'nBASIS

Home » ARTIKEL » Singgah sejenak di RUMAH RAMINTEN

Singgah sejenak di RUMAH RAMINTEN

AKSES

  • 556,237 KALI

ARSIP


Inilah sebuah restoran ala Jawa yang didesign dengan perpaduan konsep modernitas berbasis keramah-tamahan dan kemurahan tarif.  Suasana Jawa tak cuma terlihat dari ornamen dan benda-benda lama yang dipajang seperti kreta kencana.  Lesehan di atas panggung diiringi musik Jawa, cukup menandakan ini memang Jogjakarta. Raminten penari terkenal itu pemiliknya.

Saya sedikit cemas sambil berhitung begitu tiba di depan House of Raminten. Pasalnya, setelah membelajakan jutaan rupiah untuk bahan bacaan di pusat perdagangan buku shopping centre, seingat saya uang yang tersisa paling sekitar Rp 300.000. Mana cukup untuk biaya makan 3 orang di restoran semegah dan meriah ini? Mobil dan kenderaan roda dua memenuhi sisi kanan dan kiri jalan utama di depan restoran, ditambah lagi dengan ruas jalan lain di sisi lainnya. Ini pasti restoran kaum elit Jogja. Bukan kelas kita lagi, begitu pikiran saya.

Tetapi setelah melihat menu yang ditawarkan, saya heran luar biasa. Kok ada menu nasi seharga Rp 1000? Cobalah bandingkan dengan harga di tempat lain. Tiga piring nasi goreng telur pedas, setusuk sate telur puyuh, seporsi tempe, segelas wedang Serei bergelas luar biasa panjang, segelas juice aple, segelas wedang rondo konde dan 3 gelas air bening. Harganya cuma Rp 65.000. Kesimpulan saya, dari segi tempat, pelayanan dan menu, restoran ini sangat bersaing. Hanya saja manajemennya menerapkan prinsip untung sedikit-sedikit dari orang banyak.

Pantas antrian seolah tak habis-habisnya. Jika musim kompetisi sepak bola bergengsi, begitu tutur Zulfan Siahaan yang sudah bilangan tahun tinggal di kota ini, pengunjung akan lebih banyak lagi. Ada hal yang unik, jika orang ketiduran hingga larut menjelang dini hari, malah diberi selimut. Artinya, seseorang bisa dengan tidak usah menginap di hotel “selamat” di sini dengan hanya memesan makan malam. Restoran ini tak pernah berhenti, alias buka 24 jam.

Antrian Yang Bersabar. Setelah masuk beberapa langkah, Zulfan Siahaan langsung mendekati meja recepsionist dan berucap sesuatu. Lalu saya mendengar ucapan sekadar memastikan yang berbunyi: “pesanan untuk 3 orang atas nama Zulfan Siahaan”. Zulfan Siahaan membalas “njeh, mas”. Di depan recepsionist tersedia kursi tunggu sebanyak 24 buah, yang masih kosong hanya 4 buah dan saya langsung duduk. Tetapi tak lama kemudian Ilyas Nasution, orang asli kelahiran Jogja, masuk setelah memarkinkan mobil. Ia langsung mendekat recepsionist yang segera memberi penegasan dengan kalimat yang tak dapat saya dengar. Lalu kami bertiga pun di antar ke sebuah pojok berisi 2 meja yang dirapatkan sedemikian rupa. Meskipun Zulfan Siahaan lebih faham soal konsep budaya Jawa secara akademis, untuk urusan-urusan lapangan seperti ini rupanya Ilyas Nasution lebih mahir.

Peran recepsionist itu cukup canggih. Menerima dengan ramah tamu-tamu yang baru tiba. Menerima laporan dari para kru lincah tentang jumlah meja yang sudah siap untuk ditempati. Ia juga menerima pesanan lewat telefon dan merumuskan keputusan untuk itu. Ia mungkin mencatatkan pesanan dan memberi tahu kru lain untuk menyediakan tempat sesuai pesanan. Ia juga kelihatan memberi informasi. Semua kru yang berseragam rompi dan jarik berwarna cerah itu tampaknya dibekali alat komunikasi berupa handy talky.  Juga tas sandang yang terbuat dari kulit. Kru perempuan tidak mengenakan rompi, melainkan kemben. Jadi bahu, leher, pundak dan sebagian dada bagian atasnya terbuka. Mereka bekerja dengan pengaturan tugas secara bergantian sehingga raut wajah mereka kelihatan tetap segar dan penuh kerah-tamahan. Pelanggan yang dengan sabar menanti di kursi tunggu bisa terhibur dengan musik yang dikumandangkan atau siaran tv yang dipasang di berbagai sudut dan keindahan hiasan lampu bergelantungan di sana sini ditambah dengan beberapa sinar laser yang sesekali menimpa kreta kencana yang dipajang di bagian depan.

Bayar Duluan. Sewaktu saya masih tinggal di Jogja sekitar pertengahan tahun 1990-an, saya belum pernah mendengar nama restoran ini. Kesimpulan saya, ini restoran baru.  Ilyas membenarkan itu. Melihat bangunan restoran, semula ini hanyalah rumah biasa. Sekelilingnya memang berpagar agak tinggi. Tetapi masih ada kendi di depan rumah sebagaimana dahulu kala setiap halaman rumah orang Jawa memang selalu ditandai oleh adanya kendi berisi air untuk siapa saja yang ingin minum.

Atap yang baru disambungkan ke atap lama sehingga seluruh halaman depan menjadi bagian dari restoran dengan menyisakan beberapa sentimeter utuk ventilasi antara tembok dengan atap bau itu. Ada panggung setinggi kurang lebih 1 meter yang dipasang mengikuti dinding dengan bahan kayu. Tentu jenis kayunya bagus ini, bukan cuma karena tebal. Tadinya rumah ini memiliki halaman samping kurang lebih 6 x 25 meter. Di situlah didirikan bangunan berlantai dua yang keseluruhannya terbuat dari kayu. Ada dua tangga untuk akses ke lantai 2. Di bagian lain malah masih disambung lagi membubung hingga terbentuk lantai 3 dengan kapasitas belasan orang. Di sisi lain dari bangunan kayu lantai 3 ini sudah bersambung dengan rumah induk. Di sana ada wilayah persiapan para kru dan musholla.

Jika di bagian depan didesign untuk lesehan biasa, di bagian belakang sampai lantai 2 dan 3 restoran ini menggunakan sandaran kursi rotan tanpa kaki. Jadi konsepnya tetap lesehan selonjor kaki. Suasana menunjukkan ketenangan dan kedamaian. seolah orang tak didesak untuk memikirkan apa-apa selain menikmati suasana yang menyuburkan imajinasi. Mereka yang berpasangan kelihatannya dapat mempersubur tautan kinasih. Di sebuah bagian dinding terdapat tulisan “Anda Sabar Kami Segan”. Saya pernah membaca himbauan yang berbeda di tempat lain. Begini bunyinya “Anda sopan kami segan”. Nah, perhatikan aksentuasi kuturalnya yang berbeda.

Perbedaan lain yang harus dinikmati di sini ialah keharusan membayar terlebih dahulu. Mengapa? Konsepnya kan orang senang berlama-lama di sini. Jadi restoran tidak perlu lupa soal bayaran meja demi meja yang terisi. Jika pun orang ingin berdiam hingga pagi, silakan asal bayar dulu. Mungkin juga dikandung maksud bahwa soal pamit itu tak penting-penting amat. Pergilah, Anda sudah bayar. Begitukah? Tapi memang asyik kok.

Raminten. Raminten adalah sebuah nama besar untuk olah gerak dan keindahan liuk-liuk tubuh dalam tarian di Jogjakarta. Dialah pemilik restoran ini. Lajang ini bernama asli, kata Ilyan Nasuiton, Hamzah Yusuf. Saat kami berada di restoran ini, seseorang perempuan berusia 60-an terlihat berpamitan dengan seseorang yang mengenakan blankon. Itu dia, itu dia Raminten pemilik restoran, kata Ilyas Nasution. Raminten Hamzah Yusuf tidak sampai mengantar perempuan yang berpamitan itu hingga ke pintu. Saya tak bisa melihat wajah dan perawakannya dengan jalas. Tetapi sangat berbeda dengan foto yang dipajangkan di beberapa sudut ruangan.

Ketika beranjank pulang, Ilyas Nasution menunjuk sebuah rumah gedong yang besar yang terletak di seberang jalan, hadap-hadapan dengan bangunan restoran. Itu rumah yang dibeli oleh Raminten, katanya. Barangkali maksud Ilyan Nasuition adalah rumah yang dibeli sebagai sesuatu yang dihubungkan dengan keuntungan bersih restoran. Saya tak bertanya kepada siapa-siapa di antara mereka yang terkait dengan pengelolaan restoran ini. Padahal saya ingin bertanya banyak, termasuk “apakah zaakat” dibayarkan kepada baitul mal, dan lain-lain. Saya mengurungkan niat untuk bertanya, karena saya lihat semua kru begitu sibuk.

Raminten. Raminten. House of Raminten. Monggo.

Advertisements

2 Comments

  1. emang mantap raminten..harga gak mencekik…

  2. Eva says:

    Have a good day yah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: