'nBASIS

Home » ARTIKEL » PEMIMPIN INDONESIA YANG AKAN DATANG

PEMIMPIN INDONESIA YANG AKAN DATANG

AKSES

  • 538,914 KALI

ARSIP


Pertanyaan Indonesia ke depan bukanlah pada kapabilitas pemimpin. Tetapi lebih pada integritas. Tetapi, bagaimana integritas dapat dihargai oleh mekanisme yang meniscayakan keterpilihan melalui demokrasi “danga-danga” yang tak substantif? Menangislah untuk Indonesia.

Beberapa bulan lalu sebuah forum diselenggarakan oleh komunitas mahasiswa di Bandung. Salah satu topik yang dibahas ialah kriteria pemimpin pasca SBY-Boediono, atau  mencari sosok pemimpin pengganti SBY-Boediono. Komunitas mahasiswa ini kelihatannya sedang berusaha mengkonstruksi panduan objektif untuk menjawab masalah kepemimpinan nasional. Mereka tentu bukan tidak tahu tentang figur-figur yang sudah mempromosikan diri dengan berbagai cara, atau dipromosikan oleh berbagai kalangan khususnya partai politik. Berbagai model perkampanyean yang digelar dengan pilihan berbagai media serta kreativitas yang beraneka, rupa-rupanya tidak membuat mahasiswa itu serta-merta nrimo.

Keluhan Kebangsaan.  Dalam setiap transisi (dari agraris ke industrial, dari tertutup ke terbuka, dari militeristik ke sipil, dan sebagainya), akan ada tidak saja ruang tetapi juga waktu yang menunjukkan pengisian peran-peran dari tidak saja individu, tetapi juga institusi, yang berusaha mengadaptasi diri dan bahkan dapat terlihat dominan dalam saling bentur. Adaptasi bisa bergerak ke dua arah, memang, dan itu lazim. Karena dalam setiap transisi akan ada orang dan institusi yang diuntungkan dan sebaliknya. Maka kontradiksi-kontradiksi tidak bisa dinafikan. Itu sudah lumrah. Teori prismatic society yang dibangun oleh Riggs sedikit banyaknya bercerita tentang itu.

Pada umumnya puncak-puncak peradaban dunia pun lahir dengan proses perbenturan seperti ini. Teori-teori besar dan tokoh-tokoh pencetus yang menjadi legendaris dan tidak terpatahkan pengaruhnya sampai hari ini diyakini juga muncul dari mekanisme ajeg seperti itu. Mengacu pada teori prismatic society dari Riggs, kelihatannya Indonesia terbentur dan sangat kesulitan dalam mendudukan peran Negara terutama dalam kaitannya dengan makan terpentingnya bagi rakyat. Perbenturan nilai-nilai lokal dan nasional di satu pihak dan upaya-upaya adopsi gagasan-gagasan luar diupayakan untuk keserasian sedemikian rupa meskipun tak semuanya berjalan sesuai keinginan.

Agenda bangsa dalam transisi ini juga tak lepas dari upaya terus menerus mengkonsolidasikan diri sebagai sebuah bangsa yang jika ditelaah lebih mikro juga penuh dengan kemungkinan ketidak-cocokan di antara para stakeholdernya. Keadilan dan kemakmuran yang terbagi tak merata dan akses untuk progresivitas selalu menjadi isyu krusial yang menentukan ketahanan nasional bangsa itu. Pemimpin-pemimpin mereka tampil silih berganti dalam kategori-kategori yang tak seragam. Akan ada idola untuk dijadikan legenda sepanjang masa. Tetapi peluang kemerosotan kenegarawan selalu mengancam kepemimpinan bangsa ini hingga tak jarang sebuah terus-menerus berada di bawah kepemimpinan yang tak setia kepada rakyat karena kenikmatan berkuasa.

Saya yakin, itulah kerangka berfikir kelompok mahasiswa yang menyelenggarakan forum itu. Sebuah ketakpuasan yang diekspresikan dalam keluhan wajar. Untungnya, mereka masih sangat sehat berfikir dan karenanya mengajak Indonesia mencari solusi bersama.

Solusi Konsepsional. Marilah kita lihat Indonesia masa lalu, masa kini dan masa depan. Saya tawarkan variable-variable berikut. Pertama,    Identitas bersama yang sarat nilai (baik yang bersumber dari nilai-nilai primordial, nilai sakral, nilai personal maupun nilai sipil), yang dibarengi dengan pengukuhan oleh norma dan pembangunan simbol-simbol ekspresif. Kita dapat memperbandingan bekerjanya semua unsur-unsur itu dalam catatan sejarah, misalnya bagaimana identitas sakral dan politik begitu penting dalam membangun Israel kuno, bagaimana konsepsi Kristianitas, identitas dan tatanan politik,  sekaligus menjadi citra umum dalam sejarah  Roma, bagaimana landasan agama menjadi sebuah model nasionalisme modern di Iran, Idiologi dan identitas yang selalu diperkuat baik di Eropa, Amerika, Asia maupun Afrika. Indonesia sangat tak mungkin dipisahkan dari pentingnya peran agama dan konsolidasinya dalam menata keserasian dinamis tanpa terkendala oleh dominasi mayoritas yang melindungi minoritas.

Kedua, pengorganisasian alat-alat kekuasaan yang efektif  sekaligus mengharuskan kita belajar lagi lebih banyak tentang konsep kekuasaan politik, tipe-tipe sumberdaya politik (fisik, ekonomi, normatif, personal dan keahlian) serta penggunaan kekuasaan politik. Kekuasaan yang secara gamblang kerap dipastikan tend to corrupt (cenderung korup) tak jarang membuat suatu bangsa dan Negara berkesudahan dengan duka di tangan rezim yang tidak amanah, terlepas apa bahasa apologi dari rezim itu kepada rakyatnya dan kepada dunia. Ada parameter-parameter objektif yang secara konsepsional tadinya dimaksudkan untuk assesment jujur terhadap keadaan, namun begitu mudah dimanipulasi untuk berbicara bagi kepentingan lain. Ada keadilan objektif dan ada penderitaan subjektif. Di antara keduanya begitu sulit dicari titik perdamaian, pun di antara keadian objektif dan keadilan subjektif. Tidak ada orang yang bersedia untuk disabarkan agar terus-menerus menderita, sedangkan yang lain diterima saja penuh kenikmatan. Indonesia berusaha mengantisipasinya sejak awal dengan mementingkan keadilan di atas kemakmuran. Adil dan makmur. Bukan sebliknya, makmur dan lalu adil.

Ketiga, penegakan wewenang yang sah. Dalam prosesnya variable ini telah mengantar Indonesia sebagai salah satu murid terakhir demokrasi dunia tanpa substansi. Paling tidak untuk hari ini, Indonesia hanya tahu prosedur tetapi gagal memahami nilainya. Kerena itu perlu dipelajari sungguh-sungguh konsep wewenang politik, sikap-sikap terhadap wewenang, legitimasi, serta konsekuensi-konsekuensi politik dari legitimasi. Jangan ada yang menganggap wewenang menjadi keniscayaan untuk hak-hak khusus yang aneh yang memicu ketidak adilan dan ketidak-jujuran.

Keempat, produksi barang dan jasa. Adalah fakta yang sulit dibantah bahwa Indonesia belum memiliki desempatan menerapkan sendiri model-model hubungan antara sistem politik dan ekonomi. Itu karena Indonesia lebih mungkin melakukan sesuatu kebanyakan bukan karena kemauannya melainkan karena ketergantungannya kepada dikte asing. Fungsi-fungsi pemerintahan dalam ekonomi dan kebijakan-kebijakan ekonomi sesungguhnya harus ditata sedimikian rupa dengan belajar banyak kepada guru yang lain.

Penutup. Keyakinan-keyakinan politik, struktur-struktur politik, rekrutmen orang-orang amanah dan kebijakan yang adil amat perlu difurifikasi mengawali semua langkah. Kita ingin politik hanyalah sebagai artikulasi kepentingan publik. Kita ingin terwujud pola pengoperasian negara yang terbaik. Kita ingin kebijakan selalu didasarkan pada asumsi pemihakan yang kuat atas kesejahteraan rakyat. Singkatnya, kita ingin memanusiakan marusia Indonesia, membangsakan bangsa Indonesia dan menegarakan negara Indonesia dalam aktualisasi diri yang optimum.

Dengan segala penghormatan atas ketinggian segala macam pola pikir dan budaya nusantara, saya ingin tegaskan bahwa ramalan Joyoboyo akan mengantar kita ke sebuah permusuhan dengan urusan-urusan aktual yang menjadi kewajiban kita hari ini. Berdirilah secara realistis, fahami ketertinggalanmu, beri penyadaran kepada rakyatmu dan berpuasalah dari korupsi dengan memulai hidup sederhana. Ini bukan sebentuk negasi atas nilai-nilai leluhur bangsa, melainkan ketercerahan dengan kesiapan meninggalkan segala sesuatu yang semestinya sudah terkubur oleh masa.

Pertanyaan Indonesia ke depan bukanlah pada kapabilitas pemimpin. Tetapi lebih pada integritas. Tetapi, bagaimana integritas dapat dihargai oleh mekanisme yang meniscayakan keterpilihan melalui demokrasi “danga-danga” yang tak substantif? Menangislah untuk Indonesia.

Shohibul Anshor Siregar. Diterbitkan pertamakali oleh Harian Waspada, Kamis, 20 September 2012, hlm B7

Advertisements

2 Comments

  1. […] Pemimpin Indonesia yang Akan Datang […]

  2. […] Pemimpin Indonesia yang akan Datang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: