'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANDI ALFIAN MALLARANGENG

ANDI ALFIAN MALLARANGENG

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


korupsi

pakta integritas yang ditandatangani sebagai prasayarat diangkat menjadi menteri KIB II adalah hal yang tak bermanfaat sama sekali. Jika harus ditambah lagi dengan data statistik Kepala Daerah yang tersangkut kasus korupsi, maka tuduhan kegagalan pemerintahan yang dipimpin oleh SBY pun sulit ditepis

Menjelang pilpres tahun 2009, KPK mengklarifikasi laporan harta kekayaan para capres. Ketiga capres, JK, Mega, dan SBY, mengalami peningkatan harta kekayaan signifikan. JK Rp 50 miliar, dari Rp 253,912 miliar dan US$14.928 pada 31 Mei 2007 menjadi Rp 303 miliar. Adapun kekayaan Mega meningkat Rp 60 miliar, dari Rp 86,265 miliar pada 9 Desember 2004 menjadi Rp l46 miliar lebih. Kekayaan SBY naik 15%-20%, dari Rp 7,144 miliar yang dilaporkan pada 2007 menjadi sekitar Rp 8,5 miliar.

Bagaimana orang Indonesia memperoleh kekayaannya? Negara dengan tingkat konsentrasi kekayaan tertinggi (berpantang distribusi) dibanding beberapa Negara tetangga, Indonesia memiliki orang-orang kaya kesohor dari kalangan orang Cina. Setidaknya itu yang secara rutin dilaporkan oleh berbagai institusi semacam Forbes. Mereka banyak menikmati keuntungan dari buruknya sistem, penguasaan monopolistik atas berbagai sumber vital dan dengan model kinerja yang umumnya bertumpu pada industri ekstraktif. Tetapi seburuk-buruk kesenjangan itu, tetap ada jalan yang masuk akal untuk menumpuk kekayaan, yakni kinerja dalam dunia usaha.

Kondisi itu cukup mendapat highlight dalam laporan Demokrasi Asia 2011 yang menempatkan Indonesia dalam posisi menyedihkan. Bayangkanlah jika seorang yang bukan pengusaha bisa menumpuk kekayaan hingga puluhan bahkan ratusan milyar rupiah, padahal sepanjang hidupnya hanya “tersandera” dari satu ke lain level dan bidang kerja di pemerintahan. Pemerintahan sudah memiliki patokan baku tentang berapa seseorang harus dibayar perbulan, dan jika ia lembur pun sepanjang tahun, penghasilan yang membuatnya memiliki harta kekayaan ratusan milyar adalah sebuah kemustahilan. Sudah pastilah mereka wajib dicurigai oleh nilai dan rasa keadilan. Mereka bukan orang bersih, mereka korup. Itu tuduhannya, dan itu tak mengada-ada. Andilnya cukup besar dalam memposisikan Indonesia sebagai salah satu negara terkorup.

Itulah fakta empiris yang menguatkan pendapat bahwa kekuasaan itu memang identik dengan korupsi (tend to corrupt) dan selalu rawan praktik abusive (disalahgunakan) untuk memperkaya diri sendiri. Kerangka pikir seperti itulah yang dipakai oleh Denny Indrayana sewaktu menjadi aktivis yang giat menyuarakan penentangan terhadap korupsi. Semakin tinggi kekuasaan dan wewenang makin rawan korupsi. Karenanya ia yakin pemberantasan korupsi itu sebaiknya dimulai dari istana. Denny Indrayana benar, bahwa apa yang digertakkan serius oleh Zu Rongji dengan 100 peti mati (satu untuk dirinya jika kelak terbukti korupsi), adalah sesuatu yang beralur pikir benar: korupsi jangan mulai diberantas dari kasus remeh-temeh. Mahmud Ahmadinejad mencontohkan kesederhanaan hidup, termasuk saat menikahkan putera kebanggaannya, karena lakon hidup yang bermewah akan membawa karakter koruptif dan yang akan merubahnya dari pribadi yang mestinya menjadi orang paling bertanggungjawab menjaga Negara menjadi bahaya besar bagi negaranya sendiri. Begitu berbahayanya aparatur Negara yang korup memaksa setiap orang berfikir tentang bagaimana mengendalikannya agar baik terhadap negara.

Stick and Carrot. Kata Kwik Kian Gie, Carrot adalah pendapatan bersih (net take home pay) untuk pegawai negeri, baik sipil maupun TNI dan POLRI yang secara minimum mencukupi untuk hidup dengan standar yang sesuai dengan pendidikan, pengetahuan, tanggung jawab, kepemimpinan, pangkat dan martabatnya. Kalau perlu pendapatan ini dibuat demikian tingginya, sehingga tidak saja cukup untuk hidup layak, tetapi cukup untuk hidup dengan gaya yang “gagah”. Stick yang secara harfiah bermakna pentung adalah hukuman kalau kesemua sudah dipenuhi tetapi masih berani korupsi. Mengingat tingkat atau magnitude korupsi sudah sedemikan dalam dan menyebar sedemikan luasnya, hukumannya pun mestinya tidak tanggung-tanggung. Harus seberat-beratnya, dan jika perlu hukuman seumur hidup atau hukuman mati.

Ketika Gus Dur mewacanakan penerapan konsep ini,  hujatan pun tidak kecil. Tetapi memang harus ada kesesuaian antara kata dan perbuatan. Kita ingat bahkan Gus Dur sendiri yang tersangkut skandal Buloggate ($4 juta ) dan Bruneigate ($2 juta). Memang proses hukum belum membuktikan keterlibatannya hingga proses politik membawanya “lengser keprabon”.  Artinya tanpa motif yang sungguh-sungguh, dan latar belakang yang tak menyandera, pemberantasan korupsi hanya akan berakhir sia-sia meski harus dibentuk lembaga-lembaga tambahan yang seistimewa apa pun itu. Lembaga-lembaga itu hanyalah instrumen yang mesti dikendalikan. Jika pengendali tidak bermotif dan tidak berkarakter, tentulah lembaga-lembaga istimewa itu, termasuk setiap aturan perundangan, akan berakhir dengan tertawaan sinis bagi rakyat.

Nyanyian Nazaruddin. Menyusul ditetapkannya (oleh KPK) sebagai tersangka kasus Hambalang, Andi Alfian Mallarangeng (AAM) yang sekaligus dicekal bepergian ke luar negeri itu, sudah berhenti dari jabatannya sebagai menegpora. Ia pun mundur dari jabatan dalam partainya (Demokrat). Teman separtai AAM, Andi Nurpati, yakin bahwa jika bukan karena “nyanyian” Nazaruddin yang sudah lebih dahulu diproses hukum oleh KPK, AAM tidak akan terseret dan dengan cara berfikir itu pula ia yakin para menteri KIB II lain yang jika diendus dan dilapori sebagaimana dilakukan oleh Nazaruddin, niscaya akan potensil terjerat kasus tindak pidana korupsi. Andi Nurpati kelihatan menunjukkan solidaritas sembari menepis tuduhan partainya jagoan korup nasional. Tetapi dengan cara berfikir itu Indonesia sudah digiringnya kepada sebuah kesimpulan bahwa pakta integritas yang ditandatangani sebagai prasayarat diangkat menjadi menteri KIB II adalah hal yang tak bermanfaat sama sekali. Jika harus ditambah lagi dengan data statistik Kepala Daerah yang tersangkut kasus korupsi, maka tuduhan kegagalan pemerintahan yang dipimpin oleh SBY pun sulit ditepis. Tuduhan itu pun mengindikasikan kelambanan semua penegak hukum (KPK, Kejaksaan dan Kepolisian), BPK, termasuk lembaga pengawasan internal seperti inspektorat serta lembaga pengawasan eksternal seperti LSM. Ingin bukti? Lihat saja Centurygate.

Ruhut Sitompul mengisyaratkan penyesalan tentang orang-orang dekat SBY yang “berkhianat”. Itu pun dapat diterjemahkan sebagai tuduhan atas kegagalan SBY. Jika Soetan Batughana sudah menyebut Foke sebagai calon pengganti AAM pada jabatan yang ditinggalkannya, maka halayak pun digiring ke penafsiran-penafsiran lebih jauh. Bukan cuma  soal posisi Anas Urbaningrum yang dianggap sebagai “target dekat” pasca penetepan AAM sebagai tersangka, tetapi mainan politik apa yang sesungguhnya sedang dirancang di belakang panggung.  Anas memang tak menerima 1 rupiah pun dari Hambalang, jika percaya pengakuannya.  Itu tak ubahnya AAM yang tadinya yakin tidak bersalah. Bukankah orang ini sejak mahasiswa merasa tetap berpegang teguh pada idealisme pemerintahan yang bersih, baik, dan berwibawa?

AAM kini akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama para pengacaranya. Mereka akan berjuang memperoleh vonis paling ringan, kalau bukan kebebasan dari seluruh tuduhan. Tetapi, dengan melihat proses hukum dari awal, dan pasal-pasal yang dikenakan dalam sangkaan, tampaknya karir politisi yang juga pernah menjadi anggota KPU dan petugas pembeli perbekalan tinta ke luar negeri untuk pemilu ini akan tamat. Ia akan menmbah daftar nama orang muda yang berbahaya bagi negaranya. AAM, mantan juru bicara Presiden yang kini tak akan banyak lagi berbicara.

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan 10 Desember 2012, hlm B7

 


4 Comments

  1. […] Andi Alfian Mallarangeng-2 […]

  2. […] Andi Alfian Mallarangngeng […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: