'nBASIS

Home » ARTIKEL » MELANCHTON SIREGAR. SIAPA DIA?

MELANCHTON SIREGAR. SIAPA DIA?

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


Dari seribu limaratusan halaman bahan bacaan langka yang “dilahap” oleh sejarawan Ichwan Azhari (Unimed) untuk menyiapkan diri sebagai salah seorang pembicara untuk Seminar tentang mendiang Melanchton Siregar di Medan, Sabtu pekan lalu, ia hanya menemukan nama tokoh ini tak lebih dari 5 kali. Melanchton Siregar memang boleh disebut belum dikenal sejarah (lokal).

Mungkin itu pula sebab dari belasan kali menyebut Melanchton Siregar selama berbicara dalam forum, Ichwan Azhari hanya menyebut secara benar sebanyak dua kali. Lalu para kader ideologis dan generasi penerusnya akan mengusulkan menjadi pahlawan nasional, dengan minimnya data. Juga sekaligus dengan fakta minimnya pengenalan orang kepadanya.

Bisa saja nanti, kata Ichwan Azhari, keinginan menobatkan Melanchton Siregar menjadi pahlawan nasional itu tercapai. Tetapi  betapa aneh kelak “sukses” itu hanya merupakan perjuangan politis belaka, bukan karena kecukupan materi pertimbangan  historis tentang jasa-jasanya yang amat pantas diapresiasi oleh sejarah.

Ichwan Azhari tegas dalam pendirian kajian sejarah bahwa referensi objektif itu mempunyai kriterianya sendiri. Karenanya karya Payung Bangun, dengan tanpa pretense apa pun, untuk kasus ini, karena hubungan keluarga, harus dianggap dalam kategori kurang memadai. Bahkan seorang sejarawan terkenal sekalipun yang menulis tentang dirinya,  di mata ilmu sejarah, hanya dapat dianggap sebagai salah satu sumber informasi dan bukan sejarah itu sendiri.

Jadi, apakah dimensi upaya politis saja yang akan menjadi mainstream bagi upaya penganugerahan gelar pahlawan kepada Melanchton Siregar? Ichwan Azhari menawarkan solusi. Buatlah kajian. Kajian yang mengorganisasikan data dan fakta  apa adanya. Sejarah tidak memiliki kemampuan apa-apa, karena ia hanya berbicara tentang sesuatu apa adanya, dan bukan menciptakan sesuatu sesuai kemauan siapa-siapa.

Melanchton Siregar di Mata “kader” ideologis. Selain Johannes Leimena,  Melanchton Siregar tercatat sebagai pendiri Parkindo (Partai Kristen Indonesia).  Sebelum aktif dalam politik, ia adalah seorang guru lokal (Christelijke HIS Narumonda, 1938-1939). Sebagaimana diketahui, Parkindo adalah partai yang memiliki dukungan yang lebih terkonsentrasi pada kalangan protestan di Indonesia.

Dalam catatan Wikipedia tentang Parkindo antara lain disebutkan demikian: It had considerable influence despite the small number of Christians in Indonesia due to the large numbers of Christians in the civil service, the Army and educational establishments and because of the high profile of party leader Johannes Leimena who served in several Indonesian cabinets and as deputy prime minister”.

Ada degradasi dalam sejarah kepartaian partai agama ini, terutama jika diperbandingkan dua periode pemilu. Pada pemilu tahun 1955 partai ini berhasil meraih 2,6 % suara dengan delapan wakil di legislatif. Tetapi pada pemilu berikutnya tahun 1971, Parkindo mengalami kemerosotan dengan hanya meraih 1,3 % suara. Ini adalah pemilu terakhir sebelum Parkindo bergabung ke dalam Partai Demokrasi Indonesia, sesuai dengan kebijakan fusi oleh pemerintahan Orde Baru (Soeharto) yang hanya member hak hidup bagi tiga partai saja (Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia).

Dimata para kader ideologisnya Melanchton Siregar adalah seorang negarawan yang sangat patriotik dengan catatan penting tentang peran awalnya dalam dunia pendidikan. Memang lembaga misi RMG yang berasal dari Jerman dengan tokoh utama I.L.Nommensen telah cukup lama mendirikan lembaga-lembaga pendidikan sebagai lanjutan pendirian gereja suku Huria Kristen Batak Protestan di Tapanuli (Utara).  Melanchton menjadi satu di antara sejumlah tokoh yang beroleh pencerahan dari jasa missionaries dan gereja itu.

Politisi tua PDI Perjuangan Sabam Sirait merasa patut memberi apresiasi yang tinggi atas perjuangan Melanchton Siregar. Ia menilai, Melanchton adalah sosok yang sangat peduli akan dunia pendidikan.Sabam Sirait tak lupa menegaskan bahwa kendati berkecimpung di dunia politik sebagai salah seorang pendiri Parkindo, namun mantan Wakil Ketua MPRS itu selalu mengedepankan perjuangan dalam dunia pendidikan. Itu dilakukannya untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

Melanchton Siregar lahir tanggal 7 Agustus 1912 di Pea Arung, Humbang, Tapanuli Utara (sekarang Humbanghasundutan). Ia pernah, menjadi anggota DPR Sumatera Timur, Sumatera Utara dan sempat menjadi Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dari tahun 1947 hingga dibubarkan oleh Soekarno. Melanchton Siregar sempat menjadi anggota DPR RI hasil pemilu pertama (1956-1960) dan menjadi Wakil Ketua MPRS tahun 1966-1971.

Melanchton Siregar juga pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1973 hingga meninggal dunia pada tanggal 24 Februari 1975. Tanda jasa yang pernah diperolehnya dari Negara di antaranya Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan pada tanggal 20 Mei 1961 dan Bintang Mahaputera Adipradana kelas II pada tanggal 21 Mei 1973.

Bagi Dr Flip Litaay, Melanchton Siregar adalah seorang yang sangat ihlas dan tanpa pamrih. Ia bahkan tak menemukan catatan pribadi dari Melanchton tentang dirinya sendiri yang akhirnya menjadi cukup sulit bagi generasi berikut mencari tahu tentang segenap jejak perjuangannya. Tetapi bagi Supardan (Universitas Katholik Satya Wacana), Melanchton adalah seorang dengan kepribadian yang kuat dan dengan kemampuan meyakinkan orang. Ini dicatatnya dari sepenggal pengalaman saat mendampingi Melanchton Siregar untuk berbicara kepada kaum intelektual di Jogya (UGM) tentang keniscayaan untuk mendukung Orde Baru yang saat itu dianggap mendapat resistensi luas dari sejumlah kalangan terutama di kalangan berbasis pendukung Soekarno.

Victor Silaen dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) berpendapat agak lain. Baginya pluralitas dan kesediaan menerima apa adanya kompleksitas masyarakat sebagai sebuah kemajemukan alami adalah sesuatu yang begitu penting diapresiasi oleh generasi sekarang dengan merujuk pada pola-pola perjuangan tokoh seperti Melanchton Siregar. Victor Silaen malah tak puas dengan hanya jaminan kebebasan untuk memilih agama dan berpindah agama.  Bagaimana orang diberi kebebasan untuk tidak beragama adalah juga hal penting bagi ilmuan social dari tanah Batak ini.

Penutup. Taufik Abdullah bukan satu-satunya pembicara yang tak semestinya diinterupsi (dalam seminar) karena dianggap melampaui penggunaan waktu dalam seminar yang lebih mementingkan seremoni ini. Tetapi ia dengan santun sempat mengemukakan sesuatu untuk mengawali orasinya. Kita seperti melihat album. Benarkah cukup menarik bagi seseorang untuk melihat sebuah album jika wajahnya tidak ada dalam album itu? Itu gelitik dari Taufik Abdullah.

Dalam kaitan berbicara tentang album nasional, Taufik Abdullah mengisyaratkan urusan-urusan yang amat lokalistik dan mungkin juga sangat primordialistik. Itu tak mengapa, karena dalam peran tokoh-tokoh daerah adalah unsur-unsur yang menjadi bahan dasar untuk sebuah kerangka nasional.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: