'nBASIS

Home » ARTIKEL » Pilgubsu: ADAPTASI TIM SUKSES

Pilgubsu: ADAPTASI TIM SUKSES

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


KANDIDAT

Karena ingin tetap disenangi, Tim Sukses pun  mendesign semua data yang dibawa oleh siapa saja kepada kandidat harus searah dengan keinginanya, yakni data positif. Akhirnya para kandidat pun telah diblokade oleh timnya sendiri. Kandidat harus waspada musuh dari dalam

Para calon gubernur dan wakil gubernur  harus mewaspadai potensi dan kecenderungan ancaman internal dari tim suksesnya sendiri yang dapat membuatnya tidak faham realitas sosial yang berkembang. Jika ia sudah tak faham tentang posisi popularitas dan elektibilitasnya dalam peta politik yang berkembang, atau aksesnya semakin hari menjadi semakin sulit untuk mendapatkan informasi tentang itu, maka akhirnya ia pun akan menjadi korban politik dari “orang-orang kerdil” yang ditugasinya untuk mengurusi dirinya.

Hal ini lebih disebabkan oleh fakta bahwa Tim Sukses atau apa pun namanya, kerap dengan sendirinya terdorong untuk bekerja hipokrit dan memiliki agenda dan langkah sendiri yang jauh dari aras pemenangan pasangan calon yang diusungnya. Kinerja Tim Sukses yang kerap kontraproduktif ini tidak muncul dengan sendirinya, tetapi hanyalah fungsi dari keniscayaan kepribadian calon.

Sipanggaron. Kebanyakan tokoh politik termasuk para calon gubernur dan wakilnya memang adalah sipanggaron atau dalam bahasa populer saat ini disebut orang narsis (suka dipuji dan menyenangi pujian). Perasaan senang dipuji itu bisa berkembang kumulatif. Kita tidak hanya melihatnya dari polesan wajah pada Bilboard yang jauh lebih baik dari aslinya. Tetapi juga dari design pemberitaan media mainstream, termasuk survey popularitas dan elektibilitas.

Secara makro informasi media mainstream kerap didesign tidak adil. Mengapa? Bukan hanya rakyat jelata yang menginginkan keuntungan dari event politik apa pun termasuk pemilukada. Media mainstream tentu tidak akan lupa melakukan manuever yang menghasilkan uang. Jadi, informasi yang mereka sajikan pun tidak mungkin terbebas dari bias.

Ada pun survey politik yang secara tak jujur didesign untuk mengunggulkan figur tertentu memang tak seluruhnya masuk dalam kategori “persembahan” untuk narsisme figur. Ada survey yang bertujuan untuk memukul   lawan-lawan politik, seperti yang dilakukan untuk mengangkat kesan posisi elektibilitas Gatot Pujo Nugroho hanya dua hari setelah penutupan pendaftaran pasangan calon. Survey dengan luas wilayah Sumut dan dengan responden yang cukup besar (di atas seribu orang) tidak mungkin dihasilkan dalam dua hari saja, kecuali respondennya dari jaringan sendiri. Dalam kasus seperti ini terlihat kandidat sudah seperti orang naïf, dan anehnya ia dikelilingi oleh orang-orang berlabel akademis.

Optimisme di atas Rata-rata. Karena kepercayaan diri berlebih itu pula para kandidat memiliki optimisme di atas rata-rata normal manusia biasa. Karena itu pula mereka bisa tampil menjadi figur politik yang menonjol dengan menyisihkan tokoh-tokoh lain di lingkungan dan gugus politik dan sosialnya. Meskipun mereka telah memenangi satu babak dari perhelatan ini, tetapi sesungguhnya mereka tidak dapat dijamin sebagai orang terbaik dari komunitas politiknya.

Dalam kasus pemilukada Sumut, apa yang oleh media disebut sebagai “tragedi kawin paksa” sudah lebih dari cukup sebagai penjelasan tentang adanya orang-orang yang lebih capable yang tereliminasi dari kancah atau didudukkan pada posisi yang salah. Ingat nama-nama besar yang tersisih seperti Cornel Simbolon, AY Nasution, T Milwan, Sigit Pramono Asri, Syah Afandin, Bintatar Hutabarat, Kamaluddin Haarahap, Hasbullah Hadi, dan lain-lain. Nama-nama itu sekaligus menjelaskan peta rivalitas yang memiliki konsekuensi pengorbanan politik besar, khususnya dilihat dari potensi pemenangan orang-orang yang mengalahkan mereka dalam persaingan merebut dukungan partai. Jadi, optimisme berlebih itu bukan tidak ada manfaatnya. Hanya saja perlu dimenej agar tidak sampai kontraproduktif dan menyulitkan diri sendiri.

Tim Keluarga. Para  kandidat yang mendesign Tim Sukses dengan memberi posisi penentu kepada sejumlah anggota keluarga cukup baik. Tetapi langkah ini kerap terjerat  dengan masalah lain, yakni sikap-sikap otoriter yang tidak membangun partisipasi bagi anggota tim yang tak berasal dari jaringan keluarga. Pola ini juga sering terjerat dengan warna primordial yang membuat orang banyak sulit mendapatkan kenyamanan di sana. Jika misalnya warna dan aroma Tim Sukses terlalu Batak, Terlalu Jawa, Terlalu Sekuler, terlalu kepartaian, dan terlalu-terlalu lainnya, halayak dengan sendirinya akan merasa tidak menjadi bagian yang diperlukan dalam pemenangan dan diam-diam akan mencari alasan untuk mengundurkan diri secara terang-terangan atau secara diam-diam.

Musuh dari dalam. Tokoh-tokoh narsis kerap lupa diri dan tidak tahu perkembangan politik di luaran. Semakin lama ia tidak mendapat asupan informasi yang benar, sehingga pemahamannya terhadap realitas sosial pun kerap berbeda jauh.

Bahwa di tengah hausnya terhadap dukungan politik, orang-orang yang datang dari berbagai penjuru wilayah, yang  kerap tidak dengan motif memberi saran konstruktif, kerap diperlakukan sebagai orang istimewa oleh Tim sukses dan pada gilirannya juga oleh kandidat. Di sinilah Tim Sukses telah bermain naif. Karena ingin tetap disenangi, Tim Sukses pun  mendesign semua data yang dibawa oleh siapa saja kepada kandidat harus searah dengan keinginanya, yakni data positif. Akhirnya para kandidat pun telah diblokade oleh timnya sendiri. Kandidat harus waspada musuh dari dalam.

Advertisements

1 Comment

  1. Piracetam says:

    Atas pertimbangan itu, Partai Demokrat sama sekali tidak menganggap isyarat yang diberikan JK sebagai masalah besar. “Itu hal biasa-biasa saja. SBY dipasangkan dengan siapa pun pasti jadi,” ucap Syarif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: