'nBASIS

Home » ARTIKEL » Politik Pilgubsu: FKWJ MARAH DIPERLAKUKAN TAK SANTUN

Politik Pilgubsu: FKWJ MARAH DIPERLAKUKAN TAK SANTUN

AKSES

  • 538,914 KALI

ARSIP


FKWJ

Gerah “diobok-obok” karena ingin meraih dukungan, FKWJ beri penegasan tentang sikapnya pada Pilgubsu. Pengurus organisasi ini sudah mempunyai kriteria Cagubsu. Mereka juga prihatin maraknya isyu SARA

Hingga saat ini Forum Komunikasi Warga Jawa (FKWJ) Sumut masih belum mengumumkan skiap resmi tentang pemberian dukungan politik terhadap salah satu di antara lima calon yang akan bersaing pada pilgub 2013. Tetapi bukan berarti FKWJ belum mempunyai sikap. Pertama, FKWJ pasti mengajak seluruh warganya ikut memilih, tidak golput dan harus aktif menjaga proses politik itu agar jujur sejujur-jujurnya, adil-seadil-adilnya dan bermartabat. Jangan lagi ada praktik-praktik buruk seperti yang sudah-sudah. Kedua, dukungan politik FKWJ sudah ada meski pengumuman tentang itu nanti melalui Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil).

Demikian Ketua FKWJ Sumut Mbah Djamin Sumitro, usai memimpin rapat persiapan Rakerwil bertempat di pusat kegiatan FKWJ Kecamatan Delitua, Minggu malam (9/12/2012).

“Dukungan resmi FKWJ akan ditentukan pada Rakerwil yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat”, tegas Mbah Djamin Sumitro yang didampingi sejumlah pengurus lainnya di antaranya, Sugiardi (Sekretaris Umum) dan para wakil ketua yang terdiri dari Suparlan, Supriyadi, Drs.Tugiwan Suwandi dan Supardiono.

Dengan begitu terjawablah sudah bahwa pemberitaan media tentang dukungan satu dua pengurus daerah FKWJ kepada calon tertentu bukanlah sikap resmi dan itu tidak semestinya ada. Menurut Mbah Djamin Sumitro, aturan dasar organisasi sudah jelas siapa mengatur apa dan dengan cara apa. Ada mekanismenya semua.

“Urusan Camat ada pada Kecamatan, urusan Walikota ada pada Kota, urusan tentang Bupati ada pada Kabupaten. Jika urusan soal pilpres, maka Wilayah-wilayah hanya berkewajiban memberi saran, namun yang berwenang untuk itu adalah DPP. Dengan begitu urusan Gubernur adalah urusan Wilayah. Forumnya nanti ialah Rapat Kerja Wilayah”, jelas Mbah Djamin Sumitro sambil mengingatkan pihak-pihak tertentu yang berusaha mendapatkan dukungan dengan cara-cara yang kurang sehat, agar menahan diri saja.

Kriteria Cagubsu. Dalam pasal 5 AD FKWJ disebutkan bahwa tujuan didirikannya FKWJ adalah untuk membela dan mensejahterakan anggotanya. Kalau anggotanya sakit, FKWJ harus ikut prihatin. Jika ada yang tak makan, ya dibantu. Jika ada anak sekolah yang drop out karena orangtuanya tak punya uang bayar uang sekolah dan beli buku, FKWJ ya turun tangan.

Begitu juga kalau anggotanya ikut sebagai calon dalam perhelatan politik, FKWJ harus membela. Itu sebuah solidaritas yang selalu dipupuk dalam FKWJ. Jadi cukup mudah menebak sikap politik FKWJ. FKWJ akan mendukung anggotanya yang menjadi calon dan tidak akan terpengaruh dengan iming-iming orang yang tak tentu juntrungan dan komitmennya.

FKWJ serius, kelak benar-benar akan memberi dukungan kepada calonnya dengan semboyan organisasi “Sak Iyek Sak Eko Kapti, Sak Iyek Sak Ekoproyo”.  Satu hati, satu pendapat dan satu tujuan. FKWJ akan memenangkan calon yang Jawa pikirannya, peduli rakyat kecil, petani, nelayan dan pedagang asongan. Tidak korupsi, tidak mengumbar SARA untuk kepentingan sempit, dan memiliki bukti-bukti nyata atas pembelaannya kepada orang kecil, khususnya warga yang terhimpun dalam wadah FKWJ. Itu criteria cabugsu dukungan FKWJ.

Menurut pengakuan Mbah Djamin Sumitro, FKWJ dan warganya akan solid. Tak seperti organisasi lain yang kaya papan merek dan lebih sering bercengkrama di hotel-hotel berbintang karena pemilik organisasinya memang para kaum elit yang tak pernah tahu jeritan penderitaan wong cilik.

Memberi contoh soliditas warga FKWJ, menurut Mbah Djamin di Sergai mereka mengusung calon perseorangan pada pemilukada 2010, yakni Dr Idham SH dan Sihotang. Begitu juga di Tanjungbalai. Pada tahun 2008 pun FKWJ secara resmi mendukung Triben. Saat itu kita meminta agar tahapan pilkada ditunda sebelum dibereskan DPT bermasalah itu. Tetapi karena Triben yang menang, mereka menaggap remeh hasil monitoring FKWJ. Padahal setelah kalah suara, hal inilah yang menjadi salah satu alas an Triben melakukan gugatan.

Kepada semua orang yang ingin secara tak santun memecah potensi FKWJ untuk kepentingan pilgubsu 2013, dingatkan agar sadar dan menghentikan tindakannya.  Percuma melakukan hal seperti itu karena sikap FKWJ sudah amat jelas, rinci Mbah Djamin Sumitro.

Hindari  Konflik SARA. Dalam upaya pihak-pihak tertentu untuk memecah-belah FKWJ dalam pengamatan Mbah Djamin Sumitro, kerap digunakan ungkapan yang sangat anti persatuan dan kesatuan nasional. FKWJ sangat menyayangkan. Masa ada yang menghembuskan ungkapan “Nek Ono Sego kok mangan kerak, Nek Ono Wong Jowo kok milih wong Batak (Jika ada nasi mengapa makan kerak, jika ada orang Jawa mengapa milih Batak)”. Ungkapan itu sombong, arogan dan seolah-olah merasa di atas segalanya. Betul mungkin bahwa secara komposisi etnis Jawa menduduki persentase lebih besar disbanding etnis lain. Tetapi apakah harus seperti itu? Apakah orang Jawa di Sumut akan digiring ke pembodohan dan wajib memilih orang Jawa meski tak jelas komitmen dan prestasinya? Bagaimana jika seluruh etnis non Jawa merasa tersinggung dengan ungkapan seperti itu? Ini benar-benar tindakan bodoh, kata Mbah Djamin Sumitro dengan suara meninggi.

“Sayangilah orang Jawa yang kebanyakan tak beruntung ini. Janganlah orang Jawa yang kebanyakan wong cilik ini dikorbankan demi jabatan duniawi. Siapapun di belakang scenario itu, kami ingatkan agar taubatlah. Kembalilah pelajari sejarah Negara dan bangsa ini yang terpecah belah karena kolonial Belanda. Budi Utomo yang berdiri tahun 1908 dan Sumpah pemuda yang dicetuskan tahun 1928 semestinya menjadi rujukan kita sebagai warga Negara yang cinta NKRI”.

Dalam FKWJ prasyarat calon itu ialah Jowo pikirane, peduli rakyat kecil, tidak korupsi, bersedia mengalokasikan kelebihannya untuk mengadvokasi dan mengembangkan kesejahteraan warga FKWJ. Jadi Jowo pikirane tak mesti darah jawa bernama khas berakhiran huruf O. Itu bukan watak FKWJ. FKWJ sudah mengalami perlakuan-perlakuan buruk yang menyebabkannya tidak mau kembali lagi terkotak-kotak .

Sejarah FKWJ. FKWJ didirkan tahun 2004 di Tanjung Morawa. Hingga kini sudah memiliki 16 Pimpinan Daerah di Kabupaten/Kota se Sumatera Utara. Pada bulan April tahun ini FKWJ dideklarasikan menjadi organisasi sosial kemasyarakatan Nasional. Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi Ketua Dewan Penasehat dan putri sulung beliau GKR Pembayun menjadi Ketua Umum DPP FKWJ Nusantara. Pimpinan pusatnya berkedudukan  di Jogjakartahadiningrat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: