'nBASIS

Home » ARTIKEL » BEBAN BANGSA

BEBAN BANGSA

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


kemiskinan

Hitunglah berapa juta lagi yang terbiasa hidup 8 jam tidur pulas, 8 jam bekerja malas-malasan, 8 jam istirahat sambil ngerumpi, berjudi togel atau menghadapi papan catur atau layar komputer untuk facebookan. 

Tak bisa berdamai dengan keadaan dan tak kunjung tibanya kebijakan yang merubah nasib, sejumlah orang berjanji kepada diri sendiri untuk berjihad di mancanegara sebagai TKI, dan sebagian mereka memang dikirim pulang dalam peti mati. How green your valley, how rich your country, but how poor your people.

Seseorang meminta revolusi rakyat saat saya cantumkan kalimat itu pada dinding akun fecebook saya tadi malam. Tentu ia tak menyadari revolusi itu apa. Karl Marx juga menganjurkan itu, tetapi tidak dengan begitu saja bisa terjadi. Orang miskin terkadang sudah menikmati kemiskinannya sebagai nasib, ia tak meronta dengan itu. Dia dikonstruk untuk tak melihat penderitaan sebagai masalah. Bahkan tuduhan Marx tentang agama sebagai candu juga bukan isapan jempol.

Dengan cukup terburu-buru sebuah komentar mengawali interaksi:

Konon kita pada tahun 2020-an nanti, penduduk jompo yang tak produktif di atas 60 %. Artinya sisa usia produktif tak lebih dari 30 %. Kalau yang 30% dikurangi anak sekolah dan bayi, maka yang produktif hanya 10-15 %. Bagaimana mau bangun negara dan bangsa? Padahal standar membangun suatu negara harus ditopang usia produktif yang seimbang. Paling bagus 60% produktif. Sisanya tak produktif (jompo dan anak). Kelak bila ada usia produktif dari luar masuk, maka bangsa ini semakin porak poranda. Hanya tinggal sejarah. Sebagaimana Melayu di Singpura. Pemilik negeri hanya akan menjadi budak semata.

Tetapi anlisis demografis yang berakar pada teori Malthus ini tak menghayal. Bisakah keadaan pelik ini dirubah? Seseorang menganggap gagalnya negara karena ketiadaan amanah. Semua berakar pada ketidak-becusan. Katanya begini:

Sungguh mustahil sebuah negara bisa maju dengan pemimpin dan penguasanya yang korup, mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, bermental pengkhianat, seluruh otak dan pikirannya dipenuhi dengan rekayasa, kejujuran nyaris hilang dari kehidupan berbangsa dan bernegara dan semua pihak berbicara atas kepentingannya dan memakai bahasanya sendiri-sendiri sehingga tujuan yang ingin dicapai menjadi tidak fokus.
Pengusaha ingin upah murah, buruh ingin upah naik, rakyat ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, penguasa ingin memperlihatkan statistik yang bagus, para pelajar ingin lulus, pejabat yang nakal ingin mendapat keuntungan dari kurikulum pendidikan, orang asing melihat betapa kayanya alam negara ini, penguasanya menukar kekayaan alam demi sebuah gelar. Dan masih banyak lagi kekacauan yang timbul di negeri ini.
Semua orang seakan berlomba-lomba ingin menghabisi negeri ini demi kepentingannya. Semakin lama kekacauan ini berlangsung maka akan semakin sulit kondisi negara dan itu sekaligus bermakna semakin sulit untuk diperbaiki.
Negara Malaysia yang dulunya anak bawang sekarang malah kemajuannya jauh melampaui Indonesia. Kerusakan yang semakin mendalam juga akan mempersulit dan memperpanjang waktu pemulihannya. Butuh kepemimpinan yang kuat, jujur, cinta tanah air, tanpa pamrih, fokus membangun bangsa. Selalu berada di jalur kebenaran dan tidak mengejar berbagai gelar yang tak penting bagi kemajuan bangsa.
Memperbaiki kondisi bangsa yang carut-marut ini tentunya tidak mudah bagai membalikkan telapak tangan. Mungkin butuh beberapa dekade. Maka saatnya seluruh bangsa ini segera bangun dan sadar dalam memilih pemimpinnya yang benar agar bangsa ini bisa segera bangkit. Tanpa penguasa yang benar, bangsa ini tidak pernah akan bangkit


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: