'nBASIS

Home » ARTIKEL » PERJALANAN

PERJALANAN

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


Satu pekan dari rencana dua pekan di Surabaya berlangsung dengan adaptasi yang cukup lancar. Dari 22 peserta, saya lihat semuanya penuh semangat dan tak mengeluhkan apa pun kecuali beratnya menahankan panasnya suhu udara kota Surabaya yang sudah lama tak turun hujan

Begitu keluar dari pintu penginapan, mata saya langsung menangkap sebuah pemandangan yang tak biasa. Saya katakan tak biasa, bukan karena kali ini ada satu atau beberapa beca parkir beristirahat di depan penginapan. Hari-hari lain sebelumnya pun ada saja beca yang parkir.

Kali ini seorang tukang beca berkaos lengan pendek warna biru, mengenakan topi dan bercelana pendek, duduk di dalam becanya sendiri sambil merapatkan hp berwarna merah ke kuping kirinya. Ia begitu “khusyu”, seperti sedang mendengarkan sebuah informasi rahasia. Pria setengah baya ini memarkirkan becanya di salah satu sisi jalan Darmawangsa yang berjalur ganda itu, berseberangan dengan gedung Graha Amerta yang merupakan bagian dari bangunan Rumah Sakit Dr Sutomo Surabaya.

Ia sempat tak menyadari kehadiran saya untuk beberapa menit, meskipun saya sudah merapatkan kuping saya ke dekat hp yang dirapatkannya ke kupingnya untuk memastikan nada apa yang sedang didengarkannya. Rupanya ia mendengar bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang fasih dan berlagu merdu. Bukan lagu Jawa atau lagu dangdut, juga bukan rekaman suara anak atau isterinya yang ditinggal di kampung. Siapa tahu ia sedang rindu keluarga yang terpaksa ditinggal untuk  mencari nafkah di kota, bukan?

Dengan santun saya sapa saat ia sadar dan berbalik ke arah saya. Dari raut wajahnya yang berseri bercampur kaget, saya duga ia kira akan ada rezeki (penumpang) pagi ini yang akan memakai jasanya. Saya kethui jelas bahwa air mukanya tak berubah saat saya pamit dan mohon maaf karena membuatnya tak nyaman. Itu setelah kami berdialog sangat ringkas. Namanya pak Bedol. Dugaan saya di dalam box becanya pasti ada kain sarung. Ia akan sholat setiap awal waktu. Jadi, ia bukan cuma menyukai indahnya lantunan bacaan ayat-ayat suci Al-qur’an.

l

Taksi Kota. Pak Bedol menerangkan ada dua moda angkutan menuju terminal bis. Bisa moda angkutan mini, bisa dengan taksi. Menggunakan beca jelas tidak efisien, karena jarak yang cukup jauh. Berapa kira-kira ongkos taksi untuk jarak sejauh itu? Pak Bedol tak bisa menjawab. Ia hanya menyarankan lebih baik naik taksi karena angkutan mobil kecil akan berbelok ke mana-mana sebelum tiba di terminal. Itu cukup melelahkan, katanya.

Tak begitu lama menunggu, sebuah taksi berhenti dan menyapa. Ia menyangupi membawa saya dan kedua teman saya ke tujuan. Mengetahui saya orang Batak, ia pun memanggil saya “tulang” (paman). Tulang dalam adat Batak bukan sembarang paman. Tulang itu adalah paman yang memiliki otoritas kuat dalam sistem adat Dalihan Na Tolu. Jadi saya menduga ia memiliki seorang atau lebih orang Batak yang menerangkan makna panggilan itu kepadanya. Jika ia orang Batak, tentulah ia akan menyebutkan marganya sesudah menanyakan marga saya. Setelah itulah lazim ditentukan kedudukan masing-masing dan panggilan yang tepat menurut adat.

Supir taksi ini lebih tepat disebut sangat ramah dan terkesan agresif dalam keramahannya itu. Saya ikuti saja kemauannya dengan dialog-dialog yang saya kendalikan ke sana dan kemari sembari untuk menelisik wawasannya, hal-hal paling membuatnya risau dan bahagia. Anak-anaknya. Isterinya. Mengenai Bonek, dan juga nama Walikota, Wakilnya, Nama Gubernur dan wakilnya. Ia tak sempat mengajukan pertnyaan apa pun, dan itu saya targetkan hingga tiba di terminal.

Tetapi tak lama setelah itu ia minta izin mengisi bensin. Scenario saya terinterupsi. Ketika akan kembali melaju, ia mengajukan satu pertanyaan. Apakah kita lewat jalan tol atau jalan biasa? Ibrahim Chalid dan Bakhrul yang duduk di belakang menyarankan lewat jalan  tol saja. Ticket masuk cuma Rp 2.500,-  Menurut supir ini waktu perjalanan akan tereduksi cukup besar dengan pilihan itu. Ia diam sebentar sambil menyetel radio.

Ketika dari radio terpancar lagu, saya pun bernyanyi serius dan ia pun ikut. Bagian akhir lagu itu saya rekam. Wajah saya kelihatan jelas, juga wajah supir dan Bakhrul yang duduk di belakang. Hanya saya dan si supir yang bernyanyi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: