'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANDI ALFIAN MALLARENGENG (2)

ANDI ALFIAN MALLARENGENG (2)

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


0208Andi_Mallarangeng

“Saya menyampaikan terimakasih dari hati nurani paling tulus. Saya memohon maaf kepada semua pihak atas kesalahan yang telah saya lakukan, baik disengaja maupun tidak. Teruskan perjuangan dalam mempersiapkan pemuda Indonesia untuk menjadi manusia yang utuh, berkarakter, produktif dan siap bersaing dengan pemuda dari bangsa lainnya. Teruskan tekad kita agar dunia olahraga Indonesia mampu mengharumkan nama bangsa di mata dunia”.

Itulah kalimat-kalimat yang muncul dari mulut Andi Alfian Mallarangeng (AMM) yang disampaikannya sebagai perpisahan kepada semua stakeholder  terkait dengan bidang tugasnya di kemengpora. Seperti biasanya, ia berucap lancar. Ia cukup berbakat untuk itu, dan karenanya pernah menjadi salah seorang andalan bagi SBY untuk menggantikan dirinya berbicara kepada publik (juru bicara kepresidenan).

Panggung depan. Entahlah masih ada orang yang percaya dengan ucapan manis dan terkesan santun dan tak berdosa itu. Kemasan untuk sajian panggung depan (front stage), begitu kata Erving Goffman dalam teori dramaturginya. Teori ini adalah sebuah perspektif sosiologis yang diturunkan dari analisis interaksionisme simbolis, dan umumnya digunakan dalam tararan interaksi sosial mikro yang merujuk pada kehidupan sehari-hari. Teater adalah induk inspirasi teori ini, yang mengembangkan sebagian besar terminologi terkait dan ide-ide Erving Goffman dalam bukunya “The Presentation of Self in Everyday Life” (1959).  Sebetulnya ia banyak dipengaruhi oleh Kenneth Burke dan sangat jelas bersilsilah keilmuan ke Shakespeare. Pendeknya ketika kita membayangkan diri sebagai seseorang tertentu dalam mengamati apa yang terjadi di dalam teater kehidupan sehari-hari, itu berarti kita sedang melakukan apa yang disebut oleh Erving Goffman sebagai analisis dramaturgi.

Dalam sosiologi dramaturgi ditegaskan bahwa tindakan manusia selalu tergantung pada waktu, tempat, dan penonton. Seseorang akan berusaha menampilkan dirinya seideal mungkin berbasis pada nilai-nilai budaya, norma, dan harapan-harapan aktual yang hidup di zaman itu. Tujuannya agar penerimaan diri dari penonton melalui kinerja. Jika aktor berhasil, penonton akan melihat aktor karena memang ia ingin dilihat. Sekarang, sadarilah bahwa bukan hanya SBY yang memuji sikap pengunduran diri AAM, baik dari kementerian maupun dari jabatannya sebagai petinggi Partai Demokrat. Itu cukup ksatria, katanya.

Sistem. Tetapi AAM tak bertindak di panggung untuk dirinya sendiri saja, dan bahkan ia tak menciptakan sendiri panggung untuk dirinya. Ia bagian dari sistem. Dengan begitu harus dipelajari secara kritis peran-peran makro dan yang lebih besar yang di dalamnya AAM hanyalah sekrup kecil dalam keniscayaan pinasti. Ia tak “menari” untuk dirinya sendiri. Ia tak bertindak untuk dirinya sendiri. Dengan begitu pula kita bisa manganalogikan kasus-kasus seperti Gayus yang memang tak bisa lain karena ia hanya ingin menjawab dan menyahuti sistem yang di dalamnya ia hanya sebagai elemen kecil. Gayus dikonstruk oleh budaya dan ketika orang-orang merasa ukuran tertinggi adalah materi, dan dengan dukungan kesempatan yang disediakan oleh kebobrokan sistem penegakan hukum, apa pula sulitnya mencuri uang Negara? Jika pun belakangan ketahuan, pihak-pihak yang tahu pun bisa dijadikan sebagai elemen pendukung keamanan. Bahkan ketika sanksi pidana harus dijatuhkan kepada Gayus, scenario dramaturgikal yang seriuslah yang mengendalikannya.

Janji SBY. Akan memberantas korupsi dengan tangannya sendiri, ternyata tak terbukti. Instrumen KIB II yang memprasyaratkan penandatanganan Pakta Integritas sekarang menjadi lebih hambar nilai. Orang melihat sebuah prestasi besar ketika SBY “mengarbitrase” konflik keras antara KPK dan POLRI seputar alat simulasi terkenal itu. Tetapi, dalam kajian dramaturgi Erving Goffman, semua tidak seperti apa yang terlihat indah di bagian panggung belakang (back Stage).

Saat pergantian kepemimpinan puncak pada Partai Demokrat, AAM seolah dipastikan semacam Lord Protector dan kepadanyalah dipercayakan masa depan, termasuk peran mentoring untuk Ibas yang dianugerahi jabatan prestisius dengan amat minIm pengalaman. Akankah Hambalang sebentar lagi akan menggilirkan perlakuan serupa kepada Anas Urbaningrum yang sebetulnya memang tak pernah diimpikan menjadi The Lord Protector itu? Investigator yang terbiasa (khususnya dalam media massa) selalu akan dengan enteng menebak dengan mengatakan: Ini mudah, kawan. “Just Follow The Money”.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Kamis 13 Desember 2012, hlm 2.


1 Comment

  1. […] Andi Alfian Mallarangeng-1 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: