'nBASIS

Home » ARTIKEL » ASPIRASI RAKYAT SUMUT

ASPIRASI RAKYAT SUMUT

AKSES

  • 568,914 KALI

ARSIP


Hari ini di kalangan elit orang Jawa tertentu telah muncul ungkapan “Nek ono sego noopo mangan kerak. Nek ono wong Jowo noopo milih Batak”. Itu sebetulnya sebuah ungkapan frustrasi dari kubu yang sudah dapat dipastikan. Rupanya mereka tak memiliki bahasa apa pun untuk menarik wong cilik Jawa itu kepada mereka

Memulai pembicaraan ia berucap salam. Assalamu ‘Alaikum, bang. Minta tanggapan abang siapa yang akan “masuk final” dalam Pilgubsu 2013 nanti.

Dengan bunyi pertanyaan seperti itu saya kira wartawan ini sudah memiliki praduga bahwa persaingan 5 pasangan Cagubsu akan berlangsung begitu ketat hingga tidak akan ada yang mampu keluar sebagai pemenang dalam satu putaran. Saya tidak mempermasalahkan itu, lalu memulai memberi jawaban. 

Kita harus menggunakan teori dulu. Bahwa dalam setiap pemilihan langsung sekurang-kurangnya ada tiga faktor yang diharapkan seimbang dalam atau yang dimiliki pasangan, yakni figuritas, kemudian jaringan dan terakhir budget atau biaya politik. Itu dia. Rumusan ajeg dalam setiap pemilihan langsung selalu menganggap ideal keberimbangan tiga faktor kunci, figuritas, networking dan budget.

Pengertian dari ketiga istilah teknis ini dapat tak difahami sama oleh kalangan luas. Tetapi yang saya maksudkan ialah bahwa jika seseorang public figure akan maju ke pemelihan langsung tentulah ia harus memiliki tingkat popularitas tertentu. Popularitas itu dibuat sendiri. Dalam konsep figuritas juga diasumsikan berpadu antara faktor bawaan (given) dan faktor capaian (achieved). Itulah sebabnya faktor bawaan saja sangat tak memadai.

Kedua, jaringan. Seyogyanya jaringan itu ya partai pengusung. Untuk kali ini keseluruhan dari dua pasangan perseorangan gugur karena tak mampu memenuhi persyaratan dukungan penduduk. Itu menandakan mereka tak memiliki jaringan yang memadai untuk tugas memenangkan pemilihan. Jaringan ini adalah mata rantai pemenangan yang memiliki komitmen membela kemenangan kandidat. Mungkin sudah semakin lazim saat ini perbedaan aspirasi kaum elit dengan konstituen partai. Mempercayakan partai sebagai satu-satunya jaringan pemenangan untuk saat ini tentulah seperti sebuah kesia-siaan belaka.

Ketiga, budget. Orang sering menghitung biaya pilgubsu dengan perkalian sejumlah rupiah dengan titik-titik strategis tertentu. Misalnya TPS, atau pemilih, dan seterusnya. Itu semua perhitungan biaya yang bukan money politic melainkan kost politik. Betul? Ha ha. Susah memang.

Nah. Saya tidak tahu siapa yang paling siap secara finansial di antara kelima pasangan itu. Tetapi dari aspek figuritas tentulah Gatot lebih unggul berhubung statusnya sebagai incumbent dan sambil menjalankan tugasnya sebagai Plt (dan esok lusa sebagai gubernur definitif) ia akan semakin leluasa mencampuradukkan tugas pemerintahan dan tugas sebagai calon gubernur.  Itu tak bisa dihindari, dan tak akan ada pihak yang mampu melakukan koreksi terhadap hal seperti itu.

Dilihat dari aspek jaringan, saya lihat berdasarkan kepartaian, jaringan paling siap saat ini ialah PDIP, PKS dan PPP. Tetapi PKS hanya lebih terkonsentrasi di perkotaan. Di luar itu Chairuman Harahap pernah membentuk jaringan sebanyak 47.753 personel yang direncanakannya untuk pilgub 2008. Kini secara diam-diam dan tanpa gembar-gembor ia membangkitkan itu kembali. Sejauh mana ia berhasil “memanggil kembali” jaringan itu akan terbuktikan dengan perjalanan waktu.

Wartawan itu bertanya lagi: “Apa lagi tambahannya, bang?”

Melihat hasil pilgub 2013 tentu masih perlu mempertimbangkan dari aspek lain, yakni politik identitas. Dari aspek agama 65 % kurang lebih adalah pemilih muslim, selebihnya non muslim. Jika secara sederhana pasangan muslim (murni: 3 orang, GPN-TE, CH-FN, GUSMAN), maka kelihatannya ketiganya memiliki jarak yang relatif sama dengan pemilih muslim. Saya kira jarak mereka dengan pemilih non muslim relatif sama juga.

Di antara pemilih non muslim daya tarik AT-RE dan ES-JA saya lihat juga sama, dan tak satu pasangan pun memiliki monopoli yang kuat untuk menahan agar jangan ada pemilih non muslim ke pasangan lain. Dari aspek kesukuan, dengan pasangan Jawa yang tiga itu (GPN-TE, Gusman, ES-JA), dengan sendirinya telah membuat Jawa yang sekitar 33 % itu ambigu. Tidak ada tokoh dominan di antara ketiga pasangan itu di mata orang Jawa.

Tetapi dengan begitu keuntungan besar sudah digaransi kepada CH-FN. Orang tidak tahu bahwa Jawa abangan yang kategori wong cilik dan yang selama ini tidak terakomodasi akan ke CH. CH sudah lama menjadi penasehat bagi mereka dalam struktur organisasi resmi dan Sultan HB X ada di kubu ini, yakni FKWJ (Forum Komunikasi Warga Jawa).

Hari ini di kalangan orang Jawa elit tertentu muncul ungkapan “Nek ono noopo mangan kerak, nek ono wong Jowo noopo milih Batak“. Itu sebetulnya sebuah ungkapan frustrasi dari kubu yang sudah dapat dipastikan. Paling tidak untuk saat ini mereka belum memiliki bahasa apa pun untuk menarik wong cilik Jawa itu kepada mereka, dan sayangnya pula setia kepada CH.

Hal lain yang harus dihitung ialah kecocokan pasangan figur dengan aspirasi pembangunan. Di atas telah diterakan gambar perolehan data aspirasi sosial masyarakat Sumatera Utara melalui sebuah survey yang diselenggarakan tahun ini (Februari-Maret).  Artinya, siapa yang paling mendekati aspirasi rakyat, itu yang akan dipilih.

Tetapi semua yang kita hitung itu akan sia-sia jika KPUD tidak sanggup membuat DPT yang baik dan Panwas serta masyarakat tidak mampu membendung money politic.

Wartawan menyela: “betul bang, jadi apa yang harus dilakukan masyarakat dan panwas?”

Sebetulnya hampir tak ada. Money politic itu sudah semacam resep hidup politik di Indonesia. Sistem hukum kita dan aturan pelaksanaan pemilukada tak cukup mengatur tentang itu. Tetapi, saya berharap pasangan-pasangan  itu mampu melakukan perlawanan dengan antara lain meminta menunda jadwal pemilihan jika nanti menemukan kualitas buruk DPT.

Tanda-tanda buruknya DPT sudah terlihat sejak Pemprovsu menyerahkan DP4 ke KPUD. Mereka bilang jumlah penduduk Sumatera Utara sudah 17 juta lebih. Padahal menurut Sensus penduduk 2010 penduduk Sumatera Utara hanya 13 juta lebih. BPS Sumatera Utara juga menemukan fakta bahwa pada tahun 2010 persentase pertumbuhan penduduk di sini negatif sebesar 0, 9 persen. Jadi dari mana datangnya hampir 4 juta pertambahan penduduk Sumatera Utara? Saya ragu jika ini bukan permainan incumbent. Maka pasangan yang merasa DPT tidak beres, saya harap meminta menunda pemilihan jika belum beres itu DPT.

Dia, wartawan itu,  mengakhiri: “ok terima kasih, bang”.

Advertisements

3 Comments

  1. […] KehidupanBelajar Menerima Yang Tidak CocokAllah Bless you or Allah Blesses youASPIRASI RAKYAT SUMUT .set-header:after{ background-image: […]

  2. […] Aspirasi rakyat Sumut […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: