'nBASIS

Home » ARTIKEL » Musyda XVI IMM Sumatera Utara: UNTUK PARA IMAM

Musyda XVI IMM Sumatera Utara: UNTUK PARA IMAM

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP



IMM

Bentuklah corak pemikiran para Imam dengan misalnya mewajibkan membaca dan menguasasi sejumlah litertur pilihan penting untuk menguasasi perkembangan nasional dan global serta trend masa depan. Ajaklah para makmum itu untuk mempersiapkan diri sebagai insan akademis yang berkemampuan profesional

Secara sederhana kita buat dulu dua kategori mahasiswa ini. Pertama, kategori imam. Kedua, kategori makmum. Jumlah terbesar adalah makmum itu. Kemana mereka harus dibawa, dan bagaimana mereka akan dibawa oleh para imamnya, itulah pokok persoalan kita saat ini.

Haruslah secara jujur dicatat bahwa kepemipinan tak selesai melalui Musyawarah. Itu hanya mekanisme konstitusional mempergilirkan jabatan di antara sejumlah orang. Karenanya jauh lebih penting membincangkan apa sesudah musyawarah ketimbang siapa yang akan memenangi Musyawarah. Atau ada yang menganggap rivalitas di antara para calon imam itu begitu buruk hingga kemungkinan akan dimenangkan oleh figur under standard? Coba pikirkan. Musyawarah itu selalu hangat, ternyata lebih disebabkan oleh siapa akan dimandati, bukan apa yang hrs dikerjakan meretas kebekuan.

Pakem. Tak ada wewenang musyawarah ini merubah pakem (paradigma). Itu domain Muktamar, dan Muktamar yang lalu tampaknya tak pula berurusan dengan hal penting itu. Baiklah kita review sedikit soal pokok persoalan penting yang semestinya harus dijadikan perhatian utama dalam IMM. Bukankah kini kita tetap harus berbicara tentang bagaimana membumikan konsep Ilmu amaliyah dan amal Ilmiyah? Bukankah harus tetap menekuni kaderisasi, kristalisasi dan konsolidasi? Bukankah tetap menantang pengembangan instrumen dan pengembangan untuk mempercepat pembentukan optimal kader umat dan kader bangsa itu? Jadi musyawarah ini hanya akan berurusan dengan masalah lokalistik sebagai pengejawantahan putusan permusyawaratan lebih tinggi. Apa-apa sajakah gerangan masalah lokalistik itu?

Konstruk. Mental organisasional sangat terganggu ketika IMM menyeberangi kekeruhan zaman dengan meninggalkan identitasnya di pangkalan. Perantauannya sangat liar. Ketika mereka lebih memposisikan diri sebagai subordinat OKP dalam sistem kepemudaan, saat itu pula mereka sudah mengingkari identitas. Akan ada apologi-apologi tentang ini. Tetapi pada umumnya kita tak bertemu dengan argumen yang memukau dan simpatik. 

Mantan Ketum DPP IMM Zulkabir saat memberi respon terhadap pembangunan kepemudaan di Indonesia yang mengawali langkah dari perspektif bipolar and segmentary process, ia meramalkan akan terjadi kerusakan besar pada bangsa mengingat pembibitannya telah diracuni oleh kepentingan-kepentingan politik pragmatis yang berorientasi kepada kelanggengan kekuasaan. Mengikuti irama politik kekuasaan, konstruk kepemudaan yang dipaksakan oleh kekuasaan dengan menggunakan instrumen politik begitu menjauh dari kepentingan pertanggungjawaban generasi tentang mengapa perhatian harus ditunaikan untuk membangun generasi muda.

Terseret-seret di antara belantara arus ciptaan kekuasaan tidak mengenakkan. Sayangnya muhasabah keimaman tidak pernah terlaksana. Saat ini penting introspeksi.

Kepercayaan diri. Globalisasi tak mungkin dihindari. Negara mana pun selalu berurusan dengan 4 masalah pokok. Pertama, identitasnya sebagai sebuah Negara/bangsa dengan segenap simbol-simbol ekspresif serta instrumen yang meneguhkan identias itu. Jadi, jika Indonesia ingin berdemokrasi seperti apa yang diajarkan oleh Amerika kepadanya, mestinya ia dengan tegus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan apa yang menjadi jatidirinya. Katakanlah Perda Syari’ah yang sangat oleh UNDP dan orang-orang sekuler yang diberi feeding di Indonesia dituduh sebagai intoleransi dan cacat besar demokrasi Indonesia. Hanya karena ia tak tahu lokalitas Indonesia hingga begitu buruk ia menuduh. Identitas suatu negara tak dipinjam dari negara dan bangsa lain, karena itu IMM tak bisa berdamai dengan para penuduh itu.

Kedua, bagaimana mendayagunakan alat-alat kekuasaan. Sisi ini sangat erat kaitannya dengan bangun pemerintahan yang bukan saja harus akuntable, tetapi tak menjadi beban bagi rakyatnya mengingat ia adalah garda terdepan yang menjaga dengan paling bertanggungjawab kepentingan Negara dan bangsanya. Good governance dan clean government menjadi begitu penting tak cuma dalam retorika. 

Ketiga, legitimasi. Untuk Indonesia hal ini sangat pelik. Ada yang memperkenalkan dengan arus kekuatan raksasa internasional dalam introduksi konsepsi demokrasi, tetapi sebegitu indah penjelasannya, di Negara ini orang hanya tertarik kepada prosedurnya belaka. 

Di Filipina seorang mantan presiden saja akan diseret ke pengadilan jika soal legitimasi ini bermasalah, katakanlah terindikasi money politik saat pemilihan umum atau melakukan tindakan kategori criminal lainnya. Jika proses legitimasinya tidak bermoral, bagaimana bisa lahir kepemimpinan yang bermoral? Saat ini Indonesia cukup hopless atas semua perhelatan menjemput legitimasi itu.

Keempat, masalah produksi dan distribusi. Dengan naïf para petinggi, karena pesan global, selalu dituntut mengakomodasi semua hal yang diisyukan dalam kawasan toleransi. Tetapi bagaimanalah sebuah toleransi bisa dituntut jika sebagian terbesar kekayaan negeri ini ditelan habis oleh sekitar 15-25 % warga Negara “kelas satu” sedangkan mayoritas dipaksa hidup bermesraan dengan kemiskinan ditopang oleh raskin? How green yor valley, how rich your country but how poor your people?

Saya amat yakin KH A Dahlan taklah sekadar gandrung menterjemahkan surah Al-Maun dengan membangun Panti Asuhan. Juga bukan begitu hebat bagi dia kepanduan itu. Ia berhitung cermat. Ia tak menjadi pemimpin yang menolak matahari dan membelakangi dunia untuk ukhrawi. Praksis-praksis yang demikian itu tak membuatnya kehilangan identitas, apalagi missi khalifatun fil ardh.

Tetapi adalah rasa tanggap yang menjawab kebutuhan zaman ketika model pendidikan campuran digagas sehingga kesantrian tak terkendala dengan kurikulum dan silabus yang menjejalkan profesionalitas mengurusi dunia yang memang harus berlangsung. Bukankah dengan begitu dapat terjawab masalah menjadi tuan di negeri sendiri dan semua kompetensi orang-orang yang datang ke sini sebagai penjajah harus diatasi agar benar-benar menjadi tuan di negeri sendiri sembari ikut memberi warna kepada tatanan dunia? Dimana posisi IMM jika tak menganggapnya begitu penting untuk dihandle?

Belajar Kepada Bangsa Besar. Indonesia bisa bangkit jika mau belajar sungguh-sungguh kepada negara terkemuka di dunia. Mari kita periksa. Jerman. Negara yang seolah memang ditakdirkan untuk menjadi pelopor dalam penciptaan semua keperluan yang menopang kehidupan manusia. Bangsa ini adalah sang jenius sekaligus pencipta yang tiada tara. Boleh ditambah lagi predikat lain seperti seniman atau artis paling unggul. Di belahan bumi mana akan kita temukan seniman sebesar Mozart, Bethoven dan Goethe? Sebutlah yang sederhana sebilah pisau Solingen, itu buatan Jerman. Kita akan lihat dalam daftar produk dunia meniru model pisau Solingen. Mercedes Benz, itu buatan Jerman. Kalau saya tidak salah, Al-quran cetakan pertama saja dibuat di Jerman. Dunia wajib berterimakasih kepada bangsa yang sombong ini. Kenanglah letzeplin yang menjadi ide dasar kapal terbang itu. Siapa pencipta keretaapi dan kemajuan farmasi? Siapa yang bisa mendahului zaman kejayaan buyer?

Inggeris. Pada perang dunia kedua, kalau kita pelajari baik-baik, kita akan tahu sendiri bahwa dalam satu segi perang itu sesungguhnya adalah sekaligus menguji kehebatan Jerman dan Inggeris. Semua alat persenjataan yang digunakan, baik alat pemusnah maupun alat pertahanan, pada umumnya adalah made in Germanyatau made in England. Tetapi Inggeris adalah keturunan manusia akuntan terbaik dunia. Orang Jahudi dan orang Arab yang paling pelit di dunia saja merasa harus menyimpan uangnya kepada bangsa ini, di Bank of England. Inggerislah yang punya mas London yang hingga hari ini tetap dijadikan standar internasional. Poundsterling, mata uang Inggeris, begitu kuat. 

Amerika. Bangsa ini adalah barbar modern. Saya tidak salah sebut: barbar modern. Ia punya 3 wajah yang ketampilan masing-masingnya sama frekuensinya setiap hari (the good, the bad dan the ugly). Wajah Amerika yang baik bukan saja harus dilihat dari pidato-pidato manis dari para pemimpinnya. Di balik retorika itu percayalah Amerika sedang memangsamu tanpa ampun dan dalam lakon itu ia pun masih tetap percaya diri meyakinkan dunia bahwa ia sedang memperjuangkan keadilan dan persamaan hak untuk kebaikan dunia. Barbar modern ini mengaku bapak demokrasi dunia, karena itu akan selalu hadir dan menjadi sebab-musabab pertumpahan darah di mana pun di dunia ini. Catat itu. Perhatikanlah plastisitas sikap politiknya terhadap Indonesia dalam masalah Timor Timur. Indonesia dipaksanya menyembah sesukanya. Sekarang barbar modern itu sedang memimpin war on terrorism, yang membuat kita juga wajib menyeka keringatnya di mana-mana.

Tetapi Amerika itu telah mencontohkan sebuah penghormatan yang amat tinggi kepada pahlawannya sekaligus menjadi temali emosional yang mengikat seluruh bangsa. Bayangkan, mungkin semiskin-miskin orang Amerika bisa diasumsikan mampu memiliki uang US $ 1. Di atas uang US $ 1 itu, anda tahu, dibubuhkan gambar Presiden Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat itu hanya satu sampai kini, dialah Presiden pertama George Washington. Anda menyadari tentunya, orang-orang besar di masa lalu, itulah sejarah. The history just biography of the great man. Geroge Washington adalah Presiden Amerika sepanjang zaman, sedangkan yang lain itu cuma pengganti. Itulah filosofinya. Fahami ini secara filosofis. Itulah Amerika.

Jepang. Mereka ditakdirkan sebagai bangsa peniru yang baik. Mercedes Benz mereka buat bentuk duplikatnya dari bahan kaleng-kaleng, tetapi secara ekonomis amat laris di dunia mengingat dunia ini memang 2/3 dihuni orang miskin yang dimangsa oleh tak sampai 1/3 lainnya. Jadi Jepang itu menyerang begitu dahsyat pasar produk yang tadinya diungguli oleh negara produsen awal dengan prototype yang akhirnya terhempas dibabat habis oleh Jepang dengan barang-barang imitasinya. Jepang bisa saja meletakkan nasibnya pada takdir yang menyatakan bahwa memang mereka tak pernah dijajah oleh bangsa mana pun sementara semua belahan bumi bagian Timur pernah takluk pada kolonialisme. Saya yakin, ini juga berpengaruh besar atas nasib Jepang sampai hari ini dengan ajaran Tokugawanya yang terkenal itu. Orang sering salah melihat Jepang dengan konsep harakiri. Fatalisme itu sebuah jalan yang penjelasannya tak cuma ada pada samurai panjang yang tajam.

Memang sepintas agak tak masuk akal: suatu bangsa yang memiliki harga diri tinggi kok menjadi bangsa peniru. Para antropolog dunia perlu menjalaskan itu kepada masyarakat dunia di belahan lain. Tetapi yang jelas kekalahan Jepang pada perang dunia kedua tidak sia-sia secara hikmah. Seorang insinyur kapal terbang akhirnya mengalihkan semangat yang tersisa dari perang dunia kedua yang amat menyakitkan itu menjadi aktivitas industri otomotif, dan salah satunya ialah mobil daihatsu yang mesinnya kokoh itu.

Di hatinya tentu orang Jepang memiliki agenda membalaskan dendam kekalahan perang yang begitu menyedihkan. Itu akan tetap berkobar dengan semboyanDjimmu amaterasu omikane (Kamilah keturunan Dewa Matahari), atau Kaizen Gemba (perbaikan yang harus berlangsung terus menerus).

Cina. Cina itu orang yang memperjuangkan hasratnya sampai berhasil dengan tanpa setitik waktu rasa puas atau lebih baik mati bunuh diri. Bertahan saja baginya adalah kekalahan dan oleh itu Cina akan menentukan dunia lebih tunduk lagi kepadanya kelak. Karena kita di Indonesia, yang berdekatan pula dengan Malaysia dan Singapura, kiranya amat sangat faham kegairahan Cina sebagai negara atau pun sebagai bangsa.

Kelima bangsa unggul itu amat kuat dan aktualisasinya pada pembentukan negara begitu jelas. Begitu kuat dan begitu tangguh. Kemungkinan mereka hanya bisa runtuh jika mereka tidak menyadari bahaya yang mengancam mereka dari dalam, bukan dari luar. The great civilization never go down unless it destroy from within. Itu rumusnya. Itu yang saya dengar dari Thomas Carlilie.

Hal-hal Kecil Tapi Penting. Para imam di IMM harus menyadari apakah dirinya bisa menjadi pemimpin jika tak ada institusi pendidikan resmi Muhammadiyah. Kekuatan nasionalnya tak pernah dibangunnya sendiri, karena proses makan pisangbakubak terlalu nikmat dari hari ke hari.  Para imam kelas jago kandang kerap tak menyadari itu, bahkan dengan rasa rendah syukur tak memberi artikulasi ketugasan dan missinya sesuai dengan kondisi dan wadah yang disediakan oleh Muhammadiyah.  Karena kerap lupa diri, di kampus Muhammadiyah para imam IMM itu pun kerap menjadi borjuis-borjuis kecil dengan cita-cita kecil. Karena akumulasi alam berkifir sempit, akhirnya kerap pula tak sadar telah dijengkali oleh keripik-keripik renyah yang rapuh sekalipun. Para imam perlu mengembangkan kesadaran baru atas lingkungan internalnya dan berupaya sebaik mungkin memanfaatkan seluruh potensi yang dapat dimanfaatkan untuk persemaian kader.

Berdirilah sebagai kader. Nyatakan bahwa IMM akan berbicara untuk kepentingan hari ini dan kepentingan masa depan. Ajarkan kosmopolitanisme yang akan membesarkan dada dan wawasan seluruh kader.  Pertaruhkanlah bendera dan panji-panji serta Mars dan Hymnemu di medan juang yang sulit itu. Bebaskan pikiranmu dari tempurung-tempurung yang jika membuatnya pun kau bisa tentu melemparkannya sejauh-jauhnya pun kau mestinya bisa. Buatlah IMM ini sebuah Universitas Terbuka yang mengajarkan kecerdasan dan keluhuran moral, intelektualitas dan skill yang menjawab zaman.

Masa kepemimpinan periodik amat singkat. Tetapi catatlah sesuatu yang sangat penting untuk membuat IMM sebagai sebuah universitas terbuka. Pertama, para imam mempertebal tanggungjawabnya sebagai mata rantai jongos ilahi. Dengan begitu ia tak akan puas dengan narsisme kecil seperti belalang mengusapusap kening. Para imam harus menjadi pribadi terkemuka dalam moral dan intelektualitas serta keterampilan organisasi dan advokasi sosial berikut skill terapan. Ia harus menjadi lokomotif akademis yang tak menyibukkan diri dengan symbol-simbol jabatan, melainkan tanggungjawab keumatan.

Karena menjadi pemimpin, para Imam tak merasa rendah diri di depan kekuasaan dan raksasa politik sebesar apa pun. Ia harus menundukkan itu di hadapannya. Tentu sebelum itu, ia harus mampu menundukkan dirinya sebagai jongos ilahi.
Karena tak semua orang akan menjadi imam, maka pikatlah dan ikatlah orang-orang awam menjadi makmun yang berkualitas. Untuk ukuran kepentingan akademis masa kini, mentargetkan semua kader IMM meraih IP antara 3 dan 4 tak begitu hebat. Karena itu memang sudah seharusnya. 

Kedua, apa yang akan dikerjakan selain Matsa, DAD, DAM, DAP dan semua jenjang kaderisasi resmi itu? Banyak sekali. Baca dan kuasai (1) AD dan ART IMM beserta seluruh keputusan permusyaawaratannya (2) AD dan ART Muhammadiyah dan Tanfiz Muktamar serta produk Tarjih (3) Qaedah PTM dan trend pengembangan IPTEK secara Nasional (4) AD dan ART seluruh Ortom dan Hasil Muktamarnya (5) RPJM dan RPJP baik untuk Nasional maupun untuk Daerah (6) APBN dan APBD setiap tahun (7) Isyu-isyu kenegaraan yang mengemuka (8) Agenda dan trend yang berkembang dalam dunia kemahasiswaan dan kepemudaan.


Bentuklah corak pemikiran para Imam dengan misalnya mewajibkan membaca dan menguasasi sejumlah literatur terpenting untuk menguasai perkembangan nasional dan global serta trend masa depan. Ajaklah para makmum itu untuk mempersiapkan diri sebagai insan akademis yang bekemmpuan professional, misalnya:

(1) Libatkan dalam penelitian-penelitian untuk mengasah ketajaman kemampuan dan kepekaannya terhadap lingkungan sosialnya;

(2) Latih untuk menguasai statistik dasar, program komputer sederhana meliputi antara lain membuat website, mahir SPSS dan program analisis data lainnya, menulis dan mengelola media, dan lain-lain;

(3) Ajarkan agar para makmum itu mahir berbahasa Inggeris dan satu bahasa Eropa (pilih salah satu);

(4) Ajarkan mereka bahasa Cina, karena kita sekarang dikuasai oleh Cina baik dalam negeri maupun dalam tatanan internasional;

(5) Jangan sampai makmum, apalagi imam, yang orang Batak tak tahu bahasa Minang, begitu sebaliknya. Ada sejumlah bahasa lokal yang harus dikuasai oleh para makmun ini, Jawa, Karo, Dairi, Nias, Jawa, Simalungun, Melayu, Aceh. Apa lagi?

(6) Kelola agar mereka terbiasa debat soal isyu-isyu penting, baik dalam lingkup lokal maupun nasional dan internasional.

(7) Dan lain-lain.

Saya ditautkan dengan sebuah akun yang memfokuskan perbincangannya tentang Musyda XVI IMM Sumatera Utara. Lama-lama pening juga saya membaca komentar-komentar yang bermunculan. Gagasannya cuma mentargetkan style kepemimpinan. Cukup mengkhawatirkan bagi saya. Akan ada orang yang merasa tersinggung dengan tulisan ini. Saya tak peduli itu. Ya, itu tak menjadi pertimbangan bagi saya. Mohon maaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: