'nBASIS

Home » ARTIKEL » KARAKTER DAN KEPERCAYAAN (TRUST)

KARAKTER DAN KEPERCAYAAN (TRUST)

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


Medbis, 19/11/212

Kata Anne Ahira Albert Einstein pernah berucap tegas bahwa  kebanyakan orang mengatakan intelektualitaslah yang membuat seorang ilmuwan  itu menjadi hebat. Tetapi ia tak setuju pendapat itu. Menurut Albert Einstein, semua mereka salah. Karena yang membuat ilmuwan itu menjadi hebat adalah karakter.

Itulah kalimat pembuka Parto usai menyaksikan berita tv tentang pendaftaran pasangan-pasangan calon gubernur sumut, Kamis petang. Jojon, tetangganya selama belasan tahun, yang kerap pergi bersamanya memancing di kolam pemancingan,  sengaja diundangnya ke rumah untuk menyaksikan berita itu di layar kaca, sambil minum kopi hangat.

Mereka memang bersahabat, malah satu organisasi (paguyuban), dan dengan jabatan paling tinggi. Parto ketua, Jojon Sekretaris. Bendahara mereka, Harto Okeh tak bisa hadir karena belum selesai di pekerjaan sebagai buruh harian sektor bangunan. Biasanya, Harto Okeh tak pernah melewatkan kumpul-kumpul begini. Ia rajin membawa ubi goreng dari rumahnya yang juga tak begitu jauh dari rumah sang ketua Parto.

Harto Okeh memang tak sekolahan. Tetapi lantaran banyak mengikuti pertemuan informal, akhirnya ia juga sedikit-sedikit bisa ngomong tentang banyak hal, termasuk politik yang menurutnya sudah menjauhi ideologi. Itu kesimpulan Harto Okeh yang kuli bangunan itu.

“Di akun facebook saya membaca kalimat yang mirip seperti itu tadi pagi, kang”, tanggap Jojon berbinar dengan kesan ingin dipuji oleh Parto tentang updating pengetahuan yang mantap pada dirinya. Malah, dengan merasa agar lebih hebat dipandang Ketua Parto, Jojon pun melanjutkan. “Ada kalimat-kalimat tambahan pada wall yang saya baca, yang sangat menyintuh perasaan heroisme saya, ketua”.

Disebutkan begini: “Jenderal H. Norman Schwarzkopf berpendapat bahwa kepemimpinan adalah kombinasi yang sangat kuat dari strategi dan karakter. Namun jika harus memilih salah satunya, pilihlah karakter”.  Bagaimana menurut ketua?, tanya Jojon menengadah kepada Parto yang membungkuk dua langkah di depannya sambil menuangkan kopi (tambahan) dari teko berukiran gambar wayang berwarna keemasan. Oh iya. Tentu. Tentu, jawab Parto seperti penuh kepastian. Tetapi diam cukup lama. Jojon tahu sifat ketuanya ini, bahwa dalam banyak hal selalu mengaku-ngaku tahu padahal tak tahu. Takut dibilang lebih tak tokoh dibanding anggotanya. Jojon diam saja menikmati sandiwara Parto, sambil menantikan trik apa yang akan dikeluarkan oleh Parto.

Karena cukup lama menunggu tak ada reaksi, akhirnya Jojon merasa puas bahwa hanya dialah yang tahu tentang pentingnya karakter ini dan segenap teori tentangnya. Lalu iapun melanjutkan:

“Karakter dan kredibilitas selalu berjalan bersama, ketua. Menurut saya, kepemimpinan tanpa kredibilitas akan hancur. Cepat atau lambat akan hancur. Itu cuma soal waktu. Lihat saja kepemimpinan yang diguncang oleh skandal korupsi, sex atau hak asasi manusia, seperti yang pernah terjadi pada mantan presiden Amerika, Richard Nixon, Bill Clinton atau para petinggi perusahaan Enron yang memanipulasi data keuangannya. Karakter membuat kita dipercaya dan rasa percaya membuat kita bisa memimpin. Seorang pemimpin tidak pernah membuat komitmen kecuali ia melaksanakannya dan ia benar-benar melakukan segalanya untuk menunjukkan integritas, sekalipun hal itu tidak nyaman baginya”.

Apa reaksi Parto? Lho, itu to maksudmu, Jojon. Ya kalau itu ya saya tahu. Kan maksudmu seperti yang kejadian di kita ini kan? Ya iyya. Saya tahu. Saya tahu itu. Saya tahu itu. Di akun Facebook milikku pun itu masuk. Ada masuk dan sudah kubaca. Tapi ya, saya sudah duluan baca dari penulis itu. Ia telat tuh, mungkin setahun lalu ya. Ya, setahun lalu itu saya baca.

Dalam hati Jojon berkata, “ini memang ketua bloon yang tak pernah tobat. Sudah makan uang bansos ratusan juta, bengak-bengok lagi lagak pintar. Padahal gak tahu apa-apa. Dian neh sudah merasa arrive  (paripurno) di langit yang ke tujuh sehingga lebih tinggi dari orang-orang. Merasa lebih bermartabat, padahal saat dikorankan ketar-ketir juga. Tergadailah rumah kos-kosan satu unit gara-gara harus mengembalikan dana bansos yang tak dapat dipertanggungjawabkan.

Tentu saja respek semu tetap ditunjukkan, karena Jojon ini orangnya sebetulnya pintar tetapi lemah posisi secara sosial, sehingga lebih banyak mengalah meski tak pernah akan tunduk pada asap pekat kebodohan atau niat-niat jahat yang membelenggu kecerdasan dalam mekanisme kepaguyuban yang amat tak rasional sepanjang pengalamannya. Memang ia bukan kiyahi, meski selalu aktif pangaosan (pengajian) di mesjid Al-Fikri dekat rumahnya. Itu dia Jojon.

Tiba-tiba, Jojon ternganga saat seorang nara sumber yang diwawancarai tv berucap pas seperti yang ia fahami di benaknya: “Seorang pemimpin berkarakter kuat akan dipercayai banyak orang. Mereka mempercayai kemampuan pemimpin tersebut untuk mengeluarkan kemampuan mereka yang tertahan. Jika seorang pemimpin tidak memiliki karakter yang kuat, ia tidak mendapatkan respek dari pengikutnya. Respek diperlukan bagi sebuah kepemimpinan yang bertahan lama. Seorang pemimpin memperoleh respek dengan mengambil keputusan yang berani dan mengakui  kesalahannya. Ia juga lebih mendahulukan kepentingan terbaik pengikut dan organisasi dibandingkan kepentingan pribadinya. Kepercayaan adalah dasar kepemimpinan. Rusak kepercayaan, berakhir pulalah sebuah kepemimpinan”.

“Koe noopo (kau ini kenapa), Jon?”, tanya Parto menyaksikan keterperangahan sekretarisnya itu. Jojon lama baru mampu menjawab. Ia menunggu hingga wawancara itu usai dan penyiar tv beralih ke topik lain.

“Iya kang Parto. Aku bingung. Kok bisa ya si nara sumber yang diwawancarai itu berfikir seperti aku? Aku setuju sekali dengan ucapannya. Karakter dan kepercayaan itu harus seiring. Mungkin itu yang belum kita miliki. Pemimpin kita juga tak memilikinya. Modal mereka memimpin kita lalu apa? Itu pertanyaanku, kang”, ucap Jojon.

“Nah, aku juga berfikir sama. Kan pada intinya itu pengarahan yang saya sampaikan saat kita suroan (merayakan hari suro) kemaren? Ingat? Kau lupa Jojon?”, desak Parto.

Parto diam saja, meski dalam hati ia menggerutu. “Koyok koe iki kan setan. Sa’doyone sampeyan. Sing pintar sampeyan. Sing jujur sampeyan. Sing arif sampeyan. Sing pencuri sopo? (Macam kau itu kan setan. Semuanya kau. Yang pintar kau. Yang jujur kau. Yang arif bijaksana juga kau. Lalu yang pencuri uang rakyat lewat bansos itu siapa?).

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, 19/11/12, hlm 2. Inspirasi tulisan ini berasal dari surat Anne Ahira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: