'nBASIS

Home » ARTIKEL » SEBUAH FOTO

SEBUAH FOTO

AKSES

  • 545,455 KALI

ARSIP


579148_125786437576689_1767040511_n

Ingat di mana foto ini dibuat? Itu pertanyaan yang saya ajukan saat mengupload foto ini pada dinding Facebook saya kemaren.  Saya tahu bahwa tidak semua orang (teman facebook saya yang 5000-an itu) yang akrab dan concern dengan masalah ini.

Komentar-komentar menarik saya cantumkan di bawah ini:

  • Fotonya dimana itu?
  • Sang Ratu dan Kstaria?
  • Atas dasar apa diberi gelar ksatria???? Bukankan seorang ksatria berarti secara gagah berani membela negeranya??? Jadi itu warga negara mana?
  • Ksatria Boneka Sang Ratu…
  • Kasihan Rakyat indonesia.
  • Jarah isi nusantara, tebar extremis gaya imperialis tekan dgn issu terorizem,sandangkan amunisi arahkan pd bangsa sendiri . Disanjung di negeri seberang di nista di negeri sendiri. Berlagak seperti malaikat namun tebar pesona kepalsuan anti korupsi kena ganjalan kasus centuri. politik cantik ala mafia ,tebar issu semua bisa lupa .sampai-sampai Nasabah lupa dananya hilang kemana, tambang emas menebar kemana-mana namun lupa rakyat makan apa ? Padi apa emas ? Nilai tinggi namun tak berarti bagi rakyat. Justru merekalah yg melanglang buana kesebrang antar tika dengan dalih studybanding,apalah arti sebuah gelar tapi rakyatmu menagis sendu tak bisa berkata kami bangsa yg besar ,kami macan asia ? Semua bulsit semua cuma kamuflase kepalsuan. Berapa banyak rakyatmu di jadikan budak di negeri seberang disiksa seperti jaman jahiliyah sang kesatria cuma mampu mendesah,..kasihan bangsa ini.
  • Ini menjadi preseden buruk bagi bangsa ini jika pemimpin dimasa depan juga meniru langkah ini. Maka jangan heran jumlah TKI tidak akan pernah berkurang bahkan terus akan bertambah meski ada yang dihina, disiksa dan bahkan dibunuh karna semua sumber kekayaan alam sudah ditukar dengan gelar ksatria.

Sebelumnya telah banyak pro dan kontra yang muncul atas pemberian gelar ini, di antaranya ialah:

::: GELAR dan JASA SBY KEPADA NEGARA KAFIR INGGERIS :::

SBY resmi menjadi Knight of The Bath (Ksatria Agung yang dibaptis) sejak 30 Oktober yang baru lalu. SBY kini menjadi resmi menyandang gelar “Sir”, sehingga namanya menjadi “Sir SBY”, setelah pemberian gelar dari Ratu Elizabet II, pemangku kerajaan Inggris Raya.

Asal punya usul gelar “Knight of The Bath” merupakan bagian dari ritual raja-raja Nasrani untuk mengangkat seseorang menjadi ksatria pada perang salib.

Penganugrahan gelar “Knight of The Bath” digagas oleh Raja George I pada tanggal 18 Mei 1725. Termasuk ritual yang rumit untuk mengesahkan seorang Ksatria Kristen pada abad pertengahan. Ritual yang dimaksud adalah ritual pemandian atau baptis (the bath). Namun, kini, baik sipil maupun militer, bisa mendapatkan gelar tersebut. Sebelumnya gelar ini dikhususkan bagi kalangan militer.

Mereka yang menerima gelar tersebut dianggap sebagai orang yang telah berjasa kepada negara Britania Raya. Lalu pertanyaannya, apa jasa SBY kepada Inggeris, sehingga mendapatkan gelar kehormatan tersebut? Ternyata, di balik gelar tersebut, ada jasa luar biasa yang diberikan oleh SBY kepada kerajaan Inggeris. Penganugerahkan gelar tersebut kemudian dikait-kaitkan dengan jasanya memberikan ladang Gas Tangguh di Papua kepada British Petroleum (BP), perusahan gas milik Inggris.

Menurut Staf Khusus Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, nama penghargaan yang diberi oleh Kerajaan Inggeris itu ialah Knight Grand Cross in the Order of Bath“.

Dengan judul “Ada Bau Duren dari Gelar Ksatria SBY” artikel Rubrik Opini, 5 Nov 2012, Inilah.com, bercerita cukup panjang.

Ada ungkapan yang populer tentang durian atau duren. Buah yang berasal dari negara tropis ini, kalau sudah matang, sulit disembunyikan. Aroma baunya yang terkenal menusuk dan menyengat, akan tetap tercium oleh siapapun. Asal muasal dari bau yang disembunyikan itu pada akhirnya akan tetap terungkap.

Ungkapan tentang duren dalam kehidupan manusia cukup menarik. Sebab duren sering sekali menjadi barang atau buah yang disembunyikan. Sejatinya, isi buah duren kata orang, enak tenan. Tetapi tidak semua orang suka dengan baunya. Duren semakin enak dimakan dan dinikmati kalau memakannya dengan cara sembunyi-sembunyi.

Pada momen politik seperti pekan ini, ungkapan tentang duren nampaknya sangat seusai digunakan sebagai bahan bahasan. Soalnya pekan lalu Kerajaan Inggris baru saja memberi gelar Ksatria (Knight Grand Cross in Order of the Bath) kepada Presiden SBY.

Alasan pemberian gelar tersebut terkesan mau disembunyikan. Terutama dari pihak Indonesia. Tetapi secara tidak sengaja atau tanpa sadar. alasan pemberian gelar itu sedikit demi sedikit diungkap oleh Inggris.

Hanya beberapa jam setelah gelar Ksatria dianugerahkan Ratu Inggris, Kedubes Inggris di Jakarta demikian pula Kantor Perdana Inggris di Downing Street 10, London, mengumumkan sebuah MoU antara kedua negara.

Pengumuman yang disiarkan Reuters, kantor berita Inggeris tertua di dunia, menyebut MoU tersebut berisikan persetujuan pemerintah Indonesia (baca SBY) kepada British Petroleum (BP), perusahaan minyak dan gas Inggris untuk mengolah salah satu terminal gas di Tangguh, Papua Barat.

Ironisnya, pemerintah Indonesia sendiri tidak melakukan hal serupa, sehingga kesan mau menyembunyikan MoU itu seperti sebuah duren, sangat terasa. MoU atau kontrak itu bernilai Rp141 triliun dengan kurs dolar Amerika Rp9.500.

Gara-gara itu muncul penafsiran bahwa gelar Ksatria yang diterimakan kepada Presiden SBY, sangat mungkin berkaitan dengan kerja sama bisnis gas bernilai ratusan triliun ini. Artinya diam-diam presiden melakukan perjalanan bisnis, tetapi yang disampaikan kepada masyarakat, SBY menghadiri sebuah undangan kerajaan.

Pihak Istana melalui Firmanzah (Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi) dan Julian Pasha ( Jubir Presiden) langsung membantah soal penafsiran ini. Hanya saja bantahan kedua pejabat Istana tersebut kurang punya gaung.

Pemberian gelar Ksatria kepada Presiden SBY, seharusnya bukan hanya mengharumkan nama SBY. Gelar itu bisa juga melambungkan nama baik seluruh rakyat Indonesia berjumlah 240 juta yang dipimpinnya. Dan rakyat Indonesia seharusnya bangga, pemimpinnya dihargai oleh Kerajaan Inggris.

Tetapi yang terjadi adalah pertanyaan demi pertanyaan yang masih diikuti oleh sindiran yang memelesetkan istilah gelar tersebut. Yang semuanya tidak mencerminkan adanya kebanggaan di masyarakat Indonesia. Ada pertanyaan tentang apa kriteria yang digunakan Kerajaan Inggris untuk menetapkan SBY sebagai penerima penghargaan itu.

Pertanyaan ini mencuat sebab di kalangan masyarakat berkembang persepsi subyektif yang menilai, SBY sebagai presiden telah gagal menjadi pemimpin bangsa Indonesia. Akibat kegagalan itu, SBY tidak pantas disebut sebagai seorang ksatria. Disebutlah sejumlah kegagalan yang kalau diurai satu persatu disini bisa menjadi sebuah buku saku.

Pertanyaan lainnya, apakah dengan pemberian itu, Kerajaan Inggris tidak ada maksud terselubung? Sebab sangat mustahil negara maju seperti Inggris menghadiahkan sesuatu kepada seseorang warga negara asing tanpa kaitan dengan kepentingan nasional.

Selain bertanya dan sarkartis ada juga yang mencoba menganalisa kebijakan-kebijakan luar negeri negara bekas kolonialis itu. Masih segar dalam ingatan, hampir satu dekade lalu Inggris termasuk negara Eropa tidak mengizinkan pesawat Garuda milik pemerintah Indonesia mendarat di negerinya. Kebijakan ini diikuti oleh 26 negara Uni Eropa lainnya.

Kerugian melarang Garuda itu, sangat buruk bagi Indonesia. Selain Garuda harus menutup rute Eropa untuk sementara (sekarang sudah dibuka lagi), Presiden SBY sendiri beberapa tahun lalu sempat mengalami kesulitan untuk berkunjung ke Eropa. Sebab pesawat kepresidenan yang digunakannya-Garuda, tidak boleh menyentuh landasan di Uni Eropa.

Larangan itu terkait dengan penilaian Asosiasi Penerbangan Eropa plus regulator keselamatan penerbangan, bahwa Garuda tidak memiliki kelayakan terbang. Penilaian itu muncul karena pada satu periode, sejumlah pesawat Garuda mengalami kecelakaan.

Selain analisa tentang Garuda, kebijakan Inggris juga disoroti. Negara ini pernah mengembargo penggunaan tank Scorpion buatannya, yang dibeli Indonesia. Pemerintah Indonesia tiba-tiba dilarang menggunakan tank tempur itu untuk menghadapi kelompok GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Aceh. Saat pelarangan itu diberlakukan, SBY menjabat Menko Polkam.

Pemberian gelar ini juga menuai kontroversi. Sebab sekitar sebulan sebelum keberangkatan SBY ke London, jaringan Istana yang mengurusi masalah media, mengangkat isu tentang adanya upaya sekelompok LSM di Inggris yang ingin menangkap Presiden SBY, jika ia berkunjung ke negara tersebut pada November.

Isu itu dibumbui lagi oleh penjelasan bahwa LSM tersebut menjanjikan sesuatu. Bagi pihak yang berhasil menangkap SBY, akan diberi hadiah dalam bentuk uang. Efek yang ingin ditimbulkan atas pelemparan isu adalah menguatnya simpati, empati terhadap Presiden SBY. Paling tidak SBY tidak dikritik terlalu sering bepergian keluar negeri. Padahal saat itu banyak pendapat di media massa yang sebenarnya tidak senang jika SBY dan Ibu Negara sering bepergian ke luar negeri mengurusi hal-hal yang tidak mendesak.

Presiden SBY sendiri tidak salah dengan keputusan menerima penghargaan itu. Walaupun ada kaitan dengan bisnis gas, tidak masalah. Yang salah adalah waktu dan caranya. Keduanya tidak tepat. Kalau saja pemberian gelar itu dilakukan ketika citra SBY sebagai Presiden sedang positif, reaksi di masyarakat tidak akan seperti suara penyanyi yang fals.

SBY juga mengikut sertakan Ketua DPR-RI dan Ketua DPD-RI dalam rombongan ke London. Padahal akuntabilitas kedua pimpinan lembaga negara itu juga sedang disorot. Dengan mengajak dua ketua lembaga politik itu SBY sepertinya ingin mencari dukungan politik atas pemberian penghargaan tersebut.

Demikian pula dengan mengajak putera tertuanya yang berstatus anggota TNI yang masih aktif. Presiden dikesankan memberi proteksi yang berlebihan kepada perwira muda dan anggota keluarganya. Di KTT APEC, Vladivostok. baru lalu, perwira muda ini juga hadir sebagai angora rombongan Presiden. Sesuatu yang wajar sebetulnya kalau Presiden sedang tidak berada dalam radar sorotan.

Pada momen seperti sekarang, semuanya menjadi tidak patut berhubung jutaan rakyat yang seharusnya juga mendapat proteksi dari Presiden. Presiden masih terkesan menonjolkan pencitraan. Yah semoga saja dengan penghargaan tersebut, SBY bakal berubah. Dari seorang peragu menjadi Ksatria bagi bangsa ini.

Saat kabar ini mulai tersiar, Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Akbar Zulfakar cukup terkejut. Ia menyerukan  pemuda perlu mengkritis gelar ksatria ‘Knight Grand Cross in the Order of Bath’ yang diberikan Ratu Inggris Elizabeth II kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Disebut-sebut, gelar itu diterima presiden dengan cara dibarter dengan pemberian konsesi proyek gas Tangguh Train 3 oleh pemerintah RI kepada British Petroleum. “Kabar barter ini harus kita cek betul. Kalau betul kita sebagai pemuda harus mengkritisi keras. Sebagai pemuda kita harus menguatkan jiwa nasionalis kita”.

Tetapi Chandra Tirta Wijaya, anggota Komisi I dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), belum bisa memastikan berbagai tuduhan negatif khususnya barter atas pemberian gelar ini. “Saya lihat gak ada atau kurang ada hubungannya. Kalaupun ternyata ada, itu sungguh sangat disayangkan,” katanya.

Menurut berbagai sumber, gelar ini sudah banyak diberi oleh Kerajaan Inggeris kepada pihak-pihak tertentu, termasuk di antaranya adalah Salman Rushdie.  Kecurigaan niat imperialisme gaya baru memang tak dapat dibendung. Karena itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN LMND), Agus Priyanto dengan keras ikut mengutuk.  “Lengkap sudah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengabdikan kekuasaan yang diembannya bukan untuk kepentingan rakyat dan cita-cita kemerdekaan 67 tahun silam. Di dua tahun sisa kekuasaannya, Yudhoyono kembali membuktikan diri memperuntukkan amanat rakyat untuk kepentingan para tuan modal asing yang selama ini jelas-jelas merampok kekayaan bangsa dan negara ini”, katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: