'nBASIS

Home » ARTIKEL » PERTANYAAN KE INBOX FACEBOOK

PERTANYAAN KE INBOX FACEBOOK

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


para cagubsu

Dibanding yang lain? Sorry. Saya tak punya cukup bahan untuk bercerita tentang Pemilukada lain, misalnya DKI yang sarat citra dan politik identitas itu. Biarkanlah saya membatasi diri untuk tak membahas itu dulu ya. Tetapi dibanding yang lalu (2008), kali ini ada beberapa catatan yang penting kita ketahui dari proses Pilgubsu 2013.

SEORANG teman FB mengajukan pertanyaan, lalu terjadilah dialog seperti ini:

Dia: Apa keistimewaan pilgubsu kali ini dengan pemilihan gubernur di daerah lain dan yang sebelumnya menurut abang da?

Saya: Dibanding yang lain, biarlah saya membatasi diri untuk tak membahas itu dulu ya. Tetapi dibanding yang lalu (2008), kali ini ada beberapa catatan yang penting kita ketahui:

  • Pilgubsu dipenuhi oleh bintang. Paling tidak ada 2 bintang tiga yang gugur (AY Nasution dan Cornel Simbolon). Itu berarti sebuah pertanda civil society yang menguat. Sekiranya ini bisa menguat sampai ke tingkat nasional. Nanti capres tak usah ada dari kalangan mantan militer.
  • Orang dengan catatan sebagai pasangan runner up pun tak dapat masuk, yakni Benny Pasaribu. Ia peroleh suara kedua bersama Tritamtomo pada pilgubsu 2008.
  • Bintatar Hutabarat pernah bilang kepada saya di rumah dinasnya, bahwa ialah calon usungan PDIP karena ia punya backing di sana yakni Effendi Simbolon. Siapa Effendi Simbolon? Ipar kandung, karena iboto Effendi adalah isteri Bintatar. Akhirnya laenya itulah yang menjadi usungan PDIP. Ini keistimewaan juga dalam tanda petik. Juga pertanyaan besar berhubung akar dan basis politik yang sangat dipertanyakan.
  • Orang seperti Gatot Pujo Nugroho yang tentu akan sangat “didendami” oleh Gus Irawan bertemu di lapangan. Mereka telah membangun kekuatan dengan memanfaatkan jabatannya sebelum ini. Warna politik akan keruh mereka bikin, saksikan saja nanti.
  • Jika ditilik dari aspek kepartaian, seseorang seperti HT Milwan yang berusaha keras merebut ketua PD Sumut, dan juga Syah Affandin yang merebut PAN, ternyata tak diberi kesempatan. Ini sebuah tanda rumitnya pola-pola rekrutmen kepartaian
  • Jika secara statistik sederhana 3 orang Jawa (Gatot, Jumiran Abdi dan Soekirman) akan berbagi suara maka tak akan ada yang unggul di antara mereka. Padahal dari segi etnisitas 33 % lebih orang Jawa sangat ampuh jika berporos tunggal. Kesalahan berhitung memakai pasangan orang Jawa sebagai Wakil terjadi pada Gus Irawan dan Efendi Simbolon. Inilah yang oleh banyak kalangan disebut “kawin paksa” itu. Kedua pasangan ini seolah sudah dengan sendirinya memberi peluang bagi Chairuman Harahap atau Amri Tambunan.
  • Amri Tambunan memasang wakil sesama orang Batak. Pasangan “kawin paksa” ini resisten. Ada pula yang takut jika Amri Tambunan “entah terjadi apa-apa”, RE Nainggolanlah yang menjadi Gubsu.  Tentang hal ini saya pernah berbincang dengan RE Nainggolan. Saya tegaskan bahwa beliau tidak usah maju jika bukan menjadi Gubernur. Menjadi Wakil itu abang sudahlah tahu, terutama ketika menjabat Sekdapropsu, Syamsul Arifin Gubernur dan Gatot Pujo Nugroho Wakil Gubernur. Gatot Pujo Nugroho itu kan merasa seperti pengangguran saja? UU membuat seperti itu, jadi tak usah maju jika hanya akan menjadi Wagub. Menjadi Gubernur? Ya, harus menang satu putaran dan praktik buruk di TPS dan seluruh proses perhitungan suara dan keburukan lainnya harus diantisipasi. Punyailah uang untuk menempatkan 30 sampai 100 orang untuk bertugas di semua TPS. Lalu kawal itu PPK, KPUD Kabupaten/Kota hingga KPUD Provinsi. Siapkan biaya untuk berperkara di MK. Itu inti saran saya kepada beliau.
  • Ada dua orang yang dianggap paling harmonis di dunia dalam menjalankan pemerintahan, yakni T Erry Nuradi dan Soekirman. Rupanya semua itu semu saja. Di Sergai, sudah lima tahunan ini motto PATEN dipasang. Rupanya PATEN itu adalah akronim Pak Tenggku Erry Nuradi. Di mana letak Soekirman? Ha ha. Itulah T.Erry Nuradi dan itulah Soekirman. Jika keduanya kalah, tak bisa dibayangkan bagaimana mereka pulang kandang dengan kehqbisan modal. Paslah seperti orang kalah main judi pulang ke rumah dengan penuh kelesuan. Tentang Soekirman ini saya pernah menulis catatan pada dinding akun kelompok:

SOEKIRMAN
Pada halaman depan sebuah koran lokal hari ini Soekirman menyebut dirinya ibarat gadis desa. Ia pun tampaknya senang dengan ungkapannya itu. Mengapa? Karena musim ini “banyak” yang meminangnya untuk jadi wakil. Tentu saja ini tidaklah seperti buruh harian lepas (BHL) di perkebunan yang kemana saja dibawa oleh majikan manut-manut saja. Atau?

Dia sadar betul tak memiliki modalitas yang cukup untuk bertarung memperebutkan kepemimpinan di level mana pun. Dia sudah pernah gagal berpartai. Dia sudah pernah gagal menjadi calon anggota DPD. Selama dua periode di Sergai ia hanya seperti “numpang-numpang” saja dan tak berani mengekspresikan keahliannya itu. Teman-teman saya di Sergai, umumnya orang Jawa, karena tak faham masalah, kerap mengemukakan sesal mengapa Soekirman tak maju saja jadi Bupati di Sergai?

Pindah ke level Sumut (wagub) tak akan membuat Soekirman dapat mengekspresikan keahliannya (pertanian) meskipun sesungguhnya Sumut sangat membutuhkan gerakan revitalisasi pertanian yang serius seserius-seriusnya. Sergai selama ini sudah bercerita tentang itu. Sebetulnya, dengan melihat perilaku mereka berdua, T Erry Nuradi mau jadi Gubernur (Warga Sumut bilang gubsu itu wajib PATEN, Pak Tengku Erry Nuradi) dan Soekirman ingin jadi Wakil dalam pasangan yang berbeda, apa yang digembar-gemborkan soal harmoni keduanya adalah sesuatu yang tak benar.

Barangkali benar, Soekirman orang Jawa yang bisa mendem jero bukan cuma hal-hal buruk dari orang masa lalu, tetapi juga segala hal yang tak disukainya dari orang yang menjadi big bossnya. Jangan-jangan di bawah diktator sekalipun ia bisa adaptif. Itu amat tak menggembirakan buat saya. Amat menyedihkan.

Mungkin juga, dilihat secara keseluruhan, kembali mempimpin BITRA lebih baik bagi Soekirman dan masyarakat, ketimbang menjadi “pelengkap selalu” untuk memenuhi ketentuan UU (kepemimpinan berpasangan).

Sayangnya, BITRA yang dibinanya belasan tahun pun tak mampu menjadi barisan kuat civil society yang dapat diandalkan untuk mengorbitkannya menjadi orang nomor satu di Sumut. Bukankah orang seperti ini dilihat dari satu segi sangat tepat menjadi BK 1?
Entahlah, Kirman. Nasibmu lah itu, kawan.

Dia: sepakat bang. Dan bagai mana menurut abang peluang dari si kuning hijau..?

Saya: Mungkin mereka perlu menyamakan persepsi dulu. Mereka dari dua generasi dan wakil ideologi politik besar dan berusia lama. Mereka harus segera temukan magic words. Kan Anda merasakan pasangan-pasangan yang tiba-tiba membuat akronim pasangan mereka tanpa filosofi dan menggelikan? Itu hrs mereka hindari.


2 Comments

  1. luar biasa, lugas dan enak dibaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: