AKAN tetapi, teori liberal dikritik oleh teori marxis. Teori marxis mengambil posisi yang berseberangan mengenai sistem pasar internasional. Sistem kapitalis internasional dipercayai oleh para marxis tidak akan menghasilkan distribusi yang merata. Negara-negara sedang berkembang itu miskin karena sejarah menempatkan mereka pada posisi subordinate dan kondisi ini bertahan terus sejauh mereka menjadi bagian dari sistem kapitalis internasional itu. Sistem pasar internasional pada dasarnya ada di bawah kendali dari negara-negara berkembang dan karena itu cara kerjanya menimbulkan kerusakan pada negara sedang berkembang. Atau secara kasar dikatakan bahwa operasi pasar internasional memungkinkan negara berkembang untuk mengeksploitasi kekayaan ekonomi dari negara yang sedang berkembang.

Perdagangan antara negara berkembang (Utara) dan negara sedang berkembang (Selatan) adalah hubungan tukar- menukar yang tidak setara karena pasar internasional yang ada di bawah kontrol negara-negara maju saat ini menyebabkan merosotnya harga bahan mentah yang dihasilkan oleh negara-negara Selatan dan meningkatnya harga produk industri yang dihasilkan oleh negara-negara Utara. Yang disebut terms of trade ini memang merugikan negara Selatan. Lebih parahnya, perdagangan internasional justru mendorong negara-negara Selatan untuk memusatkan diri pada bentuk produksi yang terbelakang yang sulit akan mendorong terjadinya pembangunan.

Investasi asing semakin menimbulkan hambatan dan distorsi bagi negara- negara Selatan. Mereka memegang kontrol atas industri lokal yang paling dinamis dan mengeruk surplus ekonomi dari sektor ini dengan cara repatriasi keuntungan, royalty fees, maupun lisensi-lisensi. Menurut teori marxis, jelas terjadi aliran modal ke luar dari Selatan ke Utara. Tambah lagi, investasi asing dapat menimbulkan pengangguran karena mereka mendirikan pabrik- pabrik yang padat modal. Akibatnya, terjadilah distribusi pendapatan yang semakin tidak merata, menggusur modal lokal dan pengusaha lokal. Akibat yang tidak kalah menakutkan adalah terjadinya produksi yang berorientasi untuk ekspor saja dan karena itu dihasilkan pola konsumsi yang tidak aneh.

Teori marxis mengkritik sistem keuangan internasional. Perdagangan dan investasi mencabut modal dari Selatan dan memaksa negara-negara Selatan meminjam dari institusi keuangan Utara, baik swasta maupun publik. Namun, debt service dan pembayaran utang mengakibatkan terkurasnya kekayaan mereka.

Bantuan asing ternyata tidak membantu sebagaimana sering diyakini. Bantuan asing malah memperparah distorsi pembangunan negara-negara Dunia Ketiga yang diperintahkan untuk menggalakkan investasi asing dan perdagangan internasional. Akibatnya, tujuan pembangunan sejati terlupakan, yaitu kesejahteraan seluruh bangsa.

Teori marxis menunjukkan bahwa dalam kerangka sistem perdagangan internasional ini, di tiap-tiap negara berkembang muncullah kelas yang menjadi “client” dari negara berkembang. Elite lokal yang demi kepentingan diri mereka sendiri ingin melanggengkan kekuasaan mereka dengan senang hati bekerja sama dengan elite kapitalis internasional. Kerja sama seperti ini yang melanggengkan sistem kapitalis internasional.

ADA teori lain yang juga mengkritik teori liberal. Seperti halnya teori marxis, teori strukturalis berpendapat bahwa struktur pasar internasional melanggengkan keterbelakangan dan ketergantungan, dan pada akhirnya mendorong ketergantungan negara sedang berkembang kepada negara berkembang.

Sebagai seorang strukturalis, Gunnar Myrdal mengatakan bahwa pasar cenderung untuk menyukai kelompok orang atau negara yang telah memiliki sumber kekayaan. Sebaliknya, ia akan mengempaskan yang belum berkembang. Perdagangan internasional yang tidak beraturan dan juga gerakan modal yang bebas akan memperparah ketimpangan internasional.

Pasar internasional yang berat sebelah seperti ini, menurut kelompok strukturalis, bertumpu pada ketimpangan yang ada dalam perdagangan internasional. Perdagangan tidak bekerja sebagai mesin pertumbuhan, tetapi malah memperlebar jurang antara negara berkembang dan negara sedang berkembang.

Pertama, ini terjadi karena terms of trade yang merosot terhadap negara sedang berkembang. Permintaan akan ekspor produk primer yang berasal dari negara berkembang tidaklah elastik, kecuali itu kompetisi pasar internasional menyebabkan harga dari produk-produk itu semakin murah.

Kedua, struktur monopoli negara-negara berkembang dan meningkatnya permintaan akan barang-barang jadi menyebabkan naiknya harga produk industri dari negara berkembang. Jadi, dalam kondisi pasar yang normal, perdagangan internasional sebenarnya memindahkan pendapatan dari negara sedang berkembang (Selatan) ke negara berkembang (Utara).

Perdagangan internasional, menurut kelompok strukturalis, membawa efek negatif terhadap pembangunan sebuah negara. Spesialisasi yang dijalankan oleh negara-negara berkembang pada ekspor barang-barang yang sudah ketinggalan tidak dapat mendorong perekonomian negara itu. Ini bertentangan dengan pendapat teoretisi liberal, tentu saja. Sebaliknya, perdagangan menciptakan sektor ekspor yang advanced yang hanya kecil atau malah tidak menimbulkan efek pada ekonomi. Dengan kata lain, perdagangan menimbulkan dual economy dalam sebuah negara, sektor yang diperuntukkan ekspor yang sudah maju dan ekonomi pada umumnya yang belum maju.

Penanaman modal asing juga melahirkan situasi berat sebelah. Investor asing pada dasarnya menjauhi negara sedang berkembang. Kalau toh mereka datang ke negara berkembang, mereka hanya mengarahkan diri pada sektor ekspor, dan karena itu makin memperparah dual economy dan efek negatif dari perdagangan. Tambah lagi, investasi asing dapat mendorong mengalirnya keuntungan ke negara maju.

Sekilas tampak tidak ada perbedaan antara teori marxis dan teori strukturalis. Perbedaan di antara keduanya terletak dari pandangan mereka tentang sistem kapitalis internasional. Kelompok strukturalis masih percaya bahwa sistem kapitalis internasional dapat direformasi. Karena itu, industrialisasi dapat diubah setelah pasar internasional diubah dan industrialisasi itu sendiri akan mempersempit jurang antara negara berkembang dan negara sedang berkembang. Kelompok Marxis tidak yakin bahwa sistem kapitalis internasional dapat diubah. Ini disebabkan negara-negara berkembang tidak mau mengubah sistem itu. Perubahan hanya mungkin lewat revolusi. Sistem kapitalis internasional yang ada dihancurkan dan diganti dengan sebuah sistem internasional yang lebih adil.

MELIHAT begitu tajamnya perbedaan pandangan antara kubu teori liberal di satu sisi dan kubu teori marxis dan teori strukturalis di sisi lain, pertarungan di antara keduanya tidak terelakkan. Yang menarik, pertarungan ini tidak hanya dibatasi oleh dinding ruang kuliah dari universitas-universitas, tetapi ke luar dari sana dan masuk ke dalam dunia bebas. Pertarungan berubah menjadi pertarungan antara kelompok pendukung institusi internasional yang mendukung teori liberal/neoliberal dan kelompok penentang yang anti.

Kasus yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1993 membuktikan hal ini. Untuk menjamin bahwa Kongres Amerika Serikat akan meratifikasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), para pengusaha swasta di Amerika membangun yang disebut Alliance for GATT NOW. Aliansi ini bekerja keras mendekati redaksi-redaksi surat kabar di seluruh Amerika dan juga mendekati anggota Kongres agar mendukung Uruguay Round. Aliansi ini berhasil menggalang tidak kurang dari 200.000 pengusaha besar maupun kecil.

Tidak berhenti di situ, aliansi ini juga menyebarkan kertas dan pamflet yang memuat angka-angka statistik. Mereka juga memasang iklan di berbagai surat kabar besar dan televisi nasional. Agar argumen mereka tampak canggih dan ilmiah, dalam pamflet itu diberi catatan: “didukung oleh mantan pejabat perdagangan, 40 gubernur, dan mantan presiden, dan 450 ekonomi kondang”. Aliansi itu menamai GATT sebagai A Home Run for America, dan mengatakan bahwa GATT akan memacu ekspor Amerika maupun pertumbuhan ekonomi, menciptakan jutaan lapangan kerja bagi Amerika, melindungi hak kekayaan intelektual Amerika, dan menjamin bahwa pesaing-pesaing Amerika akan “bermain menurut aturan yang juga kita patuhi”.

Dalam pamflet itu juga terdapat sebuah foto dari dua senator, Smoot dan Hawley, yang pada tahun 1930 berhasil membuat Amerika menerbitkan undang- undang yang amat proteksionis. Lalu ditulis: History has not been kind to those in Congress who embrace protectionism dan meminta anggota Kongres untuk “remember these fellas when you vote on GATT”.

Dalam koran terbesar Amerika, New York Times, dilaporkan tiga wawancara dengan tiga ekonom terkenal: Paul Krugman dari MIT, Sherman Robinson dari Universitas California di Berkeley, dan Gary Hufbauer dari Institute for International Economics. Dengan uraian yang padat dan memikat diterangkan keunggulan perdagangan bebas dan bahwa ia akan menghasilkan positive- sum world. Artikel ini memang yang terbaik yang menguraikan kehebatan ekonomi liberal/neoliberal, tetapi ia cuma satu dari banyak artikel lain yang tersebar di beberapa koran di Amerka. Konon tidak kurang dari 50 koran mendukung GATT-WTO, termasuk di sini koran dengan oplah nasional, seperti Washington Post, USA Today, Wall Street Journal, dan Journal of Commerce.

Di New York Times dimuat lembaran tambahan yang memuat komentar para pejabat pemerintah, pengusaha manufaktur, dan kelompok konsumen. Semuanya menekankan keuntungan perdagangan bebas. Halaman depan New York Times mulai dengan sebuah mantra: “Free trade means growth. Free trade means growth. Free trade means growth. Just say it fifty more times and all doubts will melt away”.

Pada 1 Desember 1994, ketika diadakan pemungutan suara di Kongres Amerika, ratifikasi WTO mendapat dukungan suara yang nyaris mutlak. Yang menarik, dukungan suara ini lebih besar dibandingkan dengan dukungan suara yang diberikan untuk ratifikasi pendirian NAFTA, perjanjian perdagangan bebas dengan Meksiko dan Kanada.

NAMUN, ketika para pendukung WTO merasa aman, pecah The Battle of Seattle yang tak dinyana- nyana itu. Ketika itu, Desember 1999, di Seattle (sebuah kota di ujung barat laut Amerika) tengah diadakan konferensi WTO. Panitia penyelenggara tidak menduga bahwa ribuan orang dari berbagai golongan dan kelompok orang berkumpul di kota yang terkenal paling indah di Amerika Serikat dan memblokir jalan-jalan menuju ke tempat penyelenggaraan konferensi. Mereka menuduh WTO sebagai biang dari semua kekacauan dan kejahatan dunia: membuat orang miskin makin miskin, membuat pendidikan mahal, membuat lingkungan rusak, membuat buruh kehilangan pekerjaan, membuat kaum perempuan kian tertindas, membuat anak-anak dipaksa bekerja, dan sebagainya.

Kota Seattle berhenti, pusat bisnis berhenti. Konferensi yang dibayangkan akan menjadi pesta yang menyenangkan berubah menjadi ajang pertempuran. Di luar para demonstran menggebu menuju tempat konferensi dan dicegat oleh polisi. Mula-mula tidak ada kekerasan, tetapi lambat laun kekerasan tidak terhindarkan. Tidak ada lagi suasana damai di Seattle, digantikan “suasana perang”.

Konferensi WTO di Seattle gagal total, tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Para menteri perdagangan pulang dengan tangan hampa. Inilah bentuk perlawanan oleh masyarakat sipil paling besar dan paling berhasil. Mereka berhasil menggagalkan konferensi elite tingkat tinggi yang tidak lain adalah koalisi antara pemerintah dan pelaku bisnis.

Pertarungan antara pendukung teori ekonomi liberal dan yang bukan tidak berhenti di sini. Demonstrasi besar senantiasa mengiringi setiap konferensi atau pertemuan puncak yang diadakan oleh tiga lembaga internasional besar, WTO, Bank Dunia, dan IMF. Kecuali itu, demonstrasi besar juga membayangi setiap pertemuan para pemimpin negara-negara kaya seperti G-7. Setelah Seattle, setiap kota yang dipakai untuk konferensi itu pasti dibanjiri oleh demonstran, bukan hanya demonstran lokal, tetapi juga dari seluruh dunia. Maka, sejak tahun 1999 itu kita lihat di layar televisi clash antara demonstran dan polisi di Washington (2000), Hawaii (2001), Genoa (2001), Chiangmai, Thailand (2001), dan sebagainya.

Pihak pendukung teori liberal adalah para pelaku bisnis dan pemimpin negara yang punya uang dan kekuasaan sekaligus. Pihak lawan adalah masyarakat yang didukung oleh sejumlah LSM. Para penganut ekonomi liberal/neoliberal saat ini memang “di atas angin” persis karena merekalah yang mendominasi panggung utama dunia. Mereka tampil di acara-acara gemerlap di sidang-sidang yang diadakan di hotel dan disorot oleh kamera televisi. Foto mereka muncul di koran dan majalah. Sementara para penentangnya ada di luar panggung yang tersedia itu. Mereka tampil sebagai demonstran yang tidak terorganisasi, bahkan memberi kesan kacau. Maka tidak mengherankan bahwa dalam pemberitaan di media massa para demonstran selalu diberi nama “kaum anarkis” atau demonstrasi “antiglobalisasi.”

PERTARUNGAN antara pendukung ekonomi liberal/neoliberal dan yang bukan, menghasilkan dua kubu. Di dunia kini telah dikenal “World Social Forum” sebuah konferensi yang diadakan persis bersamaan ketika diselenggarakan “World Economic Forum”. Yang terakhir ini diadakan di gedung mewah di Davos, Swiss, dan dihadiri para pelaku bisnis dan kepala negara yang merancang rencana menguras kekayaan global, sementara yang pertama diadakan di kota kecil, Pôrto Alegre, Brasil, yang dihadiri individu maupun LSM dari seluruh dunia yang prihatin akan kehancuran dan kesengsaraan global akibat ulah kapitalis global. World Social Forum yang pertama kali diadakan pada tahun 2001 adalah forum untuk aktivis dari berbagai bidang. Dua “forum” yang berbeda yang berdiri berhadap-hadapan, masing-masing dengan pengikutnya.

Kota Pôrto Alegre dipilih karena Partai Buruh Brasil (Partido dos Trabalhadores) berkuasa di kota ini dan juga di negara bagian Rio Grande do Sul. Asal-muasal forum ini tidak bisa dilepaskan dari peran ATTAC Perancis, sebuah koalisi serikat buruh, petani, dan intelektual yang terkenal di Eropa karena penolakannya terhadap globalisasi. Asosiasi yang didirikan oleh Bernard Cassen dan Susan George pada 1989 ini berkampanye diterapkannya “Tobin Tax”, yaitu pajak yang dikenakan pada semua transaksi keuangan spekulatif (James Tobin adalah pemenang hadiah Nobel).

ATTAC memang telah frustrasi dengan gerakan di Amerika Utara yang dikatakan tidak koheren. World Social Forum merupakan jalan ke luar terbaik untuk menggalang orang-orang yang ingin mencari pemikiran alternatif terhadap neoliberalisme saat ini.

Titik perdebatan antara dua kubu meruncing dan mengarah kepada tiga pilar dari sistem ekonomi liberal/neoliberal: World Trade Organization (WTO), World Bank, dan International Monetary Fund (IMF). Orang-orang yang tergabung dalam World Economic Forum memandang tiga organisasi multilateral itu sebagai “kunci” sukses dari sistem ekonomi liberal. Dunia akan semakin makmur dan sejahtera karena bantuan dari tiga organisasi itu yang menjalankan supervisi. Sementara mereka yang ada di dalam World Social Forum mengkritik habis kehadiran tiga institusi tersebut. Tokoh-tokoh seperti Walden Bello bahkan mengatakan bahwa tiga institusi internasional itu harus dibubarkan. Kesengsaraan petani dan buruh, kerusakan lingkungan, adalah akibat dari diterapkannya peraturan dan ketentuan yang dibuat oleh WTO, World Bank, dan IMF.

Siapa yang menang dari seluruh pertarungan wacana ini? Pendukung World Economic Forum mencoba untuk mengakomodasi aktivis dari World Social Forum. Pada pertemuan tahun 2000, World Economic Forum mengulurkan undangan kepada para aktivis dari World Social Forum. Koran New York Times melaporkan peristiwa ini dengan judul berita yang amat mengejek: “From the Streets of Seattle to the Table at Davos” (30 Januari 2000). Pendekatan itu ditiru oleh World Bank dan IMF yang mengadakan pertemuan tahunan di Praha pada tahun 2000. Demikian pula pertemuan WTO di Doha, Qatar, sejumlah LSM yang kritis terhadap organisasi dunia itu diundang sebagai peninjau. Meski demikian, model kooptasi seperti ini pasti tidak menyurutkan para aktivis memperjuangkan pembubaran WTO, IMF, maupun World Bank.

PERTARUNGAN antara mereka yang bergabung dengan “World Economic Forum” dan mereka yang masuk “World Social Forum” ini mengingkari tesis Francis Fukuyama (1989) yang mengatakan bahwa berakhirnya Perang Dingin akan disusul dengan berakhirnya konflik politik di tingkat global dan lahirnya sebuah dunia yang cukup harmonis. Katanya, “Kita akan menyaksikan berakhirnya sejarah: berakhirnya evolusi ideologi umat manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk final pemerintahan yang dihasilkan manusia.” Memang masih akan ada konflik di beberapa negara Dunia Ketiga, tetapi konflik global telah berakhir. “Sejarah telah berakhir,” masa depan tidak lagi dicurahkan untuk berkelahi mengenai ide-ide, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah ekonomi dan teknik.

Walaupun tesis “the end of history” ini sempat mencengangkan banyak orang di seluruh dunia, tesis ini segera mendapat penolakan. Yang paling pertama menolak adalah Samuel Huntington (1996). Dunia tidak akan damai, katanya, karena dunia akan ditandai oleh “pertarungan peradaban” (clash of civilization). Meskipun Perang Dingin telah usai, dunia akan diancam oleh pertarungan tiga peradaban besar: Barat, Islam, dan Konfusian. Banyak orang di Amerika setuju dengan ramalan Huntington ini ketika terjadi peledakan Gedung World Trade Center di New York pada 11 September 2001.

Baik ramalan Fukuyama maupun Huntington belumlah lengkap, bahkan keliru. Memang analis-analis telah menulis di koran-koran mengatakan bahwa “Peristiwa 9-11” telah membuat masalah ekonomi mundur ke latar belakang, digantikan dengan masalah teorisme atau paling jauh masalah keamanan (security). Orang di seluruh dunia disibukkan dengan satu persoalan itu saja.

Tetapi ini terbukti tidak benar. Pada September 2002, misalnya, orang mulai disibukkan lagi oleh masalah ketimpangan global ketika diadakan “Earth Summit” di Johanesburg, Afrika Selatan. Ini disusul pada tahun yang sama oleh “World Social Forum” di Brasil yang konon dihadiri oleh sedikitnya 40.000 orang, empat kali lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Belum lagi sekian ribu protes dan demonstrasi yang terjadi setiap hari di seluruh pelosok dunia yang (sengaja) tidak diberitakan oleh media massa.

Pertarungan dua wacana besar saat ini-kubu World Economic Forum (WEF) dan kubu World Social Forum (WSF)-akan terus mewarnai dunia abad ke-21. Menariknya, pertentangan ini tidak lagi dapat dimasukkan dalam kerangka “pertentangan kelas” ala Marx. Perlawanan para buruh dan petani, kata Anthony Giddens dalam Nation-State and Violence (1985), baru menampilkan satu dari empat medan perlawanan.

Sedemikian besar dan kompleks kerusakan yang ditimbulkan oleh kubu WEF sehingga perlawanan oleh WSF juga mencakup masalah ekologi, masalah antimiliter, dan masalah mempertahankan kebebasan sipil.

Di Indonesia, protes dan demonstrasi semacam ini juga telah mewarnai banyak kota dan desa, tetapi pejabat sering menuduh mereka “komunis,” sebuah tuduhan yang meleset karena basis sosial dari gerakan protes ini jelas bukan kelas dalam arti Marxis.

source: klik disini

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: