'nBASIS

Home » ARTIKEL » TENTARA DAN NEGARA YANG BERUBAH

TENTARA DAN NEGARA YANG BERUBAH

AKSES

  • 556,237 KALI

ARSIP



Berapa perbandingan anggaran militer di sisi PDRB suatu Negara, jelas menjadi sebuah parameter modern yang semua Negara selalu tertatih meraih kondisi ideal dan faktanya lagi lebih banyak yang terjerumus dalam ketergantungan. Militer dan kemiliteran kontemporer adalah juga menjadi salah satu bentuk pengejawantahan kapitalisme

Presiden dan pemimpin tertinggi tentara kita tak lagi berurusan dengan penentuan kolonel mana yang akan ditempatkan menjadi Bupati atau Walikota. Jatah Mayjen mana untuk memimpin Provinsi ini dan itu. Jenderal mana yang harus didudukkan untuk memimpin kementerian, lembaga dan proyek-proyek vital lainnya. Jenderal mana yang harus ditempatkan di Kedutaan Negara sahabat. Itu sudah berlalu. Itu sebuah masa yang pernah mengisi memori kolektif kita tentang konstruksi kekuasaan. Itulah yang disebut dwi fungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Dwi-fungsi ABI) itu. ABRI kita sendiri sudah sejak belasan tahun berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kepolisian pun sudah dipisahkan dengan urusan pokoknya sendiri yang bukan masalah pertahanan.

Asal  Muasal. Konon perkembangan fungsi ABRI sebagai kekuatan sosial politik itu tidak dapat dilepas dari sejarah lahir dan tumbuhnya ABRI dalam perjuangan bangsa Indonesia. Begitulah kita fahami, bahwa ABRI lahir bersamaan dengan meletusnya revolusi rakyat, yang karena itu pula lazim disebut lahir dari anak-anak rakyat sendiri. ABRI lahir dan tumbuh dengan kesadaran untuk kemerdekaan.

Sejarah ABRI diawali dengan angkatan bersenjata perjuangan yang kemudian terbentuk angkatan bersenjata profesional. Alasan-alasan kemerakyatan Inilah sebab pokok mengapa ABRI selalu difahamkan memiliki dua fungsi. Pada satu sisi sebagai kekuatan militer (pertahanan dan keamanan), dan ini merupakan alat negara, dan pada sisi lain sekaligus sebagai kekuatan sosial politik. Semua itu dengan sendirinya menjadi potret sejarah ABRI sejak Perang kemerdekaan (1945-1949), zaman demokrasi Liberal (1949-1959), masa demokarasi Terpimpin (1959-1966), masa orde baru (1966-perkembangannya).

Seminar Angkatan Darat II di SESKOAD Bandung tanggal 25 s/d 31 Agustus 1966 membahas 3 permasalahan pokok yaitu stabilitas sosial politik, stabilitas sosial ekonomi, dan kedudukan dan peranan ABRI/TNI-AD dalam revolusi Indonesia sebagai alat revolusi, alat penegak demokrasi dan sebagai alat pertahanan dan keamanan negara(alat revolusi yang bermakna alat perjuangan). Dapat dicatat bahwa dalam seminar TNI-AD ke I (2 s/d 9 April 1965) sebetulnya hal yang sama sudah dibicarakan yang kemudian lebih dikenal dengan doktrin Tri Ubaya Cakti. Dalam doktrin inilah diperdapat rumusan doktrin Dwifungsi ABRI yang antara lain menegaskan bahwa kedudukan TNI-AD sebagai golongan karya ABRI merupakan suatu kekuatan sosial politik dan kekuatan militer. Dia adalah bagian dari kekuatan progresif-revolusioner yang menetapkan sekaligus perannya sebagai alat revolusi, alat demokrasi, dan alat kekuasaan negara.

Dwifungsi ABRI diwujudkan dalam berbagai bentuk yang luas, tidak hanya dengan didudukkannya wakil-wakil ABRI sebagai fraksi tersendiri dalam MPR, DPR, dan DPRD. Fraksi ini tentu lebih menjadi fraksi pengamanan kedudukan pemerintah. Di bidang eksekutuf ABRI juga menyumbangkan prajurit-prajurit terbaiknya untuk melaksanakan tugas negara dan pemerintahan di banyak bidang mulai dari tingkat yang tertinggi samapai yang terendah, di pusat maupun di daerah. Di samping itu ABRI juga menyumbangkan gagasan dan fikirannya berupa konsep-konsep kepada pemerintah. Dengan usaha seperti diatas, maka ABRI sebagai kekuatan sosial politik selalu membantu pelaksanaan program-program repelita untuk mencapai cita-cita.

Perubahan. Demokrasi merambah ke segala penjuru. Negara-negara dengan model-model pemerintahan yang militeristik mendapat ujian berat. Mereka merenung-ulang, kalau bukan diterpa oleh arus perubahan yang dahsyat. Memang gelombang perubahan itu tidak selalu berlangsung mulus. Tetapi hal yang pasti perubahan itu bukanlah sesuatu yang selalu harus genuine dan yang akarnya tak selalu ada pada gerak organik masyarakat.  Nilai-nilai supremasi sipil tidak tumbuh sendirian sebagai independent invention (temuan independen) di sebuah sudut negeri yang jauh dari keramaian internasional.

Meski akan ditolak oleh sebagian orang, apa yang terjadi pada pemerintahan Indonesia dalam episode-episode Orde Baru adalah militerisme. Militerisme itu kurang lebih adalah pemerintahan berdasarkan asumsi dan klaim keterjaminan keamanan pada kekuatan militer. Klaim perkembangan dan pemeliharaan militer untuk menjamin kemampuan Negara dan bangsa untuk mencapai tujuan terpenting masyarakat sama sekali bukan wilayah kompromi di antara warga Negara pada situasi itu. Karena itulah tidak menjadi hal yang aneh dalam penerapannya sistem ini pun memberikan kedudukan yang lebih utama kepada pertimbangan-pertimbangan militer ketimbang  kekuatan-kekuatan politik lainnya. Sebagaimana tercatat dalam pengalaman Indonesia, mereka yang terlibat dalam dinas militer pun mendapatkan perlakuan-perlakuan istimewa dan secara pribadi-pribadi pun merasa wajib diistimewakan pula.

Menurut berbagai kalangan, secara ideologis militerisme terdiri bukan saja keseragaman formal yang ekspresinya bisa dalam bentuk apel kesiagaan, uniform, dan lain-lain. Tetapi militerisme itu lebih pada esensi supremasi, model loyalisme yang khas, juga ekstremisme, dramatisasi proteksionisme-darurat, dan simbolisasi nasionalisme atau bisa juga dalam bentuknya yang lebih sempit yakni pemaknaan patriotisme. Berbagai penyimpangan mungkin saja telah terjadi dan mengorbankan masa depan sebuah Negara meski berbagai pembenaran terhadap penerapan kekerasan di atas anggapan bahwa penduduk sipil tergantung,  dan karenanya pula berada dalam posisi yang lebih rendah, dengan sendirinya mengabaikan hal-hal lain di luar kebutuhan dan tujuan-tujuan militer, juga tak sepi.

Doktrin lain yang umumnya berkembang menguasai alam fikiran mayoritas ialah perdamaian melalui kekuatan. Tak akan ada damai tanpa perang, karena perang hanyalah fungsi kegagalan diplomasi yang sama sekali tidak untuk dihindari. Di dalamnya dianggap tercover metode yang tepat untuk mengamankan kepentingan-kepentingan masyarakat secara keseluruhan, betapapun tidak selamanya begitu.

Penutup. Kepesertaan seluruh individu dalam Negara tanpa terkendala dalam mengekspresikan kemampuan optimalnya adalah sesuatu agenda besar yang amat dirangsang dalam sebuah Negara demokrasi. Itulah pulalah yang sekaligus menjadi kendala dalam sebuah Negara dan masyarakat transisi militer-sipil. Bergesernya peran militer ke domain pertahanan yang lebih rinci bukan sesuatu yang lebih mudah, karena dengan peta kekuatan internasional yang gampang berubah orang tidak cukup dengan merekrut warga Negara untuk memanggul senjata sementara pertanyaannya jelas perangnya jenis apa dan dengan musuh seperti apa.

Lagi pula militer yang berhitung akan sebuah perang modern tentulah tak cuma akan membayangkan sebuah gerilya dengan ransum singkong dan dengan memanggul bambu runcing. Jadi cerita tentang alutsista yang udik ada pada ranah ini, juga tentang kerapnya kecelakaan dalam misi kemiliteran. Berapa perbandingan anggaran militer di sisi PDRB suatu Negara, jelas menjadi sebuah parameter modern yang semua Negara selalu tertatih meraih kondisi ideal dan faktanya lagi lebih banyak yang terjerumus dalam ketergantungan. Militer dan kemiliteran kontemporer adalah juga menjadi salah satu bentuk pengejawantahan kapitalisme. Tentara zaman. Itulah.

Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis tanggal 15 Oktober 2012, hlm 2. Shohibul Anshor Siregar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: