'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANAK-ANAK YANG MALANG

ANAK-ANAK YANG MALANG

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Pejuang ini Gadis Kecilmu
Kau sebut siapa nama gadis kecil ini? Ia anak gadismu bukan? Iya, dia gadis kecilmu, karena ia putri Indonesia.  Lalu mengapa kau timpakan beban seberat itu kepada putrimu ini? Jangan menyesal jika nanti saat dewasanya ia tak tahu cara menghargaimu karena hal itu tak pernah kau sosialisasikan kepadanya.

KETIKA foto  di atas saya upload disertai sedikit catatan pada dinding akun facebook saya sore ini, segera saya mendapat komentar. Di antaranya dari Hasrat Effendi Samosir, seorang kandidat doktor di Medan. Hasrat Effendi Samosir mengingatkan hak-hak normatif anak yang mestinya dipenuhi. Kini masa bermain yang sangat penting buat anak itu, mestinya ia tak boleh kehilangan.

Foto ini saya buat usai sholat lohor siang ini di mesjid kampus B Universitas Airlangga, Surabaya. Saat menunaikan sholat Jum’at kemaren di Mesjid ini, ada sebuah kejadian yang menimpa teman saya. Ia kehilangan sepasang sepatunya bermerk. Sebelum melanjutkan aktivitas, saya terpaksa mengantar teman saya itu untuk mencari sepasang sepatu pengganti. Namun sebelum itu ia teringat bahwa isterinya membekaalinya 2 pasang sepatu, dan itu yang akhirnya dipakai. Jadi tidak membeli sepasang yang baru.

Saat memasuki mesjid ini untuk sholat lohor siang ini, teman saya masih bercerita tentang kejadian yang menimpanya. Saya cepat memotong dengan berucap: “ihlaskan saja itu, harus dianggap sadaqah”. Nah, seseorang seperti teman saya yang kehilangan sepasang sepatu tentulah masih sangat jauh di bawah duka orangtua yang karena kemiskinannya terpaksa membiarkan anaknya menjual koran.

Terpaksa. Terhadap status yang saya buat pada dinding facebook saya, rupanya sudah ada seorang pemberi komentar lainnya, Nesya. Saya lihat ia tak ingin mengarahkan tuduhan dan tanggung jawab kepada setiap orangtua miskin yang oleh karena kemiskinannya anak-anak mereka terpaksa berjuang meneruskan kehidupan di pasar yang keras. Begini kata Nesya:

Nesya rasa ndak ada orang tua yang menginginakan anaknya menjadi loper koran. Jika mereka kaya, mereka akan menyekolahkan anak mereka setinggi-tinggiya. Mereka akan membiarkan dan memberikan anaknya permainan yang mendidik dan pastinya membuat mereka mampu berfikir. Sayang, kehidupan terlalu keras sehingga mengalahkan keinginan mereka. Mungkin jika sehari mendapat Rp 10.000,- saja sudah syukur.  Sekarang kita yang merasa mampu, apa yang bisa dilakukan untuk mereka yang kekurangan?

Saya sangat sepakat dengan Nesya. Ketimbang menyalahkan orang-orang yang menderita karena kemiskinan struktural ini, bukankah lebih baik bagi orang yang memiliki kemampuan untuk menunjukkan kepeduliannya dengan langsung? Anda mungkin sependapat dengan Nesya dan saya, bukan?

Besaran Masalah. Beberapa bulan lalu Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengatakan bahwa jumlah anak telantar di seluruh Indonesia kini mencapai sekitar 4,5 juta. Jumlah itu tersebar di berbagai daerah. Pada Kementerian Sosial rupanya anggaran yang tersedia  untuk penanggulangan masalah ini hanya sebesar Rp281 miliar. Konon iyu hanya cukup untuk menanggulangi sekitar 175 ribu anak saja.

Ungkapan klasik pun keluar dari Mensos. Siapa pun tahu bahwa untuk mengatasi kemiskinan, anak telantar, dan anak jalanan diperlukan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh komponen lainnya. Adalah klise pula dan sudah diketahui oleh semua orang bahwa eksploitasi terhadap anak  oleh orang tuanya sendiri (jika bahasa ini dapat digunakan) pasti akan menyebabkan pertumbuhan anak terganggu.

Mungkin apa yang dikemukakan oleh Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Asrorun Ni’am Sholeh benar adanya. Dalam Dialog Ramadhan dan Mudik Ramah Anak ia memaparkan langkah kongkrit dalam rangka menjawab persoalan anak jalanan. Katanya, “salah satu di antara langkah yang diperlukan ialah mengajak masyarakat, seperti BAZNAS, LAZ, BAZ dan individu muzakki memprioritaskan alokasi distribusi untuk kepentingan anak jalanan. Kemudian, perlunya kampanye besar-besaran pentingnya perlindungan anak dalam bahasa agama”.

Tetapi semua teriakan ini akan berhenti seketika jika pemerintah benar-benar meningkatkan daya tanggapnya. Juga peristiwa kehilangan sepasang sepatu seperti dialami oleh teman saya akan segera berkurang. Berhenti korupsi dan segera memusatkan kemampuannya untuk mensejahterakan Indonesia. Itu rumusnya saya kira. Bagaimana jika pemerintah enggan? Itu yang tak saya temukan rumusnya.


2 Comments

  1. Hellowwww, aku dah baca neh Mas.🙂

  2. benar, sebaiknya mulai dari diri sendiri untuk membantu tanpa harus menyalahkan siapapun yang dianggap bertanggung jawab..

    ‘nBASIS: benar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: